
"Mas Digo"
Gumam Friska pelan, sangat pelan hingga tak satupun yang bisa mendengar. Bahkan Tasya sekalipun
Untuk sesaat kedua sahabat itu terpaku pada satu titik dimana seorang pria yang berstatus sebagai suami dari si wanita hamil tengah duduk berdua dengan seorang wanita cantik yang terlihat sangat modis. Mereka saling melempar tawa dan terlihat sangat akrab.
Dia kah yang bernama Anggia?
Batin Friska sendu
Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini, tentu saja campur aduk. Terkejut, tidak percaya, sedih, marah dan kecewa bercampur menjadi satu
Tiba-tiba gadis cantik yang berdiri di samping Friska pun tersadar dari keterkejutannya
"Fris, mungkin saja itu klien suamimu. Aku dengar kalau untuk kalangan atas seperti pak Ardigo memang sangat menjaga hubungan baik dengan kliennya agar bisa saling menguntungkan. Sebaiknya jangan salah paham dulu" Tasya mencoba menenangkan sang sahabat. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang serius terhadap Friska dan janinnya
Friska hanya diam tak bergeming. Bibir wanita itu terkatup rapat. Hanya raut wajah keruhnya yang dapat menggambarkan apa yang tengah dia rasakan dan pikirkan saat ini. Hal itu tentu saja membuat Tasya semakin panik
"Ayo sebaiknya kita pergi dari sini" ajak Tasya sambil menggenggam tangan Friska, namun gadis itu tidak beranjak sedikitpun
Laki-laki kurang ajar! Kalau saja bukan karena Friska sedang hamil tua seperti ini mungkin aku yang paling semangat menarik tangannya untuk melabrakmu dengan selingkuhanmu itu!
Batin Tasya kesal setengah mati. Dia hanya berpura-pura berpikir positif terhadap Ardigo hanya untuk meredam amarah sang sahabat. Tidak mungkin dia justru menambah panas di hati Friska, bisa saja hal buruk terjadi kepada sang calon keponakan
"Kenapa dia setega ini kepadaku, Sya?" setelah lama diam akhirnya Friska baru mengeluarkan suaranya
"Tenang dulu Fris, kamu tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dengan melihat. Siapa tau itu memang klien suamimu, atau kerabat pak Ardigo yang kamu tidak tau" Tasya mengelus pelan lengan Friska
Hanya orang bodoh yang akan mempercayai pembelaan Tasya terhadap Ardigo, dan dia sadar akan hal itu. Namun apalagi yang bisa dia katakan saat kenyataan yang mereka lihat menunjukkan Ardigo seakan sedang memadu kasih sambil bercanda tawa dengan sang kekasih baru
"Ayo sebaiknya kita pulang sekarang, nanti kamu bisa kelelahan jika terlalu lama berjalan"
kini Tasya sedikit memaksa dengan menarik tangan Friska agak kuat dari sebelumnya. Tak ingin sang sahabat semakin terluka. Dan bodohnya Ardigo belum juga menyadari kehadiran sang istri yang tengah terluka parah melihatnya bersama seorang wanita
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Tasya sangat menyayangkan perbuatan Ardigo dan sangat ingin memukul wajah pria tampan itu dengan tangannya sendiri. Berbeda dengan Friska, wanita itu justru lebih merasakan kekecewaan yang besar bahkan ingin pergi meninggalkan Ardigo saat ini juga jika tidak mengingat Vano dan calon bayi mereka
Jahat sekali kamu Ardigo
Mobil yang ditumpangi Friska dan Tasya melaju ke sekolah Vano untuk menjemput sang buah hati.
