
Sepanjang perjalanan menuju 100 rumah Ghea . Nara banyak diamnya . Ralat , gadis itu memang sengaja membungkam . Tidak berucap sepatah kata pun pada Elang .
Tatapan Nara begitu kosong . Menatap luar kaca mobil . Perasaan benci pada Elang seakan mendarah daging . Cowok itu bagaikan seorang penjahat di mata Nara saat ini . Nara benci . Sangat benci dengan seorang Elang Bimantara .
" Ra ! " Tak ada jawaban . Elang memandang Nara dengan tatapan frustasi .
Apakah dalam diamnya Nara saat ini , gadis itu tengah depresi akibat kelakuannya ? Kalau memang iya , maka Elang harus bersiap - siap untuk menerima segala kebencian yang Nara torehkan setelah ini . Mengusap wajah dengan kasar , Elang kembali fokus mengemudi . Walau yang sebenarnya , pikiran Elang sedang terpecah belah oleh gadis disebelahnya saat ini .
Apakah Elang menyesal telah melakukannya ? Oh jelas saja tidak ! Si berandalan sekolah itu tidak pernah menyesal melakukannya . Yang ada Elang malah bersyukur karena bisa menjadi yang pertama untuk Naraya . Anggap saja Elang cowok brengsek ! Ia tidak peduli , yang terpenting Nara sudah berada di genggamannya saat ini . Elang sudah selangkah lebih maju untuk mendapatkan Nara . Tidak peduli dengan apa yang akan Kakek Damar lakukan padanya nanti . Masih dalam kebungkaman , Nara turun dari mobil tanpa melihat Elang yang menatapnya nelangsa .
" Ra , gue bantu- " ucapan Elang terjeda , saat melihat tatapan Nara begitu tajam dan penuh aura kebencian padanya .
" Jangan pernah sebut nama gue lagi ! Brengsek ! " umpat Nara . Elang terhenyak , namun juga tersenyum menyeringai dalam diam . Tidak masalah Nara saat ini marah padanya , yang terpenting gadis itu sudah mau bicara padanya .
Galaknya Nara setidaknya membuat perasaan Elang sedikit lega , meninggalkan gadis itu setelah kejadian ajib - ajib barusan . Nara melangkah dengan sedikit meringis , namun sebisa mungkin ia tidak memperlihatkan kesakitannya itu di depan Elang . Atau yang ada cowok brengsek itu akan kembali berulah dan membuat Nara benar - benar muak dan frustasi .
Langkah Nara semakin jauh dari pandangan Elang . Elang menyandarkan kepalnya pada jok mobil masih dengan posisi miring . " Ra .. gue bakalan tanggung jawab ! " teriak Elang membuat mata lebar Nara terbelalak .
Nara segera mempercepat langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah . Telinganya terasa terbakar mendengar kata - kata ambigu Elang yang sudah kesekian kali di lontarkan itu Setelah memastikan Nara benar - benar aman .
Elang baru pergi dari kediamanan Ghea . Jelas , dengan wajah berseri - seri . Cowok itu telah berbahagia di atas penderitaan Naraya . Bayangan - bayangan di mana Nara dan Elang tengah melakukan penyatuan beberapa jam yang lalu membuat waras Elang semakin terganggu . " Bener - bener udah gak waras gue ! " ucap Elang seraya menggelengkan kepalanya pelan .
Jika Elang saat ini sedang salto , salting dan jumpalitan karena merasa telah mendapatkan apa yang dia mau . Beda lagi dengan Nara yang menangis di bawah guyuran air shower . Masih dengan memakai kaos yang diberikan Elang , Nara membasahi seluruh tubuhnya karena merasa jijik . " Lo brengsek Elaaaang ! Gue benci sama lo ! " Nara memukul lantai dengan mengepalkan tangannya kuat . Sesekali ia juga memukuli dadanya .
" Mama .. Nara kotor ! Maafin Nara , " lirih gadis itu bercampur dengan Isak tangisannya .
Hampir satu jam lamanya Nara duduk di bawah derasnya air dingin . Tatapannya masih begitu kosong , matanya sembab dan hidungnya memerah karena terlalu lama menangis . Mungkin jika suara Ghea dari luar kamar mandi sana tidak membuyarkan lamunan Nara , gadis itu pasti sudah tertidur di dalam kamar mandi .
" Nara .. lo denger gue gak sih ? ! " teriak Ghea sembari menggedor - gedor pintu kamar mandinya .
Nara bergegas berdiri , kemudian mematikan air shower . "Iya , bentar ! " jawab Nara membuat Ghea bernapas lega .
" Gue pikir lo mau bunuh diri gara - gara frustasi mikirin Kakek Malik , bege ! " saut Ghea menerbitkan senyum getir di wajah cantik Nara .
