My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Hukuman


__ADS_3

Halo semuanyaa huhu kangen bangettt. Aku datang dengan membawa kabar gembira guys, aku terpilih jadi juara 3 duta wisata kota Bukittinggi huhu terimakasih banyak untuk doa2 kalian yang buat aku terharu banget. Walaupun juara 3 aku seneng banget dan bangga juga karena ini first time aku ngikutin ajang2 kayak gini dan saingan aku itu emang langganan perdutaan semua. So i'm so grateful to get it


Maaf udah ngaret dari jadwal yang seharusnya hehe tapi beneran abis ngikutin acara pemilihan duta wisata kemarin aku langsung disibukin lagi sama berkas2 sidang skripsi ku. Jadi maap aku baru bisa up sekarang. So, happy reading


BRAKKK!!!


Ardigo menggebrak meja dengan keras menyebabkan memar yang terlihat jelas di kulit putihnya. Emosi Ardigo sudah sampai ke ubun-ubun mendengar ucapan Felicya


"PERSETAN DENGAN RASA CINTAMU ITU!!" bentak Ardigo yang menciutkan nyali Felicya. Detak jantungnya semakin kencang dengan kepala yang menunduk dalam. Sedangkan Jerry mencoba bersikap biasa saja meskipun mulai ada perasaan takut di hatinya


"Pembunuh sepertimu tidak mempunyai hati apalagi cinta. Jadi jangan pernah ucapkan lagi kata cinta dengan bibirmu itu karena kau tidak pantas untuk menyebutnya!"


Felicya masih diam tidak berani menjawab pertanyaan Ardigo


"Beraninya kamu melakukan hal kotor seperti itu. Kamu lupa sedang berurusan dengan siapa? kamu lupa istri siapa yang sudah kamu celakai?! Aku rasa di otak kotormu itu pasti masih ada ingatan tentang siapa aku dan bagaimana jika berurusan denganku"


"Aku mengutuk hidupku selama setahun bersamamu. Bagaimana bisa aku pernah menyukai iblis seperti kamu? Friska sangat tidak pantas jika harus disandingkan denganmu. Hal yang paling aku syukuri dalam hidupku adalah bisa terlepas dari wanita sepertimu"


"Bagaimana bisa ada perempuan yang dengan sengaja dan teganya menyakiti bahkan membunuh seorang perempuan juga. Terbuat dari apa hatimu?!" Ardigo terus mengeluarkan semua kemarahannya


"Sepertinya kalian memang ditakdirkan untuk terus bersama dalam waktu yang lama juga" ujar Ardigo setelah terdiam cukup lama


Felicya mulai berfirasat buruk, dengan berani dia mengangkat kepalanya dan menatap Ardigo penuh rasa penasaran


"A-apa maksudmu?"


"Kalian sangat serasi. Bahkan kalian kompak dalam melakukan kriminal lainnya di luar dari kasus ini. Kau, aku juga melaporkanmu atas kekerasan dan percobaan pembunuhan karena berusaha menusuk Friska ketika di mall. Dan kau, juga akan dituntut dengan kasus pemakaian obat terlarang" tunjuk Ardigo kepada Felicya dan Jerry


Felicya terkejut bukan main, dia tidak menyangka kasus itu bahkan ikut menjerat dirinya


"Aku pastikan hanya akan ada neraka dalam hidup kalian berdua mulai saat ini. Dan aku ingin mengucapkan selamat kepada kalian berdua, kalian hampir berhasil membunuh istriku. Friska sempat dinyatakan meninggal karena kecelakaan itu. Namun tuhan masih menyayangiku dengan mengembalikan Friska kepadaku. Dan sekarang dia sudah baik-baik saja"


"Selamat atas gelar baru kalian. PEMBUNUH!" tekan Ardigo dengan suara mengerikan


"Aku ingin sekali menghajar kalian dengan tanganku sendiri, tapi aku yakin istriku tidak akan menyukainya. Jadi biar pihak berwenang dan tuhan yang akan melakukannya. Selamat menikmati sisa hidup kalian bersama"


Setelah mengatakan itu Ardigo memberikan tatapan dingin khususnya kepada Felicya


"Digo! tolong aku. Aku tidak mungkin selamanya disini. Setidaknya pertimbangkan aku sebagai orang yang pernah kau cintai. Bebaskan aku dari sini Digo! Aku tidak ingin disini!" Felicya terus menjerit memanggil Ardigo

__ADS_1


Namun pria itu langsung bangkit dan membalikkan tubuhnya. Dia tidak bisa berlama-lama menatap wajah dua orang yang dibencinya itu. Dia takut tidak bisa mengontrol emosinya untuk menghajar mereka berdua. Ardigo tidak ingin hal itu terjadi karena ada Friska yang sedang menunggunya


