My Perfect Stranger

My Perfect Stranger
Memastikan Sendiri


__ADS_3

Friska sedang membenahi ranjang sebelum tidur. Sedangkan Ardigo sedang berada di dalam kamar mandi. Setelah memastikan bantal dan selimut Ardigo telah terpasang rapi di posisinya, wanita hamil itu pun memindahkan ponsel mahal sang suami yang semula berada di atas ranjang ke atas nakas di samping ranjang


Tepat setelah meletakkan ponsel, tiba-tiba benda berbentuk persegi panjang itu pun bergetar dan menampilkan sebuah pesan di layar dengan lockscreen yang menampilkan wajah Friska dan Vano tersebut. Karena penasaran Friska pun membaca pesan tersebut tanpa membuka kunci layar


From : Anggia


Maaf ya Dig tadi aku membatalkan janji kita. Besok kita bertemu dimana? di BlueMoon mall lantai 3 saja ya? Aku akan menemuimu di jam makan siang. Oh iya rencana kita hanya tinggal sedikit lagi, pastikan istrimu tidak tau sampai saat ini.


Deg!


Sesuatu yang besar dan berat seakan menghimpit dada Friska. Pesan dari wanita yang bernama Anggia itu bagaikan peluru yang menembus langsung ke jantungnya.


"Apa maksud perempuan ini? siapa dia? dan rencana apa yang sedang mereka jalankan?" gumam Friska. Dengan mata berkaca-kaca serta tubuh yang masih gemetar dia meletakkan kembali ponsel milik sang suami ke atas nakas


"Jadi kamu pulang cepat hari ini karena wanita itu membatalkan janji kalian, mas? bukan karena merindukan kami?" bulir air mata tak terasa lolos begitu saja dari sepasang mata bening milik wanita cantik itu


Merasa tak sanggup jika harus melihat wajah Ardigo, Friska pun memilih merebahkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut. Dia mati-matian menahan tangisnya. Friska tidak ingin gegabah dan langsung marah-marah kepada sang suami. Dia ingin memastikan secara langsung besok wanita seperti apa yang akan ditemui sang suami


Di tengah kekalutannya, dia masih berharap bahwa dirinya hanya salah paham dengan pesan dari wanita tersebut. Dia berharap Ardigo tidak sedang berselingkuh darinya dan mencoba mempercayai sang suami. namun disaat bersamaan lagi-lagi pesan itu mengganggu pikirannya


Suara pintu kamar mandi yang terbuka menandakan Ardigo sudah selesai dengan urusannya di dalam sana. Dia mendapati sang istri sudah tertidur dengan posisi membelakang dan menutupkan selimut sampai ke atas kepala


"Yahh dia sudah tidur" helaan napas Ardigo menandakan sedikit kekecewaan di dalamnya. Dia berencana ingin mengobrol dan bermesraan dengan sang istri. Namun keinginan itu harus kembali dia kubur


Pria tampan itu kemudian memilih untuk ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Ditariknya selimut yang menutupi kepala Friska hingga hanya sebatas leher. Tangannya terulur untuk memeluk tubuh sang istri dari belakang sambil menghirup dalam-dalam aroma wangi rambut Friska yang selalu menjadi candu untuknya


"Aku benar-benar merindukanmu, sayang"


Ardigo ikut terlelap di samping Friska. Tanpa dia sadari kalau sang istri masih terjaga dengan berbagai macam pikiran melanda.


Besok aku akan memastikannya langsung. Tekat Friska kuat

__ADS_1


Keesokan harinya,


Ardigo sudah berangkat ke kantor bersamaan dengan Vano yang ke sekolah. meninggalkan Friska yang masih sibuk berperang dengan batinnya


Jika semalam dia bertekad sangat kuat untuk menyaksikan pertemuan Ardigo dan perempuan yang bernama Anggia, pagi ini tiba-tiba saja keraguan menghampirinya.


Kalau aku kesana sama saja aku tidak mempercayai mas Digo. Dia suamiku dan sudah seharusnya aku mempercayainya.


Tapi aku tidak bisa berdiam diri saja. Sebaik apapun dia tetap saja dia hanya seorang manusia biasa yang bisa saja khilaf. Bagaimana kalau ternyata mas Digo memang memiliki hubungan dengan perempuan itu?


Meraih ponselnya Friska pun mencari nama seseorang dan menghubunginya


"Halo Fris"


"Halo Sya. Kamu dimana?"


"Di rumah, ini mau siap-siap ke kafe. Ada apa?"


"What? eh buk, ingat itu perutmu sudah mau meledak. Nanti kau bisa kelelahan kalau berjalan jauh" Tasya dikagetkan pagi-pagi oleh permintaan aneh sang sahabat


"Karena itulah aku mengajakmu, supaya ada yang menjagaku. Ayolah, aku ingin jalan-jalan kesana sebelum nanti lahiran. Aku bosan di apartemen terus. Aku janji akan berjalan pelan-pelan"


Terdengar gadis cantik di seberang sana menghembuskan napas pelan


"Baiklah kalau begitu. Aku selalu lemah jika kau sudah membahas tentang lahiran" ujar Tasya pelan


Friska tersenyum di ujung sana, sudah dia tebak sang sabahat akan luluh dengan bujuk rayunya


"Baiklah nanti aku jemput di kafe ya"


"Iya terserahmu saja"

__ADS_1


"Terimakasih sahabatku"


Friska memutuskan sambungan telpon setelah sedikit menggoda Tasya


Di siang hari,


Friska dan Tasya tampak memasuki mall mewah dengan lambang BM yang terpasang kokoh di atas bangunannya


"Aku merindukan tempat ramai seperti ini" ujar Friska membuka suara


"Sebentar lagi dia akan lahir dan kau bisa kesini bersamanya juga" hibur Tasya, karena dia merasakan sedikit kesedihan dari nada bicara Friska


Mereka terus berjalan dengan perlahan memasuki bangunan itu semakin dalam. Friska berusaha bersikap senormal mungkin, tak ingin terlihat seperti sedang mencari seseorang. Namun matanya tetap saja bergerak lincah tanpa sepengetahuan Tasya


Hingga sampai ke lantai 3, mereka disuguhi dengan pemandangan orang yang berlalu lalang. Ada yang masih sibuk berburu belanjaan, dan ada juga yang saling bercengkerama di sofa yang tersedia di sudut-sudut ruangan


Kali ini mata Friska bergerak lebih jeli mengabsen satu persatu wajah yang dia temui disana. Namun tidak ada wajah seseorang yang dicintainya disana


"Kamu mau nyari apa, Fris?" tanya Tasya melihat ibu hamil itu hanya berdiri sambil menengok ke segala arah


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat pemandangan ini sampai puas sebelum nanti aku terkurung cukup lama pasca melahirkan" kekeh Friska


"Hei sudahlah, kau akan cepat pulih nanti. Percaya padaku"


Mereka kembali menyusuri lantai 3 tersebut sampai akhirnya Friska merasakan tubuh yang berada di sampingnya tiba-tiba menegang tanpa suara. Friska mengalihkan pandangannya ke Tasya dan mendapati wajah syok gadis itu yang sedang terpaku pada satu titik. Dengan takut-takut Friska pun mengikuti arah pandang Tasya


Deg!


"Mas Digo"


To be continued!

__ADS_1


__ADS_2