
Flash back
Di dalam kamar sebuah apartemen terlihat seorang pria jangkung sedang memakai kembali pakaiannya setelah pergulatan panas dengan sang kekasih. Setelah mengancingkan celana, dia lalu memakai kaos berwarna biru yang dipakainya tadi malam.
Di atas ranjang sang wanita masih betah berbaring dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dia hanya menatap sang pria yang terlihat memasang wajah dinginnya, sangat berbeda ketika mereka sedang bergulat
"Aku tidak mau tau, kau harus mencari mangsa yang lain. Ardigo sepertinya sudah sangat jijik kepadamu, mustahil dia ingin kembali"
"Tidak bisakah kau berhenti menyuruhku seperti itu? aku muak setiap hari mendengarnya!" balas sang wanita
"Tabungan kita sudah menipis, lalu kalau semuanya dihabiskan kita akan makan apa? pikirkan itu!"
"Seharusnya kau yang memikirkan itu! kenapa bukan kau saja yang mencari pekerjaan? kau hanya bermalas malasan dan menghabiskan semua uang yang sudah aku hasilkan"
"Dengar Felicya, kau tidak akan bisa lepas dari genggamanku. Jadi gunakan wajah cantikmu ini untuk menghasilkan uang, seperti yang kau lakukan kepada Ardigo dulu" ujar Jerry membelai wajah Felicya
"Asal kau tau, aku benar-benar telah menyukainya. Dia bukan hanya memberiku uang, tapi juga memperlakukanku seperti ratu. Tidak seperti dirimu" balas Felicya. Kini dia sudah duduk dan bersandar pada headboard
Jerry hanya tersenyum mengejek
"Diperlakukan seperti ratu? tapi sayangnya wanita murahan sepertimu tidak pantas diperlakukan seperti itu" ejek Jerry
"Tutup mulutmu! bagaimanapun hampir setiap hari kau juga menikmati tubuh wanita murahan ini. Kau benar-benar berbeda dengan Ardigo!"
Felicya selalu mengingat betapa beruntungnya dia ketika menjadi kekasih CEO Fabiyan's Corp itu. Ardigo yang sangat menyayanginya dan juga menjaga kehormatannya. Pria itu belum pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman dan pelukan.
Jerry tertawa pelan mendengar kekesalan Felicya
"Tentu saja aku berbeda dengannya, sayang. Dia langsung meninggalkanmu ketika mengetahui kebusukanmu. Sedangkan aku, aku tetap bertahan denganmu walaupun aku tau seberapa buruknya dirimu. Bukankah aku lebih setia?" ujar Jerry dengan senyum miringnya
Felicya hanya menahan kekesalan di hatinya. Hinaan dan ejekan dari Jerry bukanlah hal yang baru untuknya. Seketika dia berpikir kenapa dulu dia bisa begitu mencintai pria seperti Jerry. Dia begitu bodoh sehingga mau melakukan apa saja untuk sang kekasih, termasuk mengkhianati pria sebaik Ardigo. Bahkan perasaan untuk Ardigo baru dia sadari setelah pria itu pergi dari hidupnya
"Sudahlah sekarang sebaiknya kau pikirkan bagaimana caranya agar bisa menemukan mangsa baru. Atau jika kau masih ingin mencoba untuk mendekati Ardigo, silahkan saja. Tenang saja aku juga akan bekerja, aku akan membantu menemukan mangsa yang cocok untukmu. Aku pergi dulu, sampai jumpa sayang" Jerry mengecup singkat bibir Felicya kemudian pergi dan meninggalkan wanita itu sendirian
"Aku ingin Ardigo dan hanya Ardigo. Ini semua karena perempuan sialan itu! Kalau saja dia tidak datang dan menghancurkan segalanya, aku sudah hidup dengan tenang dan menjadi nyonya Fabiyan. Aku tidak akan membiarkan kau bahagia gadis brengsek!" ucap Felicya menahan amarahnya. Kilatan kebencian terpancar dari kedua matanya
Flash back off
Pagi ini Vano terlihat senang dan bersemangat seolah semalam tidak terjadi apa-apa.
"Nanti kita jadi pergi kan, ma?" tanya bocah itu kembali memastikan
"Iya, sayang" balas Friska tersenyum
Ardigo hanya menatap anak dan istrinya itu. Friska memang sudah memberitahu Ardigo bahwa hari ini dia akan membawa Vano jalan-jalan. Tentu saja pria itu mengizinkan
"Rencananya mau pergi kemana?" akhirnya pria itu bersuara
"Mungkin ke mall dan taman saja, mas" balas Friska
__ADS_1
"Pergi jam berapa?"