" Ini semua memang gara - gara Kakek tua itu , Ghe ! " Lirih Nara . Tak ingin berlarut - larut dalam badai yang telah terjadi pada hidupnya . Nara segera membersihkan tubuhnya dan bergegas keluar .
Ia tidak boleh terlihat lemah di mata Ghea dan Tante Helena . Bukankah hidup Nara selama ini sudah hancur karena kedatangan Tante Soraya dan Silvi . Lalu untuk apa Nara terpuruk dengan bencana yang Tuhan kembali hadirkan pada takdirnya . Nara sudah tidak peduli , karena Nara pikir , hidupnya memang akan selalu ditakdirkan sial . Tidak akan pernah ada yang tahu bagaimana hati seorang Naraya saat ini . Dibalik sifat galak dan pendiamnya , gadis itu telah menyimpan cerita , luka dan derita yang begitu besar .
" Lo lama banget sih ? Eh tunggu ! Kenapa mata lo sembab ? Lo habis nangis ' kan ? Ra , lo kenapa ? Ada yang nyakitin lo ? Bilang ikh , sama gue ! Nara jangan diem aja dong ! " Ghea langsung loncat dari atas ranjang ketika melihat wajah cantik sahabatnya jadi bengkak .
__ADS_1
Gadis itu juga terus memberondong pertanyaan pada Nara dan membuntuti Nara yang sedang mengambil baju ganti . " Gue gak papa ! Tadi perut gue sakit . Lo ngerti sendiri ' kan gue kalau mau datang bulan itu pasti kayak gini ? " Jelas Nara demi membuat sahabat satu - satunya itu diam .
Ghea mengusap dadanya lega . Dia pikir Nara habis kejambretan atau - atau- ah ! Entahlah ! Ghea tidak mau berpikir yang aneh - aneh . Cukup mendengar penjelasan dari mulut suci sahabatnya saja , semua itu sudah membuat perasaannya tenang .
" Gue ambilin asam jawa bentar di bawah . Kasihan banget anak gue ini ya ampoon ! " Ghea menepuk - nepuk pelan kepala Nara yang tertutup handuk . Nara mencebik , gadis itu memilih menepis tangan Ghea dengan tatapan galak .
" Hehe - kalau udah jutek gini , berarti emang sahabat gue ! " cengir Ghea berhasil membuat Nara mengangkat kedua tangannya seolah ingin mencakar - cakar wajah Ghea .
" Hish , Naradog ! Galak amat sih lo ! " cibir Ghea yang langsung ngacir keluar kamar dengan bergidik ngeri . Jelas dibuat - buat . Ghea sudah hapal betul dengan sifat bestinya itu ! ' Apa gue masih pantes jadi sahabat lo Ghe ? Gue menjijikkan ! ' batin Nara .
Gadis malang itu kembali meloloskan buliran bening dari mata indahnya saat mengingat dirinya sudah tak perawan !! Mungkin , jika Ghea tahu kehormatan Nara telah di rampas paksa oleh Elang . Pasti gadis itu akan melabrak langsung ke rumah cowok bad boy junjungan gadis - gadis di sekolahnya tersebut . Dan langsung menyerertnya untuk mempertanggungkan perbuatannya ! 100 Tetapi , tanpa Ghea minta , Elang juga pasti akan bertanggung jawab .
Obsesi Elang akan Nara tak akan pernah padam walau seribu satu hambatan melintang di hadapannya .
malam harinya, Tidak mau membuat Ghea curiga dan bertemu dengan Kakek Malik di keesokan harinya . Nara dengan penuh kenekatan mengeraskan hatinya . Untuk ikut Ghea dan jelasnya akan kembali bertemu dengan Elang .
Jonathan sudah berada di lantai bawah . Mama Helena berpesan untuk Nara dan Ghea agar - agar berhati - hati di puncak nanti . Beliau juga menitipkan kedua gadis itu kepada Jonathan , agar dia menjaga baik - baik kedua anak gadis itu agar tidak sampai terluka .
" Kalau sampai mereka berdua kenapa - napa ! Jo yang bakalan Tante cincang nanti ! Paham ' kan ? " Jonathan mengangguk setengah meringis .
Ah ! Calon ibu mertuanya itu cantik tapi galak - galak sedap sekali . Cocok lah memang kalau jadi ibu mertuanya .
" Ini juga , anak gadis dibilangin malah menyelen ! Udah sana berangkat , keburu makin malem nanti , " suruh Mama Helena membuat Ghea dan Nara segera berpamitan di susul Jonathan yang juga meminta izin pada calon Mama mertuanya .
" Awas kamu kalau gak bisa jagain anak - anak Tante ! Tante gites kamu kayak kutu ! Tante bejek - bejek itu Joni kamu jadi santapan buaya di kolam belakang ! " Bisik Mama Helena mengancam .
Jonathan menelan ludahnya kelu . Kemudian mengangguk dengan wajah pucat pasi . " Ba - baik Tante , " jawabnya tersenyum kikuk .
