My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Bolehkah?


__ADS_3

Setelah selesai mencuci piring, Friska berjalan menuju sofa ruang tengah dimana Ardigo sedang duduk menonton seputar dunia ekonomi terutama properti, seperti halnya bisnis yang digelutinya. Friska duduk di single sofa yang berada di sebelah sofa yang Ardigo duduki


"Duduklah disini, orang yang masih pacaran saja duduknya nempel terus. Masa kita yang sudah menikah malah berjauhan" canda Ardigo menepuk sisi kosong di sebelahnya


"Eh iya" sejujurnya Friska merasa sedikit canggung berdekatan dengan Ardigo apalagi hanya mereka berdua disini


"Apa kau takut dekat-dekat denganku?" kekeh Ardigo melihat Friska. Pasalnya gadis itu memang duduk di sampingnya, namun tetap menyisakan jarak diantara mereka


"Ha? takut? te-tentu saja tidak" balas Friska memaksakan tawanya. Namun Ardigo bisa melihat kegugupan Friska saat berdekatan dengannya


Lantas pria itu menarik pinggang sang istri dengan pelan agar lebih mendekat kepadanya


"Kita saling mencintai, kan? jadi kita harus selalu merasa nyaman ketika berdekatan" ujar Ardigo pelan sambil menampilkan senyum manisnya. Dia ingin membuat Friska terbiasa untuk dekat dengannya sehingga gadis itu bisa merasa nyaman


Sementara itu Friska hanya membalas ucapan Ardigo dengan senyuman


Sejujurnya dia sedang mengagumi wajah tampan suaminya yang terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari jarak dekat


Ya tuhan kebaikan apa yang pernah aku lakukan di masa lalu sampai bisa memiliki suami setampan ini


batin Friska sambil mengagumi betapa sempurna ciptaan tuhan yang ada di hadapannya ini


Tak ingin berlama lama menatap wajah Ardigo, Friska lalu mengalihkan tatapan ke televisi layar datar dengan ukuran yang sangat lebar. Gadis itu hanya diam dan ikut menonton acara televisi tersebut. Terdapat banyak apartemen, rumah, dan juga gedung-gedung yang sedang dibahas disana


"Kau punya rumah impian?" tanya Ardigo setelah diam beberapa saat


"Rumah impian?"


"Iya, kau ingin punya rumah dengan model yang seperti apa?"


"Aku tidak terlalu menginginkan rumah dengan model-model tertentu. Bagiku dimanapun aku tinggal, itulah rumah impianku. Aku tidak pernah berani bermimpi terlalu tinggi" kekeh Friska


"Mulai sekarang kau tidak boleh berpikir seperti itu lagi. Kau punya suami yang bisa mengusahakan apapun yang kau impikan. Cobalah untuk memimpikan apapun yang kau inginkan, layaknya wanita diluar sana"


"Apalagi yang aku inginkan? sepertinya semuanya sudah cukup"

__ADS_1


"Ayolah, menurutmu rumah seperti apa yang kau sukai?" desak Ardigo


"Hmm waktu kecil aku pernah menonton acara televisi yang menampilkan sebuah rumah mewah yang sangat indah menurutku. Ada kolam ikan di tengah rumah yang membuatnya tampak sejuk dan sepertinya menyenangkan" mata Friska berbinar ketika menceritakan suasana rumah yang pernah dia tonton


"Terus di bagian belakang rumahnya terdapat dinding kaca yang lebar dan langsung memperlihatkan area kolam renang serta taman di belakang rumah. Lalu ada area bermain anak-anak di dalam rumah layaknya di play ground"


Friska terus bercerita tentang rumah indah yang masih diingatnya dengan jelas sampai sekarang. Tampak wajahnya sangat antusias ketika bercerita. Tidak terlihat gugup dan canggung sedikitpun seperti tadi


Ardigo mendengarkan dengan serius setiap penjelasan sang istri sambil mengingat gambaran tentang rumah tersebut. Sesekali dia ikut tersenyum melihat antusiasnya Friska


"Sudah sangat lama tapi kau masih ingat dengan jelas. Sepertinya kau sangat menyukai rumah itu" komentar Ardigo setelah Friska selesai bercerita


"iya, mungkin karena dulu aku sangat menyukainya jadi masih teringat jelas sampai sekarang"


Ardigo hanya mengangguk paham


"Aku ke kamar duluan ya mas" pamit Friska


"Baiklah, aku sebentar lagi menyusul"


Saat membalikkan badan, betapa terkejutnya Friska ketika mendapati Ardigo sedang berdiri di pintu walk in closet sambil menatap aneh ke arahnya


"mas! sejak kapan kamu disitu?" panik Friska


"Sejak kamu mulai memilih baju tidur" balas Ardigo tanpa dosa


Jadi dia melihatku berganti baju? batin Friska


"Saat masuk ke kamar aku tidak melihatmu, jadi aku mencarimu kesini. Dan ternyata benar kau disini"


Friska terdiam tidak lagi membalas ucapan Ardigo. Dia sangat malu saat ini


Dengan langkah pelan dia keluar dan berjalan menuju ranjang, lalu mulai berbaring


"Kau marah karena aku melihatmu?" tanya Ardigo ikut naik ke atas ranjang dan memeluk Friska dari belakang

__ADS_1


"Tidak mas"


"Kenapa langsung menghindariku, hm?" Ardigo menggosokkan hidungnya di tengkuk Friska


"Aku tidak menghindarimu" kilah Friska pelan


"lalu apa? malu?" Friska tidak menjawab


"Sayang, lihat aku"


"Ada apa mas?"


"Ayo balikkan tubuhmu"


dengan jantung berdegup kencang, Friska lalu membalikkan tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan. Dia merasa ada sedikit keanehan dengan raut wajah Ardigo, serta nafasnya yang terdengar berat


Ardigo menarik pinggang Friska untuk semakin menempel padanya, kemudian memeluk erat sang istri


"Apa kau merasakan sesuatu? atau kau menyadarinya?" bisik Ardigo


Ini kan... Friska cukup paham dengan maksud Ardigo


"Mas, kamu.."


"Inilah yang aku rasakan setiap kali berdekatan denganmu. Ini sangat menyiksa Fris"


Jantung Friska semakin berpacu dengan cepat


"Semakin aku mencintaimu, semakin aku egois ingin memilikimu seutuhnya"


Ardigo mengubah posisinya menjadi di atas Friska membuat gadis itu semakin merasakan sesuatu di bawah sana


"Aku menginginkanmu, Fris. Can I?"


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2