
Bonus lebaran author double up nih, semoga readers sekalian suka ya :)
Friska gugup dan cemas melihat Tasya yang berjalan ke arahnya dengan wajah bertanya-tanya
"Ada apa ini?" tanya Tasya bingung melihat Ardigo yang menggenggam tangan Friska
"Saya ingin berbicara dengannya. Ayo!" ajak Ardigo kembali menarik tangan Friska
"Aku tidak mau!"
"Jangan menguji kesabaran saya Friska" Ardigo kembali mencoba menarik tangan Friska, namun dicegah oleh Tasya
"Hentikan pak! kenapa anda memaksa teman saya? Memangnya apa yang ingin bapak bicarakan dengannya?"
"Bukan urusan kamu"
"Tidak bisa begitu pak. Bapak tidak bisa memaksa teman saya seperti ini, walaupun bapak pemilik kantor ini tapi bapak tidak bisa seenaknya ingin berbuat macam-macam kepada teman saya. Asal bapak tau teman saya ini sudah menikah. Walaupun suaminya kurang ajar dan menyebalkan, tetap saja dia suaminya" Friska semakin pucat mendengar ucapan Tasya yang tanpa beban. Sedangkan Tasya sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan sang sahabat dari CEO genit itu
Ardigo melebarkan matanya mendengar penjelasan Tasya. Itu berarti dialah orang yang dimaksud oleh gadis itu
"Kurang ajar dan menyebalkan?" ulang Ardigo
"Iya. Tapi tetap saja teman saya ini adalah wanita yang bersuami dan saya akan melindunginya, jadi tolong lepaskan dia"
"Saya tidak mau. Ayo Friska"
"Saya tidak akan mengizinkan bapak membawa teman saya!" Tasya memberanikan diri untuk menentang sang CEO Fabiyan's Corp hanya demi membela Friska
"Saya tidak butuh izin dari kamu untuk berbicara dengan istri saya sendiri" pungkas Ardigo
Tasya sangat terkejut dan tiba-tiba saja otaknya blank mendengar pengakuan Ardigo. Bukan hanya Tasya, Friska pun sama terkejutnya. Dia tidak menyangka Ardigo akan mengakuinya sebagai istri
"A-apa?" tanya Tasya kaget sekaligus tidak percaya
"Ayo" Ardigo kembali menarik tangan Friska dengan lembut dan membawanya menuju lift khusus CEO
Friska kembali mencoba menarik tangannya dan menoleh ke belakang seakan meminta pertolongan dari Tasya. Namun gadis itu hanya mematung dengan pikiran yang sangat syok. Jika yang dikatakan Ardigo itu benar, maka dia tidak punya hak untuk menahan sang sahabat. Beruntung tidak ada karyawan yang melihat mereka
Di dalam lift, Ardigo masih betah menggenggam tangan Friska dengan erat seolah tidak ingin melepaskan. Sedari tadi gadis itu sudah berusaha untuk menarik tangannya, namun gengggaman Ardigo tidak mudah untuk dilepaskan
"Lepaskan tanganku! kamu tidak jijik menggenggam tangan wanita yang rela melakukan apapun demi uang?" sindir Friska, Ardigo hanya bergeming. Namun sejujurnya di dalam hati dia merasa sedikit tertampar dengan ucapan Friska. Perasaan bersalah itu semakin kentara
"Saya akan melepaskan kamu setelah kita selesai berbicara"
__ADS_1
Ardigo membawa Friska ke ruangannya. Dia duduk di salah satu sofa, sedangkan Friska enggan untuk duduk dan memilih berdiri sambil memandang ke arah lain. Ardigo mencoba memaklumi sikap Friska, karena memang di usianya sekarang masih ada sifat kekanakan yang kadang muncul. Meskipun Friska termasuk gadis yang berpola pikir dewasa, namun tetap saja sifat itu masih ada pada dirinya
"Ingin berbicara apa? cepatlah" tanya Friska tanpa memandang Ardigo
"Apakah begitu cara berbicara yang benar kepada suamimu?" Friska sedikit tersentak mendengar ucapan Ardigo
Sejak kapan dia membawa-bawa status suami istri? batin Friska heran
Friska hanya diam tanpa membalas teguran Ardigo. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya tertarik dan jatuh tepat di pangkuan Ardigo. Friska sangat terkejut karena dia tidak pernah berada di posisi seintim ini dengan Ardigo bahkan pria manapun. Dengan cepat dia berusaha bangkit namun tetap saja tidak berhasil karena pria itu sudah mengunci tubuhnya dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Friska. Gadis itu mulai kalang kabut karena wajah Ardigo sangat dekat dengan wajahnya dan tubuh mereka saling menempel karena Ardigo memeluknya dengan erat. Pelukan pertama diantara mereka, dan kesan pertama yang dirasakan Ardigo adalah hangat dan nyaman
"Lepaskan aku mas! tadi katanya kamu mau bicara"
"Iya ini saya mau berbicara"
"Yasudah lepaskan aku dulu"
"Tidak"
"Kita akan berbicara tapi tidak dengan posisi seperti ini"
"Saya beri tau pada kamu kalau pasangan suami istri ingin berbicara serius posisinya memang seperti ini" ujar Ardigo
"Aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya"
"Karena kamu sudah pernah menikah sebelumnya kamu pikir bisa membohongiku? aku tidak percaya!"
