My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Pertengkaran


__ADS_3

Para karyawan sudah berpamitan pulang, menyisakan Friska dan Tasya. Mereka berencana akan naik taxi online untuk pulang


"Kak, kami pulang duluan ya" pamit Friska yang diikuti Tasya


"Kalian pulang naik apa?" tanya Rivan


"Kita akan naik taxi online saja" balas Tasya


"Jangan! Biar aku yang mengantar kalian"


"Memangnya tidak akan merepotkan kakak?" tanya Friska ragu


"Tentu saja tidak. Kalian ini perempuan, bahaya kalau naik angkutan umum malam-malam seperti ini. Ayo naik" ajak Rivan lalu memasuki mobilnya


Tasya dan Friska akhirnya setuju lalu mengikuti Rivan masuk ke dalam mobil


"Kamu saja yang di depan" suruh Friska lalu langsung membuka pintu belakang dan menutupnya. Gadis itu tersenyum di dalam mobil melihat kebingungan Tasya


Aishhh dasar Friska kurang ajar! batin Tasya


Lalu Tasya masuk dan duduk di samping Rivan. Mobil pun mulai melaju meninggalkan kafe


Di dalam mobil, mereka hanya mengobrol ringan sambil sesekali tertawa


"Kak tolong antar aku duluan ya, Vano pasti sudah menungguku" ujar Friska. Dari tadi dia memang terus mengingat sang anak


"Aku yakin papanya juga sedang menunggumu" gurau Rivan yang disambut kekehan oleh Tasya


"Ishh kalian ini. Aku lebih memikirkan Vano" balas Friska


Setelah itu suasana menjadi hening karena tidak ada lagi yang berbicara diantara mereka. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di lobi apartemen berkelas milik Ardigo. Friska langsung turun dengan tergesa-gesa, hingga tanpa sadar meninggalkan sesuatu di dalam mobil Rivan


Tasya sudah terlelap hingga tidak sadar kalau Friska sudah turun

__ADS_1


Rivan juga turun dari mobilnya bermaksud ingin menemui Ardigo, bagaimanapun dia harus menyerahkan Friska kepada suaminya dengan selamat.


"Terimakasih ya kak sudah mengantarku" ujar Friska masih berdiri di samping mobil


"Sama-sama. Apa aku harus menemui suamimu dulu untuk menyerahkanmu? siapa tau nanti dia malah salah paham"


"Tidak usah kak, dia pasti tidak marah" elak Friska


"Sebaiknya kakak antar Tasya sekarang, sepertinya dia sangat mengantuk"


"Baiklah, hubungi aku kalau ada apa-apa" ucap Rivan. Itu adalah kalimat yang tidak pernah absen dia ucapkan ketika mengantarkan Friska kemanapun.


"Iya kak. Hati-hati ya" ujar Friska tersenyum


"Iyaa, aku pulang dulu" ucap Rivan sambil kembali masuk ke dalam mobil


Tanpa Friska sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dengan Rivan sejak tadi. Mata itu sudah menatap mereka dengan tajam bahkan sedikit memerah, menandakan betapa emosinya sang pemiliknya.


"Dari mana saja kamu?!" suara bariton nan dingin itu seketika mengejutkan Friska


"Mas Digo" ujarnya kaget


"Kenapa? kamu terkejut? kamu pikir saya sudah tidur jadi tidak menyadari kalau kamu baru pulang dari luar bersama laki-laki lain?" Ardigo yang semula duduk di sofa kini bangkit dan berjalan ke arah Friska


"Apa maksudmu?"


"Saya bukan orang bodoh Friska! Vano dari tadi terus saja menanyakanmu. Dia mencemaskanmu yang belum pulang sampai larut malam. Tapi ternyata orang yang sedang dicemaskannya malah asik berduaan dengan pria lain!" wajah Ardigo semakin terlihat menyeramkan


"Mas aku sedang tidak ingin bertengkar. Aku benar-benar lelah sekarang"


"Memangnya apa yang sudah kalian lakukan sampai kamu kelelahan seperti ini HAH?!" bentak Ardigo. Pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya


"Mas tadi itu aku-"

__ADS_1


"Tidak perlu menjelaskannya! saya juga melihat kamu diantar oleh siapa tadi. Saya pikir kamu perempuan yang bisa menjaga nama baiknya dan juga keluarganya. Apa uang yang aku berikan tidak cukup untuk kamu? sampai kamu harus mendekati pria kaya lainnya? sebenarnya apa yang sudah kau lakukan di luar tadi?" tanya Ardigo semakin tajam menatap sang istri


"Katakan apa yang sudah kamu lakukan dengannya?! apa ini karena uang?!" bentak Ardigo lagi. Perkataan-perkataan Ardigo sangat menyakiti hati Friska. Dari ucapannya, Ardigo seolah mengatakan kalau dia adalah perempuan murahan yang rela melakukan apa saja demi uang.


