
Setelah selesai makan malam, Friska membersihkan meja makan dan membawa semua piring kotor ke wastafel. Dia berniat untuk mencucinya, karena sudah beberapa hari ini Ardigo lah yang mengerjakannya
Saat melihat Ardigo yang sepertinya akan protes, Friska langsung berujar
"Mulai sekarang biar aku yang mencuci piringnya. Kamu sudah membantuku beberapa hari ini, mas. Dan sekarang aku sudah sembuh"
"Kamu yakin?"
"Iya, sebaiknya kamu temani Vano"
"Baiklah"
Friska lalu mencuci piring-piring tersebut. Setelah selesai dia menyusul Ardigo dan Vano ke ruang tengah
Dia melihat ayah dan anak itu sedang bermain puzzle. Friska duduk di sofa lalu membaca buku tentang metodologi penelitian. Sejauh ini dia sudah mengerjakan separuh dari skripsinya.
"Mama sedang membaca apa?" tanya Vano. Sepertinya mereka sudah selesai bermain
"Ini buku tentang skripsi mama, sayang"
"Skripsi itu apa ma?"
"Itu tugas akhir yang harus mama kerjakan agar bisa lulus dari sekolah mama"
"Wahhh mama akan segera lulus?" tanya Vano antusias
"Iya, doakan semuanya lancar ya" ujar Friska tersenyum hangat
"Pasti ma"
"Maa.." panggil Vano setelah terdiam beberapa saat
"Iyaa"
Vano semakin mendekat ke arah Friska dan mendekatkan telinganya ke perut gadis itu
"Ada apa, Vano? Vano sedang apa?" tanya Friska bingung
"Kata Cecil di dalam perut mamanya ada adik. Apa di perut mama juga ada?" tanya Vano polos
"Eh?" Friska sangat kaget mendengar pertanyaan Vano
"Kata Cecil dia akan segera punya adik. Sekarang adiknya masih di dalam perut tante Melly. Apa adik Vano juga ada di dalam perut mama?"
"Eee tidak, sayang.."
"Vano" Melihat Friska yang gelagapan membuat Ardigo mengambil alih pertanyaan Vano
"Di dalam perut mama belum ada adiknya Vano"
"Benarkah? tapi kenapa di dalam perutnya tante Melly ada, pa?" Vano mulai terlihat cemberut
"Sekarang papa tanya, Cecil tidurnya dengan siapa?"
__ADS_1
"Kata Cecil dia sudah punya kamar sendiri. Jadi Cecil tidur sendiri, tapi terkadang dia juga tidur dengan papa dan mamanya"
"Nah itu dia, Vano sampai sekarang masih tidur dengan papa dan mama. Jadi dedek bayinya tidak mau hadir di perut mama" jawab Ardigo yang mengundang tatapan aneh Friska
"Tapi Vano baru saja merasakan tidur bersama papa dan mama" ujar Vano lesu
"Yasudah kalau begitu, Vano bisa tidur selamanya dengan papa dan mama. Tapi Vano jangan meminta dedek bayi lagi ya"
Apa sih maksudnya? kenapa semakin hari dia semakin aneh. suara batin Friska
"Tapi Vano juga ingin punya adik, pa" rengek Vano
Gawat! Vano benar-benar ingin punya adik. Friska mulai panik
"Kan sudah papa bilang, kalau Vano masih tidur dengan papa dan mama, dedek bayinya tidak mau datang" entah perasaan Friska saja atau bagaimana, tapi sepertinya dia merasa bahwa Ardigo sangat bersemangat dan berusaha keras untuk bernegosiasi dengan Vano
"Pilihannya ada di tangan Vano" ujar Ardigo
Bocah itu terlihat berpikir sebelum mengambil keputusan, seolah ini adalah keputusan yang sulit untuknya
"Baiklah, mulai sekarang Vano akan tidur sendiri di samping kamar papa dan mama. Lagipula Vano sudah besar" ujar Vano mantap
Ardigo menahan dirinya untuk tidak bersorak dan berselebrasi di hadapan Vano dan Friska
"Vano.." Friska spontan hendak protes
"Tidak apa-apa ma, yang penting Vano bisa punya adik"
"Mas" ujar Friska sambil mencoba untuk protes lewat tatapan matanya
"Ada apa?"
