My Perfect Hubby

My Perfect Hubby
12.menolak ajakan elang


__ADS_3

Memiliki mata tajam , alis tebal dengan rupa nyaris sempurna . Membuat seorang Elang memang tak pernah gagal dalam membius setiap kaum hawa yang menatapnya . Tapi tidak dengan gadis galak yang satu ini . Tatapannya begitu memancarkan kebencian pada Elang .


Dadanya naik turun dengan napas yang terdengar memburu . Ingin menampar wujud iblis tampan di depannya saat ini , namun tangan dan tubuhnya sudah di himpit paksa oleh si brengsek Elang .


Tatapan keduanya beradu , menyelami perasaan yang ada dalam hati mereka masing - masing .


Di mata Elang , Nara adalah sosok gadis yang sempurna . Sangat memenuhi kriterianya . Sementara , di mata Nara . Elang sangatlah jauh dari kriteria cowok idamannya . Bukan karena visualnya , melainkan kepribadiannya .


Satu kalimat yang pantas untuk menggambarkan sosok cowok itu menurut Nara ; " Lo itu brengsek ! " Dengan sekuat tenaga , Nara mencoba mendorong dada Elang agar menyingkir dari hadapannya .


Bruk


Usaha Nara gagal ! Karena tangan Elang lebih gesit mengunci pergerakan tubuh Nara . Elang mendorong kedua bahu gadis manis itu dengan kuat , dan kali ini berhasil membuat tubuh Nara terhempas lebih lekat lagi pada dinding .


" Gue cuma mau tanggung jawab ! Kenapa lo nolak niat baik gue , hm ? " Nara membuang muka , menghindari tatapan Elang yang semakin menusuk indera penglihatannya .


" Karena gak ada yang perlu di pertanggung jawabkan ! Gue udah lupain kejadian tadi siang , gue harap lo juga ! " sinis Nara dengan tangan terkepal kuat . Elang meremas kedua bahu Nara .


Sifat tempramental pada cowok itu terusulut , dengan tatapan penuh amarah , Elang membogem dinding tepat di sebelah wajah Nara dengan sangat keras .


Bugh


Mata Nara terpejam kuat . Benturan dari dinding dan tangan Elang barusan , menghasilkan suara yang membuat tubuh Nara meremang , tegang .


" Lo bakalan nyesel ! " Bisik Elang dengan suara yang terdengar mengerikan di telinga Nara . Perlahan Nara membuka kelopak matanya . Benar saja , raut wajah Elang terlihat sangat menakutkan saat ini .


Netra tajam itu di penuhi semburat merah . Nara merasakan ada aura sisi gelap dari diri seorang Elang Bimantara malam ini . Tak mau berlama - lama dengan situasi mencekam seperti ini , Nara segera mendorong tubuh Elang dan meloloskan diri dari cowok tempramen itu .


Tetapi sebelum benar - benar pergi Nara sempatkan untuk berhenti sejenak , lalu menoleh dan menatap punggung Elang ." Gue benci sama lo ! Gue benci ! " Elang menatap dingin , dinding di depannya saat ini .


Apa kurang dalam dirinya sampai ia harus mendapat penolakan . Cih , Dasar Mungkin , jika gadis lain yang berada di posisi Nara saat ini . Ia akan dengan suka rela menerima ajakan baiknya .


Tapi ini apa ? Nara malah sebaliknya ! Gadis itu beberapa saat lalu menolak dengan gamblang ajakannya untuk menikah . Padahal Elang hanya berusaha memperbaiki masalah yang ada . Harusnya Nara itu bersyukur karena ia masih mau bertanggung jawab .


" Aaargh ! Sial ! Dengan cara apa lo bisa luluh sama gue Ra ? " Frustasi Elang mengacak rambutnya kasar .


Dengan berlari - lari kecil , Nara akhirnya menyembul dari samping villa . Jelas dengan wajah suramnya . Kelakuan Elang benar - benar membuat hidup Nara kacau dan tidak tenang .


Jia menyenggol lengan Ghea dengan gerakan kepala terarah pada samping villa . " Kenapa ? " Tanya Ghea tak paham dengan kode yang Jia berikan .


" Nara .. " lirih Jia . Mendengar kata ' Nara ' seketika atensi Ghea terarah pada arah mata Jia saat ini memandang . Ghea mengerutkan kening , muka masam Nara membuat tatapan Ghea kebingungan .


