
Ardigo kini sudah berada di ruangannya. Pria itu tampak serius membaca berkas yang baru saja diserahkan oleh Andre. Berkas itu berisi tentang data diri beserta riwayat hidup Rivan. Saat selesai berbicara dengan Rivan waktu itu, dia langsung menghubungi Andre dan meminta pria itu untuk menyelidiki latar belakang seorang Rivando Gillbert. Dan seperti biasa, Andre selalu bisa diandalkan
"Sepertinya tuan Rivan adalah orang yang cukup sukses, Pak. Dia punya banyak cabang kafe yang tersebar di seluruh negara ini" ujar Andre yang masih berdiri di depan meja Ardigo
"Apa dia bekerjasama dengan seseorang dalam mengembangkan kafenya?"
"Tidak pak. Dia mengembangkannya sendiri. Awalnya kafe itu milik orangtua angkatnya dan hanya memiliki beberapa cabang saja. Lalu setelah tuan Rivan terjun langsung untuk mengurusinya, dia berhasil mengembangkan kafe-kafe tersebut sampai seperti sekarang."
"Dia lumayan hebat juga" komentar Ardigo pelan
"Dia memiliki hubungan yang sangat erat dengan nyonya Friska karena dulu mereka berasal dari panti asuhan yang sama" ucap Andre seakan memberi spoiler tentang kedekatan antara Friska dan Rivan
Ardigo melanjutkan kegiatannya untuk membaca semua berkas tersebut.
"Baiklah, kamu boleh keluar" suruhnya kepada Andre
"Baik pak, saya permisi" ucap Andre lalu memutar tubuhnya
"Apa Friska akan menyukainya, Ndre?" tanya Ardigo tiba-tiba yang membuat langkah Andre terhenti. Pria itu kembali memutar tubuhnya menghadap Ardigo
"Maksudnya pak?"
"Dia adalah orang yang sudah lama dikenal Friska, dan dia juga pria yang mapan. Apa Friska akan menyukainya?" ujar Ardigo memperjelas pertanyaan sebelumnya
Andre mulai paham maksud dari sang atasan
"Maksud anda karena tuan Rivan adalah pria yang mapan, maka nyonya Friska akan langsung menyukainya?" tanya Andre
"Bukankah kebanyakan perempuan memang seperti itu?"
"Saya yakin bapak lebih mengenal nyonya Friska melebihi saya pak. Apa dia termasuk dalam golongan perempuan seperti itu?" tanya Andre balik
Ardigo lantas terdiam, karena dia tidak memiliki alasan untuk mengatakan 'iya'
__ADS_1
"Katakanlah jika nyonya Friska memang termasuk dalam golongan perempuan pengincar harta. Tapi jika memang seperti itu, maka saat ini yang menjadi suaminya bukan anda pak, tapi tuan Rivan. Karena nyonya Friska sudah mengenal tuan Rivan bukan setahun dua tahun, tapi sudah 17 tahun. Dan tuan Rivan menjadi sukses juga bukan baru sekarang pak, sudah dari 8 tahun lalu semenjak dia mulai terjun mengurus kafe. Jadi jika nyonya Friska memang menyukai tuan Rivan karena hartanya, saya rasa sudah dari lama dia meminta dinikahi oleh tuan Rivan." jelas Andre yang membuat Ardigo terpaku
Dia juga tidak berpikir bahwa Friska termasuk dalam golongan perempuan penggila harta, namun dia hanya merasa sedikit takut dan ragu saat ini. Rivan adalah sosok yang tampan, baik, dan juga mapan, dan nilai tambahnya adalah dia orang yang sudah dikenal Friska sejak lama. Rasanya tidak mungkin sosok seperti Rivan akan diabaikan begitu saja oleh seorang wanita. Ardigo merasa sedikit terancam dengan kehadiran seseorang yang bernama Rivan. Entah mengapa dia merasa takut jika suatu hari nanti Friska mulai menyukai Rivan
"Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Friska adalah gadis yang seperti itu" ujar Ardigo pelan
"Anda hanya sedang tidak percaya diri saat ini pak" jawab Andre tersenyum simpul
"Apa maksud kamu?"