Kurang ajar! dia pura-pura tidak mengerti.
"Memangnya tidak apa-apa Vano tidur sendiri? dia kan masih kecil" Friska mencoba memilih kata yang tepat di hadapan Vano
"Vano sudah besar, ma. Lagipula kan Vano harus berkorban agar bisa punya adik" jawab Vano dramatis
Ardigo terkekeh mendengar kata 'berkorban' yang diucapkan Vano
"Wahhh papa salut dengan pengorbanan Vano. That's my son! Semoga pengorbanan Vano tidak sia-sia ya" ujar Ardigo menyindir Friska
"Iya pa"
"Nah sekarang Vano minta kepada mama, kan nanti dedek bayinya ada di perut mama" ujar Ardigo
"Tolong panggil dedek bayinya ya ma, Vano ingin punya adik, seperti Cecil. Vano janji tidak akan manja lagi dan akan belajar menjadi kakak yang baik" mohon Vano lengkap dengan puppy eyes nya.
Friska bingung harus menjawab apa. Kedua pria beda generasi itu masih menatapnya untuk menunggu jawaban
"Mama tidak mau, ya?"
"Eh bukan begitu sayang. Iya, mama mau. Semoga Vano bisa cepat punya adik ya" Friska sedikit menyesali ucapannya, tapi dia tidak punya pilihan lain
__ADS_1
"Yeayyy makasih ma, Vano sayang mama" ujar Vano lalu memeluk Friska
"Jadi malam ini Vano akan tidur dimana?" tanya Ardigo memastikan
"Vano akan tidur sendiri di samping kamar papa"
"Bagaimana kalau malam ini Vano tidur dengan papa dan mama dulu, besok-besok baru tidur sendiri" tawar Friska dengan penuh harapan
"Tidak ma, biar Vano secepatnya punya adik" ujar Vano bersemangat
Oh tidak! sepertinya ayah dan anak ini sangat kompak.
Vano kembali mendekati perut Friska
"Dek, cepat datang ya. Nanti kita bermain bersama, kakak punya banyak mainan. Nanti kita bisa memintanya lagi kepada papa" ujar Vano di depan perut Friska lalu menepuk pelan seolah sedang menyapa adiknya di dalam sana
Ardigo tersenyum cerah melihat pemandangan itu, sangat berbeda dengan Friska yang terlihat menyedihkan
"Ma, Vano mengantuk"
"Vano mau tidur sekarang? ayo mama antar"
"Ayo ma. Vano tidur dulu ya pa, selamat malam" Vano mengecup sekilas pipi Ardigo
"Iya sayang, tidur yang nyenyak ya"
Friska dan Vano lalu menaiki tangga
"Vano yakin tidur sendiri malam ini? tidur dengan papa dan mama saja ya" Friska masih berusaha membujuk Vano
"Vano sudah besar ma, sebentar lagi Vano juga akan jadi kakak" ujar Vano bijak
"Tapi mama khawatir kalau Vano tidur sendirian"
"I'm good ma. Cecil saja sudah tidur sendiri, masa Vano yang laki-laki kalah dengan Cecil"
"Hmm baiklah kalau begitu" ujar Friska putus asa
Mereka memasuki kamar yang berada tepat di samping kamar Ardigo. Meski tidak ditempati, kamar ini selalu dibersihkan sehingga bisa ditempati langsung oleh Vano saat ini
Friska menemani dan memeluk tubuh Vano sambil menepuk pelan punggungnya. Tak lama kemudian suara nafas Vano yang teratur menandakan bocah itu sudah sampai ke alam mimpinya.
Friska menatap wajah damai Vano
"Mama bingung sayang, pernikahan mama dan papa tidak semudah itu. Mama tidak berniat untuk membohongi Vano, tapi mama tidak tega harus mematahkan harapan Vano" gumam Friska pelan
Setelah puas memandangi wajah tampan Vano, Friska lalu mengecup pelan keningnya.
"Selamat malam sayang, tidur yang nyenyak ya"
Setelah membenarkan letak bantal dan selimut, Friska lalu menutup pintu kamar Vano.
To be continued.
__ADS_1