"Setelah Vano pulang sekolah"
"Pagi ini kamu akan bekerja?" tanya Ardigo
"Iya. Nanti siang aku akan minta izin untuk pergi bersama Vano"
Ardigo terdiam sesaat mendengar jawaban sang istri
"Yasudah hati-hati ya. Nanti kalian akan ditemani oleh pak Danang. Kabari saya kalau ada apa-apa"
"Iyaa"
"Nanti setelah sarapan ayo ikut saya sebentar" ujar Ardigo kepada Friska yang dibalas tatapan bingung dan diikuti anggukan oleh gadis itu
Setelah selesai sarapan, Friska mengekori Ardigo ke ruangan kerja pria itu
"Ada apa, mas?" tanya Friska membuka suara
Ardigo mendekat dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. Tangannya merogoh ke dalam kantong celana untuk mengambil sesuatu lalu dia meraih tangan Friska dan meletakkan benda pipih itu di telapak tangan sang istri
"Apa ini?"
"Kamu tidak bisa melihat kalau ini kartu?"
Friska mendelik tajam ke arah Ardigo
"Saya hanya mengembalikan milik kamu"
"Maksudnya? aku tidak pernah memiliki ini sebelumnya" balas Friska kebingungan
"Ini milikmu, dulu kau melemparnya. Jadi sekarang saya kembalikan"
"Itu kan punya kamu. Jadi kamu tidak perlu mengembalikannya"
"Itu punya kamu dan hak kamu. Pakai kartu ini untuk membeli apapun yang kamu mau. Jangan membuat saya merasa miskin karena belum pernah menafkahi istri saya. Kamu belum pernah memakai uang saya sepeser pun. Kamu itu tanggung jawab saya, jadi ambil kartu ini dan tolong digunakan" ujar Ardigo
Friska hanya menatap kartu hitam di telapak tangannya itu, berbeda dengan kartu yang dulu pernah diberikan Ardigo
Dulu dia menyuruhku untuk tidak boros memakai kartunya, sekarang malah memintaku untuk membeli apapun yang aku mau dengan kartu itu. Dasar aneh
batin Friska kembali mengingat saat pertama kali Ardigo memberinya kartu
"Tapi kenapa berbeda dengan kartu yang dulu?" tanya Friska
"Saya menggantinya"
"Tunggu, apakah ini yang namanya black card?" tanya Friska ketika teringat sesuatu
__ADS_1
"Iya"
"Astaga! setauku hanya artis dan pengusaha kaya yang memiliki kartu ini" ucap Friska yang mengundang senyuman tipis Ardigo
"Kau lupa suamimu siapa?" tanya Ardigo
"Dasar sombong" gumam Friska membuat Ardigo terkekeh pelan
"Tolong jangan melemparnya lagi. Saya bekerja keras seperti ini untuk bisa mendapatkannya"
"Hmm" gumam Friska lalu memasukkan kartu itu ke dalam kantong celananya
"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan juga" ucap Ardigo
"Apa itu?"
"Sebelumnya saya minta kamu jangan marah dulu. Kalau kamu tidak keberatan saya ingin meminta kamu untuk berhenti bekerja di kafe. Saya bukannya ingin memerintah kamu setelah memberi kartu itu. Hanya saja saya tidak suka kamu bekerja keras seperti itu. Saya merasa menjadi orang paling miskin ketika melihat keringat kamu yang bercucuran akibat bekerja terlalu keras. Kamu punya suami yang bisa menafkahi kamu lebih dari cukup. Apalagi kamu sedang disibukkan dengan tugas skripsi, jadi lebih baik kamu fokus menyelesaikannya"
"Saya hanya meminta kamu untuk mempertimbangkannya. Saya akan menghargai apapun keputusan kamu nantinya" ujar Ardigo
Friska hanya diam menatap wajah serius Ardigo. Sorot mata pria itu seakan meyakinkannya bahwa dia adalah orang yang bisa diandalkan dan bisa bertanggung jawab atas Friska
"Nanti akan aku fikirkan lagi mas"
"Baiklah"
"Sebaiknya sekarang kamu dan Vano berangkat sebelum nanti terlambat" peringat Friska
"Iya"
Ardigo dan Vano sudah siap untuk berangkat. Friska mengantarkan kedua lelaki itu sampai ke depan pintu apartemen
"Belajar yang rajin ya, sayang. Nanti mama akan menjemput Vano"
"Siap ma. Vano dan papa pergi dulu ya" bocah itu lalu menyalami tangan Friska dan gadis itu lalu mendaratkan ciuman di dahi sang anak
"Kami berangkat dulu" kini Ardigo yang bersuara
"Hati-hati mas"
Ardigo menatap Friska sejenak lalu dengan gerakan cepat mengecup kening mulus gadis itu
Friska hanya mematung karena terkejut dengan tindakan pria itu
Sedangkan Ardigo langsung membawa Vano pergi karena dia juga merasa salah tingkah sendiri
Setelah tersadar Friska seketika merasa pipinya memanas. Dia meraba bekas kecupan Ardigo dan jantungnya tiba-tiba berdetak kencang
"Dia semakin berani menciumku" gumam Friska pelan masih mencoba menenangkan detak jantungnya
__ADS_1
Lalu dia memutuskan untuk bersiap siap dan segera ke kafe untuk bekerja. Untuk permintaan Ardigo biarlah nanti dia pikirkan lagi.
To be continued.