
dengan senang hati elang melakukannya. Tangan nakal Elang turun ke bawah dan menggenggam sesuatu yang sudah on fire sedari tadi lalu melesatkan secara perlahan ke dalam sempitnya belahan buah peach milik Nara.
Nara meringis- ini sakit tetapi begitu batang tak bertulang itu masuk sepenuhnya ke dalam pusat intinya kenapa malah berubah jadi sesak dan enak.
"Kalau gue terlalu kasar ngomong Ra."
Bersemu merah, wajah Nara seketika seperti tomat masak yang ingin jatuh dari atas pohonnya. Bisa tidak kalau cowok itu berhenti berbicara yang nantinya malah membuat Nara jadi malu dan mati kutu.
Mana bisa! Namanya juga begundal Elang!
Dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh penekanan, Emang mulai mendayung untuk berlayar menyusuri luasnya wilayah lembah alam yang masih terasa sesak belum pernah terjamah milik Nara.
"You are so hot baby!"
Rancau Elang mulai celometan.
Dengan mencengkeram erat punggung Elang, Nara pun hanya bisa mendesah pasrah. Nara seolah kehilangan urat malunya saat ini. Elang benar-benar membuatnya seperti putri duyung yang terdampar di sebuah lautan tak berpenghuni. Tak peduli siapapun akan mendengar jeritannya yang seperti ****** mahal kehausan belaian.
"Elang!"
"Yeah baby!"
Nara ingin menjerit dan meledakkan inti di dalam lembahnya sekarang, ia sudah tak tahan. Si tampan Elang yang sedang merem melek di atasnya itu telah membuatnya seolah melayang-layang di atas ketinggian awan. Dan akhirnya Nara kalah, tubuhnya bergetar hebat saat sudah mencapai pada puncak ketinggiannya.
"Cepetan!" Sentak Nara, ia sudah kesemutan karena Elang malah asyik berlama-lama bermain tumbuk-tumbukan.
"Wait!" Elang segera memacu belalainya dengan gerakan yang lebih cepat lalu mengerang rendah saat sudah mencapai kenikmatan duniawinya.
Cup!
"Thank's Ra."
Nara segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu tidur membelakangi Elang. Bukannya Nara menyesal, hanya saja ia malu karena tadi mulutnya yang polos itu telah merancau dengan kata-kata yang menggelikan di telinga.
"Ra ngadep sini dong?"
Nara memejamkan matanya, pokonya dia malu. Entah sudah semerah apa wajahnya saat ini. Intinya Nara merasa tak punya harga diri di depan Elang.
'Bener kata Silvi. Gue mirip ******!'
Elang menghembuskan napasnya kasar, lalu menarik tubuh Nara agar menghadap ke arahnya.
"Stop Elang! Gue lagi malu.” Sungut Nara yang seketika mengundang gelak tawa dari bibir Elang.
"Istri siapa sih ini? Gemesin banget." Tak mau membuat Nara marah-marah dan semakin kesal, Elang pun akhirnya hanya memeluk tubuh Nara dari belakang.
"Lo gak ada cita-cita buat pakai baju lo lagi gitu?" Sindir Nara yang kemudian memukul pelan bibirnya. Elang terkekeh, kini malah ikut masuk dalam satu selimut yang sama. "Kyaa! Itu apaan?" Teriak Nara dengan menggeleng takut.
Elang mendengus, kemudian menyelundupkan wajahnya pada cekungan leher Nara. “Itu yang bikin lo keracunan dan bilang enak-enak tadi Nara sayang!"
__ADS_1
Oh God! Sumpah demi apapun rasanya Nara ingin melempar cowok bermulut sialan di belakangnya saat ini kedalam sumur yang paling dalam. Benar-benar tidak ada filter!
"Ra!" Panggil Elang dengan mengendus-endus bahu Nara. " Nambah war lagi yuk!" Ajaknya dengan nada genit.
"Elang lo bosen hidup?" Teriak Nara dengan wajah merah padam.
"Enggak Ra. Gue belum bosen hidup. Kan masih baru mau memulai sama lo dan baby." Jawabnya sembari mengusap-usap perut rata Nara.
"Kenapa anak gue gak gerak-gerak Ra? Apa dia belum puas gue jengukin tadi?"
Tuhaan! Boleh tidak kalau Nara meminta si Elang diberi sakit sariawan sebulan saja. Nara tak tahan dengan mulut nakal suaminya. Benar-benar tak tahan!
"Lo perlu periksa kejiwaan Elang!" sentak Nara dengan menarik selimut untuk membelit tubuhnya lalu segera bangkit, tanpa melihat penampakan meresahkan di atas ranjang sana.
"Dasar gila! Memangnya dia pikir ini anak kucing?" Gerutu Nara sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setelah memunguti bajunya yang berserakan di atas lantai yang jelas.
Elang menatap kepergian Nara dengan mulut melongo. Apa yang salah dengan ucapannya. Bukannya dulu saat Jia hamil Kinan, Galuh sering bilang kalau balita menggemaskan itu sering bergerak ketika selesai di jenguk. Elang kan juga penasaran dengan gerakan lincah anaknya di dalam perut Nara.
