
Semenjak status Friska yang sudah terungkap, dunianya berubah 180 derajat. Seperti sulap, seluruh karyawan langsung menghormatinya. Bahkan tidak ada yang berani menatap wajahnya secara langsung, melainkan sedikit menunduk layaknya mereka menyapa Ardigo. Jujur saja bukan itu yang Friska inginkan, dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu
Para karyawan juga berbondong-bondong mengucapkan terimakasih kepada Friska sesaat setelah Ardigo mengumumkan hal penting
"Berterimakasih lah kepada istri saya, berkat dia kalian semua masih berada disini. Dia yang melarang saya untuk memecat kalian. Jadi saya harap kalian bisa menggunakan akal kalian tentang bagaimana harusnya kalian memperlakukannya setelah ini" itulah perkataan Ardigo yang membuat seluruh karyawan bisa bernapas lega. Mereka diam-diam memuji kebaikan hati Friska
Waktu terasa cepat berlalu, Friska dan semua temannya sudah menyelesaikan kegiatan magang mereka dua hari yang lalu. Kini Friska sudah lebih santai dan hanya fokus menyelesaikan skripsi sebagai syarat wisudanya. Vano juga senang karena sekarang Friska punya lebih banyak waktu lagi untuknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Friska mengajak Vano untuk segera mandi. Setelah itu mereka menonton televisi bersama sambil menunggu Ardigo pulang.
Sudah satu jam menunggu namun Ardigo belum juga terlihat batang hidungnya. Friska beralih ke dapur untuk menyiapkan makan malam dan meninggalkan Vano menonton sendirian.
Saat semuanya sudah matang, Friska menata makanan-makanan itu ke atas meja. Asap yang mengepul dan aroma wangi langsung tercium membuat perut Friska ingin segera diisi
Pasti mas Ardigo sudah pulang. Sebaiknya aku mengajak mereka makan sekarang. pikir Friska lalu kembali ke ruang tengah
Dia mendapati Vano masih menonton sendirian
"Papa mana sayang?" tanya Friska mendekat
"Papa belum pulang ma"
Kenapa dia belum pulang? biasanya tidak pernah pulang selarut ini. Batin Friska
Dia lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam
"Vano sudah lapar? sebaiknya Vano makan duluan. Mungkin papa masih ada pekerjaan" ujar Friska
"Vano tunggu papa saja ma. Vano ingin makan dengan papa dan mama"
"Sepertinya papa akan pulang terlambat malam ini. Nanti Vano malah masuk angin" bujuk Friska
"Papa kenapa belum pulang ma?"
"Mama juga tidak tau, sayang. Mungkin pekerjaan papa masih banyak" balas Friska seadanya
"Ayo telpon papa, ma"
"Baiklah, ayo"
Friska menghubungi ponsel Ardigo. Namun suara operator langsung terdengar menandakan ponsel pria itu sedang tidak aktif. Seketika perasaan cemas langsung menghampiri Friska
Dia kemana? tanya batin Friska
"Ponsel papa sedang tidak aktif sayang"
"Papa kemana ya, ma? apa papa baik-baik saja?" Vano tak kalah khawatir dengan sang ayah
"Papa baik-baik saja sayang. Mungkin pekerjaan papa belum selesai. Akhir-akhir ini pekerjaan di kantor memang sangat banyak" bohong Friska. Dia terpaksa harus berbohong untuk menenangkan Vano, meskipun di dalam hatinya terselip rasa cemas untuk sang suami
"Jadi Vano makan dulu ya, nanti kita tunggu papa lagi"
"Iya ma"
Friska membantu dan menemani Vano makan
"Mama tidak makan?"
"Iya, nanti saja"
"Mama menunggu papa? bukankah papa masih banyak pekerjaan? Mungkin nanti pulangnya terlambat. Ayo makan dengan Vano"
Friska berpikir sebentar
Kenapa aku harus menunggunya? mungkin saja di sedang di luar bersama teman-temannya dan sedang bersenang-senang. Sedangkan aku disini malah menunggu dengan kelaparan.
"Baiklah, ayo makan" ucap Friska
Setelah makan Friska menemani Vano belajar menggambar dan mewarnai
__ADS_1
"Wahh gambar Vano bagus sekali"
"Terimakasih ma, papa juga pintar menggambar"
"Wahh hebat!"
Mereka terus berbincang dan sesekali tertawa bersama. Hingga Vano sudah mulai mengantuk dan Ardigo belum juga pulang
"Ma, Vano mengantuk"
"Ayo mama antar ke kamar"
"Kenapa papa belum pulang juga?" rengek Vano
"Mungkin sebentar lagi papa pulang. Ayo mama antar Vano ke kamar dulu, besok Vano harus bangun pagi dan pergi sekolah. Biar mama yang menunggu papa"
Friska langsung menggendong Vano dan membawa sang anak ke kamarnya
Setelah memastikan Vano tidur dengan nyaman, barulah Friska kembali ke ruang tengah. Kecemasannya semakin bertambah ketika menyadari sekarang sudah pukul 10 malam.
Sebenarnya dia kemana?
Friska terus saja mondar mandir sambil terus menghubungi ponsel Ardigo. Namun tetap suara operator yang menjawab panggilannya
"Ahh persetan dengannya. Lebih baik aku tidur saja" kesal Friska lalu berbaring di sofa dan memejamkan matanya. Namun baru beberapa detik dia kembali membukanya
"Arghhh sebenarnya dia kemana? menyusahkan saja" maki Friska antara kesal dan cemas
Friska melanjutkan kegiatannya menunggu Ardigo sambil termenung di atas sofa. Bahkan dia sudah beberapa kali merubah posisinya, namun Ardigo belum juga pulang
Tak lama kemudian Friska mendengar bunyi pintu apartemen terbuka. Dia langsung bangun dan mendekat.