Andre hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ardigo
"Saya permisi dulu pak, silahkan bapak coba menemukan jawabannya" pamit Andre dan segera keluar dari ruangan Ardigo
"Aishhh sial! dia membuatku harus berpikir" kesal Ardigo saat melihat kepergian Andre
Sementara itu, setelah menutup pintu ruangan Ardigo, Andre hanya tersenyum jenaka sambil menggelengkan kepalanya heran. Dia tidak pernah melihat Ardigo selemot itu. Pria yang biasanya tegas, berwibawa, dan cerdas itu kini terlihat bodoh dan kebingungan. Namun dia sengaja membiarkan Ardigo berpikir dan menemukan jawabannya sendiri.
*****
"Fris, kamu sudah melihat pengumuman yang disampaikan kak Rivan di grup whatsapp?"
"Belum, memangnya apa Sya?"
"Kata kak Rivan malam ini ada temannya yang akan mengadakan pesta ulang tahun untuk istrinya di kafe. Temannya mendadak memberitahukannya kepada kak Rivan"
"Jadi malam ini semua karyawan akan masuk?" tanya Friska
"Iya. Apa sebaiknya kita masuk saja?" tanya Tasya
"Boleh. Saat jam pulang nanti kita langsung ke kafe" usul Friska
"Baiklah"
__ADS_1
Tak terasa jam pulang pun tiba, Friska dan Tasya diantar oleh Naura ke kafe milik Rivan. Friska sudah menghubungi pak Danang untuk tidak perlu menjemputnya
Sesampainya di kafe mereka langsung disambut oleh karyawan kafe yang sudah sibuk mempersiapkan acara nanti malam. Ada yang sibuk menyiapkan menu, ada juga yang sibuk melakukan dekorasi. Friska dan Tasya langsung menyimpan tas mereka dan akan bergabung untuk membantu pekerjaan lainnya.
Friska terlihat bimbang untuk menghubungi Ardigo atau tidak.
Haruskah aku menghubunginya? memangnya dia akan peduli denganku? Tapi sepertinya aku akan pulang telat malam ini
Friska masih berperang dengan batinnya sambil terus memandangi ponsel. Akhirnya dia memutuskam untuk menelfon Ardigo. Namun pria itu tidak mengangkat telfonnya
Mungkin dia masih sibuk di kantor. Pikir Friska
Saat akan mengetik pesan, tiba-tiba Tasya datang dan menyuruh Friska untuk bergegas
"Ayo Fris, dekorasinya belum selesai. Waktu kita tidak banyak lagi" ujar Tasya
Friska pun segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, tidak jadi mengirimkan pesan kepada Ardigo
Ah sudahlah, pekerjaanku lebih penting. Lagipula aku sedang tidak membawa Vano, pasti dia tidak akan marah. Putus Friska akhirnya lalu bergabung membantu teman-temannya yang lain
Acara pun sudah dimulai. Para tamu undangan teman Rivan sudah berdatangan. Friska, Tasya, dan seluruh karyawan kafe tampak sibuk melayani tamu selama berjalannya acara. Tak terasa acara pun berakhir dan semua tamu undangan mulai meninggalkan kafe hingga tersisa sepasang suami istri yang merupakan teman Rivan.
"Maaf ya Van, aku mendadak memberitaumu karena memang ini diluar rencanaku" ujar teman Rivan
"Tidak apa-apa, kau memang selalu begitu" balas Rivan sambil tertawa. Pria itu pun ikut tertawa. Mereka sudah berteman dekat semenjak bertemu di bangku perkuliahan, jadi Rivan sudah tau betul bagaimana sahabatnya ini
"Baiklah kalau begitu, aku dan istriku pulang dulu. Terimaksih banyak" setelah berpamitan, sepasang suami istri itu pun pulang
Rivan mendekati para karyawannya yang sedang beristirahat
"Terimakasih semuanya, kalian sudah bekerja sangat keras malam ini" ujar Rivan ikut bergabung dengan mereka
"Sama-sama bos. Kami juga ikut senang kalau ada acara seperti ini" balas Rendi
__ADS_1
Mereka pun lanjut berbincang-bincang sebentar. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan mereka memutuskan untuk segera pulang. Mereka akan membersihkan kafe besok pagi karena sudah larut malam, tentu saja dengan perintah Rivan.
Hai readers ku tercinta, tolong dukung karyaku ini ya dengan cara like dan comment, dan juga memberikan vote. Semoga cerita ini bisa membuat kalian enjoy dan juga jatuh cinta hehe. Terimakasih 💜