
Setibanya di apartemen, Ardigo langsung berjalan dengan cepat mencari keberadaan Friska. Saat sudah tiba di depan kamar Friska, pria itu melihat sang anak berjalan keluar dari kamar dengan wajah yang sepertinya baru bangun tidur
"Vano" panggil Ardigo
"Papa sudah pulang?" tanya Vano sambil memperjelas penglihatannya
"Dimana mama?"
"Mama sedang istirahat pa, punggung mama terluka" ujar Vano dengan wajah yang kembali memelas
"Iya, papa sudah tau. Vano mau kemana?"
"Mau mengambil minum pa. Vano tidak tega membangunkan mama"
"Ayo, biar papa ambilkan"
Setelah selesai minum, mereka lalu masuk ke dalam kamar Friska. Ini adalah kali pertama untuk Ardigo memasuki kamar itu lagi semenjak mereka menikah dan ditempati oleh Friska
Dia melihat Friska yang masih terbaring dengan posisi menyamping. Ardigo mendekat dan duduk di dekat sang istri
Ardigo tidak dapat melihat luka Friska karena tertutup oleh baju gadis itu.
"Vano tidak apa-apa?" tanya Ardigo
kekhawatirannya terhadap Friska membuatnya hampir lupa menanyakan keadaan sang anak
"Vano baik-baik saja, pa"
"Syukurlah"
Mendengar suara percakapan di sekitarnya, membuat Friska membuka mata
"Mas Digo" Friska lantas duduk
"Vano istirahat di kamar papa dulu ya" ujar Ardigo kepada sang anak
"Iya pa" Vano lalu keluar dan meninggalkan kedua orang tuanya
"Buka baju kamu"
"Apa?" tanya Friska terkejut
"Buka baju kamu" ulang Ardigo
"Kenapa? aku tidak mau!"
"Buka baju kamu Friska! saya mau lihat lukanya"
"Kamu tau dari mana?"
"Kan sudah saya bilang, saya tau segalanya"
"Paling juga pak Danang yang mengatakan" gumam Friska mencibir
"Cepat buka baju kamu!" kini Ardigo berucap dengan nada tak ingin dibantah
"Iya iya" Friska lantas membelakangi Ardigo dan membuka bajunya dengan sedikit kesal
Akhirnya punggung mulus Friska terpampang jelas di hadapan Ardigo. Terdapat perban yang menutupi luka gadis itu
"Kenapa masih memakai bra? talinya akan menekan lukamu"
"Iya nanti akan aku lepaskan"
Ardigo membuka plester di perban itu untuk melihat luka di bahu Friska
"Aww" ringis Friska ketika jemari Ardigo menyentuh bagian lukanya
"Lukanya cukup dalam. Kita ke rumah sakit saja ya"
"Tidak usah mas, tadi aku sudah mengoleskan obat merah. Nanti juga akan kering dengan sendirinya"
"Bagaimana kalau lukanya malah infeksi?"
__ADS_1
"Kan aku sudah menutupnya dengan perban"
"Tapi ini juga harus diperiksakan ke dokter"
"Aku tidak apa-apa mas"
"Dasar keras kepala" ujar Ardigo
"Sudah, kan? aku ingin memakai bajuku kembali"
"Lepaskan dulu bra mu"
"Kan tidak mungkin aku melepaskannya disini"
"Kenapa tidak? suatu hari nanti saya juga akan melihatnya. Turuti saja perintah saya Friska! saya tidak akan macam-macam kalau kondisi kamu seperti ini"
"Aku semakin takut berdekatan denganmu" gumam Friska pelan namun tidak dihiraukan oleh Ardigo
Setelah melepas bra Friska memakai kembali bajunya
"Saya akan panggilkan dokter kesini"
"Iya"
Ardigo keluar untuk menghubungi seseorang
"Halo Dig, ada apa?" tanya Bian yang merupakan dokter pribadi sekaligus teman sekolahnya
"Tolong carikan seorang dokter perempuan dan suruh ke apartemenku"
"Kau sakit? kenapa bukan aku saja? jangan modus bro" canda Bian
"Bukan aku yang sakit"
"Lalu siapa? Vano?"
"Friska, istriku"
"Tidak! aku tidak ingin kau. Carikan dokter perempuan"
"Jangan bilang kau cemburu? hei, aku ini dokter Digo. Aku bahkan masih mengingat sumpah profesiku"
"Aku tidak perduli dengan sumpah profesimu. Aku lebih perduli dengan keadaan istriku, jadi cepat carikan dokter perempuan dan suruh kesini. Sekarang!"
