
Jeny masuk ke kamar Axel yang tidak di kunci , dia tersenyum melihat putranya yang selama ini sudah bekerja keras, bahkan mereka kerjai sedemikian rupa. Jeny mendekati tubuh Axel yang masih bersembunyi di balik selimutnya, Jeny membuka selimut Axel dia menelus rambut putranya dengan lembut.
"Axel sayang bangun nak sudah siang nih, kau mandi lalu sarapan, kita akan ke tempat Mikha, tadi pagi mama sudah menelpon dia sayang, Mikha juga merindukan kamu, tapi dia gengsi kalau harus mencari kamu duluan, wanita itu unik nak terkadang keinginannya susah di tebak." kata Jeny dengan lembut.
Begitu dia mendengar kata kata sang ibu, semangat Axel tumbuh lagi, dia membuka matanya, serta memastikan semua ucapan ibunya itu benar.
"Mama tidak sedang menghibur Axel kan?" tanya Axel.
"Tidak sayang, mama masih sering vc dengannya, dia selalu menanyakan kamu, bagaimana kabar kamu dan selalu menantikan kamu menjemputnya, dia juga selalu mengingatkan mama untuk mengontrol pola makan kamu sayang." jawab Jeny.
Jeny merogoh ponselnya, dia menunjukkan beberapa foto Mikha yang memeluk beruang besar pemberian dari Axel.
"Lihat ini, beruang ini dia beri nama axelent, dialah yang menggantikan kamu selama ini, katanya jika bersama dia, seakan sedang melihat kamu." Kata Jeny lagi.
Axel menerima ponsel tersdebut, dan memang benar, itu adalah foto Mikha bersama bonekanya, dan wajah Mikha tampak sayu serta lebih kurus dari biasanya.
Axel memandangi foto tersebut dan merabanya, lalu dia mengembalikan ponsel tersebut pada Jeny.
"Tunggu aku Mikha, aku akn seera menjemputmu, kalau perlu membawa kamu kabur yang jauh, supaya mereka tidak bisa menemukan kita." gumam Axel.
Axel beranjak dari tempat tidurnya, langsung ke kamar mandi
"Kamu mandi yang bersih dan harum sayang, mama akan siapkan pakaian kamu." kata Jeny.
Axel mengacungkan kedua jempolnya sebelum menghilang ke kamar mandi.
__ADS_1
Jeny mengambilkan semua perlengkapan Axel sebuah kemeja putih dan celana hitam, sementara tuxedo yang sudah di siapkan masih berada di kediaman Rendra, supaya Axel tidak curiga.
Axel keluar dari kamar mandi menuju ke ruang ganti, dia melihat set kemeja beserta celana dan jasnya.
"Ini kan hari minggu, kenapa harus pakai pakaian resmi seperti ini." gumam Axel.
Dia lebih memilih hem yang santai saja, supaya tidak begitu formal, tapi sesampainya di bawah Jeny malah memintanya untuk ganti.
'' Lho kok pakai baju ini, mana pakaian yang mama siapkan untuk kamu tadi sayang?" tanya Jeny dengan muka masam.
"Maaf ma, bukan berarti Axel tidak suka pilihan mama, ini kan hari minggu apa tidak sebaiknya kita santai saja, lagian om Rendra malah lebih suka yang berbau santai dan tidak begitu formal." jawab Axel membela dirinya.
Jeny kesal, tapi dia menrik tangan Axel kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan yang sudah dia pilihkan tadi.
"Kalau masih ingin bersama dengan Mikha, kau pakai baju yang tadi!" kata Jeny dengan wajah cemberut dan gemes dengan anaknya yang tidak peka itu.
"Boleh juga ide kamu, celananya mama ganti warna putih saja, itung itung hari ini hari pernikahan kamu, meski masih mau melamar ulang." kata Jeny.
"Enggak, celana ini saja wis ma, Axel bisa di permalukan om Rendra dan kedua kembar itu, kalau mereka ada, pasti trio narsis itu akan membuly Axel habis habisan." jawab Axel yang teringat sifat ketiga pria dalam keluarga itu, dia juga heran bagaimana cara istri Rendra mengendalikan keluarga anehnya tersebut.
Jeny mengalah, membiarkan Axel memakai celana hitam tersebut, toh nanti disana dia akan di ganti pakaiannya. Sungguh akting yang sangat natural, Jeny itu sanagt cocok berbesan denagan keluarga Ibrahim sama sama konslet.
Jeny meninggalkan kamar putranya, lalu dia juga bersiap siap dulu, Alex malah sudah menunggu mereka di bawah, di ruang keluarga.
Axel yang sudah selesai segera menyusul ayahnya yang nampak formal juga.
__ADS_1
"Sebenarnya ada acara apasih di sana pa, papa juga formil seperti ini?" tanya Axel dengan penasaran.
"Ada acara keluarga katanya, dan dress codenya baju pesta." jawab Alex dengan simpel.
AXel baru faham kalau ada pesta dii tempat mereka, jadi dia tidak begitu heran laggi.
Jeny memakai pakaiannya yang terbaik, dia juga sudah menyiapkan mahar untuk nanti Axel berikan pada Mikha, sesuai dengan yang Axel rencanakan dulu.
Keluarga Alexander segera berangkat menuju ke kediaman Narendra, di sana tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Semua nampak seperrti biasanya. Tidak terlihat akan ada pesta sama sekali.
Memang rencananya ijab qabul akan di laksanakan di halaman belakang, cuma keluarga terdekat saja yang akan hadir, untuk pesta akan dilaksanakan di hotel.
"Katanya ada pesa ma, mana nampak sepi sepi saja di sisni?" tanya Axel. "Entahlah, mungkin saja di halaman atau dimana begitu, kita ikut saja." jawab Jeny.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan meminta Axel untuk berganti pakaian. Axel di minta masuk ke sebuah ruangan disana sudah disiapkan satu set tuxedo yang senada dengan pakaian yang Mikha gunakan.
"Kok aku jadi deg degan begini ya, memakai tuxedo seperti ini seperti mau menikah saja, dua tahun yang aku pernah memakai yang seperti ini tapi gagal, hari ini tidak ada angin dan hujan harus memakainya lagi, permainan apa yang sebenarnya mereka mainkan untukku." Batin AXel. Tapi AXel masih sabar dan memakai semua yang sudah disiapkan untuknya.
Axel nampak gagah dan mempesona, dia sangat tampan dan berkharisma memakai tuxedo tersebut.
Axel keluar menemui kedua orang tuanya yang masih setia menunggu di ruang tamu, sementara tak satupun dari keluarga Narendra yang muncul disana
Axel yang igin bertanya, segera di cegah mamanya.
"Sudah tdak usah kepo, kita ikuti saja mereka." ucap Jeny yang mulai kesal dengan pertanyaan AXel.
__ADS_1
AXel mengikuti mereka yang nampak seperti orang bodoh saja. Sesampainya di halaman samping, di sebuah taman indah, disana terdapat sebuah dekorasi yang mirip dengan acara pernikahan. Semua keluarga Ibrahim ada di sana, bahakn tuan Zain Ibrahim beserta keluarga besar yang lain juga berkumpul, Saudara Rendra yang berada di Rusia juga sudah ada di sana.
Axel menelan salivanya dengan kasar, dia sungguh bingung dengan semua ini hingga akhirnya Narendra dan Raisha datang menghampiri Axel dan kedua orang tuanya.