"Terserah kamu. Tapi saya tidak akan melepaskan kamu sebelum masalah kita selesai"
"Aku tidak merasa punya masalah denganmu" ujar Friska menatap lurus ke depan, karena posisinya menyamping di pangkuan Ardigo
"Iya, tapi saya yang punya salah kepada kamu. Friska, saya minta maaf untuk kejadian semalam. Saya minta maaf untuk semua perkataan saya yang menyakiti hati kamu"
Friska terkejut mendengar ucapan Ardigo, dia sontak menatap wajah Ardigo yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Dia menatap lamat-lamat ke dalam mata Ardigo, dan memang mata itu memancarkan ketulusan sesuai dengan yang terucap dari bibir pria itu
"Saya minta maaf sudah salah paham dan sudah membentak kamu. Saya hanya khawatir dengan kamu, saya khawatir kalau sampai terjadi sesuatu kepada kamu. Pikiran saya terlalu kalut dan saat melihat kamu diantar pulang oleh laki-laki lain saya tidak bisa mengontrol emosi saya. Saya marah karena kamu tidak mengabari saya dan justru pulang bersama pria lain. Kamu itu istri saya dan sudah seharusnya saya tau kemanapun kamu pergi. Saya minta maaf untuk semua perkataan saya dan tuduhan-tuduhan saya tadi malam" Ardigo menatap dalam mata Friska. Gadis itu bisa merasakan ketulusan dan kebenaran dari ucapan sang suami
Friska hanya diam mencerna ucapan Ardigo. Tidak pernah terbayangkan olehnya Ardigo berbicara seperti itu, seolah mereka adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya. Begitupun Ardigo, dia juga tidak menyangka bisa mengutarakan seluruh isi hatinya. Tadinya dia hanya berniat meminta maaf saja, namun dia malah merasa nyaman untuk mengeluarkan semua isi hatinya tanpa beban di hadapan sang istri. Pelukannya di pinggang Friska pun belum mengendur sedikitpun
"Maafkan saya ya?"
Friska merasakan perasaan hangat mengalir ke hatinya. Pengakuan Ardigo mampu mengetuk pintu hatinya dan robohlah sudah pertahanan Friska. Ketulusan Ardigo membuatnya tidak bisa mengacuhkan pria itu
"Harusnya tadi malam kamu mau mendengarkan penjelasanku dulu mas. Tapi kamu malah langsung menuduhku yang tidak-tidak. Kalau orang lain yang mengataiku begitu mungkin aku tidak semarah dan sesedih itu, tapi kamu suamiku sendiri. Aku sangat marah kepada kamu" air mata Friska jatuh begitu saja mengaliri pipi mulusnya
__ADS_1
"Tolong maafkan saya ya" ujar Ardigo lembut lalu menyeka air mata sang istri
Friska hanya menganggukkan kepalanya. Ardigo langsung menarik tubuh Friska ke dalam dekapannya dan mengelus pelan punggungnya. Tanpa sadar Friska juga mengalungkan tangannya di leher Ardigo. Sudah sangat lama dia tidak lagi merasakan pelukan hangat seperti ini. Bolehkan Friska mengakui kalau dia nyaman berada di pelukan Ardigo?
"Terimakasih" ucap Ardigo pelan
Setelah berpelukan beberapa saat, Friska akhirnya menarik tubuhnya karena sepertinya kesadarannya sudah kembali.
"Aku juga minta maaf mas. Harusnya kemarin aku menghubungi kamu, tapi aku pikir kamu tidak akan marah dan tidak akan khawatir karena aku tidak membawa Vano"
"Yang saya khawatirkan bukan hanya Vano, tapi kamu juga. Jadi tolong kabari saya kemanapun kamu pergi"
"Dan maaf juga karena sudah menamparmu tadi malam" ujar Friska sambil menunduk
"Tidak apa-apa, tapi tamparanmu lumayan kuat juga" canda Ardigo
"Maaf"
"Iya. Sekarang masalah kita sudah selesai ya? jadi jangan menghindari saya lagi. Kita sudah menikah, dan di dalam rumah tangga itu masalah diselesaikan bukan dihindari"
Friska hanya terkekeh pelan membuat Ardigo bingung
"Kenapa kamu tertawa?"
"Aku hanya merasa lucu saja, pernikahan kita hanya satu tahun tapi kamu sudah mengajariku sejauh itu"
Ardigo merasa tertampar dengan ucapan Friska. Bisa-bisanya gadis itu teringat dengan kesepakatan pernikahan mereka dan mengucapkan hal seperti itu dengan tanpa beban. Ardigo bahkan hampir lupa dengan kesepakatan yang dia buat sendiri.
"Pernikahan tetap saja pernikahan" balas Ardigo seadanya. Dia tidak tau harus merespon bagaimana
"Iya, baiklah. Bisa lepaskan aku sekarang? aku ingin kembali ke ruanganku"
Dengan berat hati Ardigo melepaskan tangannya dari pinggang Friska
"Aku keluar dulu mas" pamit Friska
"Iya. Nanti pulang dengan saya"
"Baiklah" setelah itu Friska keluar dari sana dan pintu pun kembali tertutup
Ardigo merasa lega yang teramat sangat. Selain karena masalahnya yang sudah selesai, dia juga merasa lega karena jiwa lelakinya yang sempat berontak dari tadi. Saat memangku Friska dia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya, namun dia kesampingkan karena ingin fokus dengan masalah mereka. Apalagi saat memeluk Friska, lekukan tubuh Friska terasa jelas di tubuhnya sehingga menciptakan sensasi panas
"Sial! kenapa pikiranku jadi kotor begini" gerutu Ardigo sambil menyugar rambutnya ke belakang. Namun yang paling dia syukuri adalah Friska mau memaafkannya dan berbaikan kembali dengannya. Benar kata Heri bahwa istrinya adalah orang yang bisa diajak berkomunikasi dengan baik, dia hanya butuh diberikan penjelasan dengan cara baik-baik. Pelajaran ini akan disimpan oleh Ardigo sampai kapanpun.
__ADS_1