My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Kabar kehamilan Friska sudah tersebar ke seluruh anggota keluarga Fabiyan, dan tentu saja mendapat respon positif bahkan keantusiasan dari Dinda. Adik ipar Friska tersebut sangat senang karena sebentar lagi akan memiliki keponakan baru


Dan di awal-awal kehamilan Friska ini, Ardigo bertambah posesif dengan tidak membiarkan Friska melakukan apapun. Bahkan dia sudah menambah jumlah pelayan di apartemennya. Namun setiap hari ada saja perdebatan kecil diantara Friska dan Ardigo karena hal tersebut. Friska yang merasa tubuhnya kuat dan baik-baik saja merasa bosan jika hanya duduk dan berdiam diri. Tapi Ardigo tetap kekeuh dengan alasan tidak ingin Friska kelelahan


Tak terasa usia kehamilan Friska sudah menginjak 4 bulan. Saat ini Friska sedang membuka pakaiannya dan bersiap untuk mandi sore. Karena hanya sendirian di kamar, jadi dia memilih untuk membuka pakaiannya di dalam kamar saja. Saat ini hanya tersisa pakaian dalam saja yang melekat di tubuhnya


Tanpa sengaja dia melihat pantulan dirinya di cermin. Lalu Friska mendekati cermin dan berdiri disana


Dia lalu berdiri menyampingkan untuk melihat perkembangan perutnya


"Kenapa perutku belum terlalu besar, ya?" gumam Friska


"Tapi kata dokter semuanya sehat dan normal"


Friska terus memperhatikan dirinya di depan cermin hingga tiba-tiba dia melihat pantulan seseorang diikuti dengan lengan yang melingkari perutnya


"Kau sedang menggodaku, hm?" bisik Ardigo di telinga Friska


"Kamu sudah pulang mas" sontak saja Friska terkejut karena kehadiran sang suami yang tiba-tiba


"Iya, dan langsung disuguhi pemandangan seperti ini" Ardigo mengendus leher Friska menghirup aroma tubuh sang istri


"Mas aku belum mandi"


"Aku suka aroma tubuhmu"


Friska tidak lagi menjawab dan memilih diam


"Apa yang sedang kamu perhatikan di cermin itu?" tanya Ardigo


"Tidak ada. Hanya melihat tubuhku saja"


"Indah, bukan?" ujar Ardigo yang kini sudah beralih menciumi bahu sang istri


"Tentu saja" canda Friska

__ADS_1


"Karena itulah aku sangat candu dengan tubuh ini" kekeh Ardigo


"Mas" panggil Friska setelah diam beberapa saat


"Hmm"


"Anak kita tumbuh dengan sehat kan? kenapa perutku masih kecil dan tubuhku belum membesar?"


Ardigo terkekeh sebelum menjawab


"Kamu dengar sendiri kan penjelasan dokter minggu lalu? Anak kita sehat dan tumbuh dengan normal. Sekarang kan kandunganmu masih 4 bulan, nanti seiring bertambahnya usia kandungan perutmu juga akan ikut membesar. Jangan khawatir sayang"


"Bukankah ibu hamil itu akan gemuk? Tapi aku merasa tubuhku begini-begini saja"


"Tidak semuanya, sayang. Dulu sewaktu Sarah mengandung Vano tubuhnya juga tidak ikut membesar. Hanya di beberapa bagian saja"


Darah Friska berdesir mendengar nama yang baru saja disebut oleh Ardigo


"Jadi nama ibu Vano adalah Sarah?" tanya Friska pelan


Jika diingat-ingat dia tidak tau apapun tentang masa lalu Ardigo. Dan ketika mendengar nama wanita lain yang keluar dari mulut pria itu entah kenapa ada perasaan aneh yang dirasakannya. Apalagi nama tersebut adalah nama orang yang pernah mengisi hati Ardigo dan pastinya sangat dicintai oleh pria itu


Friska hanya mengangguk paham dengan raut tak terbaca


"Mas tolong lepaskan, aku ingin mandi dulu"


"Mau aku gendong?" tawar Ardigo


"Tidak perlu, aku bukan anak kecil" balas Friska terkekeh dan berlalu ke kamar mandi


Ardigo memperhatikan punggung sang istri yang menjauh. Dia tentu saja merasakan perubahan sikap Friska ketika tadi menyebutkan nama Sarah. Seketika dia merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan apapun tentang ibu kandung Vano tersebut.


Ardigo lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya sambil menunggu Friska selesai mandi


...****************...

__ADS_1


Di malam hari,


"Minumlah" ujar Ardigo sambil mengulurkan segelas susu ibu hamil kepada Friska. Sudah menjadi kebiasaan Ardigo membuatkan susu untuk sang istri. Friska sudah mengatakan bisa membuatnya sendiri, namun Ardigo bersikeras dengan alasan agar bisa dekat dengan anaknya sejak dini. Padahal anaknya belum bisa melihatnya


"Makasih mas"


Ardigo duduk di samping Friska dan Vano berada di sisi yang lain sehingga Friska berada diantara kedua laki-laki itu


"Kapan dedek bayinya keluar, ma?" ini sudah kesekian kalinya Vano menanyakan pertanyaan yang sama. Dia merasa sudah terlalu lama menunggu kehadiran sang adik yang masih berada di perut mamanya


"Sabar ya, sayang. Dedeknya sekarang masih sangat kecil, jadi belum bisa keluar. Vano tunggu 5 bulan lagi ya" balas Friska


"5 bulan itu lama ya, ma?"


"Tidak sayang"


Vano menghembuskan napas pelan


"Vano sudah tidak sabar ingin berbicara dan juga bermain dengan dedek bayi"


"Vano bisa berbicara kepada dedek bayinya, dia bisa mendengar suara Vano" timpal Ardigo menghibur sang anak


"Benarkah? tapi kan dedeknya di dalam perut mama"


"Iya, tapi dia bisa merasakan dan mendengar suara di sekitarnya. Dulu waktu Vano masih dalam kandungan papa juga sering berbicara kepada Vano"


Seakan percaya, Vano pun mendekat ke arah perut Friska lalu mensejajarkan wajahnya disana


"Halo adik!" sapa Vano di depan perut Friska yang belum terlalu buncit


"Halo kakak" balas Friska menirukan suara anak kecil membuat mereka semua terkekeh


"Adik sehat-sehat di dalam perut mama, ya. Kakak disini menunggu adik. Kakak sudah menyiapkan banyak mainan untuk kita" ujar Vano antusias mengundang senyum Friska dan Ardigo


"Kamu dengar kan sayang? kak Vano sudah tidak sabar ingin bermain bersamamu. Jadi tumbuhlah dengan sehat dan kuat" kini Ardigo ikut berbicara kepada perut Friska sambil mengelus lembut seperti yang biasa dilakukannya. Lalu dia memberikan kecupan-kecupan di perut sang istri

__ADS_1


Wanita itu tidak bisa menahan senyum bahagianya. Hanya hal kecil seperti ini sudah mampu membuatnya merasa paling bahagia di dunia.


To be continued.


__ADS_2