My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Pulang


__ADS_3

Hari demi hari telah dilalui Friska di rumah sakit untuk perawatan dan pemulihannya. Berbagai macam pengobatan juga telah diusahakan sang suami untuk kesembuhannya. Termasuk pengobatan kulit yang ditangani langsung oleh ahli kecantikan untuk memperbaiki bekas luka di wajah dan di seluruh tubuh Friska. Ardigo benar-benar mengusahakan semuanya agar sang istri bisa kembali seperti semula


Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Friska, karena hari ini dia sudah diizinkan untuk pulang. Sebenarnya dia sudah merasa sangat sehat sejak beberapa hari yang lalu, namun sang suami yang kini sudah berubah 180 derajat dengan segala keposesifannya tidak mengizinkan dan membujuk agar Friska dirawat beberapa hari lagi untuk memastikan gadis itu benar-benar sehat


Setelah memastikan semuanya beres, Ardigo lalu membawa Friska untuk kembali pulang ke apartemen mewah miliknya. Sepanjang perjalanan di koridor rumah sakit Friska hanya mampu memasang wajah jenuh di atas kursi roda yang didorong sendiri oleh sang suami. Padahal dia sudah mampu berjalan dengan normal karena terapi yang selalu dijalaninya, namun bukan Ardigo namanya jika mau menyerah begitu saja. Alhasil Friska hanya bisa duduk diam di atas kursi roda


Friska, Ardigo, dan Vano menaiki mobil yang disupiri oleh Andre. Sedangkan Rini, Reno, Dinda dan baby Clara masuk ke mobil yang lain dengan pak Deni yang menjadi sopirnya. Reyhan sudah kembali ke Bandung setelah beberapa hari di Jakarta. Selama Friska dirawat, Dinda dengan setia menemani disana tentu saja setelah mendapat izin sang suami. Sehingga Reyhan akan datang ke Jakarta setiap akhir pekan


Friska tidak dapat menjelaskan seberapa besar rasa syukurnya telah berada di tengah keluarga yang sangat kompak dan juga hangat ini. Sepertinya tuhan sudah mengganti kebahagiaan yang sempat lenyap dari Friska sejak dia masih kecil


Sepanjang perjalanan Ardigo terus menggenggam jemari Friska seolah tidak ingin melepas tangan mungil itu. Vano duduk dengan tenang di pangkuan Ardigo. Dia sangat merindukan pangkuan dan pelukan Friska, namun Ardigo tidak mengizinkan dan menjelaskan panjang lebar kepada bocah itu perihal Friska yang masih lemah


Setelah sampai di apartemen Ardigo menggendong Friska turun dan kembali menuntunnya untuk duduk di kursi roda


"Mas, aku tidak lumpuh. Aku bisa berjalan sendiri" ujar Friska


"Aku tau, tapi sebaiknya jangan dipaksakan dulu untuk berjalan. Tubuhmu pasti masih lemah"


Friska memutar kedua bola matanya


"Aku sudah kuat mas, aku benar-benar sudah pulih"


"Sudahlah, menurut saja ya, sayang. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa" ujar Ardigo yang langsung membuat Friska terdiam. Dia masih bingung kenapa sekarang Ardigo sering memanggilnya dengan panggilan itu


Dan bahkan Friska baru menyadari kalau pria itu sudah mengganti panggilannya dari saya-kamu menjadi aku-kamu. Perubahan yang cukup membuat Friska berpikir keras


Ardigo kemudian mendorong kursi roda Friska hingga memasuki lift dan menuju lantai apartemen mereka. Rombongan Rini dan Reno juga ikut mengantarkan Friska sampai ke apartemen


"Istirahat yang banyak ya, sayang. Jangan lakukan pekerjaan yang berat dulu. Kamu masih dalam masa pemulihan" ujar Rini memperingati sang menantu


"Iya ma, aku sudah lebih baik sekarang. Terimakasih untuk semuanya yang sudah menemaniku selama di rumah sakit dan juga sudah mendukungku sehingga bisa kembali sehat seperti sekarang. Maaf kalau aku banyak merepotkan" ucap Friska tersenyum


"Apa yang kamu bicarakan Friska? kita ini keluarga. Jadi wajib hukumnya untuk saling mendukung dan menjaga" balas Dinda


"Terimakasih, mbak"


Dinda memeluk sebentar tubuh Friska dari samping. Sosok yang terasa seperti adiknya namun justru berstatus sebagai kakak iparnya


