My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Tentang Sarah


__ADS_3

Friska juga tanpa sadar ikut menjatuhkan air mata di pipi mulus yang kini terlihat sedikit lebih berisi.


"Aku juga minta maaf ma, kalau sampai sekarang aku masih memiliki banyak kekurangan. Tapi aku janji akan mencintai mereka dengan sepenuh hati dan semampuku" ujar Friska


"Sekarang mama lebih tenang meninggalkan mereka disini"


"Terimakasih untuk kepercayaan mama"


Ayu langsung menarik Friska ke dalam pelukannya


"Friska"


"Iya ma?"


"Mama harap kamu tidak menaruh rasa cemburu atau tidak suka kepada Sarah. Meskipun mama yakin kamu bukan orang yang seperti itu. Dulu Sarah memang istrinya Ardigo, tapi sekarang dia hanya menjadi bagian dari masa lalu Ardigo. Jadi tolong jangan sampai Sarah menjadi masalah di kehidupan rumah tangga kalian nantinya. Dia sudah tenang disana. Dan sekarang hanya kamu dan Ardigo yang kami punya sebagai pengganti Sarah"


Friska merasa sedikit tertampar dengan ucapan bu Ayu, karena nyatanya perasaan cemburu itu sempat hadir di hatinya meskipun hanya sedikit. Friska sangat terharu karena bu Ayu justru terlihat menyayanginya. Sangat jauh dari perkiraannya sebelumnya


"Iya, ma" balas Friska masih dengan air mata di pipinya


Bu Ayu menyeka air mata di pipi Friska


"Maaf ya, mama membuatmu menangis. Dia pasti ikut sedih" ujar Ayu sambil mengelus perut Friska yang sudah mulai terlihat


"Tidak apa-apa, ma. Dia tau ibunya menangis bukan karena sedih, tapi justru terharu "


Ayu tersenyum lebar


"Dia juga cucu mama. Sudah berapa umurnya sekarang?"


"Sudah 4 bulan ma"


"Pasti Vano sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya" kekeh bu Ayu


"Dia bahkan setiap hari bertanya kapan adiknya akan lahir" Friska tertawa pelan mengingat sang anak

__ADS_1


"Sehat-sehat di dalam sana ya, sayang. Nenek juga sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Jangan menyulitkan ibumu, ya" Ayu sedikit merundukkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan perut Friska


"Iya nenek" ujar Friska seolah mewakili sang anak. Mereka lalu tertawa bersama


Seharian mereka habiskan di kediaman Ayu dan Alzi. Hingga tibalah saatnya mereka harus pamit pulang


"Kenapa mama dan papa hanya dua hari disini? tidak bisakah lebih lama lagi?" tanya Ardigo karena besok Ayu dan Alzi sudah kembali lagi ke Jerman


"Kami juga maunya begitu, nak. Tapi pekerjaan papa disana tidak bisa ditinggalkan terlalu lama" jawab Alzi tidak bersemangat. Karena sejujurnya dia pun sangat ingin berlama-lama dengan Vano


"Nanti kalau pekerjaan papa sudah tidak terlalu banyak, kami akan kembali lagi. Atau mungkin kami akan menunggu kalian disana" ujar Ayu tersenyum


"Baiklah ma, mungkin nanti saat Friska sudah melahirkan kami akan kesana"


Akhirnya dengan berat hati keluarga Ardigo pun meninggalkan kediaman mewah milik Alzi dan Ayu


Di apartemen,


Friska langsung bersih-bersih dan bersiap untuk istirahat. Dia tidak berniat untuk langsung tidur, hanya ingin merebahkan tubuhnya karena waktu masih menunjukkan pukul 8 malam. Mereka sebelumnya sudah makan malam di rumah Ayu dan Alzi


"tidak mas"


"Friska!" panggil Ardigo setelah terdiam beberapa saat


"Iya mas?"


"Kamu tidak ingin sesuatu?"


"Maksudnya?"


"Maksudku apakah kau tidak mengidamkan sesuatu? biasanya ibu hamil akan menginginkan hal atau makanan tertentu. Sampai saat ini kau belum pernah meminta apapun kepadaku. Apa kau menahannya?" tanya Ardigo serius


Friska hanya tersenyum sekilas mendengar ucapan Ardigo


"Tidak mas, aku tidak meminta sesuatu kepadamu karena memang aku belum menginginkan apapun untuk saat ini. Dia anak yang baik, dia tidak ingin merepotkanmu"

__ADS_1


"Tidak bisa seperti itu. Justru aku ingin kalian merepotkanku"


Friska hanya terkekeh mendengar jawaban Ardigo. Dia kemudian teringat sesuatu


"Mas"


"Iya"


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tanyakan saja, sayang"


"Mba Sarah itu orang yang seperti apa?" tanya Friska hati-hati takut membuat Ardigo merasa tidak nyaman


Ardigo terdiam sebentar tidak langsung menjawab pertanyaan Friska


"Kau ingin mendengar tentangnya?" tanya Ardigo


"Tentu, kalau kau tidak keberatan"


Ardigo memperbaiki posisinya agar lebih nyaman


"Seperti yang sudah kau tau bahwa Sarah adalah anak satu-satunya papa Alzi dan mama Ayu. Dulu perusahaan mereka pernah menjalin kerjasama dengan Fabiyan's Corp. Aku pertama kali bertemu dengannya di acara makan malam antara dua keluarga untuk merayakan kesuksesan proyek yang dijalankan waktu itu. Saat pertama kali melihatnya aku tertarik dengan kesederhanaannya dan keluarganya. Jika biasanya orangtua yang lain akan menawarkan perjodohan untuk memperkuat perusahaan, tapi mereka sangat berbeda. Mereka hanya sebatas memperkenalkan Sarah sebagai putri mereka. Begitu juga Sarah, dia terlihat tidak peduli dan tertarik denganku. Tidak ada tatapan menggoda dari matanya"


Mba Sarah sangatlah berkelas. Batin Friska


"Hingga pada akhirnya akulah yang meminta untuk dijodohkan dengannya. Dan aku sangat terkejut ternyata dia mau menerimaku dan mengatakan sudah tertarik juga kepadaku saat pertemuan waktu itu. Padahal aku yakin dia hanya sekali melirik ke arahku ketika bersalaman. Lalu akhirnya kami menikah dan Sarah mengandung Vano. Tapi Sarah harus kehilangan nyawanya saat melahirkan. Jika kau bertanya bagaimana sifat Sarah, dia hampir mirip denganmu. Dia juga wanita yang penyayang, tulus, dan sederhana. Hanya saja kalian memiliki warna yang berbeda. Kalian sempurna dengan warna kalian masing-masing" Ardigo mengakhiri ceritanya dan melihat ekspresi Friska


"Sebelumnya aku minta maaf tidak pernah menceritakan apapun tentang Sarah. Aku hanya tidak ingin membuatmu kurang nyaman" jujur Ardigo


"Aku tidak masalah mas. Bagaimanapun aku juga ingin tau tentang masa lalu suamiku. Bukan untuk mempermasalahkannya, tapi untuk lebih mengetahui kisah kamu sebelum bertemu aku"


"Syukurlah, tolong jangan berpikir yang macam-macam ya sayang. Saat ini hanya ada kamu dalam hidupku" ujar Ardigo sambil memeluk tubuh sang istri


Sekarang dia merasa lebih lega karena sudah menceritakan tentang Sarah kepada Friska.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2