
Keesokan harinya, Friska seperti biasa bangun dengan cepat. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Vano. Semalaman dia memang tidur sambil memeluk tubuh sang anak. Friska menatap sekilas wajah Vano yang merupakan versi imut dari wajah seseorang yang sangat tidak ingin dia temui saat ini. Friska kemudian bangun dan berlalu ke kamar mandi
Kini dia sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Meskipun sedang marah kepada Ardigo, Friska tidak melupakan tugasnya. Setelah selesai memasak, dia pun kembali ke kamarnya dan membangunkan Vano
"Vano! ayo bangun sayang" Friska membelai lembut pipi putih dan bersih milik Vano
"eungghh" Vano hanya melenguh belum membuka matanya
"Vano, ayo bangun. Vano harus bersiap untuk berangkat ke sekolah" bujuk Friska sambil sedikit menggoyangkan lengan bocah itu
Dan berhasil, Vano membuka matanya lalu berkedip-kedip untuk menyesuaikan penglihatannya. Pandangan matanya langsung menangkap wajah Friska yang sedang tersenyum
"Mamaaa" panggil Vano manja sambil mengalungkan tangannya di leher Friska. Gadis itu hanya tersenyum lalu membalas pelukan Vano
"Semalam mama kemana? Vano dan papa menunggu mama. Kami mengkhawatirkan mama"
Seketika Friska merasa bersalah karena sudah membuat Vano khawatir. Tapi tunggu, apa benar Ardigo juga menunggunya? mengkhawatirkannya? apa karena itu dia menjadi sangat marah? pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepala Friska
Dia juga menyadari bahwa dia sedikit bersalah disini, tapi tetap saja tidak mudah untuknya memaafkan dan melupakan perkataan Ardigo semalam.
"Mama minta maaf ya, semalam mama bekerja di kafe karena tiba-tiba saja ada temannya uncle Rivan yang mengadakan pesta disana. Mama lupa mengabari papa"
"Iya ma, papa bahkan bolak balik keluar menunggu mama. Karena Vano sudah mengantuk jadi Vano tidur duluan" perkataan Vano mengejutkan Friska
Ingin rasanya dia mengatakan tidak percaya, namun tidak mungkin Vano berbohong.
Benarkah dia menungguku? batin Friska
"Ayo mandi dulu sayang" ajak Friska akhirnya
"Ayo ma"
Setelah membantu Vano memakai baju sekolahnya, Friska juga menyisir dan menata rambut sang anak. Lalu memakaikan parfum khas anak-anak yang biasa dipakai Vano
Setelah itu Friska langsung mandi dan bersiap-siap ke kantor. Setelah selesai, dia dan Vano berjalan menuju dapur. Friska mengambilkan makanan ke piring Vano lalu menyiapkan bekal untuk bocah itu.
"Sayang, maaf ya hari ini mama tidak bisa ikut mengantar Vano ke sekolah karena mama ada urusan di kantor, jadi mama akan berangkat duluan. Vano sarapan berdua dengan papa ya. Jangan lupa nanti bekalnya Vano dibawa" dalam hati Friska minta maaf karena membohongi Vano, tapi dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Ardigo hari ini.
"Mama berangkat naik apa?"
"Mama akan naik taksi"
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati ya ma" ujar Vano lalu menyalami tangan Friska. Gadis itu lalu mendaratkan ciuman di dahi sang anak lalu segera keluar dari apartemen sebelum Ardigo datang
Friska berjalan keluar apartemen sambil memesan taksi online. Setelah sampai di luar, tak lama kemudian taksi pun datang dan Friska segera berangkat ke kantor.
Di apartemen,
Ardigo terlihat menuruni tangga dengan setelan kerja seperti biasanya. Dia melihat Vano sedang makan sendirian, tidak ada tanda-tanda Friska disana
"Pagi boy" sapa Ardigo
"Pagi pa"
"Vano sendirian? mana mama?"