"Oh iya mungkin lusa aku dan Clara akan kembali ke Bandung, jadi bagaimana kalau besok kita berkumpul dulu di rumah mama? Aku pasti akan merindukan kalian" ujar Dinda manja. Begitulah dia jika sudah lama di Jakarta, akan terasa sedih bila harus kembali

__ADS_1


"Kamu itu hanya pulang ke Bandung, bukan ke luar negeri. Jangan berlebihan, Dinda" celetuk Ardigo


"Ish! aku tidak berbicara kepada kakak. Aku memang akan merindukan mereka semua, kecuali kakak"


"Terserah kau saja. Tidak ada juga untungnya bagiku dirindukan olehmu"


perdebatan dua saudara itu terus saja berlangsung


"Kenapa suamimu sangat menyebalkan, Fris?" rengek Dinda


"Dia juga kakakmu, mbak" balas Friska tertawa


"Sudahlah, kalian ini sudah pada jadi orangtua masih saja suka ribut seperti anak kecil" sahut Reno


"Kak Digo yang memulai duluan pa" ujar Dinda


"Kalian sama saja"


Siang menjelang sore, mereka semua pamit untuk pulang dan meninggalkan keluarga kecil Ardigo di apartemen. Vano sudah tidur beberapa saat yang lalu, dan Ardigo juga sudah memindahkannya ke kamar


"Kamu mau istirahat sekarang?" tanya Ardigo


"Baiklah, ayo"


"Mas, aku berjalan saja ya. Lagipula kamarku dekat" ucap Friska sambil menunjuk kamarnya


"Siapa bilang kamarmu dekat? kamarmu ada di atas, bersamaku. Barang-barang kamu sudah aku pindahkan semua kesana"


"Hah?" Friska hanya mampu terperangah


"Ayo aku antar"


Ardigo langsung menggendong Friska ala bridal style menuju kamarnya di lantai atas


"Semua bajumu ada di walk in closet"


Friska langsung memasuki ruangan yang cukup besar itu. Friska serasa sedang berada di sebuah toko di dalam mall melihat banyaknya pakaian, sepatu, tas, dan perhiasan lainnya. Bahkan banyak juga barang-barang baru yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Sepertinya Ardigo membelikan banyak barang baru untuknya


Disana juga terdapat baju-baju Ardigo yang tertata rapi lengkap dengan puluhan set jas mahalnya

__ADS_1


"Dia benar-benar kaya" gumam Friska masih memperhatikan sekeliling ruangan itu


Setelah mengganti bajunya dengan dress rumahan, Friska lalu keluar. Dia berjalan ke arah ranjang dan melihat Vano yang sedang tidur


Friska ikut membaringkan tubuhnya di samping Vano dan memeluk tubuh kecil sang anak


Tak lama kemudian dia merasakan ranjangnya bergerak, ternyata Ardigo duduk di tepi ranjang tepat di sebelahnya


"Mas"


"Iya"


"Kamu tidak ke kantor? semenjak di rumah sakit kamu terus mendampingiku, bagaimana dengan kantormu?"


"Kamu tenang saja, kita tidak akan jatuh miskin" ujar Ardigo terkekeh


"Aku serius, mas. Aku tidak lupa kalau kamu adalah tipe orang yang gila kerja. Tapi justru sekarang kamu sudah jarang ke kantor"


"Kamu lebih penting dari segalanya. Untuk urusan kantor aku sudah menyerahkannya kepada Andre. Dia sangat bisa diandalkan"


"Kasihan kak Andre, pekerjaannya jadi semakin banyak"


"Tenang saja, aku memberinya bonus yang besar atas pekerjaan tambahannya"


"Sebaiknya nanti kamu kasih kak Andre libur beberapa hari, mas. Dia pasti butuh refreshing"


"Iya sayang, iyaa"


Ardigo tersenyum geli melihat ekspresi Friska, dia selalu tergelitik melihat wajah sang istri setiap kali dia memanggil dengan sebutan 'sayang'


"Sebaiknya kamu istirahat. Aku mau ke bawah dulu memeriksa email perusahaan"


Ardigo mendaratkan kecupan di dahi Friska sebelum akhirnya keluar dari kamar


Friska termangu untuk beberapa saat


Apa mas Digo yang ibu maksud? tanya batin Friska kembali teringat dengan ucapan sang ibu di alam mimpinya.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2