My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Candu


__ADS_3

"Aku menginginkanmu, Fris. Can I?" Ardigo terlihat sangat serius. Matanya semakin ditutupi oleh kabut gairah


Jantung Friska semakin berdegup kencang, namun matanya seolah dikunci oleh tatapan intens Ardigo


"M-mas"


"Hmm" Ardigo masih berusaha meruntuhkan pertahanan gadisnya dengan terus membelai wajah serta rambut Friska dengan gerakan sensual


"Kau membuatku merinding" ucap Friska jujur


Ardigo hampir saja tertawa mendengar kepolosan dan kejujuran istrinya


Arghhh gemasnya. Tahan Digo tahan, jangan langsung menyerangnya


Batin Ardigo


"Aku sangat menginginkanmu nyonya Fabiyan. Bolehkah aku meminta hakku malam ini?" Ardigo semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan


Friska berpikir sejenak sambil mengontrol detak jantungnya yang semakin menggila. Di satu sisi dia sangat takut berada dalam situasi ini. Ingin rasanya dia mengatakan belum siap untuk melakukannya. Namun disisi lain, dia merasa ini adalah kewajibannya dan tidak ada yang salah dengan permintaan Ardigo. Lagipula mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini layaknya pernikahan pada umumnya


Setelah memantapkan pilihannya, Friska kemudian mengangguk pelan sambil tersenyum


"Lakukanlah"


Ardigo senang bukan main ketika mendapat lampu hijau dari Friska


"Kamu tidak merasa terpaksa kan?" ujar Ardigo memastikan


"Tidak mas"

__ADS_1


"Terimakasih sayang"


Ardigo mulai mencium kening Friska dalam. Lalu dilanjutkan dengan mengecup kedua kelopak mata dan kedua pipi. Ardigo melakukan eye contact sebentar lalu secara perlahan mengikis jarak diantara mereka dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Friska. Ardigo mulai ******* bibir yang sudah menjadi candunya itu. Pria itu terlihat sangat bersemangat menghisap bibir atas dan bawah Friska secara bergantian. Sementara Friska tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya diam sambil sibuk menenangkan detak jantungnya.


Ardigo mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut Friska mengabsen barisan gigi rapi sang istri. Meskipun tidak ada balasan dari Friska, Ardigo memaklumi karena ini adalah yang pertama untuk gadisnya. Dia tau bahwa jantung Friska berdetak dengan keras dan kencang, karena dia merasakannya


Ciuman Ardigo mulai turun ke leher Friska. Gadis itu sedikit menggeliat karena merasa geli. Tanda demi tanda mulai ditinggalkan oleh Ardigo di setiap bagian yang dilewatinya. Erangan dari Friska juga semakin membuatnya menggila. Ardigo meraih kedua tangan Friska lalu menggenggamnya di kedua sisi kepala gadis itu, untuk memudahkannya menelusuri tubuh indah tersebut


Saat Ardigo berhasil melepas pakaiannya, Friska langsung menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya sudah memerah sempurna karena malu. Ini pertama kalinya Ardigo melihatnya begini


"Jangan ditutupi, sayang" Ardigo meraih kedua tangan Friska yang menghalangi


"Aku malu mas"


"Aku ini suami kamu, jadi coba hilangkan rasa malu itu, okey" Ardigo terus membujuk Friska hingga akhirnya semua terpampang nyata di hadapannya


Ardigo terperangah melihat keindahan sang istri. Ternyata Friska memang cantik luar dalam


"Iya sayang. Bisa kita mulai?"


Friska mengangguk sebagai jawaban


Ardigo kembali menjelajahi tubuh Friska, kali ini lebih liar dari sebelumnya. Ciuman pria itu bahkan terasa semakin menuntut hingga membuat Friska kewalahan


Hingga saat yang paling dinantikan oleh Ardigo pun tiba. Dimana kini Friska sudah menjadi miliknya seutuhnya. Perasaan puas dan bangga tentu saja dirasakannya karena menjadi yang pertama untuk Friska. Dia benar-benar menyalurkan semua keinginan terpendamnya selama ini. Sepanjang melakukan hal itu, Ardigo terus saja mengucapkan kata cinta untuk Friska. Mereka baru berhenti saat menjelang subuh. Friska benar-benar sudah kehabisan banyak tenaga


Suara nafas Friska yang ngos-ngosan menandakan betapa lelahnya gadis itu


"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu" bisik Ardigo

__ADS_1


"Sama-sama mas. Oh iya kenapa tadi kau mengganjal tubuhku dengan bantal?" tanya Friska penasaran


"Karena itu adalah posisi yang bagus" balas Ardigo tersenyum nakal


Friska hanya mengangguk pelan sambil kembali mengatur nafasnya. Kantuk juga sudah menyerangnya sedari tadi


"Kamu kelelahan ya? maaf sayang, aku terlalu bersemangat"


"Tidak apa-apa mas. Tapi aku sangat mengantuk"


"Istirahatlah"


Friska lalu mulai menutup matanya karena dia sangat merasakan kantuk sejak tadi


Ardigo tersenyum melihat wajah sang istri. Dia kembali teringat dengan kegiatan panas yang tadi mereka lakukan. Ardigo mengakui bahwa tubuh Friska sangat memabukkan meskipun gadis itu tidak terlalu banyak merespon nya. Friska berhasil membuatnya menginginkan lagi dan lagi


Ardigo lalu mengalihkan tatapannya kepada bantal yang tadi dipertanyakan oleh Friska


"Ternyata istriku sangat polos" batin Ardigo tersenyum


Dia lalu mendekatkan wajahnya ke perut Friska. Mengusapnya lembut lalu mencium perut sang istri


"Cepat tumbuh ya, sayang. Papa menantikanmu" bisik Ardigo di depan perut Friska


Setelah memastikan tubuh Friska telah tertutup dengan selimut, Ardigo lalu membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri


"Selamat ya gadis kecilku, sekarang kau sudah menjadi seorang wanita" bisik Ardigo tersenyum lalu mengecup pipi Friska kemudian memeluk sang istri dan menyusulnya menuju alam mimpi.


To be continued.

__ADS_1


Maap ya kalau part ini tidak sesuai sama ekspektasi kalian. Aku takut nulis yang terlalu mendetail 😢 tapi aku yakin readers ku udah pada paham step by step nya 😂 jadi pasti menggunakan imajinasi masing2 hehe. See you in the next chapter 💜


__ADS_2