
Axel menggandeng tangan Mikha, menautkan kedua telapak tangan mereka. Beberapa pengunjung membicarakan pasangan ini, Mikha tersenyum manis pada semuanya.
Axel mengajak Mikha berkeliling, Fiona tak mau ketinggalan, dia berjalan di sisi kanan Axel menjelaskan Lukisan lukisan yang tergantung di dinding, sementara Mikha mengamati lukisan lukisan tersebut, dia tertarik pada sebuah lukisan bergambar seorang ibu mendorong sebuah gerobak yang di atasnya terdapat anak laki laki kecil, lukisan ini sepertinya pernah dia lihat sebelum nya.
Mikha memegang tekstur permukaannya, dia benar benar pernah merasakan hal yang sama tapi di mana dia sedikit sedikit lupa.
" Hei nona, jangan pegang pegang seperti itu dong, lukisan saya sangat sensitif, bagaimana kalau rusak." kata Fiona.
" Sayang, sepertinya aku pernah melihat lukisan ini, tapi aku lupa di mana ya." Kata Mikha sambil mengelus ujung hidungnya.
" Eh, mana mungkin, lukisan saya ini hanya ada satu di dunia saya tidak membuat duplikatnya, jangan ngasal kamu." Fiona tidak Terima dengan kata kata Mikha Yang pernah melihat lukisan tersebut.
Sebenarnya, apa yang di katakan Mikha itu benar, lukisan ini di beli dari seorang pelukis jalanan tua, di perancis, hati Fiona tidak tenang dan easy was, kalau ternyata memang benar Mikha pernah melihat lukisan itu
" Oh no, ini lukisan Oncle( paman dalam bahasa Perancis) north, di sudut kiri belakang ini ada sebuah kata bijak darinya kalau tidak salah katanya: On ne voit bien qu’avec le coeur.” (Hanya dengan hati, kita mampu melihat dengan baik.). Iya itu tulisannya, dia pernah melukis ku juga. " Imbuh Mikha.
" Oh ya, jawab Axel." dan beberapa pengunjung yang melihat semua itu mendekati mereka bahkan ingin membuktikan perkataan Mikha.
" itu tidak benar, ini benar benar lukisan saya." elak Fiona.
__ADS_1
" bagaimana kalau kita cek saja." ucap salah satu pengunjung. Axel mengambil lukisan tersebut dari tempat pajangan dan memeriksa di tempat yang Mikha sebutkan tadi, tapi tidak ada tulisan apapun, karena Fiona sudah menutup nya dengan kertas lain.
" Tidak ada tulisan apapun di disni, wanita ini hanya mengada ngada dan ingin menjatuhkan nama saya, lebih baik kita usir saja dia" kata Fiona dengan tenang, dan merasa di atas awan.
Para pengunjung mulai percaya dan mencibir Mikha. " Ah ternyata dia merasa iri dengan keberhasilan Nona Sita." Sindiran mulai terdengar dari beberapa pengunjung. Tapi Mikha masih kekeh dengan penilaiannya, kalau tulisan itu tidak ada, berarti Fiona plagiat lukisan north. " Mikha sudahlah, kamu jangan membuat kekacauan." bisik Axel.
Saat Axel ingin mengembalikan lukisan tersebut pada tempatnya, Mikha mencegahnya, dia melihat nada sesuatu yang aneh dengan tampilan belakang lukisan tersebut.
" Sayang tunggu! " cegah Mikha.
Axel menghentikan pergerakan nya, Mikha memeriksa ujung lukisan tersebut, ternyata kertas kanvasnya doble, Mikha mencari ujung kertas tersebut dan mulai menarik sedikit demi sedikit, untungnya tidak di lem full, kalau iya pasti rusak.
Mikha tidak mempedulikan Fiona yang berteriak memanggil penjaga, dia tetap membuang kertas terluar, barulah terlihat dengan jelas tulisan yang di sebut Mikha tadi di sudut belakang lukisan Oncle North.
" Oh My god OMG. " para pengunjung terbelalak kaget, mereka tidak percaya pelukis terkenal sekelas Fiona Arsita, bahkan sudah go internasional melakukan kecurangan seperti ini. Bahkan mereka curiga kalau banyak lukisan di tempat ini yang bukan hasil karya dia yang sesungguhnya.
Seorang pengamat lukisan, mendekati Fiona, dia sungguh menyayangkan kejadian ini.
" Sebenarnya apa yang telah anda lakukan nona, anda telah mengecewakan penggemar anda?" tanya Mr D dengan tegas.
__ADS_1
" Ti-tidak, cu-cuma itu saja tuan, saya hanya menolong pelukisnya yang waktu itu sangat membutuhkan uang, dan lukisan ini eksklusif untuk saya, entah darimana, perempuan itu melihat lukisan ini." jawab Fiona dengan gugup, dia takut kalau semua akan terbongkar.
" Oh saya bertemu dengan Oncle North di galeri nya, waktu itu saya ingin sekali belajar dari pelukis jalanan itu, dia memang hebat, tapi karya tidak pernah masuk galeri, dia lebih suka melukis di jalanan, mengekspresikan apa yang di lihatnya di dalam canvas." jawab Mikha.
" Berarti Anda juga seorang pelukis, bahkan murid dari North? " tanya Mr D, dengan penasaran.
" Saya hanya penggemar North, bukan murid-Nya, dia tidak pernah mau menerima seorang murid, ya karena saya saja yang nakal, dan terus pepet kemana pak tua itu pergi, akhirnya mengetahui trik dan kebiasaan dia." jawab Mikha dengan jujur.
Axel makin penasaran dengan sekretaris nya tersebut, ternyata dia bukan gadis biasa, pasti ada suatu rahasia dengan identitasnya yang tersembunyi, bahkan tidak bisa di lacak.
" Wau keren nona, boleh saya melihat kehebatan kedua murid North ini." tawar Mr D. Fiona menelan salivanya dengan kasar, dia bukan murid North, tapi dia sering membeli lukisan North dengan berbagai alasan, bahkan mengakui kalau hasil lukisan North adalah karyanya.
" bagaimana nona Arsita, nona...? "
" Mikha. " jawab Axel segera.
" Baiklah saya setuju." jawab Fiona dengan mantap, meskipun ada rasa was was juga, kalau sampai lukisan Mikha lebih bagus darinya, maka hancur sudah reputasi dia di depan saingan cintanya itu.
Mikha juga menyetujui tawaran Mr D, panitia pameran segera menyiapkan tempat dan perlengkapan, sementara Mr D memberikan sebuah objek menarik untuk mereka lukis, yaitu galeri ini.
__ADS_1
Tepat di tengah galeri kedua gadis tersebut mulai menorehkan tintanya, menggambar suasana galeri yang sunyi itu dengan Mr D dan para pengunjung yang menjadi jurinya.