"Mama baru saja pergi, katanya mama ada urusan pagi ini di kantor. Jadi mama berangkat lebih awal" ujar Vano
Dia menghindariku. Batin Ardigo
"Ayo sarapan pa, tadi mama juga sudah membuatkan kopi untuk papa"
Ardigo melihat meja makan dan tidak ada yang berubah disana, Friska tetap menyiapkan makanan bahkan kopi untuknya. Rasa bersalah pun mulai menghinggapi hatinya. Tak ingin mengulur waktu, Ardigo pun segera memulai sarapannya
"Belum pa, sepertinya mama sarapan di kantor"
Setelah itu mereka berdua sibuk dengan sarapannya masing-masing
Setelah sarapan Ardigo dan Vano berjalan bersama menuju basement apartemen. Saat melewati lobi, Ardigo melihat sosok seorang pria yang sedang berdiri di samping mobilnya. Pria itulah yang menjadi alasan dia bertengkar dengan Friska tadi malam. Dia ingin segera melewati mobil itu dan tidak mempedulikan pria itu
"Pa berhenti dulu! itu ada uncle Rivan" sorak Vano
"Nanti kita telat Vano"
"Sebentar saja pa. Vano ingin menyapa uncle dulu" kekeuh Vano. Dan terpaksa dia harus menghentikan mobilnya lalu mengikuti Vano keluar dari mobil
"Uncle!" sorak Vano sambil berlari ke arah Rivan
"Hai Vano" balas Rivan sumringah
"Uncle kenapa disini?"
"Uncle ingin mengantarkan ini" ujar Rivan saat sudah mengambil paper bag dari jok depan mobilnya
__ADS_1
Ardigo berusaha menahan emosinya melihat Rivan. Laki-laki itu sengaja mengantarkan sesuatu sepagi ini yang tentu saja untuk Friska.
"Apa itu uncle?" tanya Vano antusias melihat paper bag yang berukuran agak besar dengan warna cerah itu
"Ini cake untuk Vano" balas Rivan
"Untuk apa kau repot-repot mengantarkan kue sepagi ini?" tanya Ardigo dengan nada yang tidak bersahabat
"Dimana Friska?" tanya Rivan balas bertanya
"Dia sudah berangkat duluan"
"Kenapa cepat sekali? aku pikir jam segini dia belum pergi makanya aku datang kesini"
"Kenapa kau repot-repot datang kesini?"
"Harusnya memang aku tidak perlu repot-repot mengantarkannya kesini kalau saja Friska tidak meninggalkannya di mobilku semalam. Ini kue yang dia buat sendiri di kafe tadi malam, dia berencana ingin membawakannya untukmu dan juga Vano. Tapi karena dia terburu-buru tadi malam jadi dia meninggalkannya di mobil"
"Kafe?" tanya Ardigo bingung
"Iya, apa Friska tidak memberitahumu kalau tadi malam dia masuk kerja? kemarin ada temanku yang mendadak membooking kafe untuk acara ulang tahun istrinya, jadi aku mengabari seluruh karyawanku. Aku tidak mewajibkan Friska dan Tasya untuk masuk karena kupikir mereka pasti lelah dari kantor, tapi ternyata mereka datang. Aku ingin menemuimu dan menjelaskannya tadi malam agar kau tidak salah paham, tapi karena sudah larut dan Tasya juga sudah tertidur jadi aku langsung pulang dan kata Friska juga kau tidak akan marah" jelas Rivan lugas sambil menelisik raut wajah Ardigo
Ardigo seketika terkejut mendengar penjelasan Rivan. Ternyata dugaannya tentang Rivan dan Friska yang pergi berduaan semalam itu tidaklah benar. Ternyata istrinya pergi bekerja semalam, pantas saja gadis itu terlihat kelelahan. Dan Friska tidak hanya berdua dengan Rivan di dalam mobil. Seketika perasaan menyesal dan bersalah langsung melingkupi hati Ardigo. Perkataan-perkataan pedasnya semalam kembali terngiang dan menimbulkan perasaan menyesal yang luar biasa.
"Mungkin dia lupa mengabariku kemarin, dan semalam dia langsung tidur" balas Ardigo singkat
"Baiklah kalau begitu. Tadinya aku ingin memakannya saja, tapi karena Friska sudah berniat membuatkannya untukmu dan Vano jadi kupikir aku harus mengantarnya" ucap Rivan
Ardigo langsung mengambil paper bag itu dari tangan Rivan, menegaskan bahwa itu adalah miliknya
"Terimakasih sudah mengantarnya"
"Iya. Kalau begitu aku pergi dulu. Vano, uncle pergi dulu ya, semangat sekolahnya dan sampai jumpa lagi" pamit Rivan kepada Vano sambil memasang senyum cerah
"Iya uncel, hati-hati ya. Terimakasih juga" ucap Vano lalu menyalami tangan Rivan
"Iyaa, dahh" Rivan pun masuk ke dalam mobil dan menancap gas meninggalkan lobi apartemen itu
Ardigo dan Vano pun memasuki mobil dan melaju menuju sekolah Vano.
Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜
__ADS_1