"Iya, siap, baik, pak Digo"
Setelah menutup telpon, Ardigo kembali ke kamar Friska
"Kenapa ini bisa terjadi? kau tau siapa yang melukaimu?" tanya Ardigo membuka suara
"Aku juga tidak tau, mas. Tapi aku yakin kalau ada orang yang memang sengaja melakukannya"
"Kamu tidak sempat melihat wajahnya?"
"Tidak, sepertinya dia sengaja ikut masuk ke dalam kerumunan itu lalu sengaja melakukannya. Aku tidak tau apakah aku memang sasaran utamanya atau hanya korban ketidaksengajaan. Tapi untung saja dia hanya melukaiku, bukan Vano"
"Mana mungkin tidak sengaja bisa sampai separah itu" ujar Ardigo pelan
Siapa yang melakukan ini? sepertinya Friska tidak mempunyai musuh. Apa saingan bisnisku? Ardigo tampak berpikir keras dengan mengerahkan seluruh kecerdasannya. Namun tidak ada jawaban yang membuatnya yakin, semua masih terasa abu-abu
"Sudahlah, aku baik-baik saja" ujar Friska membuyarkan konsentrasi Ardigo
"Kau terluka, dimana letak baik-baik saja?"
"Yang terpenting aku masih disini kan. Dan aku sangat bersyukur bukan Vano yang menjadi korbannya"
"Aku akan mencari pelakunya sampai dapat"
"Terserahmu saja"
"Oh iya kamu sudah pulang jam segini, mas? bagaimana dengan masalah di kantor?" tanya Friska
"Pelakunya sudah ditemukan, jadi sisanya akan diurus oleh Andre"
__ADS_1
"Syukurlah. Siapa pelakunya?"
"Direktur dari divisi produksi"
"Semoga semuanya kembali lancar"
Tak lama kemudian bel apartemen berbunyi
"Sepertinya dokternya sudah sampai"
Ardigo langsung berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya
"Haii"
"Kau juga ikut?" tanya Ardigo kepada pria yang tadi dihubunginya itu. Pria itu berdiri di samping seorang wanita yang menggunakan jas dokternya
"Tentu saja. Dia belum pernah kesini, jadi aku harus menemaninya" balas Bian tersenyum. Wanita itu pun terlihat tersipu malu
Ardigo hanya memutar kedua bola matanya
"Silahkan masuk"
"Dimana istrimu?" celetuk Bian
"Di kamar"
Friska yang semula dalam posisi tidur langsung menegakkan tubuhnya ketika melihat tiga orang dewasa memasuki kamarnya
"Istrimu sakit apa?" tanya Bian lagi
"Punggungnya terluka"
"Apa? kenapa bisa?"
"Nanti aku jelaskan"
"Haii, namaku dokter Chelsea, bagian mana yang sakit?"
"Saya Friska, dokter"
Friska langsung memutar tubuh dan ingin menunjukkan lukanya
"Ayo keluar" ajak Ardigo yang langsung diikuti oleh Bian
Mereka mengobrol di ruang tengah sembari menunggu Chelsea selesai mengobati Friska
"Dia kekasihmu?" pancing Ardigo
"Tidak, maksudku belum. Kami masih dalam tahap pendekatan" balas Bian malu-malu
"Sepertinya dia menyukaimu"
"Tentu saja. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Bian" canda pria tampan dengan lesung pipi itu
"Aku menyesali ucapanku" ujar Ardigo yang mengundang kekehan Bian
Setelah beberapa saat, tampak Chelsea keluar dari kamar Friska
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ardigo to the point
"Saya sudah memberikan antiseptik dan juga beberapa obat yang bisa mempercepat penyembuhan luka nona Friska. Tolong dingatkan nona Friska untuk meminum obatnya dan juga mengoleskan salep ketika lukanya sudah mulai mengering. Untuk saat ini usahakan lukanya agar tidak terkena air dulu" jelas dokter Chelsea
"Baiklah, terimakasih banyak dokter"
"Sama-sama pak. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Kami pulang dulu Dig. Semoga istrimu cepat sembuh" ujar Bian sambil menepuk bahu Ardigo
"Terimakasih, hati-hati di jalan"
Ardigo mengantar kedua dokter itu hingga ke depan pintu apartemen. Setelah keduanya memasuki lift, barulah dia menutup kembali pintunya.
To be continued.
__ADS_1