" Napa asem banget muka lo ? " Nara langsung mengambil duduk di kursi depan perapian- lesu .


" Lanjutin , gue gak papa . ” Ghea semakin merasa aneh dengan jawaban Nara yang tidak meyakinkan .


" Yakin lo gak pa- ” ucapan Ghea menggantung ketika matanya tak sengaja melihat Elang yang baru keluar dari samping villa .


Sama dengan tempat Nara pertama kali menyembul tadi . Kini bukan hanya Ghea yang curiga dengan perubahan raut muka masam Nara . Jia pun juga sama . Merasa ada yang janggal setelah melihat kemunculan Elang .


" Btw- kalian habis dari belakang villa ? " celetuk Ghea sembari menatap Nara dan Elang bergantian . Nara memutar matanya malas . Kedua siku tangannya sengaja dia tumpukan pada meja kayu yang ada di depan untuk menopang dagunya .


" Ganti topik ! " perintah Nara . Sungguh , kepalanya mulai terasa pening karena masalah dan bencana yang menimpanya berlarut - larut seharian ini .


"Oke - oke ganti topik ! Jadi apa yang lo lakuin sama Elang tadi di belakang villa ? " Pertanyaan menyebalkan itu lolos dari bibir mungil Ghea , membuat Nara memelototkan matanya .


" Ehem ! Ra , mending lo bantu gue panggang ini beef aja . Bisa ? " Jia yang mengerti suasana hati Nara dalam keadaan tidak baik - baik saja langsung mengganti topik pertanyaan Ghea .


Nara mengangguk , bergeser tempat untuk membantu Jia memanggang beef slice ke atas alat grill . Ghea menarik bibirnya miring . Merasa kesal karena kekepoannya tidak terjawab .


“ Nara nyebelin , " gerutunya . Nara melirik Ghea dengan tatapan sengit .


" Apa lo ! " Tantangnya .


" Paan sih ? Gaje deh ! " Dumel Ghea membuat Jia terkekeh geli .

__ADS_1


Setelah memastikan semua masakan matang dan selesai . Galuh dan antek - anteknya mulai menata meja di tengah villa . Rencananya mereka akan makan malam dengan cara duduk lesehan . Seperti di konten Chinese yang sedang fyp belakangan ini .


Galuh melihat sekeliling , untuk memastikan tidak ada yang kurang . Pandangannya sedikit aneh saat menyorot si tampan Elang yang sedari tadi tidak enak di pandang .


Suami dari Jiana itu menyeringai , tiba - tiba muncul ide brilian di dalam otak kepalanya yang dangkal . Galuh memberi kode pada Jonathan agar mengambil duduk di sebelah Ghea . Sementara Galuh jelas akan duduk di sebelah istrinya Jia . Yang otomatis , hanya ada beberapa tempat kosong nantinya . Antara David , Nara dan Elang .


" By ! Mata gue , by ! " seloroh Jo sembari memegangi sebelah matanya yang sebenarnya tidak kenapa - kenapa . Mendengar suara rintihan kekasihnya , Ghea buru - buru lari dan duduk di sebelah Jonathan .


" Ya ampun matanya kenapa ? " Ghea meniup - niup mata Jo dengan mimik muka cemas .


" Kena abu vulkanik ! Tiupnya lebih dekat lagi dong By ! Gak berasa tauk ! " Pinta Jonathan manja .


Galuh rasanya ingin muntah melihat drama ikan terbang yang sedang Jonathan perankan saat ini . Dasar kadal buntung , bisa saja mencari kesempatan dalam kesempitan - pikirnya .


" Abu vulkanik darimana ? Ikh , lo ngerjain gue ? " Ghea memukul - mukul pelan dada Jonathan . Membuat seisi halaman villa tertawa terpingkal - pingkal .


" Mukulnya pakek perasaan dikit dong By ! " Ghea mencebik , bisa - bisanya cowok tengil itu masih menegonya setelah mengerjainya habis - habisan di depan semua temannya .


" Rese banget sumpah ! " Ghea berniat berdiri untuk membantu Jia dan Nara yang sedang menyiapkan nasi di meja tengah tadi . Namun , dengan gerakan cepat , Jonathan segera mencekal pergelangan tangan Ghea , membuat gadis itu harus kembali terduduk di sebelah Jonathan .


" Nasib .. nasib ! Jomblo abadi emang harus jadi penonton setia ! " seloroh David yang disambut gelak tawa sahabatnya .


