
Kediaman Bimantara – malam hari . Tradisi makan malam pada keluarga kolongmerat ini memang tidak pernah berubah . Semua wajib berada di meja makan pukul 7 malam , tepat .
Jika sampai ada yang tidak hadir karena alasan tidak masuk akal . Maka , Oma Gayatri atau Kakek Damar akan menurunkan bala bencana untuk salah satu anggota yang mangkir dari tradisi rutin tersebut , termasuk pada cucu kesayangannya sendiri , Elang .
Tradisi ini sudah turun temurun dari leluhur Bimantara . Oma Gayatri selaku menantu tertua di keluarga besar ini hanya bisa menjalankan kewajibannya dengan taat .
" Anakmu ke mana sih Pa ? " bisik Mama Naya , yang tak lain adalah ibu kandung dari Elang .
Papa Alam mengangkat kedua bahunya rendah , pertanda tidak tahu menahu dengan keberadaan putranya . Mama Naya semakin gelisah melihat jam pada dinding sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit .
Sebentar lagi , kedua mertuanya itu pasti akan keluar dari sarang pertapaannya . Sulit bagi Mama Naya membela Elang jika mertuanya itu sudah duduk di kursi kebesarannya .
" Udah biarin , lagian Elang juga sudah sering kena hukuman dari Ayah . " Ucap Papa Alam membuat Mama Naya melotot .
" Enak saja ! Kamu pikir aku ikhlas putraku di cambuki pakai gesper terus - terusan ? Dulu aku ngeluarinnya penuh perjuangan , taruhan nyawa ! " sewot Mama Naya . Papa Alam meringis lalu mengusap bahu istrinya dengan lembut .
" Gak usah ngegas dong Ma , " rayunya dengan lembut .
" Elang pulang ! " teriak bocah itu dari ambang pintu ruang tamu . Mama Naya bergegas berdiri lalu memukul pelan bahu putranya .
" Ini kenapa bisa biru - biru gini ? Kamu habis tawuran lagi Lang ? " selidik beliau.
menghadapi Elang memang harus dibutuhkan kesabaran yang extra . Bertepatan saat Elang akan naik ke lantai atas , dari sebelah tangga , seseoarang yang Mama Naya takutkan kehadirannya akhirnya datang juga .
Sorot mata yang tajam dan rahang tegasnya membuat siapa pun yang melihat pasti akan bergidik ngeri . Beliau adalah Damar Bimantara , Kakek dari Elang .
" Ya ampun , " cicit Mama Naya sembari menepuk jidatnya sendiri .
" Malam Kakek , Oma cantik , " sapa elang sembari berlalu meninggalkan ruang tengah .
Kakek Damar menatap punggung Elang dengan tatapan tajam . Sementara Oma Gayatri tetap dengan wajah datarnya yang seperti tembok berjalan .
" Keputusanku sepertinya memang sudah tepat , ” lirih Kakek Damar .
Tanpa menunggu Elang yang sedang membersihkan diri di lantai atas . Acara makan malam pun di lakukan dengan khidmat . Kedua sesepuh itu akan selalu disiplin dalam setiap peraturan - peraturan leluhur Bimantara .
Dari lantai atas Elang mengumpat pelan , ternyata ia benar - benar sudah terlambat menghadiri acara makan malam sialan yang selalu ribet , tepat di jam 7 malam itu .
Terkadang Elang benar - benar iri dengan Galuh yang bisa bebas dari tradisi aneh seperti di rumahnya ini . Daripada harus mendapat hukuman cambuk dari sang Kakek , Elang memilih memutar tubuhnya dan kembali ke dalam kamarnya . Namun sungguh sayang , niatnya itu ternyata harus gagal total .
" Turun ! ” titah laki - laki tua di bawah sana tanpa menoleh ke atas .
Kakek Damar tetaplah Kakek Damar , telinganya masih berfungsi dengan tajam . Mau Elang bersembunyi di lubang semut pun beliau pasti akan menemukan keberadaan bocah itu .
Dengan langkah gontai , Elang pun akhirnya turun ke lantai bawah . Dia segera mengambil duduk di sebelah Papa Alam lalu mengambil piring dan lauk di atas meja makan .
Oma Gayatri hanya menggeleng tipis , tak hanya karena Elang yang terlambat mengikuti makan malam , tetapi juga karena melihat adanya luka lebam di wajah cucunya .