Sesampainya di apartemen dia langsung menemani Vano berganti pakaian dan makan siang. Wanita cantik itu juga menyempatkan bercerita sebentar dengan sang anak sambung, menanyakan tentang kegiatan Vano hari ini di sekolah. Lalu bocah tampan itu pun tertidur. Sementara Tasya sudah pulang karena dia harus kembali bekerja. Dia bisa tenang meninggalkan Friska karena ada Vano di rumah, setidaknya Friska tidak akan berbuat yang tidak tidak saat sedang bersama bocah tampan itu
Di malam hari,
Ardigo pulang ke rumah dengan wajah yang tampak berbinar, karena ada sesuatu yang membuatnya bahagia
Saat masuk ke kamar dia mendapati Friska sedang berdiri di balkon sambil memperhatikan keindahan kota di malam hari
"Kenapa disini? nanti kamu bisa masuk angin" ujar Ardigo berdiri di samping Friska
Wanita itu hanya diam seolah tidak mendengarkan. Hatinya terlampau sakit jika harus melihat wajah tampan Ardigo yang kini terasa mengesalkan untuknya
Sesekali dia mengelus lembut perut buncit yang berisi calon anaknya
"Lepaskan tanganmu" Ucap Friska dingin
"Kenapa? Aku merindukanmu" Bukannya melepaskan, pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya
"Berhenti bersikap manis kepadaku!" bentak Friska melepaskan pelukan Ardigo
Pria itu tentu saja kaget bukan kepalang. Apalagi melihat wajah cantik sang istri yang sarat akan emosi
"Kamu kenapa, sayang? ada apa?"
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri! Kamu kenapa? kenapa tega membohongiku? kenapa tega melakukan ini kepadaku?" air mata yang ditahannya sejak tadi tak terasa tumpah juga
Ardigo semakin heran dan melihat air mata sang istri yang berjatuhan seakan menyayat hatinya
__ADS_1
"Sayang tolong beritahu aku dengan jelas apa maksud kamu? membohongi apa? aku tidak pernah membohongi kamu" Pria itu maju satu langkah dan hendak menggapai tangan sang istri namun buru-buru di tepis oleh wanita cantik itu
"Jangan menyentuhku! Aku tidak sudi disentuh oleh pria yang sudah membagi cintanya" tangis Friska semakin deras
"Aku tidak melakukannya dan tidak akan pernah melakukannya!"
"Aku akan mempercayai ucapanmu ini jika saja tadi malam aku tidak membaca pesan dari seorang wanita yang mengajakmu bertemu hari ini. Aku mungkin saja akan merasa senang dan dicintai jika saja hari ini aku tidak melihatmu sedang bermesraan dengan perempuan lain yang jauh lebih cantik dari pada aku. Tapi sayangnya aku melihat itu semua, dan menyaksikan betapa jahatnya kamu kepadaku"
"Maksudmu Anggia?" tanya Ardigo kaget
"Persetan dengan nama perempuan itu. Siapapun namanya aku tidak peduli"
Teriak Friska, amarahnya terasa sangat meluap-luap. Dada yang naik turun menandakan betapa sesak perasaannya
"Sayang dengarkan aku dulu.."
"Berhenti memanggilku sayang! aku benci mendengarnya"
Ardigo tampak panik menghadapi kemarahan Friska, dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada sang istri dan anak mereka
"Selama sebulan ini kamu seakan menjauhi kami mas. Aku masih selalu berpikir positif dengan menganggap kamu sedang sibuk bekerja atau sedang ada masalah di kantor. Tapi pesan dari Anggia-mu itu seakan meruntuhkan semua kepercayaanku terhadap kamu. Apalagi hari ini aku melihat betapa bahagianya kamu duduk berduaan dengannya. Aku tau aku tidak secantik dan semodis dia, apalagi dengan perut yang sebesar ini. Tapi tidakkah kamu tahu aku begini karena siapa? ini juga karena kamu!"
Friska menumpahkan semua keluh kesahnya terhadap sang suami
"Apa yang kamu bicarakan? kamu selalu cantik di mataku sampai kapanpun. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, sayang. tolong percayalah"
"Lalu jika pikiranku itu salah, bagaimana yang sebenarnya?"
Ardigo terdiam terlihat berpikir keras dengan banyak pertimbangan
"Diam kamu ini menunjukkan bahwa yang aku katakan tadi benar" Friska beranjak dari tempatnya berdiri.
To be continued.
__ADS_1