Nara yang kebetulan masih bisa mendengar hanya bisa geleng - geleng kepala . Tante Helena itu sama seperti almarhum Mama Dinar . Pasang badan pada cowok yang mendekati putrinya . Mengingat Mama Dinara . Nara jadi sangat rindu .
" Tante .. " Nara tiba - tiba memeluk Tante Helena .
" Sayang .. kenapa , hm ? " Helena mengusap lembut kepala Nara dengan sayang . Nara menggeleng namun semakin erat memeluk tubuh Helena .
" Nara rindu sama Mama , " lirihnya membuat dada Helena terasa sesak .
" Tante kan juga Mama kamu , Nara sayang . " Nara tersenyum dan mengangguk . Tangisnya tiba - tiba saja luruh . Dan hal itu membuat Helena ikut - ikutan menangis karena mengingat almarhum sahabatnya .
" Tante selalu sayang Nara . Sampai kapan pun , paham ? ” Nara kembali mengangguk , dia merasa benar - benar aman di dalam dekapan ibu kandung dari sahabatnya .
__ADS_1
Jonathan dan Ghea memandang sendu punggung Nara yang terlihat bergetar di dalam pelukan Mama Helena .
" Lo bikin gue jadi mewek bege ! Huwa .. " Ghea berhamburan memeluk Nara dan Mama Helena .
" Ikh , Minggiran ! Lo kan udah sering meluk Tante ghe! "
" Gak peduli , pokoknya gue sayang lo Ra .. sayang bangeet ! " Helena terkekeh melihat Nara dan Ghea mulai saling beradu mulut seperti biasanya .
" Come on girls ! Nanti kita bisa kemalaman beneran ini ! " celetuk Jonathan sembari garuk - garuk kepalanya yang tidak gatal . Nara dan Ghea saling pandang kemudian tertawa bersama .
" Let's go ! " seru Ghea dan Nara yang berusaha ceria di depan semua orang . Helena ikut mengantarkan kedua gadis itu sampai ke halaman rumah .
" Hati - hati ya ! Jo .. ingat pesan Tante tadi ! "
" Siap Tante ! " teriak Jonathan dengan membuka setengah kaca mobilnya .
Mobil sport hitam itu pun akhirnya keluar dari pelataran mewah rumah Mama Helena . Dan tanpa sepengetahuan semuanya , seseorang sedari tadi sudah menunggu rombongan kedua gadis itu di pinggir jalan sepi yang ada di depan komplek rumah Ghea .
" Sshh- sial ! Lumayan juga pukulan Papa ! " rintih Elang sembari meraba bibirnya yang terasa sobek .
Ya , seseorang yang sedang menunggu kemunculan mobil Jonathan dari luar rumah Ghea adalah Elang . Cowok itu nekat ikut ke villa demi Nara , meskipun wajahnya sudah babak belur akibat pukulan - pukulan yang Papa Alam berikan .
Tetapi tetap saja tidak membuat kibaran semangatnya bertemu Nara padam ! 100 Mau tahu alasannya kenapa Papa Alam bisa murka dengan Elang ? Jawabannya jelas saja karena cowok berandalan itu sudah mengakui perbuatan bejatnya pada kedua orang tuanya . Tetapi tanpa sepengetahuan Kakek Damar dan Oma Gayatri , tentunya .
" Nikah yang penting nikah ! " ujar Elang terkekeh gila . Bukannya Elang memikirkan statusnya yang masih pelajar . Cowok itu malah menggebu - gebu ingin dinikahkan dengan Nara . Bagi seorang Elang Bimantara , tidak masalah menikah sambil sekolah , toh sekolah itu juga milik si tua Bangka .
" Ra you will be marry me ? " Monolog Elang pura - pura sedang melamar Nara .
" Halah ! Mulut sialan ! " imbuhnya terkekeh geli .
Sementara di dalam mobil Jonathan , Nara merasakan telinga sebelah kirinya panas . " Lo kenapa sih Bege ? Gue lihatin dari tadi ngusapin telinga terus ? Kemasukan semut ? ” tanya Ghea . Nara menggeleng dengan wajah kesal .
" Telinga gue panas ! "
" Jangan - jangan di mobil lo ada setannya By ? " celetuk Ghea membuat Jonathan yang sedang menyerit di depan mengerem mobilnya dengan mendadak .
" Astaghfirllaaah .. kita mau masuk jalan sepi setelah ini . Please lo duduk di depan By ! " Ghea meringis . Bukannya pindah duduk di depan . Gadis itu justru memeluk tubuh Nara dengan erat .
" Makasih ayank ! Tapi gue masih suka duduk di belakang . Kita bantu doa By ! Lanjutin ! "Jonathan mendengus kesal . Pacarnya itu tidak setia sekali sih.
__ADS_1