My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
21.berangkat sekolah bersama


__ADS_3

Tepat jam 5 pagi ponsel Nara berdering dengan suara yang cukup memekakan telinga. Gadis yang sudah resmi menjadi istri Elang Bimantara itu merenggangkang kedua tangannya.


Tunggu! Ini terasa berat.


Nara segera membuka matanya, lalu menundukkan pandangannya. Melihat sebuah


tangan putih bersih melingkar di atas perutnya jelas membuat gadis itu langsung berteriak histeris.


“Kyaaaa!!”


Elang menutup telinganya dengan bantal, erat. Namun sedetik kemudian cowok itu segera bangun dan terduduk di atas ranjang.


"Nara! Lo kenapa bisa ada di kamar gue?" Tanya Elang kebingungan.


Nara masih terdiam. Ia begitu syok melihat sosok tampan dengan rambut acak-acakan di sebelahnya saat ini.


Keduanya pun hanya saling diam dan bertatap-tatapan untuk beberapa saat. Sampai suara Mama Naya dari luar pintu sana menyandarkan keduanya bahwa semua ini bukanlah mimpi. Mereka berdua memang tinggal dalam satu kamar.


“Naya .. Elang! Kalian sudah bangun, Nak? Cepet siap-siap ya. Terus turun ke bawah."


"Iya Ma.” Jawab Elang masih dengan wajah syoknya.


Naya menepuk pipinya berulang kali, lalu segera memastikan bajunya tidak ada yang terbuka. Aman! Gadis itu bernapas dengan lega, Elang tidak mencoba melakukan perbuatan yang biadab lagi padanya. "Ck! Gue gak bakalan nyentuh lo." Decaknya dengan tatapan masam.


Bibir Nara mencebik, baguslah kalau cowok itu tidak berniat macam-macam padanya.


" Coba aja kalau lo berani. Gue gak segan-segan patahin tangan lo yang kerempeng itu!" Ancamnya yang jelas saja membuat Elang tertawa kegelian.


"Kerempeng lo bilang?"


Nara mengangguk. Meskipun dari raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi seperti apa yang barusan dikatakannya.


"Kerempeng mana sama yang ini?"


Elang mengangkat tangan mulus Nara lalu mengarahkan ke depan matanya. Hingga terlihat jelas perbandingan antara tangannya dan tangan Elang yang sebesar kingkong.


"Kerempeng mana hm?” tanya Elang sekali lagi, kali ini dengan mendorong kedua bahu Nara.


Bruk!


Tubuh Nara terjatuh di atas ranjang dengan Elang yang berada di atasnya. Pandangan keduanya saling beradu dengan lekat. Hanya terdengar napas yang saling bersahut-sahutan dengan jarak yang begitu dekat.


"Lo- mau apa?" cicit Nara. Elang tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya dan ..


Cup!


Mata Nara melotot, menyadari sesuatu yang terasa kenyal menempel pada bibirnya.


Tubuh Nara pun juga tak kalah tersentak kaget, mendadak ia jadi seperti sayur seladah yang tersiram air mendidih. Loyo!


Perlahan Elang menggerakkan bibirnya untuk menyatukan bibirnya lebih dalam lagi dengan bibir Nara. Ia sedikit menyesap dan menggigit bibir Nara, agar mempermudah lidahnya menjelajah di dalam sana. Nara mengerjapkan matanya pelan, ia masih linglung dengan serangan dadakan yang terjadi barusan.


Niat hati ingin memberontak, tapi tubuhnya berkata lain. Dengan menahan napas yang cukup lama, Nara pun akhirnya kalah oleh keadaan. Ia hanya bisa meresapi dan memejamkan mata.


Cukup puas dengan ciuman pagi ini yang terasa memabukkan, Elang pun melepas pagutannya lalu menatap Nara yang masih terlihat memejamkan di bawah tubuhnya.


Fyuh!


"Morning kiss!" Ucap Elang tersenyum manis.


'Aaa.. ini gak bener!' dengan kesadaran yang sudah penuh, Nara segera mendorong tubuh Elang.


"Lo nyolong ciuman gue lagi? Kurang ajar!" meraih guling yang tergeletak di samping Elang, Nara segera menimpuk cowok mesum di depannya dengan gerakan brutal.


Elang mendengus juga terkekeh geli. Padahal tadi Nara sempat menikmatinya, walau tidak membalas ciuman panasnya. "Gue cuma minta ciuman doang! Gak lebih Ra." Protes cowok itu membuat pukulan-pukulan di tubuhnya perlahan terhenti.


"Sekarang ciuman! Besok lo mau minta apa ha?” Tanya Nara galak.


"Calm Ra. Kenapa lo tanyanya gitu? Atau jangan-jangan lo udah gak sabar buat nostalgia lagi sama gue?"


