My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Pelajaran Untuk Vano


__ADS_3

Haiii gak terasa udah sampai episode ini ya. Buat yang kemarin minta double up, sekarang aku kasih nih. Tolong bantu karya ku ini ya, dengan like, comment, dan berikan vote juga. Semua feedback yang kalian kasih sangat2 berarti untuk aku. Komenan kalian juga selalu aku tunggu. Happy reading guys....


Friska melihat perubahan raut di wajah Vano. Dan video ke tiga pun telah selesai, Friska lalu mematikan ponselnya dan tersenyum kepada Vano


"Kasihan ya kepada mereka" ujar Friska yang diangguki oleh Vano


"Kenapa mereka rebutan makanan, ma? bukankah makanan harusnya sudah di sediakan di atas meja?" tanya Vano karena teringat dengan dirinya yang setiap hari pergi ke meja makan untuk mengisi perutnya. Dia bahkan tidak pernah rebutan makanan dengan siapapun


"Karena makanannya tidak banyak, sayang. Jadi mereka rebutan karena merasa lapar"


"Tapi Vano tidak pernah rebutan makanan dengan siapapun, kata papa rebutan itu tidak baik"


"Karena papa menyediakan makanan yang banyak untuk Vano"


"Lalu apakah mereka bisa tidur nyenyak di kasur yang kecil seperti itu ma?"


"Mereka sudah terbiasa di sana, jadi pasti nyenyak juga"


"Kenapa mainannya sudah hampir rusak semua ma? sepertinya mainan itu tidak bisa digunakan lagi"


"Karena mereka menggunakan mainan itu secara bergantian, jadi mainannya cepat rusak. Mereka tidak punya mainan sendiri, itu milik bersama dan jumlahnya juga tidak banyak" Friska dengan sabar menjawab semua pertanyaan Vano


"Apa mereka sekolah ma?"


"Ada yang sekolah, dan ada juga yang tidak"


"Kalau begitu, kemana orangtua mereka ma? kenapa mereka tinggal disana? bukankah anak-anak harus tinggal dengan orangtuanya?" Vano semakin bingung kenapa anak-anak itu bisa tinggal bersama tanpa ada orangtuanya


Friska tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Vano


"Mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung, sayang. Mereka tidak punya orangtua, jadi mereka dirawat disana. Mereka tidak punya mainan sendiri, makanan yang banyak, kasur yang empuk dan kesempatan untuk bersekolah. Orangtua yang merawat mereka disana tidak punya cukup uang untuk memberikan itu semua, jadi mereka hanya mendapatkan seadanya saja. Mereka hanya menunggu ada orang baik yang mau memberikan sedikit hartanya kepada mereka"


"Bukankah Vano jauh lebih beruntung daripada mereka?" tanya Friska


"Iya ma. Vano bisa makan kapanpun, punya mainan yang banyak, sekolah di tempat yang bagus, dan tidur di kasur yang besar dan empuk"


"Mereka tidak seberuntung Vano. Jadi Vano harus bersyukur dengan semua yang Vano punya"


"Vano tau kan, darimana Vano bisa mendapatkan itu semua?" tanya Friska


"Dari papa" ujar Vano polos


"Benar! Vano punya orangtua yang hebat seperti papa. Papa selalu bekerja supaya bisa memberikan yang terbaik untuk Vano. Itu semua karena papa sangat menyayangi Vano. Papa ingin memberikan yang terbaik untuk Vano. Makanan yang enak, pakaian yang bagus, kasur yang empuk, mainan yang banyak, dan juga sekolah yang bagus"


"Papa rela pergi pagi-pagi untuk bekerja supaya bisa memberikan itu semua untuk Vano. Papa itu sangaaat menyayangi Vano. Mungkin Vano tidak tau, kalau Vano adalah semangat untuk hidup papa. Vano adalah segalanya untuk papa. Dan papa tidak ingin Vano bernasib seperti anak-anak di dalam video tadi" jelas Friska


Vano hanya menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu


"Tapi kenapa tadi papa membentak Vano?" tanya Vano pelan


"Papa tidak sengaja melakukannya. Papa hanya sedang banyak pikiran karena urusan pekerjaannya. Dan dia juga sangat menyesal tadi setelah membentak Vano. Perasaan papa tidak pernah berubah, dia selalu dan akan selamanya menyayangi Vano"

__ADS_1


"Vano sayang kepada papa?" tanya Friska


Vano mengangguk kencang


"Sayang, ma"


"Vano mau memaafkan papa?"


"Mau" jawab Vano cepat


"Anak mama memang pintar dan baik"


"Papa memang salah karena membentak Vano, tapi Vano juga salah kalau membalas bentakan papa dan pergi begitu saja tanpa mendengarkan panggilan papa. Karena papa adalah orangtua Vano, orang yang harus Vano hormati dan juga patuhi"


"Jadi Vano harus bagaimana, ma?"


"Vano mau kan meminta maaf kepada papa? dia pasti senang kalau Vano mau menemuinya" ujar Friska


"Mau ma"


Friska tersenyum manis ke arah Vano


"Kalau Vano ingin jalan-jalan, besok dengan mama saja ya? kita pergi berdua saja dulu, nanti kalau pekerjaan papa sudah tidak banyak lagi, kita akan pergi bertiga"


"Benarkah ma?"


"Iya, sayang. Besok kita akan jalan-jalan berdua. Tidak apa-apa kan?"


