My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
3.kedekatan nara dan ghea


__ADS_3

" Tadi si lampir bikin ulah gak ? " tanya Mama Helena pada Ghea . Ghea dengan semangat langsung turun ke lantai bawah . Padahal gadis itu tadi sedang asyik duduk klosotan di tangga atas .


" Sumpah ya , Ma . Itu si grandong sama lampir makin gak tau diri ! Masa tadi bilang mau ke salon di depan Nara . Parahnya pakek ngata - ngatain si Nara lagi ! Ukh- rasanya mukanya yang jelek itu pengen Ghea bejek - bejek sampek ancur jadi perkedel ! " Adu Ghea berapi - api . Helena mendesah berat . Bagaimana pun ini semua salah Zain . Gara - gara dia tidak becus memilih seorang istri , Nara yang harus menjadi korban pada akhirnya .


" Kasihan Nara .. ” gumam Helena dengan sendu .


" Banget Ma ! Mama sih dulu gak mau nikah sama Om Zain ! " seloroh Ghea yang langsung di hadiahi tatapan malas oleh Mama Helena .


" Gak ada yang bisa gantiin posisi Papa kamu di hati Mama , " kata Mama Helena dengan bibir mencebik . Ghea menghela napas panjang , lalu menyandarkan tubuhnya di bahu sofa .


" Tapi kasihan Nara tahu Ma , " lirih Ghea membuat Mama Helena melirik tipis putrinya lalu mengangguk .


" Semoga saja Kakek Malik bisa bertindak tegas sama Om Zain , Ghea . " Sambung Mama Helena membuat Nara yang sedang berada di ujung ruangan , menatap diam ke arah ibu dan anak itu .


" Kakek gak akan mau bantu Nara , Tante . Karena Kakek sama saja seperti Papa . " Ghea dan Tante Helena menoleh . Keduanya sedikit tersentak , ketika melihat Nara sudah berjalan mendekat ke arahnya .


" Sayang , Tante gak ada maksud buat bikin kamu sedih , " ujar Tante Helena . Nara menyodorkan orange juice pada Ghea , lalu duduk di tengah - tengahnya .


“ Kakek bisa aja bantu Nara . Tapi caranya itu yang nggak wajar banget , " keluh Nara .


" Pasti nanti lo bakalan di jodoh - jodohin lagi . Kakek Malik kan ngebet banget jodohin lo ! " ujar Ghea setelah berhasil menghabiskan segelas orange juice dari tangannya .


" Gak jelas banget emang itu si Kakek tua , bukannya nolongin gue . Malah nambah - nambahi masalah buat hidup gue ! " Ghea mengangguk , membenarkan ucapan Nara . Ya kali , di zaman yang modern seperti ini , masih ada aja acara perjodohan kuno . Nara kan cantik , gak perlu di cariin jodoh yang mau juga banyak !


" Mungkin Kakek Malik takut lo gak laku kali , Ra ! " Goda Ghea yang langsung di hadiahi tatapan tajam dari Nara .


" Menurut lo gue burik gitu sampai gak laku ? " ketusnya tak terima .


" Bukannya wajah lo yang burik . Tapi Kakek nganggepnya lo kelainan mungkin ? Secara lo kan gak pernah deket sama cowok mana pun ! " ledek Ghea .


" Ghea Narata ! Mulut lo rese banget , sumpah ! " kesal Nara akhirnya menimpuk kepala sahabatnya itu menggunakan bantal sofa .


" Haduh ! Malah berantem , " Mama Helena menepuk jidatnya , kacau .


" Ghea nih nyebelin , Tan ! "


" Sembarangan .. Lo tuh yang baperan " Mama Helena memijit pelipisnya . Melihat tingkah Nara dan Ghea kepalanya mendadak jadi pusing .


" Mending kalian nonton atau ke kafe sana deh , ribut mulu , ” suruh Mama Helena . Ghea dan Nara sontak berhenti bertengkar . Kedua gadis itu saling tatap , sebelum akhirnya melengos .

__ADS_1


" Males ! " jawabnya kompak . Mama Helena kembali menepuk jidatnya , capek deh ! Dasar sama - sama kerasa kepala .


" Ya udah kalau gak mau , biar Mama saja yang ngafe deh ! Kalian jaga rumah , " seloroh Mama Helena membuat Ghea dan Nara melotot .


" Ayo ganti , terus cabut ! " Ajak Ghea menepuk pelan bahu Nara .


" Kuy lah , " timpalnya . Kedua gadis cantik itu seketika bergegas pergi ke lantai atas untuk mengganti seragam mereka dengan baju santai . Mama Helena tersenyum puas , akhirnya usahanya berhasil juga untuk membuat Nara dan Ghea berhenti bertengkar .