"Serahkan semua berkas dan barang buktinya. Pastikan mereka membusuk disini selamanya" perintah Ardigo kepada Andre


"Baik pak"


Setelah selesai mengurus Felicya dan Jerry, Andre kembali mengantarkan Ardigo ke rumah sakit


"Saya permisi untuk kembali ke kantor, pak" pamit Andre


"Iya, terimakasih untuk semua kerja keras kamu. Saya tidak akan melupakannya"


"Sama-sama pak. Sudah tugas saya"


Andre lalu menancap gas menuju Fabiyan's Corp meninggalkan sang CEO di rumah sakit tersebut


Ardigo masuk ke ruangan Friska saat gadis itu sedang tertidur. Di sofa terlihat Dinda, Clara, Vano dan Rini sedang berbincang pelan dan sesekali tertawa. Vano yang terus mengajak Clara berbicara dan dijawab dengan racauan bayi itu mengundang kekehan Rini dan Dinda


Ardigo menatap dalam wajah Friska sesaat dan memindai seluruh tubuh sang istri dan memastikan selimutnya pada posisi yang benar


"Bagaimana Dig? Apa semuanya sudah beres?" tanya Rini kepada sang anak. Dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Felicya lah pelaku percobaan pembunuhan terhadap Friska


"Untung dia tidak jadi menikah denganmu, kak. Sejak awal aku memang tidak menyukainya. Dan untung saja dia tidak menjadi kakak iparku. Bagaimana bisa dia setega itu" omel Dinda


"Jangan membahas masa lalu lagi" ujar Ardigo


"Aku hanya bersyukur kau tidak jadi menikah dengannya, dan justru tuhan menggantinya dengan sosok seperti Friska. Aku tidak tau kebaikan apa yang pernah kau lakukan di masa lalu sampai tuhan sebaik itu kepadamu"


"Kau berbicara seolah aku adalah sosok yang sangat buruk" kesal Ardigo


"Hehe tapi sepertinya sekarang kakakku sudah berubah" ujar Dinda riang


"Jangan berisik, Dinda! Kamu bisa membangunkan Friska"


"Aku senang kamu sudah menyayangi Friska, kak" ujar Dinda tulus. Rini hanya memperhatikan interaksi kedua anaknya


"Aku tidak ingin menjadi bodoh untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin tuhan kembali mengambilnya dari sisiku. Dia sukses membuatku tidak bisa hidup tanpa dirinya." ujar Ardigo


"Syukurlah, mama senang kamu sudah membuka hati untuk Friska. Mama harap rumah tangga kalian berjalan dengan baik dan diisi dengan kebahagiaan"

__ADS_1


"Amin, makasih ma" balas Ardigo


"Hai cantik, sini. Paman sangat merindukanmu" Ardigo lalu mengambil alih baby Clara dari pangkuan Dinda


Bayi perempuan itu terlihat senang digendong oleh sang paman. Tangan mungilnya membelai lembut wajah Ardigo dengan ekspresi ceria. Ardigo membawanya berdiri dan berjalan ke arah Friska


"Tante Friska masih tidur. Clara jangan berisik ya, nanti tantenya terbangun" bisik Ardigo


Clara terus meracau dengan suara khas bayinya. Ardigo terus menciumi pipi putih sang ponakan. Dia sangat ingin mempunyai bayi perempuan yang cantik seperti Clara


"Mas Digo" suara serak Friska mengalihkan tatapan Ardigo dari Clara


"Kamu sudah bangun"


"Hai Clara" Friska tersenyum cerah ketika melihat bayi perempuan itu di gendongan sang suami


"Cantik ya" ujar Ardigo


"Sangat" balas Friska tersenyum menatap Clara


"Mau?"


"Mau"


Ardigo tersenyum aneh dan membuat Friska seketika sadar arah pembicaraan sang suami


"Eh bagaimana maksudnya?" tanya Friska mulai salah tingkah


Ardigo hanya tertawa melihat wajah lucu Friska


Sementara itu Rini dan Dinda mulai mencuri-curi pandang


"Lihatlah anak sulung mama itu, seperti remaja baru jatuh cinta saja. Dunia seakan milik berdua, aku yakin sepertinya dia akan mengalahkan bucinnya mas Reyhan" ejek Dinda


"Biarkan saja, bukankah itu baik" balas Rini tersenyum tulus melihat pemandangan di hadapannya


"Iya juga sih" Dinda menimpali


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2