My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Pengakuan


__ADS_3

Tak terasa 3 minggu sudah Friska dan teman-temannya melaksanakan kegiatan magang di Fabiyan's Corp. Itu artinya hanya tersisa lebih kurang satu minggu lagi waktu mereka disana.


Pagi ini seperti biasa Friska mempersiapkan semua kebutuhan keluarga kecilnya. Mulai dari sarapan hingga bekal untuk sang anak. Setelah semua selesai mereka berangkat bersama dengan mengantarkan Vano terlebih dahulu


Saat tiba di sekolah, ternyata mereka tiba bersamaan dengan Cecil. Kebetulan bocah cantik itu diantar langsung oleh kedua orangtuanya, sama seperti Vano.


"Mbak Melly!! apa kabar? aku sudah jarang melihat mbak menjemput Cecil" sapa Friska riang ketika mendapati sahabat barunya itu


"Ya beginilah Fris, di kehamilan kedua ini aku merasa tubuhku lebih lemah, tidak seperti waktu hamil Cecil dulu" kekeh Melly, dia juga terlihat senang bisa bertemu lagi dengan Friska


"Itu karena bawaan kehamilan ya, mbak?"


"Iya Fris, setiap kehamilan pasti memiliki bawaan yang berbeda-beda. Nanti kamu juga akan merasakannya sendiri" ujar Melly tersenyum hangat


Friska seketika menjadi salah tingkah karena mereka berbicara di hadapan Ardigo dan suami Melly. Sedangkan kedua pria dewasa itu hanya diam memperhatikan istri mereka


"Ini papanya Vano?" tanya Melly ramah


"Oh iya mbak, perkenalkan ini mas Ardigo papanya Vano" ujar Friska memperkenalkan Ardigo


Dan mereka pun saling berkenalan, Melly juga memperkenalkan sang suami. Setelah mengantarkan anak-anak masuk ke sekolah, mereka pun saling berpamitan untuk memulai aktivitas pagi ini.


Saat tiba di kantor Friska langsung menuju ruangannya dan bersiap untuk melakukan pekerjaan hari ini. Saat sedang fokus mengetik sesuatu di komputernya, tiba-tiba seorang wanita berdiri dengan angkuh di depan mejanya. Wanita itu adalah Vania, karyawan dari divisi pemasaran


Ishh dia lagi. Friska menatap malas wanita yang sedang melipat tangan di hadapannya itu. Belakangan ini wanita itu semakin menunjukkan ketidaksukaannya kepada Friska, karena dia sering melihat interaksi antara Friska dengan Ardigo dan Andre. Dia bahkan pernah memergoki Friska turun dari mobil Ardigo


Vania merasa Friska adalah bocah ingusan yang mencoba merayu kedua orang penting di perusahaan ini. Vania memang menyimpan rasa kepada Ardigo, meskipun dia tau bahwa pria tampan itu sudah memiliki istri. Dan kehadiran Friska membuatnya merasa terancam. Dia merasa iri sekaligus benci melihat Friska


Bahkan Vania juga menghasut dan memfitnah Friska hingga membuat karyawan yang lain kurang menyukainya. Hal itu tentu saja disadari oleh Friska, namun dia tidak terlalu memikirkan dan membiarkannya begitu saja. Belakangan ini Vania setiap hari menyuruh Friska untuk melakukan ini itu dan berujung membuat gadis itu kesal, namun tetap ia lakukan walaupun dengan terpaksa.


Tasya dan Naura sudah sering membela Friska untuk melawan Vania, mereka bahkan hampir saja membeberkan status Friska yang sebenarnya. Semenjak mengetahui bahwa Friska adalah istri Ardigo, Tasya dan Naura selalu kesal kepada orang-orang yang berani memerintah Friska seenaknya. Friska selalu mewanti-wanti kedua sahabatnya itu agar tidak membongkar statusnya. Karena tidak lucu jika sampai mereka mengatakan bahwa Friska adalah istri Ardigo sedangkan pria itu tidak mengakuinya.


"Ada apa lagi buk?" tanya Friska


"Begitu cara kamu berbicara kepada karyawan tetap di kantor ini? dasar tidak sopan" omel Vania

__ADS_1


"To the point saja, ibuk ingin menyuruh saya apalagi? bukankah memerintah saya adalah hobi anda belakangan ini?"


"Kurang ajar ya kamu! selain penggoda ternyata kamu juga perempuan yang tidak tau sopan santun" maki Vania sengaja mengeraskan suaranya


"Saya diajarkan sopan santun kepada orang yang pantas diperlakukan dengan sopan" ujar Friska tegas


"Heh! saya bisa laporkan perbuatan kamu yang tidak sopan ini ke pihak kampus supaya mereka memberikan sanksi kepada kamu"


Perdebatan itu terus terjadi, Tasya dan Naura mulai mendekati Friska untuk membantunya


"Buk Vania tidak bisa memfitnah teman kami begitu saja. Kenapa anda mengatakan kalau Friska wanita penggoda? apa dia menggoda suami atau pacar anda?" ujar Tasya


"Kalian tidak perlu ikut campur. Kalian juga pasti sama saja dengan dia, kenapa tahun ini Fabiyan's Corp menerima anak magang seperti kalian ini hah? bocah ingusan yang kurang ajar dan suka menggoda pria kaya!" Vania semakin mengeraskan suaranya sehingga para karyawan yang lain sudah mulai berdatangan dan mengerumuni mereka