Makan malam selesai , tanpa banyak kata Elang segera masuk ke dalam ruangan Kakek Damar . Ia sudah hapal betul dengan apa yang akan dilakukan Kakeknya itu setelah ini . Hukuman cambuk !
" Tunggu apa lagi Kek ? " tanya Elang sembari menyodorkan kedua tangannya .
Kakek Damar memasukkan sebelah tangannya pada saku celana , berjalan dengan tatapan intens mengintai Elang yang sedang memasang wajah malasnya .
" Keroyokan , tawuran , suka bolos sekolah ! Mau jadi apa kamu ? " tanya Kakek Damar sembari memutari tubuh Elang .
Elang menggaruk lehernya yang tidak gatal , lalu kembali ke posisi semula . Berdiri tegak sembari mengulurkan kedua tangan ke depan .
" Jadi cowok sejati lah Kek . Memangnya mau jadi apa lagi ? " Cetarr !
Satu cambukan berhasil lolos dari tangan kakek damar membuat kedua tangan Elang menjadi merah karena pecutan dari gasper kulit ular milik Kakeknya itu . Elang hanya meringis sebentar lalu kembali memasang wajah badungnya .
" Minggu besok ikut Kakek . Tidak ada bantahan ! " ujar Kakek Damar tegas . Tangan Elang seketika terkepal kuat .
Ia bukannya tidak paham dengan maksud kakeknya . Elang tahu betul , bahwa Minggu besok pria tua bangka itu akan menumbalkannya melalui perjodohan yang telah dibuat oleh teman lamanya .
" Sampai mati pun Elang gak bakalan mau , ” ucap Elang tersenyum mengejek .
__ADS_1
Kakek Damar menajamkan matanya , rasanya ingin menelan cucu berandalannya itu bulat - bulat .
" Kalau gitu jadi gelandangan saja sekalian di jalan . Beres ' kan ! " sinis Kakek Damar membuat Elang menggerang geram .
" Terserah Kakek ! " jawabnya yang setelah itu segera pergi dari ruangan Kakek Damar dengan menahan kesal .
" Elang ! " Gemas Kakek Damar sembari menggulung gasper keramatnya dengan jengkel .
“ Kita lihat saja , sampai seberapa jauh kamu mau menolak perjodohan yang Kakek atur ! " Imbuhnya sembari menatap pintu ruangan yang tertutup keras dari luar sana .
" Dasar cucu kurang ajar ! "
Mama Naya berlari kecil membuntuti Elang . Sedari tadi beliau sudah menunggu putranya itu dari ruang tengah .
" Lang , kamu di apain sama Kakek ? " Tanya Mama Naya setengah berbisik .
Elang terkekeh melihat wajah kepo Mama Naya , lalu menunjukkan tangannya yang ada bekas cambukan dari kakek tua itu .
" Kamu sih bandel , " gumam Mama Naya sembari mengusap lembut tangan putranya .
" Biasa Ma , cowok ! Masa iya Elang mau main boneka di rumah , " ucap Elang terkekeh pelan .
Mama Naya memukul pelan bahu Elang , selalu saja bisa menjawab nasihat Mama Naya yang sedang mode serius .
" Kakek tadi bahas masalah perjodohan gak ? " tanya Mama Naya pelan . Beliau takut ada mata tua yang sedang mengawasi gerak - geriknya saat ini . Elang memasang wajah malas dan mengangguk .
" Seperti biasa , " jawab Elang .menghembuskan napasnya lelah , kemudian Mama Naya mendongak sedikit demi bisa melihat wajah putranya yang kusut .
" Yang di jodohin sama kamu ‘ kan namanya juga Nara , Lang . Siapa tahu aja gadis itu juga sama cantiknya kayak Nara . " Elang mendengus kesal mendengar ucapan Mama Naya .
"Gak bakalan sama . Meskipun Nara yang di maksud Kakek jauh lebih cantik dari Naranya Elang . Tetap saja gak bisa buat hati Elang merasa berbeda , " terang Elang tersenyum penuh arti membuat Mama Naya yang sedang memperhatikan gerak - gerik Elang jadi ikutan tersenyum geli .
" Naranya Elang .. Naranya Elang ! Emangnya dia mau sama kamu ? " tanya Mama Naya yang terdengar sangat menyebalkan sekali di telinga Elang .
