My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Di malam hari


Friska terlihat sedang mengetikkan pesan di ponselnya. Saat ini dia tengah berbalas pesan dengan seseorang. Setelah selesai dia lalu meletakkan kembali benda pipih itu ke atas nakas bertepatan dengan Ardigo yang keluar dari kamar mandi


"Kamu belum tidur?" tanya Ardigo sambil menaiki kasur


"Ini aku mau tidur" balas Friska sambil membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sebatas dada


Ardigo tersenyum tipis


"Oh ternyata kamu menungguku"


"Percaya diri sekali kamu, mas" elak Friska sambil memeluk gulingnya bersiap untuk tidur


"Kenapa harus memeluk ini jika disini ada aku yang lebih enak untuk dipeluk" Ardigo lalu menyingkirkan guling tersebut


"Begini lebih baik" ucap pria itu setelah berbaring di samping Friska dan melingkarkan lengan wanita itu di pinggangnya


Friska hanya diam sambil tetap memeluk Ardigo


"Mas" panggil Friska setelah diam beberapa lama


"Hmm"


"Besok aku ingin mengunjungi kafe kak Rivan. Aku merindukannya dan juga mereka semua" ujar Friska pelan


Ardigo terdiam sejenak dan tidak langsung menjawab


"Bolehkah?" tanya Friska lagi karena Ardigo hanya diam


"Boleh, besok aku akan mengantarmu" balas Ardigo


"Tapi tolong temani aku disana sebentar ya, karena aku tidak akan lama. Aku hanya ingin menyapa mereka saja"


"Baiklah"


Mereka lalu tidur dengan posisi saling berpelukan


Keesokan harinya,


"Kami berangkat dulu, ya. Nanti siang aku akan menjemputmu" pamit Ardigo


"Tidak usah mas, nanti aku minta tolong diantarkan pak Danang saja"


"Baiklah kalau begitu. Nanti tolong kabari aku kalau kamu sudah di kampus" ada sedikit rasa trauma yang dirasakan Ardigo saat Friska mengatakan akan ke kampus pagi ini untuk bimbingan skripsinya


"Iya mas, ini sudah yang ketiga kali kamu mengatakannya" kekeh Friska


Ardigo hanya tersenyum lalu mendaratkan kecupan di dahi sang istri sebelum berangkat


"Hati-hati ya"

__ADS_1


Setelah melepas kepergian kedua lelakinya, Friska lalu menghampiri bu Siti yang sedang membersihkan apartemen


"Apa yang bisa saya bantu, bu?" tanya Friska


"Tidak usah nyonya. Ini sudah hampir selesai, sebaiknya nyonya bersiap-siap saja untuk ke kampus"


"Benar ibu tidak perlu saya bantu?"


"Benar nyonya"


"Baiklah, saya siap-siap dulu ya bu" Friska lalu bergegas menuju kamarnya


"Mas, aku sudah di kampus"


Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh Friska kepada Ardigo sambil berjalan menuju ruangan dosen pembimbingnya


"Oke" balas Ardigo


Friska lalu menyimpan ponselnya dan mengetuk pintu ruangan sang dosen. Setelah dipersilahkan Friska lalu memasuki ruangan yang cukup luas tersebut.


Siang hari di Follabe caffe and Resto


Friska turun dari mobil dan mendapati pria tampan yang berstatus sebagai suaminya itu sedang berdiri sambil bersandar pada mobilnya


"Kamu sudah lama tiba, mas? kenapa tidak langsung masuk?" tanya Friska


"Sekitar 10 menit yang lalu. Aku malas masuk sendirian" elak Ardigo


"Baiklah, ayo masuk"


"Kamu belum makan siang kan, mas?"


