
Sesuai yang di perintahkan Bu Merry , Nara pergi ke toilet . Tapi bukannya membersihkan toilet itu sampai bersih , yang ada Nara malah duduk di atas wastafel sembari menikmati snack dari tangannya , santuy . Ya kali , seorang Naraya Azkara mau membersihkan toilet dengan capek - capek . Yang benar saja ! Lebih baik ia melihat Drakor sembari nyemil .
Toh semua pelajaran juga sudah Nara kuasai , ia tinggal menyusul Nara mengumpulkan tugas saja nanti saat hukumannya selesai .
" Anjir ! Gak nyangka sih endingnya bakalan kayak gini . " Komentar Nara pada film yang sedang ia tonton .
Nara tidak tahu saja , sedari tadi ada sepasang mata yang sedang melihatnya intens dari ujung toilet .
" Mama .. nyebelin banget endingnya ! Buang - buang kuota ! Sialan ! " omel Nara yang kemudian merogoh keripik kentang lalu memasukkan ke dalam mulutnya gemas .
" Ngapain lo repot - repot ngomentarin drama ra, idup lo aja udah ngedrama banget. ck" monolog nara membuat seseorang di ujung toilet sana menaikkan sebelah alisnya.
"mending gue nginep di rumah ghea sementara, males gila gue harus tinggal satu rumah sama si lampir" celotehnya lagi.
nara kembali memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya. lalu menghisap ujung ujung jarinya yang penuh balado itu dengan penuh nikmat.
elang yang memerhatikan tingkah konyol nara sedari tadi hanya terkekeh geli. sejak nara meninggalkan kelas tadi. selang beberapa lama elang juga pura pura izin pergi ke toilet. padahal niat sebenarnya hanya ingin memastikan nara baik baik saja.
"mama, umur nara bulan depan udah 18 tahun. nara gak pengen apa apa ma, nara cuma mau papa kayak dulu lagi" gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin, lalu tersenyum getir.
"sepertinya itu gak bakalan terjadi, anak papa itu sekarang bukan lo ra, tapi silvi" desis nara mulai mengeraskan kembali wajahnya.
elang memandang diam nara yang terus berceloteh di depan cermin toilet. entah mengapa mendengar keluh kesah nara hati elang jadi ikut sesak.
"gue gak ngerti dengan masalah lo ra, tapi ngeliat lo sedih hati gue juga ikutan sakit"
sepulang sekolah nara langsung pulang ke rumahnya. bersama ghea yang ikut nimbrung satu mobil dengan nara.
sementara jonathan sudah uring uringan di parkiran. rencananya untuk kencan dengan ghea gagal. karena nara berhasil menculik kekasihnya terlebih dahulu.
"argh lo gak asyik ghea" kesal jonathan yang di sambut gelak tawa di bibir elang.
"mending ke cafe galuh nongkrong" ajak elang membuat jonathan mendengus tapi juga mengangguk.
" Ngebahas yang mau ke villa , Minggu besok ? " tanya Jonathan .
" Yoi ! " jawab Elang dengan menekan tombol pada kunci mobilnya , lalu segera masuk .
" Ya udah deh gue ikut , daripada zonk ! " seru Jonathan yang juga masuk ke dalam mobilnya .
__ADS_1
Sesampainya di kediaman Azkara . Nara langsung masuk dan naik ke lantai dua . Dia segera mengemasi barang - barangnya ke dalam koper kecil .
" Skincare lo perlu nggak ? " Ghea ikut rempong membantu sahabatnya itu untuk berkemas .
" Woiya jelas dong ! " seloroh Ghea sendiri karena tak mendapati tanggapan dari Nara .
" Lagian lo aneh banget , gue kan mau nginep di rumah lo selama 2 Minggu . Jelas lah harus bawa begituan dodol ! " kesal Nara .
" Okey ! Tuan Puteri gak usah marah - marah dong ! Nyeremin tauk ! "
" Muka cantik gini di bilang nyeremin . Buta apa lo ? " omel Nara sembari mengambil boneka pisangnya dari atas ranjang , lalu memasukkan ke dalam koper kecilnya .
" Astaga si pisang barlin itu mau lo bawa juga ? " Ghea geleng - geleng kepala .
" Gue gak bisa tidur tanpa Nino . " Jawab Nara nyengir .
" Udah belum ini ? "
" Udah kayaknya . Kuy lah berangkat minggat , ” ajak Nara terkekeh geli .
" Cuss tinggalkan neraka jahanam ini bestie ! ” timpal Ghea membuat keduanya terbahak - bahak .
" Kalau bisa gak usah balik lagi makin bagus . " Celetuk Silvi . Ingin rasanya Ghea melempari gadis tak tahu diri itu menggunakan sepatunya . Yang seharusnya angkat kaki dari rumah ini itu bukannya Nara , melainkan dua manusia yang kelakuannya mirip iblis dari kerak neraka itu !.
" Gak usah kepancing emosi . Lo bakalan kelihatan sama gak warasnya kayak mereka . " Bisik Nara membuat Ghea menghembuskan napasnya kasar .
" Mending kita ke salon saja sayang . Tadi ' kan papa kamu ngasih tambahan uang belanja sama Mama . Gimana ? "
" Hayuk Ma ! " seru Silvi kegirangan .
" Hey kamu ! Udah buruan minggat sana . Nyampah banget , bikin sakit di mata . " Ketus Soraya pada Nara.