" Sekarang memang belum , " jawab cowok tampan itu dengan kecut .
" Kasihan sekali anak Mama . " Ucap Mama Naya kemudian berlalu , meninggalkan Elang dengan tertawa - tawa .
" Mama ! " tekan Elang dengan tatapan kesal .
***
Hari ini lumayan melelahkan untuk Elang . Dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king sizenya dengan menatap langit - langit kamar .
Perlahan matanya terpejam dengan seulas senyum yang tersungging begitu menawan . Ia masih ingat betul kejadian tadi siang di kafe milik Galuh .
Sentuhan yang Nara berikan kepadanya . Membuat perasaan Elang semakin terobrak abrik oleh perhatian kecil yang Nara lakukan untuknya .
" Gue rela terluka asal setiap hari dapet yang manis - manis dari lo , Ra ! " Gumamnya masih dengan mata terpejam .
Mungkin malam ini Elang akan sulit tidur karena memorinya terus menerus berputar pada kejadian tadi siang di kafe . Nara oh Nara ! Sepertinya Elang benar - benar sudah gila karena pesonamu .
Jika Elang saat ini sedang membayangkan sweet moment yang telah terjadi antara dirinya dan Nara , beda lagi dengan si gadis incaran Elang yang sedang bersitegang dengan Opa Malik di kediaman Tante Helena .
" Kakek gak adil ! " sentak Nara dengan mata memerah , menurut Nara kakeknya itu begitu tega padanya .
Bagaimana mungkin di zaman era modern seperti ini masih ada rencana kuno tentang perjodohan .
" Ra ! Dengerin Kakek kamu dulu , semua ini demi kebaikan kamu sayang . " Ujar Nenek Mayang , lembut .
Nara menutupi wajahnya menggunakan bantal sofa , menahan tangis . Semua ini benar - benar tidak adil untuk Nara . Apa penderitaannya selama ini masih kurang ? Lalu kakeknya berusaha menambah penderitaan itu dengan menjodohkan dirinya dengan laki - laki yang tidak ia kenal !
" Nara , semua ini Kakek lakukan untuk masa depan kamu . Percaya sama Kakek "
" Kakek jahat banget sama Nara . Kenapa Kakek gak jodohin aja si Silvi sama pilihan Kakek ? " ucap Nara geram . Kakek Malik mendesah tajam .
Mana mungkin beliau mau menjodohkan cucu dari sahabatnya dengan bibit seorang pelakor seperti , Soraya . Nara pikir sahabat Kakeknya itu orang sembarangan . Suka ngawur memang kalau bicara si Nara .
__ADS_1
" Yang cucu Kakek itu kamu atau Silvi ? " tanya beliau dengan tatapan yang begitu lekat . Naraya mengusap tengkuknya dengan menatap lain arah . Bingung dia mau menjawab apa .
" Kakek gak mau tahu Nara . Minggu besok , kamu harus ikut Kakek sama Nenek menemui keluarga teman Kakek . Jangan pernah mencoba untuk membangkang , atau semua akses kebebasan kamu akan Kakek tutup ! "
" Dan satu hal yang harus kamu tahu Ra , mereka itu dari keluarga terpandang ! Kamu jangan asal bicara , " imbuh Kakek Malik dengan nada sedikit meninggi .
Bibir Nara terkatup rapat , kali ini ia merasa benar - benar seperti putri yang terbuang . Nara menganggap , Kakek Malik telah menjualnya pada temannya yang kaya raya .
" Bakalan Nara pikirin , sekarang Nara ngantuk . Mau tidur , " ucap Nara lalu beranjak untuk pergi meninggalkan ruang tamu .
" Nara ! "
" Sudah biarin dulu nara nenangin hatinya . Kamu jangan terlalu memaksa dia . Bagaimana pun Nara juga butuh waktu . " Kata Nenek Mayang .
"punya cucu perempuan satu Tapi susah sekali di aturnya , " kesal Kakek Malik .
. Setelah kepergian Nara yang menuju ke kamar Ghea . Helena baru berani keluar . Tadi Helena memang sengaja memberi waktu untuk Nara dan Kakek Malik untuk mengobrol .
" Om yang sabar , Nara mungkin butuh waktu . " Ujar Helena .
Kakek Malik menganggukkan kepalanya , mungkin beliau memang terkesan memaksa pada Nara , tetapi yang sebenarnya terjadi , beliau melakukan ini semua juga demi kebaikan cucu satu - satunya , Nara .
