
Friska sudah berkumpul dengan para sahabatnya. Tasya dan Naura sudah menunggu gadis itu sejak tadi. Friska memang menyuruh mereka untuk duluan ke kantin karena dia harus menjemput Vano terlebih dahulu.
"Fris, tadi apa yang dibicarakan oleh pak Andre? aku baru pertama kali melihatnya mendatangi ruangan kita" tanya Tasya setelah Friska memesan makanannya
Friska berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan sang sahabat. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya soal Ardigo. Dulu Friska memang sempat ingin memberitahu Tasya dan Naura perihal siapa Ardigo sebenarnya, namun gagal karena saat itu Tasya sudah duluan mengajaknya ke kantin. Dan setelah dipikir pikir, dia membatalkan niatnya untuk memberitahu Tasya. Karena percuma saja dia mengakui Ardigo sebagai suaminya, sedangkan pria itu belum tentu mau mengakuinya. Sangat tidak adil rasanya mengakui seseorang yang belum tentu mau mengakuinya
"Tidak ada, hanya masalah pekerjaan" balas Friska santai
"Memangnya pekerjaan apa sampai membuatnya harus menemuimu secara langsung?" timpal Naura ragu dengan perkataan Friska
"Dia hanya memberitahuku sebagai perwakilan dari semua anak magang bahwa CEO kita mengharuskan kita semua wajib sarapan sebelum ke kantor. Dia menyuruhku untuk menyampaikannya kepada kalian semua. Dan Pak Andre juga tadi menanyakan tentang magang kita yang sudah berjalan beberapa hari ini, apakah ada kendala atau tidak. Hanya itu saja"
"Benarkah? apakah CEO kita memang orang yang sangat perhatian?" ujar Tasya kagum
"Sepertinya begitu" balas Friska singkat
"Pasti istrinya sangat menyayanginya" celetuk Naura
"Tidak!" spontan Friska menjawab, membuat Tasya dan Naura menatapnya aneh
"Ma-maksudku kita kan tidak tau rumah tangga orang lain. Mungkin saja pak Ardigo punya sifat menyebalkan yang tidak kita ketahui, yang terkadang membuat istrinya kesal" jelas Friska
"Iya juga ya, terkadang yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataannya" timpal Naura yang kemudian diangguki Tasya
"Ah sudahlah untuk apa kita membicarakan pak Ardigo, tidak penting juga" ujar Friska bertepatan dengan makanannya yang sudah sampai
"Iya ayo makan" ajak Tasya
Saat sedang makan, tiba-tiba tiga orang pria mendekati meja mereka.
"Permisi, boleh kami bergabung disini? soalnya tidak ada meja yang kosong lagi" tanya salah seorang pria itu. Mereka adalah mahasiswa yang juga sedang magang disini
"Oh tentu saja boleh, silahkan" ujar Naura
"Terimakasih" Mereka pun duduk dan menikmati makanan masing masing
Obrolan ringan pun mulai mengalir dari mereka semua selama makan. Bahkan saat sudah selesai makan pun, mereka masih asik mengobrol dengan sesekali tertawa. Kehangatan itu tidak luput dari sepasang mata yang sudah menatap mereka sejak tadi.
"Apa mereka juga anak magang disini?" tanya Heri mengikuti arah pandang Ardigo
"Hmm"
__ADS_1
Heri tertawa kecil melihat gelagat sang sahabat. Hal itu sontak membuat Ardigo beralih menatapnya dengan pandangan seolah bertanya 'kenapa?'
"Hei tidak usah menatapnya seperti itu. Mereka hanya rekan kerja dan sesama mahasiswa"
"Apa yang kau bicarakan?" ujar Ardigo mengelak
"Kau cemburu kan melihat mereka? dasar posesif!" Heri masih setia menertawai Ardigo
"Jangan mengada-ngada. Aku tidak melihatnya"
"Iya, anggap saja aku percaya"
Ardigo tidak lagi membalas ucapan Heri. Pria itu diam dengan raut wajah tak terbaca
"Kalau kau sedang ada masalah dengannya, segera bicarakan baik-baik. Selesaikan masalah kalian dan jangan biarkan berlarut-larut. Aku lihat sepertinya istrimu orang yang bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Kalau kau yang salah, segeralah minta maaf" pungkas Heri
"Kalau dia terus menghindariku bagaimana?"