"Mungkin karena tadi gue lupa baca salam. Anak gue jadi ngambek." Komentarnya dengan lesu. Elang segera loncat dari ranjangnya lalu menyusul Nara yang sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.
"Nara. Kenapa gue di tinggal?"
"Aaaa! Keluar!" teriak Nara yang sedang berendam di dalam bathtub.
"Gue ngerasa tubuh sialan ini masih panas Ra."
Nara menenggelamkan lebih dalam lagi tubuhnya dengan kening yang berkerut tipis.
Elang memasang wajah memelas kemudian masuk begitu saja ke dalam bathtub. “Beneran Ra? Lo pegang ini kalau gak percaya. Masih tegang kan?” Dustanya sembari menarik tangan Nara dan mengarahkan pada pusakanya yang memang masih berdiri tegak menantang.
Glek!
nara Menelan ludah dengan susah payah, otak Nara malah traveling ke mana-mana. Pantas saja setelah melakukan hayang kawin bersama Elang itunya terasa perih dan panas. Ternyata milik suaminya itu berukuran purba.
"Tapi-"
"Janji pelan-pelan."
Meremas dua bukit milik Nara dengan gemas, Elang pun kembali melancarkan aksinya. Kali ini dengan sensasi yang berbeda. Main tumbuk-tumbukan di dalam air.
Beberapa menit kemudian. “ Gue capek! Cepetan Elang!"
"Nanggung Ra. Nagih banget sumpah!"
***
Keesokan harinya, Nara mengikuti acara sarapan pagi bersama keluarga besar suaminya dengan wajah yang di tekuk masam. Sementara Elang, jangan tanyakan lagi. Cowok itu begitu semangat empat lima.
Bagaimana tidak semangat kalau tadi pagi saja cowok itu masih mengerjai Nara dengan membawa-bawa alasan obat ajib-ajib yang belum luntur dari tubuhnya. Dan dengan bodohnya Nara malah tidak bisa menolak.
__ADS_1
Sebenarnya disini Elang yang sangat licik atau Nara yang terlalu bodoh!
Entahlah, yang jelas pagi ini kedua pasangan muda itu membuat seisi penduduk meja makan tampak keheranan.
"Kamu gak lagi sakit kan sayang?" tanya Mama Naya.
Nara menggeleng, masih dengan wajah lesunya. "Enggak Ma. Nara gak papa." Jawabnya yang mencoba untuk memalsukan senyumnya.
"Elang setelah ini kamu ikut Mama ke Dokter kandungan sama Nara, ya." Elang mengangguk, masih dengan senyum yang begitu terlihat menawan. "Beres Ma." Jawabnya sembari mengerling nakal ke arah Nara.
Nara mendelik, buru-buru membuang muka.
Dan semua gerak-gerik yang keduanya lakukan sedari tadi itu tidak luput dari sorot mata tajam Oma Gayatri.
Melihat ada yang tidak beres dengan hasil tangkapan matanya, Oma Gayatri segera bangkit berdiri lalu mendekati meja Nara.
"Eh- Oma mau sesuatu?" tanya Nara yang mengira Oma Gayatri mau mengambil lauk di meja depannya.
"Elaang!" Gumam Oma Gayatri setengah mengerang geram.
Suasana di meja makan sontak menjadi tegang, saat wanita tua itu mengangkat dagu Nara dengan tatapan penuh amarah.
"Nara ada salah sama Oma?" tanya Nara dengan tatapan bingung.
"Elang! Kamu apain cucu Oma hah? Ini apa?" tunjuk Oma Gayatri pada leher Nara yang banyak bekas ****** jejak cintanya.
"Mampus!" Rutuk Nara dengan mata terpejam, menahan malu.
"Oma kayak gak pernah muda aja!" bukannya merasa bersalah, cowok itu malah menjawab dengan tampang tanpa dosanya.
"Dasar begundal! Pantas saja cucu Kakek sedari tadi lemas! Jadi kamu pelakunya!" Kakek Damar mengeluarkan senjata pamungkasnya dari balik mantel hitam kesayangannya.
"Hajar saja bocah itu Yah!" seloroh Mama Naya yang juga kesal dengan kelakuan putranya.
Cetar!
Cetar!
Nara tercengang melihat Kakek Damar dengan sadisnya mencambuk tangan Elang menggunakan gasper kulit yang terlihat sangat mengerikan.“ Jangan Kek."
“Biarin saja sayang.” Cegah Papa Alam.
"Tapi suami Nara nanti bisa mati, Pa." Cemas Nara tanpa sengaja memanggil Elang dengan embel-embel suami.
Senyum di bibir Elang terlihat semakin menawan, dengan hati yang berbunga-bunga cowok itu malah menyuruh Kakeknya untuk menambah lagi cambukan pada tangannya.
"Lebih keras lagi Kek. Elang takut ini cuma mimpi." Pintanya yang membuat Nara semakin histeris. Menangis ketakutan.
Cetar!
__ADS_1
"Mereka sweet banget ya, Pa." Celetuk Mama Naya sembari senyam-senyum kebaperan.
"Mirip kalian dulu. Lebay! Pertama di jodohin aja anyih-anyih. Lama-lama mirip lem castol sama sol sepatu! Lengket setelah bersatu!" cibir Oma Gayatri.