Kakek Malik terlalu menyayangi Nara , beliau takut jika Tuhan tiba - tiba memanggilnya , Nara akan hidup dengan pengawasan putranya yang kurang peka .
Malik jamin hidup Nara akan selamanya menderita karena Jika sampai itu terjadi . Kakek dalam bayang - bayang ibu tirinya , Soraya . Menantu yang kehadirannya tidak pernah Kakek Malik inginkan . Harapan Kakek Malik saat ini hanya satu , yakni menyerahkan Nara pada keluarga yang tepat .
Kakek Malik ingin melihat Nara hidup di tengah - tengah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang . Dan Kakek Malik yakin , Nara akan mendapatkan itu semua dari keluarga sahabatnya . .
" Om hanya ingin yang terbaik untuk nara " gumam kakek malik dengan wajah sendunya .
Helena menghela napas panjang . Helena tahu maksud tujuan ayah mertua dari almarhumah sahabatnya itu adalah yang terbaik untuk Nara .
Tapi mau bagaimana lagi , ini memang zaman modern . Tidak mudah untuk Nara menerima permintaan Kakeknya yang bagi Nara sangat kulot dan kuno sekali itu dengan mudah .
" Nanti Helena coba bantu ngomong sama Nara , ya , Om . " Kakek Malik dan Nenek Mayang tersenyum teduh , sepasang lansia itu memandang penuh arti pada perempuan cantik yang selalu menyayangi cucu mereka seperti putri kandungnya sendiri itu .
" Mungkin kalau Zain nikahnya sama kamu , Om sama Tante gak bakalan nyuruh Nara menikah dini , Na . " Helena mendelik , mendadak wajahnya berubah jadi kikuk .
" Sayangnya .. Zain sama Helena tidak berjodoh , hehe .. " Kakek Malik terkekeh pelan . Beliau masih mengingat betul Helena pernah beradu mulut ketika Zain melamarnya dengan membawa - bawa nama Nara yang saat itu masih duduk di kelas sebelas SMA . Putranya itu memang pria yang payah .
***
Pagi harinya Nara perlahan mengerjapkan matanya . Ekor matanya melirik ke sebelah tempat tidurnya , dimana ada Ghea yang masih tertidur nyenyak .
Nara menggigit bibir bawah dalamnya dengan perasaan bingung . Besok hari Minggu . Hari yang mati . Ia benar - benar tidak siap untuk bertemu dengan cucu dari sahabat Kakeknya .
" Lo mikir apa bege ? ” Tanya Ghea dengan suara khas bangun tidur .
Nara menoleh dengan wajah " Ghe , lo besok jadi ke villa sama anak - anak ? " Mendengar pertanyaan Nara , Ghea menaikkan sebelah alisnya lalu mengangkat kedua bahunya rendah .
" Belum ngerti . Semalem sih udah dapet izin sama nyokap , tapi kalau ada lo di rumah gue mana tega gue ninggalin , lo santai aja Ra . Gue pasti milih temenin lo , " ujar Ghea membuat Nara menggeleng .
" Lo harus ikut ! " suruh Nara dengan tampang serius . Ghea memundurkan kepalanya , menatap Nara dengan sedikit heran .
" Terus lo gima- " belum juga Ghea menyelesaikan ucapannya , Nara sudah memotongnya .
“ Gue juga bakalan ikut , boleh ' kan ? " tanya Nara dengan wajah memelas .
Ghea melotot bergegas duduk dengan menyandarkan punggungnya pada hardboard ranjang .
" Beneran ?! " tanyanya antusias . Nara ikut duduk di sebelah Ghea kemudian mengangguk yakin .
" Lo lihatnya gimana ? " Ghea mengusap kedua matanya , lalu tersenyum manis .
" Yuhu ... Kita berangkat besok ! Gue mau ngasih kabar ke Jonathan dulu , " seru Ghea memeluk tubuh Nara erat , setelah itu meraih ponselnya yang ada di atas nakas .
Ghea akan memberi kabar baik ini pada kekasihnya Jonathan . Nara tersenyum penuh arti . Jika besok dia ikut Ghea , maka acara pertemuan yang membahas tentang perjodohan kuno dengan sahabat Kakeknya itu akan gagal total " Yes ! " sorak Nara kegirangan .
__ADS_1