" Dasar ! " Gumamnya geleng - geleng kepala . Setelah bersiap dan berpamitan dengan Mama Helena . Ghea dan nara pun langsung cabut untuk pergi nongkrong yang entah ke mana . Mereka belum ada planning jadi sedikit bingung menentukan tujuan .


" Kafe recommended check ! " ucap Ghea pada aplikasi yang ada di ponselnya .


" Lintang kafe , Ra . Gimana ? "


" Dimana tuh ? " Tanya Nara yang sedang menyetir .


" Jl . Sudirman , depan MOG . " jawab ghea .


" Wokey , ada grill ' kan di sana Gue laper banget sumpah njir ! "


" Lengkap ! " Nara mengangguk , lalu kembali fokus menyetir .


Sekitar lima belas menit setelah melewati kemacetan yang ada di tengah - tengah ibu kota , akhirnya mobil Nara berhenti tepat di depan parkiran Lintang Kafe . Tempatnya lumayan ramai , banyak muda mudi yang keluar masuk dari tempat tersebut .


Tanpa menaruh curiga pada Ghea , Nara pun turun dari dalam mobil dan berjalan masuk beriringan dengan Ghea .


" Baaaby ! " seloroh Jonathan saat Ghea dan Nara sudah berada di dalam kafe . Nara melotot sementara Ghea cengar - cengir menatap Nara yang ingin menelannya hidup - hidup .


" ****** lo ! " umpat Nara yang berjalan malas ke arah kursi paling ujung .


" Belok kiri Ra ! Kursi situ , " teriak Jonathan . Nara menggerutu di sepanjang jalan karena merasa di kadali oleh Ghea dan Jonathan .


" Awas kalian ! " Gumamnya geram .


" Ra ! " panggil Elang yang sedang bermain game bersama teman - teman nongkrongnya . Nara memejamkan mata , kenapa harus bertemu Elang disini sih- pikirnya . Benar - benar apes sekali .


Ini semua gara - gara Ghea . Ingin rasanya Nara tenggelamkan kepala temannya itu ke dalam sumur yang paling dalam . Ghea memang terkadang bisa menjadi musuh yang paling menyesatkan untuknya .


" Minggir lo ! " ketus Nara ketika Elang dengan sengaja menghalangi langkahnya .

__ADS_1


" Ck ! Galak amat sih lo ! " Nara menatap wajah Elang dengan lekat , sementara Elang dengan santainya membalas tatapan gadis itu tak kalah intens .


' Sial , ternyata tampang si tengil kalau di pandang dari dekat lumayan juga ! ' batin Nara salah tingkah .


" Kenapa lo , " Elang menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan heran .


" Gue mau duduk , lo bisa nggak ngasih gue jalan ? " tanyanya ketus .


" Oh- ya udah duduk aja , apa susahnya , " jawab Elang tak sadar , kalau saat ini semua akses unt Nara berjalan di tutup .


" Ya elonya minggir dulu bambank ! " Nara menjentikkan jarinya , mendorong bahu Elang dengan kasar .


" Wuhu .. doi lo cakep - cakep galak Lang ! "


" Pantes lo bucin , pasti itu si nara kan?"


" Bukan pasti itu si Lidya ! " Goda Bayu , teman Elang yang sengaja memanas - manasi keduanya .


" Lidya siapa anjiiing ?! " tanya Elang sembari melempar tatapan membunuh pada Bayu . Bayu meringis .


" Haha .. canda doang ! " Nara mana peduli dengan si Lidya atau si siapa itu kek . Tidak penting sekali baginya . Toh Elang juga tidak ada artinya sama sekali untuk Nara .


" Gak usah dengerin ucapan mereka , Ra ! Lo tahu ' kan gue dari dulu sukanya Cuma sama lo ! " celetuk Elang yang keceplosan .


" Ha ? " Nara memiringkan kepalanya , menatap Elang dengan tatapan bingung .


" Maksud gue , cuma lo yang pernah gue deketin , " jelas Elang yang sepertinya tak masuk akal sama sekali . Nara memutar bola matanya jengah . Lalu melihat - lihat menu yang ada di atas meja kafe .


" Lo mau pesen apa Beb ? " Tanya Ghea yang baru gabung dengan tampang tak bersalahanya .


" Lo mau pisin ipi Bib ? HHade ! " jengah Nara membuat Ghea terkekeh .


" By , belain gue dong ! " pinta Ghea pada Jonathan .


" Udahlah Ra . Gak usah ngaung lagi , mending kita makan grill aja , Elang yang traktir gimana ? " Seloroh Jonathan . Elang hanya memasang wajah datar .


Tidak masalah jika ia harus mengeluarkan uang demi seorang Nara . Ikhlas dunia akhirat mah si Elang .


" Gue gak semiskin yang lo kira , " jawab Nara dengan suara khasnya , seperti biasa .

__ADS_1


" Nyerah gue By ! " kata Jonathan pada Ghea .


__ADS_2