" Wanita sinting ! " umpat Nara Ghea mengelus dada melihat kelakuan Silvi dan ibunya . Wajar jika Nara merasa tidak betah di dalam rumahnya. Mungkin Ghea juga akan melakukan hal yang sama seperti Nara, minggat selama berminggu-minggu jika harus tinggal dengan manusia iblis seperti anak dan ibu itu.
" Mending kita pergi sekarang Ra . Hawa rumah lo bener - bener bikin gue gerah . " Nara mengangguk , kembali menyeret kopernya .
Setiba di rumah Ghea . Tante Helen langsung menyambut heboh kedatangan anak sahabatnya itu .
" Cantiknya Tante . " Sapa Tante Helen sembari merentangkan lebar - lebar kedua tangannya . Begitulah Nara dan Tante Helen jika bertemu . Mereka seolah melupakan keberadaan Ghea yang bersungut - sungut di belakang mereka .
__ADS_1
" Berasa jadi anak pungut dah gue . " Nyinyir si Ghea sembari menyeret koper Nara . Nara terkekeh , sembari bermanja - manja di lengan Tante Helen .
" Saya permisi dulu Non . Mau naruh koper . " Cibir Ghea membuat Mamanya tertawa geli .
" Ikh , anak Mama kok gitu sih ? " Ghea mencibir dengan bibir di monyong - monyongkan .
"Anaknya itu loh manja banget Nyonya . " Timpalnya sontak mengandung gelak tawa dari bibir Nara dan Mama Helena . Helena adalah teman baik mendiang Dinara , yang tak lain adalah ibu kandung dari Naraya Azkara .
Helena sudah menganggap Nara layaknya putri kandungnya sendiri . Bahkan , jika Zain mengizinkan Nara untuk ia adopsi . Mungkin , Helena sudah mengadopsi Nara sejak lama .
Sayang sekali , Zain tidak mengizinkan niat baik Helena . Karena pria itu menganggap Helena hanyalah seorang single parent yang tak akan sanggup membesarkan kedua anak gadis itu secara bersamaan . Kurang ajar sekali ' kan Zain Azkara itu ? Padahal kalau di pikir - pikir Helena lah yang lebih sering memperhatikan Nara di bandingkan istri jahatnya itu . Si maniak uang yang selalu menghambur - hamburkan harta Zain .
" Tante tumben gak ke kantor ?" tanya nara, Tante Helena tersenyum manis , lalu mengajak Nara untuk duduk di sofa tengah .
" Hari ini sengaja gak ke kantor , karena Tante tahu , kamu pasti bakalan ke sini . Papamu berangkat ke Jerman ‘ kan ? ” Tanya Tante Helena dengan mengusap lembut kepala Nara , sayang . Nara mengangguk , merebahkan kepalanya pada pundak Tante Helena .
" Kenapa bukan Tante aja yang nikah sama Papa . " Ucap gadis itu membuat mata Helena melotot .
" Tante nikah sama kanebo kering itu ? Yang benar saja ?! Papamu itu cocoknya emang sama si Soraya . Klop ! Sama - sama dodolnya . " Dumel Tante Helena membuat Nara terkekeh .
" Kok Tante ngomongnya gitu sih ? Papa Nara ganteng banget loh padahal . Kurangnya apa coba ? " goda Nara yang di hadiahi cubitan kecil di pipi Nara dari tangan Tante Helena .
" Tante masih sayang umur Nara . Tante gak mau mati konyol dengan tubuh gersang jika hidup sama Papamu . " Jawabnya masam . Nara tertawa .
Dulu sebelum Papa Zain menikah dengan Tante Soraya . Sebenarnya Kakek Malik sudah mau menjodohkan Papa Zain dengan Tante Helena . Karena Kakek Malik pikir , hanya Tante Helena lah yang pantas menggantikan Mama Dinara .
Namun karena sifat kaku Papanya itu , Tante Helena menolak . Tak selang lama Papa Zain membawa Tante Soraya masuk ke dalam rumah Azkara untuk di nikahi . Papa Zain menghindari keinginan Kakek Malik yang ingin kembali menjodohkannya dengan wanita pilihannya .
" Tuan Putri kopernya sudah saya taruh di atas . Sekarang babumu ini tolong buatin minuman yang dingin . Bisa mati dehidrasi saya .. toloooong ! " teriak Ghea dari lantai atas . Nara mendongak , mencebikkan bibirnya malas .
"Manja lo ! " ketusnya .
" Eh monyet ! Udah gue bawain kopernya malah nyenyenye lo ! Nyesel gue ! " sungut Ghea sembari berkacak pinggang .
Sumpah ! Mulut Nara itu emang ngeselin banget , tapi anehnya Ghea malah betah
" Siapa suruh bawain . " Ledek Nara yang sedang melenggang ke arah dapur.
" Es batunya yang banyak Bik ! " teriak ghea pada nara yang sudah masuk ke dalam dapur .
__ADS_1
Sementara Mama Helena yang melihat kelakuan Nara dan Ghea hanya geleng - geleng kepala . Kedua gadis cantik itu memang selalu beradu mulut setiap kali berkumpul . Herannya , meskipun Nara dan Ghea nyaris tak pernah akur , tetapi keduanya itu selalu lengket , menempel layaknya lem dan prangko.