My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Mama


__ADS_3

Drrtt... drrttt...


Ponsel yang berada di atas nakas tampak bergetar diikuti dengan nada panggilan yang tentu saja mengusik tidur siang seorang gadis bersama dengan pangeran kecilnya. Tangan Friska meraba raba nakas untuk mengambil benda pipih tersebut. Tanpa melihat nama yang tertera disana, Friska langsung mengangkatnya


"Halo" ujar Friska dengan mata yang masih tertutup dan tentu saja dengan suara serak khas bangun tidur. Terdengar sedikit.... sexy


"Kamu sedang tidur?" tanya seseorang di seberang telfon


Merasa kenal dengan sang pemilik suara, Friska membuka matanya untuk memastikan nama sang penelfon


Ish, dia lagi. Mengganggu saja! batin Friska sambil kembali mendekatkan ponsel ke telinganya


"Iya, dan karena panggilan darimu aku jadi terbangun" gerutu Friska


"Kalian sudah di rumah?"


"Sudah"


"Dimana Vano?"


"Dia sedang tidur bersamaku"


"Kenapa tidak mengabari saya lagi kalau kalian sudah sampai di rumah?"


Friska seketika heran dengan ucapan Ardigo, sejak kapan dia memiliki kedekatan dengan pria itu? sampai harus mengabari jika sudah sampai ke rumah


"Aku hanya tidak ingin sering sering mengganggumu" ujar Friska seadanya


"Kamu tidak akan mengganggu saya"


"Kenapa begitu?" kini Friska sudah membuka matanya sepenuhnya. Dia harus memastikan kenapa pria itu bersikap seolah mereka sudah dekat dan sedang mengkhawatirkannya, padahal tidak. Ardigo diam beberapa saat, Friska masih menunggu jawaban dari pria tersebut


"Karena Vano bersamamu" kini terdengar suara Ardigo yang berujar santai


Seketika Friska menepuk pelan keningnya tanpa suara


Bagaimana bisa aku melupakan ini? tentu saja dia cerewet begini karena anaknya sedang bersamaku. Batin Friska tersadar, dia mempercayai ucapan Ardigo sepenuhnya


"Oh begitu, baiklah "


"Iya"


"Ada lagi yang ingin kamu katakan? kalau tidak, aku akan tutup telfonnya"


"Tidak. Itu saja"


"Baiklah. Aku tutup"


Setelah memutus panggilan telfon, Friska beralih menatap wajah polos yang masih terbaring di sampingnya. Senyum manis seketika terukir di bibirnya ketika melihat wajah Vano yang tetap tampan saat sedang tertidur

__ADS_1


Apakah Papanya juga akan seperti ini jika tidur? batin Friska. Namun dia tiba tiba menggeleng serta memukul pelan kepalanya berusaha mengenyahkan segala hal yang berhubungan dengan Ardigo


"Astaga, kenapa aku tiba tiba mengingat Papanya? arghhh aku pasti sudah gila" gumam Friska sambil terus menggelengkan kepalanya


Sedangkan di tempat lain, Ardigo tersenyum tipis saat Friska sudah memutus sambungan telfon. Lalu meraih sesuatu di atas mejanya


"Friska Hallin Amanda..." Ardigo sedang membaca nama di sebuah berkas yang sedang di pegangnya saat ini. Itulah berkas pengajuan magang serta data diri Friska yang ditinggalkannya tadi pagi


Ardigo tampak membaca dengan teliti setiap tulisan yang ada di kertas kertas tersebut. Saat ini terdapat tumpukan berkas lamaran magang di atas mejanya. Namun berkas Friska adalah tujuan utamanya


*****


Di malam hari,


Kini keluarga kecil Ardigo tampak berkumpul di meja makan. Ini adalah pertama kalinya mereka makan malam bersama. Saat memasak untuk makan malam tadi, Ardigo kembali melaporkan bahwa dia ingin dibuatkan makan malam juga. Alhasil, kini mereka bisa makan bersama dalam satu meja


Setelah selesai makan, Friska langsung membersihkan dapur dan mencuci piring bekas makan. Kemudian bergabung bersama Vano dan Ardigo di ruang tengah


"Pa, tadi Vano dan tante Friska membeli sesuatu" ujar Vano misterius, yang langsung mengundang tatapan penasaran dari Ardigo


"Kalian membeli apa?"


"Sesuatu yang bagus dan keren"


"Ayolah, jangan membuat Papa penasaran" kini Ardigo bahkan lebih mendekat ke arah Vano membuat bocah tersebut tersenyum geli melihat sang ayah yang penasaran


"Apa?" tanya Ardigo beralih menatap Friska untuk meminta jawaban. Tapi hanya kedikan bahu dan senyum misterius juga yang didapatnya. Sepertinya Friska dan Vano memang sangat kompak sekarang


"Di atas meja ya, Sayang" ucap Friska memberitahu Vano


"Sepertinya sekarang Vano sudah ketularan sifat menyebalkan darimu" celetuk Ardigo. Sementara itu, Friska hanya membalasnya dengan tersenyum miring


"Ini dia, Paaa.." teriak Vano sambil membawa paper bag di tangannya


Vano membukanya dan mengeluarkan tiga lembar sweater dengan warna soft blue yang tadi mereka beli. Dia memberikan sweater tersebut sesuai dengan tulisan yang tertera disana.


