My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Serangan Mendadak


__ADS_3

Ardigo dan seluruh keluarganya masih setia menunggu Friska di depan ruangan ICU. Hingga pukul 11 malam keluarlah dokter yang menangani Friska


"Pak Ardigo" panggil sang dokter


Mendengar namanya dipanggil membuat Ardigo langsung bangkit dengan wajah tegang. Dia masih trauma dengan kejadian sebelumnya dimana dokter memberikan kabar buruk tentang Friska


"Bagaimana istri saya dokter?"


"Syukurlah, nyonya Friska sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dia sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Kami akan segera mengurusnya" senyum bahagia juga tampak menghiasi wajah dokter paruh baya itu


Ardigo merasa lega sekali, seketika semua bebannya terasa seperti menguap ke udara. Meskipun gadis itu belum membuka matanya, setidaknya sudah ada kemajuan dari kondisinya


Keluarga yang lain juga tampak menghela napas lega, begitu juga dengan Andre


Tak lama kemudian Friska sudah dipindahkan ke ruang perawatan dengan fasilitas termewah di rumah sakit ini. Ruangan yang sangat luas, alat-alat kesehatan yang lengkap serta seluruh fasilitas yang bisa dinikmati oleh keluarga pasien


Ardigo duduk di kursi dekat tempat tidur Friska, dia terus menggenggam tangan Friska yang tidak diinfus. Matanya juga seperti tidak ingin berpindah dari wajah cantik sang istri yang sekarang terlihat pucat


Sementara itu Vano yang sebelumnya sudah tertidur dalam pelukan Andre, kini sudah dipindahkan ke sofa bed agar bisa tidur dengan nyaman


"Silahkan istirahat tuan, nyonya" ujar Andre kepada Rini dan Reno


"Iya Ndre. Kamu juga sebaiknya pulang, istirahatlah. Terimakasih sudah banyak membantu dan selalu berada di sisi Ardigo" balas Reno tulus


"Sama-sama tuan. Apa pak Ardigo sudah bisa saya tinggalkan?"


"Dia sudah lebih baik sekarang. Kamu juga harus istirahat, kamu sangat lelah hari ini. Maaf sudah membuatmu sibuk di luar jam kerjamu"


"Tidak perlu sungkan, tuan. Kalau begitu saya pamit kepada pak Ardigo dulu"


"Iya Ndre" ujar Reno dan Rini berbarengan


"Pak, apa anda butuh sesuatu?" tanya Andre mendekati Ardigo


"Tidak, Ndre. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Terimakasih banyak untuk hari ini"


"Oh iya untuk sementara waktu ini saya serahkan kantor kepada kamu. Saya akan menunggu Friska disini"


"Baik, pak. Semoga nona Friska cepat siuman. Saya permisi dulu" Andre lalu keluar dari ruangan itu

__ADS_1


"Kamu tidak istirahat, nak? beristirahatlah sebentar. Kamu pasti sangat kelelahan hari ini. Friska akan aman disini" ujar Rini memperingati


"Tidak ma. Aku tidak bisa menutup mataku. Aku takut Friska akan pergi lagi meninggalkanku"


Rini tidak bisa lagi berkata apa-apa. Jika hal itu bisa membuat Ardigo merasa lebih baik, maka dia tidak bisa melarangnya


"Baiklah, tapi setidaknya tidurlah sebentar. Kamu tadi dengarkan kata dokter, kalau Friska sudah melewati masa kritisnya. Istrimu adalah wanita yang kuat, dia pasti akan segera sadar dari tidurnya"


"Iya ma, aku akan tidur disini saja"


"Yasudah"


Malam itu Ardigo benar-benar duduk di dekat Friska dan baru bisa tidur saat menjelang subuh. Dia tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di samping lengan Friska


Malam telah berlalu dan matahari telah menyapa pagi yang cerah ini


Ardigo terbangun saat sinar matahari menyilaukan matanya. Dia langsung memeriksa keberadaan Friska. Dia takut kembalinya Friska hanyalah sebuah mimpi untuknya


Ardigo bernapas lega ketika melihat Friska di atas ranjang pasien dengan alat-alat kesehatan dan keadaan yang masih sama dengan tadi malam