" Resiko muka pas - pasan ! " ledek Jonathan .


" Woy ! Lo lupa si Elang juga lagi ngejones sekarang ? Tampang pas - pasan dan ganteng itu artinya bukan jaminan , kalau belum terhilalakan jodohnya ye mau di apa ? Ye gak Lang ? " Elang yang sedang memakan kacang sontak melirik tajam David yang tampak memasang wajah tak berdosanya .


" Bosen napas lo ! " ucap Elang sengit . David nyengir kuda setelah itu menari seperti anak balita .


" Yoyoyo .. hidup jomblo abadi ! Ada Mas Elang ada Mas David . You .. you pada mau dukung siapa ? Yoyoyo ! " Dengan gaya sarapnya , David melakukan selebrasi ala cowok - cowok rapper .


" Slewbew ! Sawer yaaank ! " seru Galuh yang ikut - ikutan depresi seperti David .


" Makin umur makin gak beres ! " Jia geleng - geleng kepala .


" Tapi cinta ' kan ? " Goda Nara membuat Jia menoleh , kepalanya pun mengangguk dengan bibir melengkung indah .


" Oh iya , anak lo btw sama siapa ? " Tanya Nara .


" mertua . " Nara sedikit tertegun mendengar jawaban Jia . Jarang sekali ada ibu mertua seperti itu .


“ Lo gak perlu kaget , ibu mertua gue emang baik ! " Kepala Nara mengangguk pelan . Mungkin , ibu mertua Jia memang berbeda dengan ibu - ibu mertua lainnya .


" Ya udah yuk , kita bawa ke sana ! " ajak Jia . Nara pun segera membantu Jia untuk membawa mangkuk berisi kuah suki - suki ke meja lesehan di tengah - tengah villa .


" Jo , minggiran ! " suruh Nara . Jonathan mendongak , kemudian meringis .


" Cari tempat yang lain napa Ra ! Ganggu orang pacaran aja lo ! " Nara melotot mendengar jawaban Jonathan .


" Gak bisa ! Minggir atau gue siram muka lo pakai kuah panas ini ? " ancam Nara . Jonathan menelan ludah , rasanya rencananya dan Galuh akan gagal total .


“ Udah minggiran sana By ! Nara ngaung tuh ! " Jonathan mencebik . Dengan bermalas - malasan cowok itu akhirnya pindah dari lokasi duduk ternyamannya .


" Dari tadi kek ! Lelet banget ! " ketus Nara .


" Ikh , marah - marah terus dari tadi . Kenapa sih Beb ? Ayank gue ada salah sama lo ? " tanya Ghea sok mendramatis keadaan .


" Banyak ! " skak Nara sontak membuat bibir mungil Ghea terkatup rapat . Sejak kapan kekasihnya Jonathan membuat kesalahan pada sahabatnya Naraya . Perasaan yang ada , Nara lah yang lebih sering mendzolimi Jonathan , setiap harinya .


" Temen lo By ! Istighfar banyak - banyak dah gue ! " bisik Jo . Ghea mengangguk . Wajahnya tampak meringis , bingung harus berkomentar apa .


" Sabar By ! Biar amal ibadah lo cepet di terima Tuhan ! " ujar Ghea berhasil membuat mata Jonathan mendelik .


" Lo pikir gue mau inalillahi ? "


" Hehe .. sok atuh kalau mau coba ? "

__ADS_1


" Makaan woy makan ! Pacaran mulu ! " cibir David . Ghea tersenyum kikuk . Lalu mengangguk .


" Kuy makan . "


di Lain tempat . Sudah sejam lamanya Kakek Malik mondar mandir sembari memijit pelipisnya yang terasa pening . Semua ini gara - gara kelakuan Naraya , cucu perempuan satu - satunya itu . Beberapa jam yang lalu Kakek Malik datang ke rumah Helena .


Tetapi sang tuan rumah mengatakan bahwa cucunya sudah pulang semenjak sore tadi . Jelas saja Helena berbohong mengatakannya ! Dengan sangat berat hati akhirnya Kakek Malik pergi dari rumah Helena dan mendatangi rumah putranya .


Namun bukan Naraya yang ditemukan . Malah Silvi dan menantu tak di harapkannya , Soraya yang ia dapatkan . Belum lagi beliau harus melihat tingkah menyebalkan kedua ibu dan anak itu . Rasanya Kakek Malik ingin menenggelamkan mereka berdua di kedalaman samudera saja ! Bagaimana tidak ? Bisa - bisanya saat beliau berkunjung .