Oh my ghost! Ingin rasanya Nara cekik leher cowok itu sampai lidahnya keluar. "Lo lama-lama bikin naik tensi Elang!" Geram Nara yang setelah itu segera turun dari ranjang.


"Handuk gue mana?" Imbuhnya bertanya dengan napas memburu.


Elang melempar tubuhnya ke ranjang lalu menggerakkan dagunya ke arah almari yang ada di pojok kamar. "Bisa kan ambil sendiri?" Nara mencebik lalu segera mengangkat kakinya menuju almari besar yang ada di sudut ruangan.


"Gila! Seragam gue juga udah ada disini? Beneran kayak putri yang terbuang gue sekarang!" cicitnya tidak habis pikir. Kenapa semua barang-barangnya sudah berpindah tempat di dalam almari Elang.


"Ra!"


Nara membisu. Sengaja menulikan telinganya, pura-pura tidak mendengar panggilan Elang.


Menggeleng pelan dengan kelakuan Naraya. Padahal Elang hanya ingin mengingatkan gadis itu karena lupa mengambil handuk. "Awas aja lo butuh bantuan gue," ledek Elang sembari mengamati gerak-gerik Nara yang sok cuek padanya.


Sekitar lima belas menit Nara berada di dalam kamar mandi. Tetapi tidak kunjung meminta bantuan pada Elang. Membuat sang empu jadi bingung sendiri. “ Nara! Lo udah selesai belum?"


Ceklek


Elang mendengus. Pantas saja gadis itu tidak berteriak-teriak dan merengek seperti di novel-novel yang kelupaan membawa handuk untuk mengelap tubuhnya yang basah. Ternyata Nara sudah memakai handuknya yang ada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Udah cepetan!" Nara melempar handuk yang setengah basah dari kepalanya ke arah Elang yang masih bermalas-malasan di atas ranjang.


"Siapa yang nyuruh lo pakai handuk gue?"


"Gak ada yang nyuruh! Inisiatif dari gue sendiri aja sih, kenapa emangnya? Lo keberatan gue pakai handuk lo yang kumel ini?" sinis Nara yang di sambut tatapan gemas oleh Elang.


"Jangankan handuk Ra. Semuanya bakalan gue kasih. Asal itu lo!"


Nara berdecih mengejek, mana percaya ia dengan ucapan Elang. Si cantik yang sudah memakai seragam itu segera menuju meja rias. Merapikan rambut dan memakai lotion seperti rutinitas setiap harinya. Sementara Elang, ia segera lalu memakai seragamnya. mandi


"Ra ambilin dasi gue."


"Lo gak lihat gue lagi ngapain


"Cepetan Ra! Itu udah kewajiban lo sekarang!" Tegas Elang sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Mau tak mau Nara yang baru selesai memakai sepatu pun mengambilkan dasi milik Elang. " Nih, gak usah drama pura-pura gak bisa masang dasi sekarang!" sinisnya sembari melempar dasi itu ke dada bidang Elang.


"Eits- pasangin!"


Tuh kan? Cowok ini lama-lama memang semakin menguras kesabaran Nara. "Uggh! Lo itu sebenarnya manusia atau bukan sih?" Kesal Nara kembali merampas dasi tak berdosa itu dari tangan Elang.


"Gue suami lo lah sekarang. Gue ingetin kalau lo mau pura-pura lupa." Jengkel! Nara semakin jengkel dengan cowok tampan berbau maskulin di hadapannya saat ini.


Terlalu lelah berdebat dengan Elang. Nara akhirnya memilih untuk mengalah. Jemari lentiknya dengan telaten mengikat dasi di kerah seragam Elang.


Tatapan Elang begitu lekat mengamati wajah Nara yang tampak serius dengan aktivitas di tangannya. Dalam diam, Elang tersenyum bangga. Memilik pasangan cantik dan pintar seperti Nara adalah suatu hal yang perlu Elang syukuri. Dari visual – gadis itu sudah teramat sempurna untuk Elang. Apalagi sifat galak-galak menggemaskannya, membuat Elang sering merasa terlena. Nyaris kehabisan daya untuk mengagumi sosok Naraya.


"Tuh udah!" ketus Nara.


"Thank's." Nara mengangguk, mundur beberapa langkah. Dia segera mengambil tasnya dan bersiap turun ke bawah.


Sembari menunggu Elang yang masih sibuk dengan rambutnya. Nara duduk di sisi ranjang dan memainkan ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Ghea yang belum gadis itu lihat dan balas.


"Silvi? Tumben," dengan sedikit penasaran, Nara membuka pesan dari saudari tirinya itu.


Silvi: Wajar di nikahin. Hamil di luar nikah sih!