Pagi ini Rini dan Reno akan pulang bersama Vano. Mereka akan kembali nanti siang. Tinggal lah Ardigo sendiri di ruangan itu


"Tolong jaga Friska ya, Ndre. Saya akan mandi dulu" Ardigo benar-benar tidak ingin Friska tinggal sendirian


"Baik pak"


Andre menatap wajah pucat Friska. Ada rasa iba dihatinya


"Cepat sembuh ya, nona. Pak Ardigo terlihat sangat kacau" gumamnya pelan


Sambil menunggu Ardigo selesai mandi, Andre memainkan ponselnya untuk mengecek pekerjaan. Dia berniat akan membahas tentang Felicya kepada Ardigo saat pria itu sudah selesai mandi


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Ardigo keluar dengan keadaan yang lebih baik dan fresh


"Silahkan sarapan dulu, pak"


"Iya"


Saat akan berjalan menuju sofa, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan sedikit kasar. Ardigo melihat sekilas wajah Rivan sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang karena bogem mentah yang diberikan oleh pria itu

__ADS_1


Ardigo sangat terkejut dan tidak sempat menghindar


"Apa yang kau lakukan?" Andre hendak maju untuk menghentikan Rivan, namun Ardigo memberikan kode agar pria itu tetap berada di tempatnya


"Biarkan saja, Ndre. Saya pantas mendapatkannya" ujar Ardigo mengusap sudut bibirnya yang berdarah


"Kau memang pantas mendapatkannya" ujar Rivan emosi


Bughh!


Satu pukulan di pipi dan satu pukulan lagi di perut Ardigo. Pria itu hanya diam tanpa melakukan perlawanan sedikitpun


"Pak" Andre terlihat sangat khawatir lalu mendekati Ardigo


"Itu belum seberapa dibanding apa yang telah dialami oleh Friska" desis Rivan tajam


Dia hendak melayangkan pukulan lagi namun tangannya di cegah oleh seseorang


"Kak sudah, hentikan!" ujar Tasya


Gadis itu lalu berdiri di hadapan Rivan, menahan pria itu untuk kembali memukuli Ardigo


"Minggir Sya" Rivan yang biasanya bersikap hangat kini terlihat sangat berbeda


"Tidak! apa yang kakak lakukan? bukankah itu sudah cukup? kakak ingin membuat pak Ardigo berada dalam kondisi yang sama dengan Friska?" ujar Tasya sedikit emosi.


"Tentu saja. Supaya dia merasakan apa yang dirasakan oleh Friska" balas Rivan


"Hentikan semua ini. Disana Friska sedang berjuang untuk kesembuhannya, haruskah kalian mempertontonkan hal ini di hadapannya?"


Rivan dan Ardigo hanya terdiam tanpa membalas ucapan Tasya


"Selama puluhan tahun aku menjaganya, dia tidak pernah terluka sedikitpun. Sekarang saat dia bersamamu, dia justru hampir di ambang kematian. Apa kau tidak bisa menjaganya?! aku sudah sangat marah saat tau dia terluka, dan sekarang bahkan dia tidak bisa lagi mengabariku mengatakan keadaannya. Aku justru mengetahui ini melalui pemberitaan media. Sakit yang kau dapatkan tidak sebanding dengan yang dia rasakan sekarang" mata Rivan dipenuhi dengan api kemarahan. Tidak ada lagi tatapan teduh disana


"Saya minta maaf. Saya tau saya berhak mendapatkannya. Dan memang benar, sakit yang saya rasakan tidak ada apa-apanya di banding Friska. Tapi saya juga jauh lebih sakit melihat dia seperti ini. Jika sakitnya bisa dipindahkan, saya rela menanggungnya asal Friska tetap sehat. Kamu pikir saya baik-baik saja? saya lebih hancur daripada kamu!" balas Ardigo


"Cukup! jangan lanjutkan keributan ini. Jika Friska sampai kenapa-napa, maka ini ulah kalian berdua!" hardik Tasya


Setelah itu mereka tidak lagi bersuara. Andre memberikan kotak P3K kepada Ardigo. Tasya dan Rivan mendekati ranjang Friska dengan genangan air mata.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2