
Sudah lima hari ini Ardigo sangat disibukkan dengan urusan pekerjaannya di kantor. Dia dan beberapa petinggi perusahaan sedang berusaha menangani masalah dan juga mengamankan keadaan sembari menunggu tim penyelidik internal menemukan pelaku dari tindak korupsi itu
Dan sudah lima hari ini pula dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Ardigo akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang saat Vano sudah tidur. Dia juga sudah memperingati Friska untuk langsung tidur dan tidak menunggunya, namun Friska tetap saja menunggu setiap malamnya untuk mempersiapkan dan menemani Ardigo makan. Dia beralasan bahwa akhir-akhir ini dia susah tidur, karena itulah dia menunggu Ardigo. Namun yang Ardigo lihat justru sang istri nampak mengantuk setiap menunggunya pulang
Perasaan senang dan tidak tega bercampur di dalam hatinya setiap kali mendapati Friska yang sengaja menunggunya
"Kan sudah saya bilang tidak usah menunggu, langsung tidur saja dengan Vano. Dasar keras kepala" omel Ardigo
"Siapa juga yang sengaja menunggumu? aku hanya belum mengantuk. Akhir-akhir ini aku susah tidur" jawab Friska mengelak
"Terserah kau saja"
Dan sudah beberapa malam ini juga sudah menjadi kebiasaan Ardigo untuk memeluk Friska, seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Dia merasa lelahnya sedikit berkurang ketika memeluk sang istri. Apalagi ketika jari-jari halus Friska mengelus rambut dan punggungnya dengan lembut. Memberikan semangat serta dukungan-dukungan kepadanya. Ketenangan langsung dia rasakan.
Kini Friska sudah mulai terbiasa berdekatan dan bersentuhan dengan Ardigo. Dia sudah mulai menerima perlakuan Ardigo yang seperti itu. Pria itu bahkan tidak canggung lagi untuk memeluknya
Sementara itu, karena kesibukan sang ayah, Vano sudah sangat jarang bertemu dengan orang yang dia panggil 'Papa' itu. Terselip kerinduan di hatinya kepada Ardigo.
Hari ini Ardigo sengaja pulang sedikit lebih awal dari hari-hari sebelumnya, karena masalah di kantor sudah hampir bisa diselesaikan. Hanya tinggal selangkah lagi dia bisa menemukan pelakunya. Karena itulah dia memutuskan untuk melanjutkannya besok. Dia pulang saat Friska sedang menyiapkan makan malam.
Vano tentu saja sangat senang bisa makan bersama lagi dengan sang ayah. Mereka makan bersama dengan suasana hangat. Saat sudah selesai makan, Vano menuju ruang tengah dan memainkan mainannya sembari menunggu orangtuanya. Friska langsung membersihkan meja dan mencuci piring, sedangkan Ardigo masih betah duduk di kursinya, seolah sedang menemani Friska
Kenapa dia masih disini? batin Friska. Namun dia memilih diam dan melanjutkan kegiatan mencuci piringnya
"Kenapa tumben kamu pulang cepat? apa masalah di kantor sudah selesai?" Friska tidak bisa menahan untuk tidak bertanya
"Belum, tapi setidaknya sudah menemukan titik terang. Mungkin besok pelakunya sudah bisa ditemukan" balas Ardigo
"Syukurlah"
Tiba-tiba Friska mendengar Ardigo bersin-bersin
"Kamu baik-baik saja, mas?" tanya Friska
"Hmm saya baik-baik saja" balas Ardigo. Tiba-tiba dia merasa kurang enak badan
Mungkin hanya kelelahan. Pikir Ardigo
__ADS_1
Setelah selesai mencuci piring, Friska berjalan menghampiri Vano dan diikiti oleh Ardigo. Vano dan Friska duduk di karpet bulu tebal sambil bermain bersama. Sedangkan Ardigo duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya mengecek pekerjaan
"Pa" panggil Vano tiba-tiba
"Iya sayang"
"Ayo pergi liburan. Vano ingin pergi jalan-jalan dengan papa dan mama"
