My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Jahil


__ADS_3

Semenjak Friska terluka, Ardigo mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia bahkan melarang Friska untuk banyak bergerak dan menyuruh wanita itu beristirahat. Friska merasa ini terlalu berlebihan dan sedikit kesal ketika pria itu terus melarangnya untuk melakukan segala hal


Dan hal yang paling membingungkan adalah pria itu menyuruhnya untuk pindah ke kamar utama bersamanya dan Vano. Hal yang sangat dilarang keras ketika pertama kali dia menginjakkan kaki ke apartemen ini. Friska tentu saja menolak dengan alasan lebih nyaman berada di kamarnya saat ini. Namun sikap dominan Ardigo dengan alasan bahwa Friska sedang sakit akhirnya mampu membawa gadis itu menginjakkan kakinya ke dalam kamar dengan nuansa monokrom tersebut. Warna hitam dan abu-abu mendominasi ruangan yang sangat luas itu. Aroma parfum Ardigo memenuhi kamar tersebut seolah menegaskan bahwa ini adalah kawasan pria tampan itu


Friska sempat canggung ketika hanya berdua di dalam kamar dengan Ardigo, namun dia akan segera bernafas lega saat melihat kedatangan Vano. Bocah itu justru sangat senang karena bisa tidur bersama kedua orangtuanya, tidak terpisah seperti selama ini.


Friska juga sudah memutuskan untuk berhenti dari kafe setelah mempertimbangkan banyak hal. Dua hari yang lalu dia mendatangi kafe untuk berbicara dengan Rivan. Pria itu tentu saja tidak keberatan, dia justru merasa senang ketika Friska mengatakan untuk berhenti bekerja atas permintaan Ardigo. Namun rasa marah juga tak bisa dia sembunyikan ketika mengetahui punggung Friska terluka oleh orang tak dikenal


"Saya permisi pulang dulu, nona" pamit buk Siti, sang asisten rumah tangga, yang akan selalu pulang ketika tugasnya sudah selesai


"Ibu tidak mau makan disini dulu bersama kami? sepertinya sebentar lagi mas Digo akan pulang" tawar Friska


"Tidak usah nona Friska, saya makan bersama keluarga saya saja di rumah"


"Baiklah, hati-hati ya buk. Salam kepada keluarga ibu"


"Iya non, saya pulang dulu"


Friska menutup pintu apartemen setelah bu Siti hilang dari pandangannya


Tak lama kemudian Ardigo pulang ketika Friska dan Vano sedang asik membaca buku sambil sesekali tertawa. Setelah semua masalah di kantor selesai, kini Ardigo pulang di jam normal seperti biasanya


"Papa sudah pulang?" sapa Vano ketika melihat Ardigo


"Iya, tapi tidak ada seorang pun yang menyambut papa" balas Ardigo pura-pura sedih lalu mendaratkan bokongnya di samping Vano


Vano langsung menghambur ke dalam pelukan Ardigo, membuat pria itu tersenyum


"Maaf ya pa, tadi Vano dan mama sedang membaca buku"


"Memangnya Vano sudah bisa membaca?"


"Sudah bisa sedikit pa, setelah diajar mama"


"Wahhh syukurlah"


Ardigo menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil memejamkan matanya


"Mau mandi sekarang, mas? biar aku siapkan air hangat" tawar Friska

__ADS_1


"Biar saya saja, nanti punggung kamu sakit" balas Ardigo belum membuka matanya


Inilah hal yang membuat Friska terharu dan mengagumi sikap pria itu. Dia tidak mengizinkan Friska untuk melakukan apapun karena mengkhawatirkan luka gadis itu. Bahkan Ardigo juga tidak pernah lupa untuk mengoleskan salep ke luka Friska setiap harinya sehingga kini lukanya sudah berangsur sembuh.


"Biar aku saja mas, kamu kan lihat sendiri lukaku sudah sembuh. Aku siapkan sekarang ya"


"Friska..."


