
4 bulan kemudian,
Kini usia kandungan Friska sudah menginjak 8 bulan. Perutnya sudah sangat besar karena hanya tinggal menunggu kurang dari sebulan lagi dia akan bertemu dengan sang buah hati. Friska menikmati masa-masa kehamilannya dengan penuh suka cita
Setelah memastikan Vano tertidur dengan nyaman, wanita itu langsung keluar dari kamar sang anak dan kemudian menutup pintu. Friska berjalan dengan pelan menuju kamarnya
"Hufftt" helaan napas Friska terdengar cukup keras. Sudah menjadi kebiasaan Ardigo belakangan ini untuk pulang larut malam, bahkan terkadang sampai dini hari
Hal itu sudah terjadi semenjak sebulan yang lalu. Pria itu sudah sangat jarang pulang di bawah jam 10 malam. Dia bahkan hanya makan malam di rumah ketika hari libur saja. Friska tentu saja merasa sedikit sedih dan curiga dengan perubahan sang suami
Meskipun sikapnya tetap sama bahkan semakin manja kepada Friska, namun itu hanya ketika mereka bersama. Faktanya pria itu semakin jarang menghabiskan waktunya bersama sang istri dan justru terlihat berkali lipat lebih sibuk belakangan ini. Friska bukannya tidak pernah bertanya, namun alasan Ardigo selalu sama, banyak pekerjaan di kantor.
Seperti biasanya Friska akan lebih dulu tertidur karena dia tidak ingin kandungannya lemah akibat bergadang menunggu kepulangan Ardigo.
Ya tuhan tolong jaga suamiku dimanapun dia berada, jangan sampai apa yang aku takutkan benar-benar terjadi.
Begitulah doa Friska setiap harinya sebelum tidur yang diiringi dengan tetesan air mata di pipi chubby nya. Friska selalu berusaha untuk menepis pikiran buruk tentang Ardigo yang memiliki wanita lain. Dia mempercayai lelakinya, hanya saja ketakutan itu tetap bercokol di hatinya
Baru saja tertidur Friska sudah bermimpi melihat Ardigo sedang berjongkok di hadapannya sambil mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Sebegitu rindunya kah Friska sampai memimpikan Ardigo sedang bersamanya.
"Maafkan aku, sayang" sayup-sayup Friska mendengar Ardigo mengucapkan maaf di dalam mimpinya. Setelah itu Friska tidak lagi merasakan apa-apa
Keesokan harinya,
"Kenapa melamun terus?" Friska mengalihkan tatapan kosongnya ke wajah wanita cantik yang belakangan ini sering menemaninya
"Tidak ada, Sya. Aku hanya sedang memikirkan proses lahiran nanti" balas Friska tidak sepenuhnya berbohong. Tapi yang paling dia khawatirkan adalah apakah Ardigo akan menemaninya di saat yang menakutkan itu
Tasya mendekatkan tubuhnya kepada sang sahabat
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, kalian akan baik-baik saja. Kau dengar kata dokter waktu itu kan, dia sehat dan kuat. Jadi kau juga harus yakin dan lebih kuat darinya" ujar Tasya sambil mengelus lengan Friska
__ADS_1
"Semoga aku bisa kuat"
menghadapi cobaan rumah tangga kami. Sambung Friska di dalam hatinya
"Terimakasih ya Sya, sudah menemani aku terus sampai saat ini" mata Friska berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening ke pipinya. Selama hamil Friska memang lebih sensitif dan cengeng, apalagi menyangkut hatinya
"Tidak perlu berterimakasih, inilah konsekuensi seorang aunty yang ingin memiliki ponakan" canda Tasya
"Mungkin aku belum pernah mengatakannya, tapi aku benar-benar menyayangimu Natasya Jovanka" Friska memeluk erat sang sahabat
"Kalau kau menyayangiku tolong doakan aku bisa bahagia sepertimu saat memiliki pasangan nanti"
"Tidak, kau harus lebih bahagia daripada aku" kali ini air mata Friska benar-benar tumpah mengingat kini dia tak sebahagia dulu
Tasya memaklumi Friska yang mudah menangis karena hal kecil, ini pasti disebabkan oleh hormonnya
"Terimakasih ya, Fris. Aku yakin doa ibu hamil pasti cepat dikabulkan oleh tuhan" ujar Tasya mencoba menghibur Friska
"Mas sudah pulang?" Friska sedikit terkejut sekaligus heran melihat Ardigo pulang lebih awal, bahkan sebelum makan malam
"Iya sayang, aku merindukanmu" Ardigo langsung memeluk tubuh Friska
Kalau sedang tidak hamil pasti sudah kupukuli kau, mas. Kemarin-kemarin kau kemana saja? tidak merindukanku? suara batin Friska
Dia hanya diam mendapat pelukan sang suami, tidak menolak dan tidak juga membalasnya
"Mandilah, setelah itu kita makan malam"
"Iya sayang"
Setelah menyiapkan pakaian santai untuk Ardigo, Friska kemudian melangkah menuju kamar Vano
__ADS_1
"Ayo sayang, kita makan malam"
"Iya ma, tunggu sebentar"
"Vano sedang apa?" Friska mendekat ke arah sang anak yang terlihat sibuk dengan kertas dan pensil warna di tangannya
"Vano sedang menyiapkan hadiah untuk adik bayi, tidak lama lagi dia akan lahir. Jadi Vano harus segera menyiapkan semuanya sebelum dia lahir"
Friska tidak dapat menutupi rasa harunya.
Bahkan Vano saja sangat peduli kepada adiknya.
Lagi-lagi egonya mengingatkan tentang Ardigo
"Dia pasti senang memiliki kakak seperti Vano. Vano adalah kakak yang paling keren di dunia" puji Friska membuat bocah itu menampilkan senyum menawan yang membuatnya terlihat berkali lipat lebih tampan
"Lanjutkan nanti lagi ya, sayang. Sekarang waktunya makan malam" ajak Friska
"Baik, ma. Ayo"
"Hati-hati ma. Jangan lepaskan tangan Vano"
Sungguh, jika saja karena tidak ingin terlihat cengeng, Friska pasti sudah menangis tersedu sejak tadi dengan perlakuan manis Vano. Bocah itu selalu menggandeng tangannya saat akan menuruni tangga, seolah Friska akan jatuh jika berjalan tanpa berpegangan padanya.
"Terimakasih sayang" hanya itu yang mampu dia ucapkan, bahkan dengan suara bergetar menahan tangisan haru
Malam itu setelah sekian lama mereka kembali makan malam bersama dengan Ardigo.
To be continued.
Haii gaiss kira2 si Digo kenapa ya? kurang ajar banget kalau sampai yang ditakutkan Friska beneran kejadian. Sama2 berdoa yok gais semoga Ardigo tidak oleng, cukup para suami di kalangan artis aja yg pada oleng (Hehe canda) Ardigo jangan 😕
__ADS_1