"Mas Digo" gumam Friska sambil memperhatikan penampilan Ardigo yang cukup berantakan. Rambut acak-acakan, jas yang sudah tidak terpasang lagi, lengan kemeja yang tergulung sampai sikut, dan juga wajah yang terlihat lelah
"kenapa belum tidur?" tanya Ardigo
"Kenapa kamu baru pulang?"
"Aku belum mengantuk"
Ardigo tersenyum tipis. Hatinya berkata bahwa Friska sengaja menunggunya
"Oh begitu"
Kamu sudah makan?"
"Belum" jawab Ardigo sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya sejenak
"Kenapa belum makan? ini sudah hampir jam 11"
"Jangan bertanya terus Friska. Saya capek" gumam Ardigo pelan
"Mau makan sekarang? biar aku panaskan makanannya"
"Hmmm boleh" balas Ardigo masih dengan mata terpejam
Setelah selesai memanaskan makanan, Friska memanggil Ardigo
"Mas! itu makanannya sudah aku panaskan. Ayo makan dulu"
Ardigo membuka matanya lalu bangkit
"Kamu mau kemana?" tanya Ardigo melihat Friska meninggalkannya
"Ke kamar"
"Tolong temani saya makan" suara Ardigo terdengar seperti permintaan, dan bukan perintah
Friska menatapnya sejenak lalu menyetujuinya
__ADS_1
"Baiklah, ayo"
Melihat Ardigo yang hanya duduk di kursi tanpa melakukan apa-apa, membuat Friska gemas sendiri
"Mau aku ambilkan?"
"Iya"
Dasar manja. cibir Friska di dalam hati
Ardigo masih duduk diam dengan wajah lelahnya
"Ini. Silahkan dimakan" ujar Friska tepat di samping Ardigo
Ardigo melihat Friska yang berdiri di sampingnya, lalu tiba-tiba dia menghadap ke arah Friska dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri. Kepalanya dia benamkan di dada Friska mencari kenyamanan di sana. Sontak Friska terkejut dengan perlakuan Ardigo
"Mas Digo!"
"Biarkan seperti ini Fris, sebentar saja. Saya lelah" ujar Ardigo pelan
"Ada apa mas? apa terjadi sesuatu? apa karena itu kamu pulang terlambat?"
Ardigo hanya menganggukkan kepalanya. Gerakan kepala Ardigo di dadanya membuat Friska merasa kurang nyaman
"Apa yang terjadi? apa ini masalah kantor?"
"Terjadi korupsi yang cukup besar di kantor. Ada oknum yang melakukan korupsi terhadap proyek besar. Kalau uangnya tidak dikembalikan, maka hampir setengah saham Fabiyan's Corp akan diambil alih. Sekarang saya dan semua tim internal sedang menyelediki dan juga menangani masalah ini sampai pelakunya diketahui"
"Ya tuhan" Friska terkejut sekaligus prihatin dengan keadaan Ardigo dan juga Fabiyan's Corp. Perusahaan yang baru beberapa hari masih baik-baik saja, kini justru dalam masalah
Tangan Friska refleks mengelus pelan rambut hitam Ardigo.
"Kamu harus kuat ya, mas. Aku yakin kamu bisa menangani ini semua. Dari dulu aku mendengar kabar bahwa CEO Fabiyan's Corp adalah pemimpin yang sangat hebat. Jaga kesehatanmu, ada banyak hal yang harus kamu lakukan. Karena ada begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada dirimu. Kamu pasti akan segera menemukan pelakunya. Maaf aku tidak bisa membantumu" Friska berujar sambil mengelus pelan punggung Ardigo. Layaknya seorang ibu yang sedang memberikan nasihat sambil memeluk anaknya
Sementara itu, Ardigo merasakan kenyamanan yang teramat sangat. Perkataan Friska layaknya air di tengah oase, sangat menyejukkan. Tanpa sadar dia mengeratkan pelukannya di tubuh Friska. Ardigo juga menghirup aroma tubuh Friska dalam-dalam untuk mengurangi rasa lelahnya.
Kamu adalah orang yang paling bisa membantu saya saat ini, Friska. Kamu bisa membuat saya langsung merasa tenang. batin Ardigo
"Terimakasih" ujar Ardigo tulus
"Sebaiknya sekarang kamu makan, setelah itu istirahat"
"Baiklah" Ardigo dengan berat hati melepaskan pelukannya
"Kamu tidak makan?" tanya Ardigo
"Aku tadi sudah makan dengan Vano. Dia ketiduran karena menunggumu"
"Hmm" balas Ardigo
"Kamu mau minum apa, mas?" tanya Friska
"kopi"
"Eh tidak boleh, ini sudah larut malam. Tidak baik meminum kopi"
"Ya sudah teh saja"
"Tidak baik mengkonsumsi gula di jam sekarang. Bisa meningkatkan resiko diabetes. Aku buatkan wedang jahe saja, ya?"
Ardigo hanya memutar kedua bola matanya
"Kenapa kamu bertanya kalau ujung-ujungnya kamu sendiri yang memutuskan"
"Hehe aku hanya bertanya saja tadi" kekeh Friska
Tanpa Friska sadari Ardigo terus saja menatapnya saat sedang membuat minuman. Ardigo kembali bersyukur bisa bertemu dengan seseorang seperti Friska.
Saya tidak tau ini perasaan apa. Entah ini yang dikatakan cinta atau hanya perasaan terbiasa. batin Ardigo sendu.
__ADS_1
To be continued.