Silvi: Dibayar berapa Lo jadi jalangnya Elang?


Sudut bibir Nara tertarik miring, ternyata benar dugaan Ghea. "Gak mungkin kan lo tahu dari Papa?" Lirih Nara tersenyum sinis.


Sampai saat ini belum ada yang tahu tentang kehamilan Nara. Kecuali Nenek dan Kakeknya. Itu pun kemarin Nenek Mayang juga mengatakan pada Nara sebelum ia dibawa pergi oleh keluarga Elang, bahwa sampai saat ini Papa Zain tidak tahu soal kehamilannya. Lalu kalau Silvi tiba-tiba tahu tentang kondisinya yang jelas sudah di tutup-tutupi oleh keluarganya, dari mana coba? Tidak mungkin kan mulut Ghea yang ember!


"Ada masalah?" Tanya Elang yang sudah berdiri tepat di depan Nara.


"Enggak, lo udah selesai?"


"Kita ke bawah sekarang." Nara segera menaruh ponselnya di saku seragam lalu bergegas berdiri. "Ayo!" ajaknya.


'Lo pasti lagi nyembunyiin sesuatu dari gue Ra.'


Saat ini Elang lebih memilih untuk diam dan hanya memperhatikan sikap Nara. Tetapi jangan di anggap diamnya Elang itu sebuah sikap yang tak peduli akan Nara. Elang sangat peduli. Ia akan mencari tahu apapun yang menyangkut kenyamanan Nara dengan caranya sendiri. Dan itu berlaku mulai saat ini dan seterusnya.


***


Pagi ini.. pertama kalinya Nara ikut makan bersama dengan keluarga besar Elang. Dari tatapan Oma Gayatri dan Kakek Damar, sepertinya beliau cukup puas dengan kedisiplinan Nara. Setidaknya di hari pertama ia mengikuti tradisi keluarga Bimantara gadis itu tidak melakukan kesalahan.


"Elang berangkat dulu," pamit cowok itu setelah selesai makan.


Nara sempat tercengang. Melihat kelakuan Elang yang langsung nyelonong seperti preman pasar. “Nara berangkat dulu, Kek." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Kakek Damar.


Dengan tatapan teduh semua penghuni meja makan memandang Nara, takkub. Ternyata dibalik sikap galaknya, Nara memiliki kepribadian yang santun. Tidak seperti Elang. Keluar masuk rumah seenak jidatnya saja.


"Hati-hati di jalan." ucap Kakek Damar sembari mengulurkan tangannya, lalu menepuk pelan kepala Nara. Saat gadis itu benar-benar mencium punggung tangan Kakek Damar dengan santun.


Bergantian, Nara juga berpamitan pada Oma Gayatri lalu Papa Damar dan terakhir Mama Naya.


"Hati-hati sayang." Sebuah pelukan hangat Mama Naya selipkan untuk menantu cantiknya.


Nara tertegun. Sebuah dekapan dari Mama Naya membuat Nara merasakan kehangatan yang sudah lama tidak pernah ia dapatkan. Kecuali Tante Helena. "Iya Ma."


Sesampainya di halaman rumah Nara kembali dibuat tercengang dengan kelakuan Elang yang sengaja menggeberkan motor sportnya di depannya.


Brumb..


Brumb..


"Ayo!"


"Kita berangkat pakai motor?"


"Iya Nara sayang. Ayo!"


Nara melotot, kesal sekali dia setiap kali di panggil seperti itu oleh Elang. "Lo gak ada cita-cita bawa mobil gitu?" Nego Nara.


"Gak ada! Kalau cita-cita nidurin lo nanti malem ada."


"Elaaang!"

__ADS_1


Elang terkekeh geli, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Nara naik ke atas motornya. Dengan kesal, Nara pun akhirnya menerima uluran tangan suaminya, lalu naik ke atas motor besar Elang. "Nanti kalau anak-anak pada heboh gimana Elang?" Tanya Nara tak tenang.


"Biarin! Gue gak peduli."


Sialan!


"Gue males kalau jadi bahan cibiran fans fanatik lo!"


Bukannya menjawab, Elang malah menarik kedua tangan Nara agar berpegangan pada pinggangnya. "Gak usah dipikirin Ra. Gue yang bakalan maju kalau mereka macem-macem sama lo." Mencebik, Nara paling malas dengan jawaban Elang yang sok akan melindunginya.


"Buruan jalan!" Ketus Nara sebagai drama terakhir, perdebatan pagi ini menuju ke sekolah.


Seulas senyum terus melengkung di wajah tampan Elang. Tidak henti-hentinya ia mencuri pandang dari spion motor pada keindahan yang ada di belakang sana.