"Maaf Vano, sekarang papa sedang sangat sibuk. Banyak pekerjaan di kantor"
"Tapi Vano ingin jalan-jalan pa. Beberapa hari ini papa juga sibuk terus" ujar Vano lagi. Sementara itu Friska hanya diam mendengarkan
"Tidak bisa Vano, sekarang pekerjaan di kantor papa sangat banyak" ujar Ardigo mencoba memberi pengertian
"Ayolah pa. Minggu lalu Cecil pergi ke pantai bersama orang tuanya" rengek Vano
"Papa tidak bisa Vano, lain kali saja" Ardigo mulai sedikit kesal
"Vano ingin jalan-jalan pa"
Vano dan Friska sama-sama terkejut mendengar bentakan Ardigo
Ardigo juga sama terkejutnya. Dia tidak sengaja dan tidak bermaksud membentak sang anak. Dia hanya sedang pusing dan Vano terus saja merengek
Perasaan bersalah langsung menghampirinya, apalagi ketika melihat mata Vano yang mulai berkaca-kaca
"Vano-"
"Papa jahat!" teriak Vano lalu berlari menuju kamar Friska
"Vano, sayang, dengar dulu. Bukan begitu maksud papa" ujar Ardigo namun tidak diperdulikan oleh Vano
Ardigo membuang napas kasar lalu tertunduk sambil memijat pangkal hidungnya
"Biar aku yang bicara dengannya" ujar Friska lalu segera menyusul Vano
Saat membuka pintu, Friska melihat Vano meringkuk dan menutup mukanya dengan bantal. Suara isakan terdengar oleh Friska
__ADS_1
Gadis itu lalu mendekat dan duduk di dekat Vano
"Vano" panggil Friska lembut
Bocah itu tidak menjawab panggilan Friska
"Vano, kesini sayang. Bukankah Vano marah kepada papa? kenapa Vano malah tidak menghiraukan mama? Apa Vano juga marah kepada mama?" tanya Friska
Lalu gadis itu melihat bantal yang dipeluk Vano bergerak ke kanan dan ke kiri menandakan bocah itu menggelengkan kepalanya
"Ayo buka bantalnya, mama ingin melihat wajah anak mama yang tampan"
"Tapi Vano sedang menangis, pasti wajah Vano terlihat jelek" ujar Vano
"Siapa bilang jelek? anak mama akan selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Ayo buka bantalnya, mama akan menghapus air mata Vano agar Vano semakin tampan" bujuk Friska
Bantal itu pun bergerak pelan dan menyingkir dari wajah tampan Vano. Friska tersenyum hangat lalu menarik Vano ke dalam pangkuannya dan memeluknya
"Kenapa papa jahat ma? Vano hanya ingin menghabiskan waktu bersama papa dan mama. Beberapa hari ini papa selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Vano merindukan waktu bersama papa. Tapi papa malah membentak Vano" isak Vano lagi di dada Friska. Gadis itu hanya mengelus lembut punggung sang anak untuk menenangkan
"Papa tidak sayang lagi kepada Vano" tangis Vano terdengar pilu
Friska terus saja menenangkan sang anak, dia belum berucap sepatah kata pun. Saat dirasa Vano sudah tenang barulah Friska bersuara
"Mari kita lupakan papa dulu. Lebih baik sekarang kita menonton"
"Menonton apa, ma?" tanya Vano. Kini dia sudah berhenti menangis
"Menonton sesuatu di hp mama. Ayo"
Friska lalu mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pencari video dengan warna merah sebagai logonya. Dia mencari video tentang kehidupan dan keseharian anak-anak yang tinggal di panti asuhan.
Mereka menonton dengan serius, terutama Vano. Setelah habis satu video, Friska membuka video lain yang menunjukkan hal yang sama namun di tempat yang berbeda. Friska sengaja menunjukkan video-video itu terlebih dahulu, supaya Vano bisa belajar sendiri dari apa yang dia lihat. Alih-alih memberikan nasihat secara langsung, Friska lebih memilih menunjukkan sesuatu dan membiarkan Vano yang mengambil pelajaran sendiri.
__ADS_1