My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Harapan


__ADS_3

Di tengah tangisan pilu Ardigo, tiba-tiba mama Rini datang menghampiri anaknya. Tanpa basa-basi Rini langsung memeluk putranya


"Semoga kamu kuat ya, sayang" tangisan Rini juga sama pilunya dengan Ardigo


Dia sangat menyayangi Friska layaknya anak sendiri. Dan ketika mendapat kabar ini, Rini hampir saja jatuh pingsan


"Maa, kenapa dia tega meninggalkanku? aku bahkan tidak mengizinkannya untuk pergi kemana-mana. Tapi kenapa justru dia pergi sejauh ini?"


Hati Rini semakin perih melihat keadaan Ardigo


"Bagaimana aku dan Vano nantinya, ma? Aku sangat menyayangi dia" Ardigo menangis di pelukan ibunya


"Yang sabar sayang. Tuhan lebih menyayangi Friska"


"Tapi aku juga sangat menyayangi Friska ma. Kenapa tuhan mengambilnya dariku? Aku bersumpah tidak akan menyakiti Friska jika tuhan memberiku kesempatan kedua"


"Sekarang aku menyesal ma. Aku menyesal tidak dari dulu mencintainya. Aku menyesal tidak mengikuti kata mama untuk memperlakukannya dengan baik. Aku ingin Friska ku kembali ma" tangis Ardigo semakin kencang


"Yang sabar sayang. Vano butuh kamu saat ini, kamu harus lebih kuat untuk Vano"


"Orang yang membuat aku kuat sudah meninggalkanku ma"


Tiba-tiba Vano datang dan mendekat ke arah Ardigo


"Mama kenapa pa? kenapa mama tidur disini?" bocah itu sudah menangis


Vano masih tidak tau apa yang terjadi. Namun melihat Ardigo yang menangis dengan keras membuatnya takut karena dia tidak pernah melihat Ardigo seperti itu sebelumnya


Ardigo lalu memeluk Vano dengan erat


"Mama sudah meninggalkan kita, sayang"


"Kenapa, pa? kita salah apa? kenapa mama meninggalkan kita?" dan pecahlah tangis Vano saat dia paham apa yang terjadi


"Mama akan menunggu kita di surga"

__ADS_1


"Kenapa mama Vano selalu meninggalkan Vano? kan Vano tidak nakal"


Ardigo merasa dadanya seperti di himpit sesuatu yang besar


"Karena mama sangat menyayangi Vano. Jadi mereka menunggu Vano di pintu surga" Ardigo mencoba tetap menenangkan Vano disaat dia sendiri pun butuh ditenangkan


"Maa bangun. Vano ingin menceritakan sesuatu kepada mama. Tadi ibu guru memuji Vano karena Vano sudah bisa membaca dongeng di depan kelas. Vano bisa membaca berkat mama. Vano ingin mama mendengarnya" isak Vano


Rini sungguh tidak tau harus berbuat apa melihat putra dan cucunya yang menyedihkan


Ardigo menyentuh tangan Friska. Tangan yang selalu memasakkan sesuatu yang lezat untuknya. Tangan yang selalu melayani segala kebutuhannya. Dan jemari yang selalu mengelus lembut kepala serta punggung Ardigo disaat pria itu membutuhkan dukungan dan semangat. Dan sekarang tangan itu hanya terletak tak berdaya di sisi tubuh Friska


Tak lama kemudian masuklah dua orang perawat


"Maaf pak, kami akan melepas semua alat yang menempel di tubuh nyonya Friska. Dan jenazahnya sebentar lagi akan diurus"


"Jangan ada yang berani melepas alat ini! istri saya membutuhkannya. Dia masih hidup!" tegas Ardigo


"Maaf pak, tapi nyonya Friska sudah menghembuskan nafas terakhirnya setengah jam yang lalu"


"Saya masih menunggu istri saya bangun!"


Ardigo terlihat sangat frustasi. Dia tidak perduli jika dikatakan gila sekalipun


Mereka tentu saja takut lalu memilih keluar dari ruangan itu


Ardigo mencium punggung tangan Friska dan menelungkupkan kepalanya disana


"Aku mohon kembali, sayang. Aku dan Vano akan berantakan tanpa kamu. Aku mohon kembalilah, aku sangat mencintaimu" bisik Ardigo dengan air mata yang mengalir dan jatuh ke tangan Friska


Lama dia bertahan dengan posisi itu hingga tiba-tiba dia merasakan ada pergerakan di jemari Friska diikuti dengan bunyi dari mesin pendeteksi jantung yang menandakan jantung Friska kembali berdetak. Seluruh alat itu kini kembali bekerja seperti sedia kala


Ardigo mengangkat kepalanya. Dia terkejut sekaligus tidak percaya


"Andre! Andre! panggilkan dokter. Friska sudah kembali" teriak Ardigo heboh

__ADS_1


Andre yang mendengar itu pun menunda keterkejutannya dan langsung mencari dokter


"Dok, istri saya sudah kembali. Jantungnya sudah berdetak kembali dan tadi jemarinya juga bergerak pelan" jelas Ardigo


"Sebentar saya periksa dulu pak"


Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan mulai dari detak jantung, pupil mata, dan denyut nadi


"Ini keajaiban pak. Jantung nyonya Friska bisa kembali berdetak setelah tadi sempat berhenti. Tuhan mengembalikannya kepada kita semua" jelas dokter tak kalah takjub


"Benarkah? istri saya kembali hidup kan, dok?" tanya Ardigo merasa tidak percaya


"Iya pak, nyonya Friska memilih untuk melanjutkan hidupnya. Sekarang kita tinggal menunggu nyonya Friska melewati masa kritisnya. Setelah itu akan kami pindahkan ke ruangan perawatan"


"Terimakasih tuhan, terimakasih" ujar Ardigo dengan tangis haru


"Ma, istriku kembali ma. Friska tidak tega meninggalkanku"


Rini memeluk putranya dengan penuh haru


"Doa mu didengar oleh tuhan sayang. Mama sangat senang"


Ardigo lalu memeluk Vano. Seumur hidupnya Ardigo tidak pernah merasa se bersyukur ini.


"Sebaiknya bapak dan ibu tunggu di luar saja, kami akan memantau keadaan nyonya Friska sampai dia melewati masa kritisnya" ujar sang dokter


"Baik dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya" pinta Ardigo


"Akan kami usahakan pak"


Mereka semua lalu meninggalkan ruangan itu dan menunggu di luar dengan doa-doa baik untuk Friska


Andre masih setia menemani Ardigo dan Vano. Papa Reno juga terlihat mendampingi sang istri. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, namun dengan harapan yang sama. Yaitu kesembuhan Friska.


To be continued.

__ADS_1


Alhamdulillah berkat doa2 readers semua Friska bisa kembali hidup. Semoga bisa cepat pulih ya 😢


__ADS_2