"Tentu saja kau harus berusaha lebih keras untuk membuatnya bisa berbicara denganmu. Dia tidak akan bisa menghindar kalau kau sudah ada di hadapannya. Yang paling penting jangan gunakan kekerasan"
"Iya" balas Ardigo singkat. Namun dalam hati dia mencerna ucapan Heri dengan baik
"Cihh itu saja tidak tau. Sebenarnya yang sudah duda disini aku atau kau?" ledek Heri
"Hmm terserah kau. Punya istri tapi tidak tau cara memperlakukannya dengan baik. Lebih baik dia menjadi istriku saja" cibir Heri membuat Ardigo menatapnya kesal
*****
Waktu istirahat telah selesai, para karyawan sudah kembali ke ruangannya masing-masing. Suasana kantin yang tadinya ramai perlahan mulai lengang
Ardigo sudah kembali ke kursi kebesarannya dan duduk dengan kepala menunduk dan jemari yang saling bertaut. Heri sudah pergi dan kembali ke kantornya beberapa menit yang lalu
Setelah bertahan beberapa menit dengan posisi seperti itu, tiba-tiba dia menegakkan kepalanya dan meraih gagang telpon di atas meja
"Hubungi bagian pantry untuk membuatkan saya kopi dan suruh Friska yang mengantarkannya" perintah Ardigo kepada Andre. Setelah mengatakan itu dia kembali meletakkan gagang telpon ke tempat semula
Dia sudah memutuskan untuk berbicara dengan Friska serta meminta maaf kepada gadis itu. Ardigo sengaja menyuruh Friska datang dengan alibi mengantarkan kopi untuknya karena mempertimbangkan sesuatu
Sambil menunggu kedatangan Friska, Ardigo menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk di atas meja. Beberapa menit kemudian suara ketukan pintu terdengar. Ardigo menegakkan kepalanya dan menatap daun pintu lebar dengan warna putih itu
"Masuk!" perintah Ardigo
__ADS_1
Pintu pun terbuka dan muncullah seorang wanita yang sedang membawa nampan kopi. Ardigo terkejut karena sosok itu bukanlah orang yang sedang ditunggunya
"Kenapa kamu yang mengantarnya?" tanya Ardigo kepada office girl itu
"Maaf tuan, tadi nona Friska meminta tolong kepada saya untuk mengantarkan kopi tuan karena tiba-tiba dia ingin ke kamar mandi" jelas gadis itu
Sial! dia sengaja menghindariku. Batin Ardigo
"Yasudah, taruh di atas meja saya"
"Baik tuan" setelah itu gadis itu pun segera pamit untuk keluar
Ardigo membuang napas kasar dan memijat pelan pangkal hidungnya. Dia sedang memikirkan cara supaya bisa segera berbicara dengan Friska. Ingin rasanya dia segera menuju ruangan sang istri dan membawanya kesini, namun dia ragu karena mengingat sesuatu.
"Aishhh aku tidak perduli!" ujar Ardigo, lalu segera melangkahkan kakinya dengan cepat keluar ruangan
Dia turun menggunakan lift dan segera menuju kamar mandi yang berada di dekat ruangan Friska berharap gadis itu masih disana. Ardigo berpura-pura memainkan ponselnya sambil berdiri agak jauh dari kamar mandi. Tak lama kemudian dia melihat Friska keluar dari sana. Dalam hati dia hampir saja bersorak karena usahanya membuahkan hasil
Sepertinya Friska tidak menyadari kehadiran Ardigo disana. Setelah memastikan keadaan aman, Ardigo langsung mendekati Friska dan mencekal pergelangan tangan sang istri
"Astaga!" Friska sangat terkejut dengan tindakan Ardigo yang tiba-tiba. Dia hampir saja ingin membentak bahkan memukul orang yang sudah berani kurang ajar terhadapnya
Saat menyadari siapa yang memegang tangannya, Friska tiba-tiba terdiam dengan raut wajah datar. Perasaan canggung dan tidak nyaman langsung dirasakannya. Bagaimana tidak, orang yang sangat dihindarinya saat ini justru berdiri tepat di hadapannya. Setelah beradu pandang beberapa saat, Friska langsung memalingkan wajahnya ke samping
"Lepaskan tangan saya pak!" ucap Friska sopan karena mengingat ini di kantor
"Tidak. Kita harus berbicara" ujar Ardigo tegas
"Saya tidak ingin berbicara dengan anda. Lagipula ini di kantor " tolak Friska
"Tapi saya ingin berbicara dengan kamu, dan saya tidak perduli karena ini kantor saya"
"Aku tidak mau. Lepaskan!" Friska menatap Ardigo tajam namun tidak menyurutkan niat pria itu
"Kita perlu berbicara Friska. Ayo ikut ke ruangan saya!" Ardigo mulai menarik tangan Friska. Dia menggenggam tangan Friska dengan erat namun tidak sampai menyakiti gadis itu
"Aku tidak mau!" Friska menarik tangannya. Dan terjadilah adegan tarik menarik diantara sepasang suami istri itu
"Friska!" panggilan seseorang menghentikan keduanya. Mereka kompak menoleh ke sumber suara. Friska terlihat kaget dan cemas, sangat berbeda dengan Ardigo yang justru santai dan tanpa beban
To be continued.
__ADS_1
Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir dan batin my beloved readers.
Haii apa kabar readers semua? ada yang nungguin kelanjutan novel ini? semoga ada ya hehe sebelumnya aku mau minta maaf karena baru bisa up sekarang dikarenakan kepadatan jadwal kuliahku. Aku lagi nyusun skripsi dan alhamdulillah udah di tahap seminar proposal. Tolong doa in ya semoga aku bisa lulus di tahun ini. Udah itu aja author's note kali ini, enjoy the story 😉