
Pagi telah tiba, Ardigo masih setia duduk di samping Friska. Setelah melepas rindunya semalam, Ardigo meminta Friska untuk kembali beristirahat.
Dokter yang menangani Friska telah tiba pada jam seperti biasanya. Dia juga ikut senang melihat gadis itu sudah sadar dan terbangun dari tidur panjangnya
Dokter itu melakukan serangkaian pemeriksaan guna memastikan keadaan Friska baik-baik saja dan dalam kondisi normal
"Syukurlah anda sudah sadar, nyonya. Semoga anda bisa segera pulih" ujar sang dokter tersenyum hangat
"Terimakasih dok" bisik Friska pelan
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" tanya Ardigo
"Detak jantung dan seluruh aliran darahnya berjalan lancar dan normal. Saya akan terus memantau perkembangannya"
Ardigo menghela napas lega
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" pamit sang dokter
"Baik dok, terimakasih" balas Ardigo
Selepas kepergian dokter, Ardigo menatap Friska intens
"Terimakasih"
Friska sedikit bingung dengan ucapan Ardigo
"Untuk apa?"
"Terimakasih karena kamu telah kembali ke sisiku"
Friska menatap kedua bola mata Ardigo bergantian, mencoba menemukan kebohongan disana. Namun hanya ketulusan dan kejujuran yang dipancarkan oleh sepasang mata itu. Friska melihat adanya kantong mata yang sedikit menghitam di sekitar mata Ardigo. Wajah yang biasanya terlihat arogan dan gagah itu kini tampak sedikit kusam
Sudah berapa lama dia menungguku? batin Friska
"Terimakasih juga sudah menungguku" balas Friska sambil tersenyum tipis, mengundang senyuman lebar sang suami
"Dimana Vano? dia belum bangun?" tanya Friska teringat dengan sang anak
"Dia masih tidur bersama mama. Sebentar, akan aku bangunkan"
"Tidak usah, mas. Biarkan Vano bangun sendiri"
"Tidak, dia pasti akan senang melihatmu"
Ardigo langsung bangkit dan menuju tempat tidur Vano. Dia melihat ke arah Rini, ada rasa iba karena melihat sang ibu yang sudah seminggu ini menemaninya di rumah sakit.
Ardigo membelai pipi Vano pelan
"Vano, sayang, bangun"
"Eunghh, Vano masih mengantuk pa" lenguh Vano masih dengan mata tertutup
"Mama saja sudah bangun, Vano tidak ingin melihat mama?"
Mendengar itu Vano langsung membuka kedua matanya
"Mama sudah bangun, pa?" tanya Vano memastikan pendengarannya
"Sudah sayang. Ayo, mama ingin bertemu dengan Vano"
"Ayo paa" Ardigo tersenyum lalu mengangkat Vano dan menggendongnya menuju ranjang Friska.
Friska tersenyum saat melihat Ardigo dan Vano yang berjalan mendekat. Mengingatkan dengan mimpinya sesaat sebelum terbangun
__ADS_1
"Mamaaa" panggil Vano riang
"Haii sayang" balas Friska
Vano sangat bahagia saat melihat lagi senyum Friska
"Vano merindukan mama" ujar bocah itu saat Ardigo membawanya duduk di pangkuannya
"Mama juga sangat merindukan Vano"
tangan Friska dengan otomatis bergerak membelai pipi sang anak
"Mama jangan pergi lagi ya" wajah bahagia Vano tiba-tiba berubah murung
"Mama tidak akan pergi, sayang"
"Friska! kamu sudah sadar, nak?" tiba-tiba suara Rini terdengar
Dia terbangun sesaat setelah Ardigo menggendong Vano
"Sudah ma" balas Friska
"Syukurlah, mama sangat senang" Rini menyentuh lengan Friska pelan
"Friska juga senang bisa bertemu mama lagi"
Setelah berbincang-bincang, Rini dan Vano memutuskan untuk pulang sebentar.
