
Axel memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke ruang informasi sambil menenteng boneka beruangnya.
Banyak ciwi ciwi yang menyaksikan itu, terasa so sweet gitu, pemuda tampan dengan boneka beruang di gendongannya, romantis sekali. Axel tidak mempedulikan pandangan pandangan yang bahkan mendamba itu, dia langsung ke ruang informasi menanyakan ruang rawat Mikha.
" Permisi kak. " panggil Axel.
" Iya kak ada yang bisa kami bantu? " tanya petugas.
" Saya mencari kamar nona Mikhayla Ibrahim, diruang apa ya? " tanya Axel.
" Oh nona Mikha, beliau di rawat di lantai tiga ruang vvip 2." jawab petugas.
" Terimakasih kak, silahkan. " petugas tersebut masih memandang punggung Axel sampai masuk ke dalam lift.
Jantung Axel berdetak kencang saat lift terbuka tepat di lantai tiga. Dia berjalan dengan ragu menuju ke ruangan ya di infokan oleh Petugas tadi.
Axel mengintai ruangan Mikha dari kaca, dia melihat Mikha gelisah dari tidurnya serta sebuah infus menancap di tangannya.
''Ternyata dia benar benar sakit.'' Gumam Axel.
Axel masuk ke dalam kamar inap mewah tersebut, masih dengan menggedong bonekanya, pas bertepatan dengan Mikha membuka matanya, rasanya sangat bosan harus berbaring terus di kasur tanpa melakukan identitas, sedangkan Mikha orangnya sangat aktif dan tidak bisa diam.
Mikha melihat Axel dengan seyum mempesona dan dengan boneka beruang yang cantik membuat Mikha menjadi semangat, pemuda yang sejak kemaren dia rindukan muncul bagaiakan pangeran berkuda putih.
''Bos'' Mikha mengucek kedua matanya, dia masih tidak percaya dengan penglihatannya.
"Jangan panggil bos dong, panggil Axel saja supaya lebih akrab atau ada panggilan sayang tersendiri juga boleh.'' jawab Axel dan menyerahkan boneka itu pda Mikha.
__ADS_1
'' Ih cantik sekali bonekanya, kok tahu kalau aku suka beruang? "
'' Thu dong, Axel.'' jawab Axel narsis.
'' ih narsis.'' Jawab Mikha , dia menerima bahkan menciumi boneka itu dengan gemes.
'' Kok bonekanya yang di cium, seharusnya yang membawa bonekanya, padahal waktu itu katanya kurang, kok cuma sebentar doang.'' Ucap Axel menggoda Mikha.
'' Ah gak usah mengingat hal itu, gara gara Axel bibirku tidak perawan lagi, mana tidak mau tanggung jawab lagi.'' Mnyun Mikha. Ingin rasanya Axel mencium bibir monyong yang lucu itu, tapi dia tahu diri.
'' Siapa bilang tidak mau tanggung jawab, mau kok nikah sekarang hayok.'' tantang Axel.
' Ih mesum, baru dua hari tidak ketemu kenapa jadi mesum begini.'' kesal Mikha.
Axel malah tertawa mendengar kata kata Mikha yang selalu jujur itu. jujur saja dia sangat merindukan moment seperti ini, ramai dan menyenangkan.
Mikha menutup mukanya yang merah itu dengan kedua tangannya. ''ih gombal.'' Kta Mikha.
'' Aku tidak menggombal, ternyata dua hari tidak bertemu denganmu rasanya begitu sepi dan hampa, apalagi dikantor sepi, terkadang aku melihatmu dari ruanganku yang sedang asyik mengunyah makanan atau bernyanyi, aku rindu semua itu.'' Axel berkata jujur, memang dua hari ini rasanya sepi dan hampa tapa adanya Mikah di sana.
'' Sama aku juga, dua hari ini aku cuma bisa memandang lantai teratas gedung kantormu dari seberang jalan, ingin rasanya aku masuk kesana tapi hehe aku kan perempuan da tidak bagus juga nyamperin cowok duluan, ya kalau dia mau.'' jawab Mikha.
Axel langsung memeluk tubuh gadis itu dari samping, ternyat yang dia tasakan dalam waktu dua hari ini sama dengan yang Mikha rasakan. Dalam hati Axel berjanji akan memperjuangkan perasaannya dan menyatakannya secara resmi setelah Mikha keluar dari rumah sakit.
'' Axel.'' Mikha kaget kenapa Axel tiba tiba memeluknya seperti itu.
'' Biarkan seperti ini dulu, aku sudah merasakannya selama dua hari ini jauh darimu.'' Mikha diam saja dan membiarkan Axel memeluknya, sungguh jantungnya seperti mau copot saja, tangannya gemetar, ini rasanya seperti mimpi saja.
__ADS_1
Axel melepas pelukannya karena Mikha tidak mau membalasnya.'' kenapa kau tidak membalasnya? " Tanya Axel.
'' Memang boleh? Tapi aku deg degan dan tanganku sudah gemetar ini" kata Mikha dengan polosnya. Axel tersenyum, dia fikir Mikha tidak mau di peluk.
'' Ngomong ngomong kamu sakit apa, lihat wajah kamu pucat sekali? " tanya Axel.
'' Perut, kemaren malam aku makan bakso kebanyakan cabe, habisnya gera aku dengan pelukis itu, kok ya tiba tiba meluk orang, mantan lagi, tidak tahu apa kalau ada yang jeles.'' jawab Mikha. Axel tersenyum mendengarnya.
'' Oh ya siapa dia , nona Ibrahim kah? " tanya Axel.
'' Iya, mana yang di bela tidak nongol nongol, dan tidak peduli, rasanya pesen di becek becek jadi pentol saja.'' kesal mikha. Axel menutup mulut Mikha dengan jari telunjuknya.
'' Maaf aku tidak tahu kalau kamu sakit, dan tidak ada yang memberitahukan aku, terus itu muka kenapa masih pucet dan lemes begitu apa belum minum obat? " Axel mencoba bertanya lagi, karena apa obat yang di konsumsi Mikha pasti yang terbaik, jadi kalau cuma sakit peruit saja pasti akan cepat sembuh.
'' Lapar, tapi pengennya makan di kafe depan rumah sakit itu, tapi kalau dokter Raisha tahu pasti tidak di perbolehkan.
'' Bagaimana kalau aku belikan saja makanannya dan kita bisa makan di sini.'' Axel punya sebuah ide tersebut.
'' Ogah, enak langsung makan di sana saja.'' Mikha menolak usul Axel karena ingin makan di sana langsung.
Axel punya ide lagi, dia mengajak Mikha keluar, tentu dengan menggelabuhi petugas rumah sakit, mereka membuat guling seolah itu Mikha, dan Mikha segera mengganti pakaiannya, memakai hijab supaya tidak di kenali.
Subhanallah, kenapa dia cantik sekali memakai hijabnya.'' Batin Axel. Dia sampai tak berkedip melihat wajah ayu Mikha dengan jilbabnya.
'' Ayo kita berangkat, sebelum ada jadwal periksa pasien, mana laper banget nih.'' ajal Mikha.
Dengan segera mereka keluar dari kamar inap tersebut dan menuruti kemauan Mikha, tapi Axel tadi sudah membuat perjanjian kalau Mikha tidak boleh makan makanan pedas kalau mau dia menuruti kemauannya.
__ADS_1
Sebenarnya Raisha sudah tahu kalau anaknya itu kabur dari kamarnya dari laporan pengawal bayangan suaminya, tapi dia diam saja dan hanya tersenyum menanggapi laporan pengawal tersebut.