"Iya, ma. Vano mau" balas Vano bersemangat


"Papa" panggil Vano pelan


Ardigo sangat terkejut mendengar suara sang anak. Dia terhenti dari kegiatan menyalahkan diri sendiri.


"Vano" lirih Ardigo saat mengangkat kepalanya


Tiba-tiba Vano berlari ke arahnya dan menubruk tubuhnya. Bocah itu memeluk leher sang ayah. Ardigo sangat terkejut karena biasanya jika dia dan Vano sedang bertengkar Vano akan merajuk dan tidak pernah meminta maaf duluan kepadanya


"Maafkan Vano, pa"


"Vano minta maaf karena tadi memaksa papa untuk jalan-jalan, padahal pekerjaan papa sedang banyak. Dan maaf juga tadi Vano membentak papa"


"Iya, sayang. Papa yang harusnya minta maaf karena tadi membentak Vano. Papa janji akan menyelesaikan pekerjaan papa secepatnya supaya bisa membawa Vano jalan-jalan"


"Tidak apa-apa, pa. Papa bekerja keras juga untuk Vano, supaya bisa memberikan semua yang terbaik untuk Vano. Papa bekerja karena papa sangat menyayangi Vano. Terimakasih pa, Vano sayang papa"


"Papa lebih menyayangi Vano"


Ardigo tidak bisa menutupi rasa harunya. Dia lantas memeluk Vano dengan erat. Dia sangat bersyukur memiliki anak yang sangat pintar seperti Vano. Tiba-tiba dia teringat Friska, ini semua pasti tidak lepas dari campur tangan gadis itu


Sihir apa yang telah kamu berikan kepada Vano, Fris? kenapa seolah kamu lebih paham tentang Vano daripada aku orangtua kandungnya? batin Ardigo

__ADS_1


Dia sangat kagum kepada Friska, ingin rasanya dia berterimakasih saat ini juga kepada sang istri. Friska benar-benar sosok yang paling pantas menjadi ibu Vano. Gadis itu bisa mendidik Vano dengan sangat baik bahkan di saat umurnya masih sangat muda


Sekarang aku paham, memang akulah yang beruntung mendapatkanmu. Bukan kamu yang beruntung mendapatkanku, Fris. Haruskah aku bersyukur kepada tuhan karena sudah menitipkan kamu untuk hadir dalam hidupku? batin Ardigo lagi


Sementara itu Friska melihat kedua pria beda generasi itu sedang berpelukan, dia hanya tersenyum tipis lalu beralih ke dapur berniat mengupas buah


Ardigo melihat dari ujung matanya Friska berjalan menuju dapur. Setelah melepas pelukan Vano, dia pamit kepada sang anak untuk pergi ke dapur


Dia melihat punggung Friska dan sepertinya gadis itu sedang melakukan sesuatu


Tanpa aba-aba dia langsung mendekat dan melingkarkan kedua lengannya di perut Friska


"Astaga! kamu mengejutkanku, mas" omel Friska


"Maaf" bisik Ardigo tepat di telinga Friska


"Lepaskan mas, aku sedang mengupas buah"


"Lanjutkan saja, saya tidak mengganggu kamu"


Tidak mengganggu matamu! jantungku yang tidak aman kalau begini. batin Friska


"Mas lepaskan, bagaimana nanti kalau Vano melihat kita?"


"Memangnya kenapa? saya hanya memeluk kamu" ujar Ardigo yang semakin hari semakin berani menyentuh Friska


"Biarkan begini dulu, tadi Vano sedang menonton" tambah Ardigo


Friska tidak lagi menjawab dan memilih melanjutkan pekerjaannya


"Terimakasih" ujar Ardigo tiba-tiba


"Untuk apa?"


"Terimakasih sudah membujuk Vano"


"Aku tidak membujuknya untuk berbaikan denganmu. Aku hanya mengajaknya berbicara dan memberikan pengertian dengan cara baik-baik"


"Sama saja. Terimakasih sudah mendidik Vano dengan baik. Saya sangat terharu mendengar ucapannya tadi"


"Lain kali jangan membentaknya lagi. Dia sangat sedih ketika kamu membentaknya. Vano itu sangat merindukan waktunya bersama kamu karena kesibukanmu beberapa hari ini. Dia bahkan berpikir kamu tidak lagi menyayanginya. Vano itu anak yang cerdas, dia mudah untuk diberikan pengertian. Kamu hanya perlu sedikit lebih sabar dan menjelaskan baik-baik kepadanya"


"Kalau kamu memang tidak bisa memenuhi keinginannya, sekarang kan ada aku. Aku juga orangtuanya, bukan? jadi kita bisa berbagi peran. Harusnya tadi kamu memberinya pengertian dan juga memberikan solusi lain untuknya. Aku yang akan menemaninya di saat kamu tidak bisa. Kamu bisa membagi bebanmu denganku, mas"


Ardigo mendengar dengan serius setiap kata yang keluar dari mulut Friska. Lagi-lagi ucapan Friska mampu melegakan perasaannya dan juga menenangkan jiwanya. Jika dipikir-pikir semua yang diucapkan Friska memang benar, gadis muda itu bisa berpikir dewasa dalam menghadapinya dan juga sang anak


"Saya paham. Terimakasih banyak, istriku" ujar Ardigo


Friska seketika menegang mendengar panggilan Ardigo untuknya. Jantungnya berdetak dua kali lipat


"Sa-sama sama, mas" balasnya gugup

__ADS_1


Ardigo menghirup dalam-dalam aroma tubuh Friska yang selalu bisa menenangkannya.


To be continued.


__ADS_2