
3 minggu kemudian,
"Sayang, kamu terlihat pucat. Are you okay?" tanya Ardigo saat sarapan
"Aku baik-baik saja, mas. Cuma sedikit tidak enak badan. Nanti juga hilang sendiri"
"Kamu yakin?"
"Iyaa mas Digo"
"Kalau mama sakit nanti siang biar pak Danang saja yang menjemput Vano. Mama istirahat saja" ujar Vano penuh perhatian seperti biasanya
Friska tersenyum mendengar perhatian Vano. Bocah itu memiliki kepekaan yang sangat tinggi. Seketika dia melupakam rasa meriang serta sakit di kepalanya yang sedari tadi
"Mama baik-baik saja, sayang. Kalau nanti siang sudah agak mendingan, mama akan menjemput Vano"
"Oke ma" balas Vano menunjukkan senyum manisnya
Setelah sarapan Ardigo dan Vano lalu segera pamit
"Ya tuhan kenapa kepalaku semakin berdenyut?" gumam Friska sambil memijat pelipisnya
"Bu, bisa tolong buatkan wedang jahe? Sepertinya aku masuk angin" ujar Friska kepada bu Siti yang sedang membersihkan dapur
"Baik nyonya"
"Nyonya yakin tidak apa-apa? sepertinya bertambah parah. Apa saya hubungi tuan Ardigo saja?" tanya bu Siti mulai cemas saat Friska mulai muntah-muntah dan terlihat begitu lemah
"Tidak usah bu, sepertinya saya cuma masuk angin"
"Silahkan diminum nyonya" bu Siti menghidangkan segelas wedang jahe di hadapan Friska
__ADS_1
"Terimakasih banyak bu"
Friska mendekatkan gelas tersebut ke mulutnya, namun saat aroma jahe yang kuat menusuk hidungnya perut Friska kembali bergejolak
Astaga ada apa denganku? aku tidak pernah seperti ini sebelumnya
batin Friska mulai cemas. Karena selama ini meskipun disaat sakit dia tidak pernah mual hanya karena mencium aroma jahe, justru itulah obat yang paling ampuh ketika dia masuk angin. Tapi tidak berlaku lagi untuk saat ini
Ya tuhan aku sakit apa? pikiran buruk mulai melintasi otak Friska
Bu Siti membantu Friska bangun setelah wanita itu selesai muntah
"Ya ampun nyonya kita ke dokter saja ya? sepertinya nyonya tidak sedang masuk angin" ucap bu Siti menahan tubuh Friska
Sementara wanita itu seakan kehabisan seluruh tenaganya, dia benar-benar sangat lemah setelah muntah berkali-kali. Namun hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya
Sakit di kepala Friska juga semakin menjadi, tiba-tiba pandangannya mengabur dan setelah itu semuanya hitam dan Friska tidak sadarkan diri
"Nyonya! nyonya Friska!" bu Siti yang panik tetap mencoba membangunkannya dengan menepuk pelan pipi wanita itu
Rumah Sakit,
Ardigo keluar dari ruangan dokter dan kembali ke ruangan Friska dengan wajah tak terbaca. Dia duduk di kursi sambil menatap wajah Friska dan menggenggam tangan wanitanya
Tak lama kemudian bulu mata lentik Friska bergerak dan diiringi dengan terbukanya kelopak mata wanita itu secara perlahan
"Mas Digo"
"Kamu sudah bangun sayang"
"Aku kenapa mas? ini dimana?" tanya Friska dengan wajah linglung
__ADS_1
"Ini di rumah sakit, tadi kamu pingsan"
"Benarkah? aku kenapa, mas?" raut khawatir tercetak jelas di wajah Friska saat teringat sakit di kepala serta tubuhnya sesaat sebelum jatuh pingsan
Namun Ardigo tak langsung menjawab. Membuat ketakutan Friska bertambah
"Mas!"
Tiba-tiba Friska sudah berada di dalam pelukan erat sang suami. Ardigo memeluknya tanpa menjawab pertanyaan tersebut
"Selamat sayang, kamu hamil" ujar Ardigo bergetar menahan tangis bahagianya
Tiada kata yang dapat menggambarkan betapa bahagianya Ardigo
"A-apa?" tanya Friska tidak percaya
"Kamu hamil anakku, anak kita" ulang Ardigo kali ini dengan meneteskan air matanya
Friska sangat terkejut dan tentu saja ikut bahagia karena sekarang sudah ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahimnya
"Ja-jadi aku sedang hamil? bukan sakit?"
Ardigo menggeleng
"Kamu sedang hamil. Dan itu gejala awal kehamilan, kamu baik-baik saja"
"Syukurlah" tanpa sadar Friska mengelus pelan perutnya yang masih rata
"Cepat tumbuh ya sayang. Jangan menyulitkan mama" kini giliran Ardigo yang mencium serta berbicara pelan di depan perut Friska
Suasana bahagia dan haru terasa sangat jelas di ruangan tersebut
__ADS_1
Keesokan harinya Friska sudah diperbolehkan pulang dengan dibekali beberapa macam vitamin untuk kehamilannya
To be continued.