Soraya sedang mangadakan pesta pora bersama teman - teman sosialitanya . Bau alkohol dan wangi - wangian aneh menyengat , terasa menusuk indera penciuman Kakek Malik .


Pantas ! Jika Nara begitu tidak betah tinggal di rumahnya sendiri ! Kelakuan ibu tirinya memang tak pantas di anut .


" Putramu itu memang bodoh ! Bisa - bisanya menyimpan wanita lintah seperti Soraya di dalam rumahnya ! " decih Kakek Malik sembari membanting tubuhnya pada sofa . Yang di sebelahnya ada Nenek Mayang tengah mengurut dadanya .


" Putramu juga ! Harusnya dulu kamu lebih tegas dengan Zain ! Lihat - sekarang Nara jadi makin jauh sama kita juga karena siapa ? " elak Nenek Mayang membela diri . 1000 Kakek Malik berdecak lidah . Merasa terpojok saat ini .


“ Lalu , kita harus ngomong apa sama Damar , Bu ! "


" Mana ibu tahu Yah ! Pikir saja sendiri . Ingat ! Kalau sampai Nara kenapa - kenapa karena rencana perjodohan kalian . Ibu bakalan mogok bicara ! " Kakek Malik melongo mendengar ancaman dari istrinya .


" Bantu aku bicara dengan Damar , Bu ! Ya , ya . " Nenek Mayang melirik sinis suaminya , sebelum akhirnya mengangguk pasrah .


" Mending Ayah ngomong sekarang ! "


" Tapi Ibu yang ngomong sama Damar . "


" Dasar laki - laki tua Bangka . ” Kakek Malik meringis , perlahan mengikis jarak untuk mendekati sang istri .


" Jangan lupa , nanti bilang gejala vertigo Ayah lagi kumat ya Bu . Tambahin tekanan darah Ayah juga sedang tinggi ! ” pinta Kakek Malik tersenyum kikuk , sembari memamerkan deretan giginya yang tak lagi lengkap .


" Sudah ompong kebanyakan gaya ! "


! Beberapa saat kemudian .


" Bagaimana bisa kedua anak itu sama - sama menghilang ? " Kakek Malik mengusap wajahnya gusar . Ternyata , bukan hanya Naraya saja yang hilang entah ke mana . Cucu dari sahabatnya pun juga dinyatakan tengah dalam keadaan minggat


***


Kediaman mewah Bimantara- pagi hari . Suasana sarapan di pagi hari ini terasa berbeda . Raut cemas jelas kentara di wajah cantik Mama Naya .


" Katakan di mana anak begundal itu sekarang ! ” titah Kakek Damar dingin . Oma Gayatri menghela napas panjang . Beliau bisa merasakan ada yang sedang tidak beres dengan anak dan menantunya saat ini .


" Elang pergi ke puncak dengan Galuh . " Singkat Papa Alam . Dari wajah tampan nan tegasnya , pagi ini kentara sekali . Kalau pemimpin dari Bima Corp itu sedang mengalami masalah yang cukup serius .


Mama Naya diam - diam menggenggam tangan suaminya . Mama Naya bisa merasakan ketakutan yang besar akan suaminya . Dan semua ini berawal dari Elang- putra mereka berdua .


" Ada yang mau kalian sampaikan dengan Ibu ? ” tanya Oma Gayatri . Papa Alam menunduk , membuat tangan Mama Naya semakin erat menggenggam di bawah sana .


" Elang membuat kesalahan fatal Bu . Ini semua salah Alam . " Tutur Papa Alam dengan perasaan bersalah .


" Pa ! Ini bukan salah kamu . "


" Ini salah Papa , Ma . Andai saja Papa tidak memanjakan anak tengik itu . Pasti kelakuannya tidak sebejat seperti sekarang ini . " Mama Naya menatap sendu suaminya .


" Ini salah kita berdua karena gagal mendidik Elang , Pa ! "


" Apa yang di lakukan bocah itu kali ini ? " Papa Alam mendongak , menatap mata tajam Kakek Damar dengan tatapan bersalah .


“ Elang mengambil kesucian anak gadis orang Yah ! "


Hening- sunyi .


Bruk !

__ADS_1


" Ayaaah ! "


" Panggil Dokter Bram sekarang juga , Ma ! "


__ADS_2