"CUKUP!! jaga ucapan kamu!" kini Friska yang membalas bentakan Ardigo. Dadanya naik turun menahan emosi di dada


"Kenapa? Apa yang saya katakan benar? saya sudah memberimu uang sejak awal supaya kamu tidak mendekati laki-laki lain. Tidak bisakah kamu menjaga nama baikmu untuk satu tahun ini saja? setidaknya selama kamu menjadi istri saya" ujar Ardigo berapi-api


Plak!!


Satu tamparan mendarat di pipi Ardigo. Friska tidak mampu lagi menahan emosinya mendengar ucapan pedas yang keluar dari mulut pria di hadapannya itu. Dengan segera dia membuka tas dan mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu pemberian Ardigo.


"Ini! jika kamu pikir dengan memberikan ini lalu kamu bisa menghinaku dengan sesukamu, kamu salah! Aku tidak butuh ini dan apapun itu darimu!" teriak Friska lalu melemparkan kartu tersebut ke sembarang arah. Kartu yang berisi uang dengan nominal yang besar itu seakan tidak berharga dan teronggok di atas lantai apartemen.


"Asal kau tau aku tidak pernah memakai uangmu sepeser pun karena aku sadar diri kalau aku tidak berhak atas hartamu! Aku semakin membencimu dan pernikahan sialan ini" setelah meluapkan semua amarahnya Friska langsung bergegas menuju kamarnya. Setelah mengunci pintu dia menangis tanpa suara, karena sadar Vano sedang tidur di kamarnya. Dia tidak ingin Vano melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini


"Dasar pria kurang ajar! sialan! aku membencimu!" gumamnya pelan terus memaki Ardigo


Sementara itu, Ardigo masih terpaku di ruang tengah. Tamparan Friska cukup keras dan membuat pipinya sedikit berdenyut. Dia kembali mencerna ucapan Friska tadi.


"Arghhhhh sial!!" teriaknya meluapkan semua kekesalan yang ada di hatinya. Ucapan terakhir Friska membuat emosinya semakin membara. Gadis itu dengan jelas mengatakan membencinya dan pernikahan mereka


Untung saja semua kamar disini kedap suara, sehingga Vano tidak menyadari pertengkaran hebat antara kedua orangtuanya di ruang tengah.


Ardigo sendiri tidak paham kenapa dia menjadi semarah itu kepada Friska. Mungkin karena seharian ini dia terus memikirkan hubungan antara Friska dan Rivan, dan saat mendapati Friska pulang larut malam dengan diantar oleh pria itu, emosinya seakan naik sampai ke level atas.


Ardigo melirik kepada kartu yang tadi dilempar oleh Friska. Dia kemudian mengambilnya dan menatap kartu itu lama. Memang benar apa yang tadi dikatakan oleh Friska bahwa dia tidak pernah menggunakan kartu tersebut. Karena sampai hari ini Ardigo bahkan belum pernah menerima notifikasi tagihan dari kartu itu.


Namun sejujurnya bukan kartu itu yang menjadi poin kemarahannya. Dia sangat-sangat rela dan ikhlas jika Friska menggunakan kartu itu untuk membeli apapun yang dia mau. Karena menurutnya bagaimanapun Friska tetaplah istrinya, memiliki hak atas hartanya. Namun Ardigo tidak bisa mengontrol kemarahannya ketika melihat Friska pulang malam dan diantar oleh Rivan.


Dia sangat paham apa saja yang bisa dilakukan oleh sepasang pria dan wanita ketika berduaan di dalam mobil. Memikirkan hal itu membuat emosinya seketika menguasai dan tuduhan-tuduhan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Kini dia sedikit menyesali ucapannya terhadap sang istri.


Ardigo lalu berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Dia butuh beristirahat saat ini.

__ADS_1


__ADS_2