Wajah putih bersih, bibir tipis merah alami. Rambut panjang yang tergerai indah tampak menari-nari mengikuti arah mata angin. Elang menggelengkan kepalanya pelan, sebegitu tergila-gilanya dia pada gadis itu. Sampai-sampai memandangnya saja Elang tidak pernah bosan. Makin candu yang ada!


"Bodoh! Kenapa gue gak nerima tawaran Kakek sejak dulu aja kalau tau endingnya lo yang bakalan nikah sama gue juga Ra." Gumamnya terkekeh kecil.


"Lo ngomong apa?" Tanya


Nara.


"Enggak! Lo cantik." Teriak Elang.


Nara mendelik kemudian mencubit pinggang Elang dengan gemas. "Dasar gila!" Ketusnya membuang muka, gadis itu kembali menatap pemandangan pagi ini yang tampak mulai padat merayap. Jelas dengan pipi yang bersemu merah.


"Tuh kan cantik." Lirih Elang masih setia dengan aksi curi-curi pandang.


***


Memasuki area sekolah, Elang dengan apik memarkirkan motor sportnya pada parkiran sekolah. Dan hal yang pertama kali keduanya dapatnya saat sampai di sekolahan adalah tatapan ganas kedua temannya.


Siapa lagi orangnya kalau bukan Jonathan dan Ghea!


Tak hanya Jonathan dan Ghea sebenarnya. Tatapan anak-anak di sekolah pagi ini juga tampak menusuk mata Nara. Terutama fans alay Elang!


Di mata Nara. Mereka semua seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


Tetapi juga banyak pula yang tersenyum kebaperan karena perilaku Elang yang begitu manis pada Nara. Contohnya, saat ini. Dengan perhatian sederhana Elang yang berupa membantu Nara untuk turun dari motor besarnya. Siswi-siswi sudah dibuat kelojotan seperti ingin ayan berjamaah.


"Nona muda dan Tuan muda! How are you? Apa kita perlu sebarin berita viral pagi ini? Atau kalian mau menyerahkan diri dan memberikan kita sebuah klarifikasi!"


Nara memutar bola matanya dengan jengah.


"Tanya aja sama temen lo!" Ketusnya pada kekasih Ghea. Lalu segera menarik tangan Ghea, membawanya pergi dari sisi Jonathan.


"Si Bege! Gue juga kepo tauk!" Kesalnya.


"Gak ada yang perlu lo kepoin ." Ghea memberengut kesal. Sebenarnya ia ingin marah pada Nara karena kemarin ia tidak di undang di acara akad nikahnya.


Ghea merasa seperti di anak tirikan!


"Lo jangan baper Ghe. Kemarin serba mendadak! Gue mau chat lo, tapi ponselnya keburu dibawa sama si brengsek Elang!" Ghea melotot, lalu mengusap perut rata Nara.


"Ra keponakan gue nanti mewek loh kalau bapaknya lo kasarin!" Demi Tuhan! Nara langsung salah tingkah dengan tindakan Ghea saat ini. Ia segera menepis tangan Ghea dari perutnya.


"Lo mau gue benar-benar jadi bahan bully-an?"


Dengan nyengir kuda, Ghea menggelengkan kepala. “Sorry, kebabalasan. Habisnya lo kasar banget kalau ngomong." Nara menghela napas, ia juga lupa kalau saat ini kondisinya tengah hamil.


'Sorry baby!' batinnya sembari memegangi perutnya yang masih datar.


Elang tersenyum tipis di belakang Nara. Bukannya Elang tak tahu apa yang sedang di bicarakan Nara dan Ghea. Elang tau! Hanya saja ia lebih memilih diam bersama Jonathan.


"Gila! Top cer juga serbuk jelatin lo Lang!" Bisik Jonathan.


Bibir merah bak semulus pualam itu tersungging tipis mendengar pujian sahabatnya.


" Gue pinjemi kamar apartemen kalau lo mau coba!"


Otak dangkal Jonathan sontak terkontaminasi mendengar bisikan ghoib dari si iblis tampan Elang.


"Lo ada video tutorialnya gak ?"


"Berani lo macem-macem sama Ghea- habis lo di tangan Tante Helena!" Ancam Nara tidak main-main.


Glek!


Jonathan menelan ludah dengan kasar lalu melirik Elang yang tampak acuh di sebelahnya.


"Gue cuma di hasut laki lo Ra!"


Mendengar nada ketakutan Jonathan, Elang sontak terkekeh sembari menggosok hidung dengan ciri khasnya. “Semua itu tergantung niat!"


"Elaaang!" Geram Nara.


"Apa sayang?" Tanya Elang sembari menarik pinggang Nara, posesif.


"Kyaaaa!! Gue gak bisa diginiin!" jerit siswi-siswi cabai yang tampak kebaperan.

__ADS_1


__ADS_2