Saat menjelang siang mereka kembali ke rumah sakit bersama dengan Reno, Dinda dan Reyhan
"Friskaaa" Dinda langsung memeluk Friska sambil menangis
Dia begitu terkejut sekaligus sedih saat mendapat kabar buruk tentang Friska
"Maaf aku baru bisa datang kesini. Aku benar-benar takut kamu kenapa-napa, Fris" ujar Dinda dengan berlinang air mata
"Aku baik-baik saja, mbak. Hanya tinggal menunggu pulih"
"Syukurlah"
"Lepaskan pelukanmu, Dinda! badan Friska bisa sakit" tegur Ardigo
"Ishh dasar lebay. Friska saja tidak marah" celoteh Dinda kesal
"Kak Digo benar, sayang" ujar Reyhan lembut
Dinda dengan berat melepas pelukannya
Friska hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dia senang bisa kembali berada di tengah-tengah keluarga Ardigo yang sangat menyayanginya
"Kamu makan dulu ya" ujar Ardigo kepada Friska
"Iya mas"
Ardigo membantu Friska agar bisa sedikit bersandar pada head board ranjangnya
Dia menyuapi Friska dengan telaten. Friska sedikit canggung dengan perlakuan pria itu, apalagi saat ini mereka sedang menjadi tontonan anggota keluarga yang lain
"Sudah mas"
"Baiklah, minum dulu"
Setelah selesai makan, Ardigo kembali membantu Friska untuk berbaring
__ADS_1
Dinda yang sudah bergabung dengan Rini dan Reno di sofa langsung berbisik
"Sepertinya dia sudah berubah" bisik Dinda menunjuk Ardigo
Rini tersenyum sesaat
"Dia sudah menyadari perasaannya kepada Friska"
"Syukurlah, kalau dia masih bersikap seperti dulu lebih baik Friska meninggalkannya saja dan mencari kebahagiaannya yang lain" omel Dinda
"Kamu tau sendiri kan kakakmu itu seperti apa, saat ini bahkan dia tidak bisa lagi hidup tanpa Friska" balas Rini
Mereka terus menemani Friska di rumah sakit sambil berbincang-bincang. Kehangatan sangat terasa di tengah keluarga itu
*****
Keesokan harinya, Ardigo berniat akan menemui dan mengurus masalah Felicya. Dia menitipkan Friska kepada Rini dan Dinda
Sepanjang perjalanan dia tampak diam sambil mengatur emosinya. Bahkan mengingat nama Felicya saja sudah membuatnya ingin meledak saat ini juga
"Kamu sudah membawa semua buktinya kan, Ndre?"
"Sudah, pak"
"Aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan kalian" gumam Ardigo pelan
Setibanya di kantor polisi, kedua pria tampan itu langsung masuk
"Tolong dampingi saya terus, Ndre. Saya takut tidak bisa mengontrol emosi saya ketika melihat wajah keparat itu"
"Baik pak"
Kini mereka sudah berhadapan dengan kedua Felicya dan Jerry
Gadis itu tampak ketakutan ketika melihat Ardigo dan Andre. Dari aura kedua pria itu dapat dia pastikan bahwa hal buruk akan segera terjadi kepadanya
Ardigo sudah menahan kepalan tangannya sejak tadi. Dia mencoba tenang dengan mengatur nafasnya
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Ardigo dengan suara rendah namun sarat akan emosi di dalamnya
Felicya tak langsung menjawab. Dia menunduk dengan jemari yang saling bertaut
"Aku tau kau lah otak di balik semua ini. Jadi apa alasanmu melakukannya?! JAWAB!!" bentak Ardigo
Felicya terlonjak kaget mendengar bentakan Ardigo. Rasa takutnya semakin bertambah
"Silahkan jawab nona" ujar Andre dengan nada tegas
"Itu.. i-itu karena aku.."
"Bicara yang jelas!!" hardik Ardigo
"Itu karena.. aku mencintaimu" ujar Felicya semakin menunduk
Ardigo tercengang dengan ucapan Felicya. Dia bukannya terharu karena Felicya masih mencintainya. Namun dia tidak punya kata yang tepat untuk Felicya
"Kau gila"
Felicya mengangkat kepalanya dan memberanikan dirinya untuk berbicara
"Aku memang gila. Aku gila karena aku selalu memikirkan mu, Digo. Aku sangat mencintaimu dan berharap bisa kembali bersamamu. Aku ingin kita kembali menjadi pasangan seperti dulu. Namun perempuan itu datang dan memisahkan kita. Dia merebutmu dariku! Dia mengambil kebahagiaanku! Aku hanya ingin memberikan balasan yang setimpal untuknya. Dia datang dan menyingkirkanku dari hidupmu. Dan sekarang aku juga ingin melakukan hal yang sama, aku ingin menyingkirkannya sama seperti yang dulu dia lakukan!"
BRAKKK!!!
__ADS_1
To be continued.