"Jaga ucapanmu! jangan berbicara seenaknya kalau tidak tau apapun. Asal kamu tau kalau dia itu.." ucapan Tasya langsung dihentikan oleh Friska. Dia memegang erat lengan Tasya sambil menggelengkan kepalanya pelan pertanda tidak ingin Tasya melanjutkan kata-katanya


Tasya yang sudah emosi hampir saja mengatakan semuanya. Namun dia sudah berjanji kepada Friska untuk menyembunyikan itu semua meskipun rasa tidak terima bercokol di dalam hatinya. Dia tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu


"Dia apa? dia wanita penggoda? aku sudah tau! heii kalian semua dengar, dia ini adalah bocah ingusan yang berusaha mendekati CEO kita. Aku pernah melihatnya turun dari mobil pak Ardigo. Dia pasti berusaha merayu pak Ardigo dengan tampang polosnya itu. Dasar tidak tau malu!"


Vania tiba-tiba meraih gelas dan menyiramkan air ke wajah Friska. Sontak semuanya terkejut tidak terkecuali Friska. Selama hidupnya dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Para karyawan sudah mulai berbisik-bisik menyayangkan perbuatan Friska


"Apakah itu benar Friska?"


"Wahh aku tidak menyangka dia begitu"


"Kamu itu masih muda Fris, jangan melakukan hal yang memalukan"


"Tampangnya sangat berbeda dengan kelakuannya"


dan masih banyak lagi ocehan-ocehan yang keluar dari para karyawan yang membuat Friska hampir menangis


"Harusnya kamu sadar posisimu disini. Jangan memimpikan sesuatu yang terlalu tinggi. Aku beri tau padamu, pak Ardigo itu sudah menikah! jadi jangan menjadi wanita penggoda..-"


"CUKUPPPP!!" sebuah suara menghentikan ucapan Vania

__ADS_1


Mereka semua menoleh ke belakang untuk melihat sang pemilik suara, dan seketika semuanya terkejut. Suara itu berasal dari seorang pria yang saat ini terlihat sangat mengerikan dengan wajah yang merah padam serta buku-buku jari yang memutih menandakan betapa emosinya dia


"Kalian semua kurang ajar!!" teriak Ardigo membuat semuanya menjadi ketakutan


"Apa yang kalian lakukan kepadanya?! Berani kalian memperlakukannya seperti itu saat kalian tau siapa dia hah?!" Ardigo benar-benar marah. Dia tidak pernah semengerikan ini sebelumnya


Friska tampak ketakutan melihat Ardigo yang seperti kesetanan. Dia juga tidak tau apa yang akan dilakukan pria itu disini


"Berani sekali kalian berbuat kurang ajar kepada istri dari CEO perusahaan ini!!"


Perkataan Ardigo bagaikan petir di siang bolong, mengejutkan semua karyawan terutama Vania


Ardigo berjalan maju hingga ke tengah kerumunan


"Selama ini saya menutupi identitas istri saya karena menuruti keinginanya. Dia tidak ingin kalian mengenalnya sebagai istri dari pemilik perusahaan ini! dia hanya ingin melaksanakan magang disini dan dikenal sebatas mahasiswa magang. Dia tidak seperti istri-istri CEO di luar sana yang gila hormat. Tapi kalian dengan kurang ajarnya malah menyakiti istri saya, seolah menunjukkan sifat asli kalian yang suka berbuat semaunya kepada orang-orang yang tidak berjabatan"


Friska sangat terkejut mendengar pengakuan Ardigo. Ternyata pria itu datang untuk membelanya bahkan mengakuinya sebagai istri di hadapan seluruh karyawan Fabiyan's Corp. Perasaan terharu tidak bisa dia sembunyikan, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Bagaimana dia bisa tau? jadi selama ini dia tidak bermaksud untuk tidak mengakuiku? batin Friska


"Kalian fikir saya tidak tau apa saja yang kalian lakukan kepada istri saya hah?! saya diam bukan berarti saya tidak memantau kalian. Tuduhan kalian itu semuanya omong kosong! memangnya kenapa kalau dia merayu saya? itu haknya, saya suaminya. Apa urusan kalian? terutama kamu! apa urusanmu kalau dia merayu saya? apa kamu merasa dirugikan?" bentak Ardigo kepada Vania


"Ma-maaf pak saya tidak tau" ujar Vania ketakutan


"Makanya jangan mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan jelas!"


"Kalian sama saja menggali kuburan sendiri. Bersiaplah kepada kalian yang merasa pernah bersikap kurang ajar kepada istri saya, kalian akan tamat" ancam Ardigo telak


"Terutama kamu! mulai hari ini kamu saya pecat!" ucap Ardigo sambil menunjuk Vania dengan tatapan kebencian


Ardigo lalu mendekati Friska dan menatap wajah istrinya yang sudah basah oleh air yang tadi disiramkan Vania. Ada rasa iba yang sangat kentara di hatinya. Dia lalu meraih jemari Friska dan menggenggamnya


"Ayo" ucapnya lembut lalu membawa Friska pergi. Friska hanya menunduk dan mengikuti kemana Ardigo membawanya. Sedangkan Vania sudah mulai menangis menyesali perbuatannya. Bukan hanya Vania, tapi semua karyawan mulai was-was dengan ancaman Ardigo. Bahkan office boy dan office girl yang pernah dibantu Friska juga mulai khawatir. Mereka tidak menyangka ternyata selama ini mereka sering meminta tolong kepada nyoya besar perusahaan ini.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2