"Ini punya Papa, ini punya Tante, dan ini punya Vano" antusias Vano


Ardigo tercengang melihat hadiah spesial yang dikatakan oleh putranya tersebut. Dia memang pernah memiliki barang yang sama dengan Vano, tapi hanya sebatas memiliki model yang sama. Tidak dengan tulisan, apalagi memiliki barang couple bersama dengan seseorang yang berstatus sebagai istrinya. Dan jujur saja, walaupun hanya barang yang biasa, dia tidak berbohong bahwa dia menyukainya.


"Maaf mas, tadi Cecil dan Mbak Melly membeli sweater couple seperti ini. Dan Vano juga menginginkannya, tadinya aku hanya ingin membelikan untuk kalian berdua, tapi kata pegawai tokonya tidak bisa karena barangnya satu paket" ucap Friska menjelaskan, dia tidak ingin Ardigo salah paham kepadanya


Mendengar penjelasan dari istrinya, membuat Ardigo menatap Friska lalu tersenyum sangat tipis


"Tidak perlu meminta maaf, sweater nya sangat bagus. Terimakasih" balas Ardigo


"Pilihan anak Papa memang keren" kini dia beralih kepada Vano lalu tersenyum


"Yeayyyy akhirnya Vano punya baju kembaran dengan Papa dan Tante" ujar Vano riang. Dia sudah membayangkan formasi keluarga yang lengkap dengan Ardigo sebagai ayah, dan Friska sebagai ibunya

__ADS_1


Vano kemudian bercerita tentang betapa bahagianya dia hari ini, dijemput oleh Friska dan jalan jalan bersama Cecil dan Melly. Bocah itu terlihat sangat antusias, terbukti dengan senyum yang tak pernah luntur menghiasi wajah tampan duplikat sang Papa tersebut


Ardigo bahkan tak kalah senang melihat kebahagiaan putranya tersebut. Bocah itu tidak pernah bercerita se detail itu mengenai kesehariannya kepada Ardigo. Tapi semenjak ada Friska, bocah itu sudah terlihat seperti anak anak pada umumnya, ceria dan antusias. Haruskah dia bersyukur memiliki Friska di hidupnya saat ini?


"Tante.."Panggil Vano pada Friska yang masih tersenyum mendengar ceritanya tadi


"Iya, sayang?"


"Apakah Tante bersedia untuk menggantikan Mama Vano?" tanya Vano tiba tiba


Friska mengerjapkan matanya sambil mencerna ucapan Vano yang sangat tiba tiba. Dia kurang mengerti dengan maksud bocah tersebut


"Maksud Vano apa, sayang?"


"Kata Papa, Mama sudah di surga dan tidak bisa kembali lagi kesini. Sekarang Vano hanya punya tante, apakah tante bisa menggantikan Mama Vano?"


Friska menatap haru ke arah Vano. Dia mendekat lalu duduk di sebelah Vano, sehingga kini posisi Vano berada diantara Ardigo dan Friska


"Tante tidak akan bisa menggantikan Mama Vano, karena Mama Vano adalah wanita yang sangat hebat. Yang sudah melahirkan Vano dan mengenalkan dengan dunia ini, dan juga yang membuat Vano bisa bertemu dengan Papa. Jadi Tante tidak akan pernah bisa menggantikan nya, karena dia akan selamanya ada disini" ujar Friska sambil memegang dada Vano


"Tapi Vano juga ingin punya ibu, seperti teman teman Vano yang lain. Tante tidak mau ya jadi ibu untuk Vano?" kini bocah itu sudah menahan tangisnya, matanya tampak berkaca kaca. Sedangkan Ardigo hanya diam menatap bergantian pada kedua orang tersebut, dia sengaja memberikan waktu untuk Vano dan Friska saling berbicara


"Bukan begitu sayang. Maksud Tante, Tante tidak bisa menggantikan Mama Vano di hati Vano. Tapi Tante bisa melanjutkan tugas Mama Vano untuk menyayangi dan menemani Vano selamanya. Vano bisa menganggap Tante sebagai ibu Vano, karena Tante sangat menyayangi Vano"


"Apakah Vano bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama?" kini mata bening itu sedang menatap lurus ke manik mata Friska. Gadis itu pun mengalihkan tatapannya ke arah Ardigo, seperti meminta jawaban. Dia hanya takut pria itu marah jika Vano memanggilnya dengan sebutan Mama.


Namun tanpa diduga, pria itu justru memang sedang menatapnya sedari tadi. Kini mata mereka saling beradu pandang, sampai akhirnya Ardigo mengangguk sebagai jawaban


"Tentu saja sayang" balas Friska lalu memeluk tubuh kecil Vano


"Yeayyyy makasih, Ma.." ujar Vano sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Friska.


"Malam ini Vano ingin tidur dengan Mama, bolehkan?" tanya Vano kepada Friska


"Vano izin sama Papa dulu ya.." balas Friska lembut


"Boleh kan, Pa?"


"Iya, Sayang" balas Ardigo


Setelah itu Friska mengantarkan Vano ke kamar dan menemaninya hingga tertidur. Saat nafas Vano sudah teratur yang menandakan bocah itu sudah terlelap, Friska berjalan keluar dari kamar dan mendapati Ardigo tengah berdiri di balkon apartemen


"Apakah kamu benar benar mengizinkan Vano memanggilku Mama?" tanya Friska saat sudah berdiri di samping sang suami. Kini mereka berdua sedang menikmati pemandangan indah kota dari atas gedung apartemen. Ardigo melirik sekilas saat menyadari eksistensi Friska di sampingnya


"Iya"


"Kenapa?"


"Maksudmu? kamu keberatan Vano memanggilmu Mama?" tanya Ardigo menghadap Friska

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku senang dia memanggilku Mama, tapi... bukankah kamu membenciku?"


To be continued.


__ADS_2