"Tunggu ya" ujar Friska lalu menaiki tangga menuju kamar mereka. Bagaimanapun Ardigo sudah sangat baik kepadanya, jadi tidak ada salahnya jika dia juga membantu keperluan pria itu


"Dasar keras kepala" gumam Ardigo


Setelah selesai menyiapkan air hangat, Friska keluar dari kamar mandi hendak memanggil Ardigo


"Loh mas Digo disini?" kaget Friska saat mendapati Ardigo telentang di atas ranjang dengan mata tertutup dan tanpa menggunakan atasan apapun, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang menyerupai model iklan susu penambah massa otot. Sepertinya dia sudah membuka jas dan kemejanya dan hanya menyisakan celana panjang saja


"Hmmm" dehem Ardigo belum berniat membuka matanya


"Silahkan mandi mas, airnya sudah siap"


"Hmm" lagi-lagi Ardigo hanya membalas dengan deheman


"Iyaa" namun belum ada tanda-tanda Ardigo akan bangun


Friska tidak kehilangan akal, dia langsung meraih lengan Ardigo dan mencoba menariknya


"Ayolah bangun, mandi dulu"


Namun tenaga Friska kalah jauh dari sang suami


"Mas ayo ba- Akhh" teriak Friska saat tangannya malah ditarik dan membuatnya jatuh menimpa tubuh kekar Ardigo


Pria itu justru tersenyum nakal lalu membuka matanya. Wajah mereka berjarak sangat dekat. Mata mereka saling terkunci selama beberapa saat


"Tadi menyuruh mandi, tapi kenapa malah menindih saya?" tanya Ardigo dengan suara yang terdengar aneh di telinga Friska. Entah kenapa Friska merasa bulu kuduknya merinding


"A-aku.." Friska yang terkejut malah gelagapan dan tidak tau harus berkata apa


"Enak di atas saya?" tanya Ardigo

__ADS_1


"Eh" Kesadaran Friska seketika terkumpul dan dia berniat ingin bangkit dari posisinya. Namun ternyata Ardigo sudah lebih dulu melingkarkan tangannya di pinggang Friska, menahan gadis itu


"Mas, lepaskan!" Friska mulai kalang kabut. Aroma tubuh Ardigo membuat kerja otaknya terganggu


"Jawab dulu, enak ya di atas saya?" Ardigo sangat terhibur dengan ekspresi dan sikap lucu istrinya, karena itulah dia sangat suka menggoda gadis itu


"Tidak! lepaskan aku mas, bagaimana nanti kalau Vano melihat? Ayo cepat lepaskan" panik Friska


"Saya sudah mengunci pintunya" jawab Ardigo enteng


"APA??!" Friska spontan melihat ke arah pintu dan benar pintu itu dalam keadaan tertutup


Sial! niat baikku disalahgunakan. Batin Friska


"Apa yang kamu pikirkan? kenapa terlihat cemas sekali" kekeh Ardigo semakin senang menggoda Friska


"A-aku harus turun sekarang, aku masih ada urusan dengan Vano" ujar Friska asal


"Baiklah kalau begitu"


Ardigo lalu mengecup pipi kanan, kiri, dan terakhir bibir Friska


"Itu tanda terimakasih saya" kekeh Ardigo lalu melepaskan tangannya dari pinggang Friska


Gadis itu langsung bangkit dan berjalan cepat menuju pintu kamar lalu membukanya


Loh, tidak dikunci?


Friska hanya melemparkan tatapan aneh ke arah Ardigo, karena pria itu baru saja membohonginya. Sementara itu Ardigo hanya tersenyum geli melihat kepergian Friska


"Astaga kenapa istriku lucu sekali" ujarnya tertawa lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Mama kenapa? apa mama sakit? pipi mama memerah" tanya Vano saat Friska sudah kembali ke tempatnya semula


"Tidak, sayang. Mama hanya... gatal, ah iya gatal. Tadi ada nyamuk yang menggit pipi mama"


"Nyamuknya jahat sekali, kenapa tidak dipukul ma?"


"Iya nanti kalau dia masih berani menggigit mama akan mama pukul" balas Friska mengingat wajah Ardigo.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2