"Belum sayang"


"Tunggu disini ya, aku mau ke belakang dulu sekalian memesankan makanan untukmu" ujar Friska meninggalkan Ardigo sendirian


Friska menyapa seluruh temannya lalu mengobrol sebentar dan saling melempar candaan


"Kamu bersama pak Ardigo?" tanya Tasya


"Iya"


"Oh iya kak Rivan dimana, Sya?" tanya Friska kepada sang sahabat yang sedang menyusun pesanan


"Di ruangannya, sepertinya dia sudah menunggumu. Dari tadi dia terus bertanya apakah kau sudah sampai atau belum" kekeh Tasya


"Baiklah aku mau menemuinya dulu" pamit Friska


Tok tok tok


Friska mengetuk pintu ruangan Rivan

__ADS_1


"Masuk!" mendengar suara sautan Rivan, Friska langsung membuka pintu tersebut


Rivan tak dapat menahan senyumnya saat melihat sosok cantik yang tengah tersenyum ke arahnya itu. Seseorang yang sudah ditunggunya sedaritadi. Dia sangat merindukan Friska karena sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu


"Kau sudah sampai" ujar Rivan sambil mendekat


"Sudah" ujar Friska tertawa sambil menggerakkan tangannya dari kepala hingga ke bawah memberi tanda bawah dia benar-benar sudah ada disini


Rivan hanya terkekeh


"Kakak sudah makan?"


"Belum, aku sengaja menunggumu"


Friska tersenyum sambil mengangguk


"Baiklah, ayo makan bersama" ajak Friska


Mereka lalu berjalan beriringan, Friska membawa Rivan menuju sebuah meja. Namun seketika senyumnya memudar saat menyadari seseorang yang tengah duduk disana


"Kamu bersama suamimu?" tanya Rivan mencoba senormal mungkin


Dia pikir Friska datang sendirian karena tadi malam wanita itu mengabarinya dan mengatakan akan datang hari ini. Namun justru ada pria gagah yang sudah menunggu di meja itu


"Iya kak, aku mengajak mas Ardigo untuk sekalian makan siang disini" balas Friska


Tanpa mereka sadari Ardigo pun merasa sedikit canggung saat tidak sengaja bertatap mata dengan Rivan


Tak banyak percakapan yang terjadi diantara ketiganya. Terutama kedua pria tampan itu, mereka bahkan tidak saling menatap satu sama lain. Dari tempat duduknya, Friska dapat merasakan dengan jelas situasi canggung di meja itu. Kedua pria itu hanya berbicara kepada Friska saja, alih-alih berbicara satu sama lain


Tak lama kemudian makanan yang tadi dipesan oleh Friska telah tiba


"Makasih Sya" ujar Friska kepada Tasya yang sedang menatap Ardigo dan Rivan bergantian. Dia tentu saja tau bagaimana hubungan keduanya saat terakhir kali bertemu


"Iya sama-sama, silahkan dimakan" ujar Tasya sopan


"Kau betah berada disini? Situasinya sangat tidak enak" bisik Tasya


Friska hanya tersenyum miring


"Tenang saja" bisik Friska


"Aku ke belakang dulu" pamit Tasya tak ingin berlama-lama berada di situasi aneh itu


Mereka makan dalam diam. Hanya sesekali berbicara yang tentu saja ditujukan kepada Friska. Setelah selesai makan, kini mereka sedang menikmati minuman masing-masing


"Mas, kak, aku ke kamar mandi sebentar ya" ujar Friska segera bangkit dan meninggalkan kedua pria itu


Sepeninggal Friska aura kecanggungan semakin menjadi di antara mereka. Inilah yang membuat Ardigo sedikit berat menyetujui permintaan Friska tadi malam. Dia takut akan terjebak dalam situasi seperti ini


Mereka masih saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada tatapan kebencian dari keduanya, hanya ada tatapan canggung dan perasaan tidak enak. Cukup lama mereka saling diam sambil menunggu Friska kembali, namun wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


"Saya minta maaf / Aku minta maaf"


To be continued.


__ADS_2