
Irgi hanya memandang mobil gavin yang membawa erin pergi lalu tatapannya jatuh kepada raka dengan cuek jijay dia balik ke motornya gak perduli dengan raka yang bibirnya pecah dan berdarah.
Irgi semakin penasaran dengan sikap protek gavin kepada merina, dia ingat-ingat hubungan merina dan gavin nggak berjalan baik meskipun mereka berdua di tunangkan.
Mobil gavin berhenti di tepi jalan yang sepi, lalu menatap tajam pada erin.
"Kamu tahu apa posisi kamu ren?!"
Erin hanya menatap gavin bingung nggak ngerti sekaligus ngeri takut gavin teriak-teriak.
"Aku kasih tau !" Kamu nggak usah buat apa-apa tanpa bicara denganku, nggak usah cari perhatian di depan irgi.Jelas!" bentaknya.
Meskipun erin takut gavin teriak-teriak dia nggak bisa dong terima kalau dia yang di salahin, erin melotot suaranya di kerasin juga gak mau kalah.
"EMANG SIAPA YANG NYARI PERHATIAN KAK IRGI?? LAGI PULA EMANG SIAPA SIH YANG MINTA TOLONG? MANA GUE TAU ADA COWOK YANG NAMANYA RAKA??"
ditambah beberapa detik dengan kata, "HAH!" meskipun rada terlambat.
Napas erin memburu habis teriak, erin lalu keluar dari mobil dan membanting keras-keras mobil gavin, memang dia saja yang bisa meledak-meledak aku juga bisa tau pikir erin jengkel.
Gavin keluar dari mobilnya dan berlari lalu menarik tangan erin, "Kamu mau kemana?"
Erin menghentakkan tangan gavin. "Kemana aja," jawab erin jutek.
Erin yang nggak tahu dimana dia berada cuek aja, erin nggak bisa terima dia di bentak-bentak. Selama ini dia terima saja kalau banyak permusuhan yang di alaminya apa lagi dari kak irgi. Tapi kesabaran orang ada batasnya kalau masih ada aja orang yang sabar di perlakukan kayak gitu, itu bukan orang tapi tokek, pikir erin lagi ngawur.
Gavin kini menyesal marah-marah dengan erin yang jelas-jelas salah alamat. "Ren...ren..aku minta maaf..tapi erin dengan super cuek tetap berjalan. "Bentar lagi malam ren balik yuk." bujuk Gavin, mau malam kek mau siang kek aku gak peduli enak aja aku yang kena semprot.
Erin tersadar akan sesuatu dia berada di tempat yang pohonnya rada lebat dan gak banyak orang lewat di jalan itu, tiba-tiba terdengar sesuatu, erin lalu berhenti berjalan dan seketika kemarahanya lenyap. "Kamu dengar gak itu suara apa??"
Gavin yang spontan kaget dengan mood ini cewek yang cepat berubah, tiba-tiba dia tersenyum.
__ADS_1
"Suara apaan?" jawab gavin, erin mendengar lagi, terdengar suara binatang malam.
"Pulang yuk," kata erin, dia balik menatap gavin dan tanpa di sadarinya ia memegang lengan gavin.
Mereka akhirnya balik ke mobil dan sepanjang jalan gavin terkekeh sebentar- sebentar senyum, erin menaikkan alisnya, sarap kali ni cowok koq dari tadi senyam senyum sendiri.
Mereka sampai juga di depan lorong rumah erin, sekarang sudah jam tujuh. erin mengambil napas lalu menghembuskan seperti siap-siap perang.
"Ada apa?" tanya gavin.
"Aku mau persiapin jantung aku siapa tau bentar lagi copot."
Gavin tersenyum, "Kenapa?" erin dengan sabar jelasin ke Gavin.
"Gini ya...sekarang tuh matahari udah nggak nongol lagi kalau anak sekolahan kayak aku baru pulang jam segini bentar-bentar dapet bogem mentah dari nyokap, makanya mau nyiapin jantungku biar gak putus."
Gavin tertawa, erin menatapnya heran..nih cowok heran deh bentar-bentar bentak, bentar ngakak, "Saya antarin deh nanti saya aja yang jelasin ma ibu kamu ren." Erin menaikkan alisnya gak yakin.
Mereka berjalan ke rumahnya erin, "Aku minta maaf ren soal tadi siang." Erin yang sekarang lebih mengkhawatirkan omelan ibunya, menjawab asal aja, "Santai aja aku tuh udah tahan banting dengan mata-mata benci koq , paling-paling kena bentak."
Gavin berhenti dan seketika menatap erin dengan tatapan yang aneh.
"Kalau sesuatu terjadi kamu harus hubungin aku ya", harus!!! oke".
"Nah mangkanya tadi siang itu aku hubungin ponsel kak gavin koq gak di angkat-angkat? cowok yang namanya raka tadi pagi bilang...erin lalu memperaktekkan cara bicara raka. "Siapa kamu", berani nyamar jadi merina".
bentar siang aku mau ngomong".
"Gitu...ceritanya nih aku mau ngumpet tapi kak irgi suruh aku naik di motornya". Malah di kejar ma raka. Gavin tertawa liatin erin yang bicara. "Ugh koq kak gavin ketawa sih, emangnya aku ngelawak"?? erin berdecak, gavin menghentikan tawanya, dia hanya manggut-manggut.
"Kok manggut-manggut aja" kak gavin mestinya prihatin sama nasib aku dong".
__ADS_1
"Sori tadi siang aku kuliah jadi nggak melihat panggilan kamu ren".
"Besok aku antar ya ke sekolah, yuk masuk ibu kamu pasti khawatir.
~
Dia... menatap langit-langit kamarnya, masih ada lingkaran hitam di bawah matanya bibirnya yang pecah dan berdarah tak dipedulikanya. Hanya satu yang ia pikirkan siapa cewek itu..
Pagi menyambut erin dengan nasehat panjang ibunya semalam, harusnya dia pilih nggak ngajak kak gavin nemenin ketemu dengan ibu bukannya di omelin tapi nasehat dan petuah-petuah yang super panjaaaaang yang pernah erin dengar.
Dengan sempoyongan berjalan ke kamar mandi sambil garuk-garuk kuping.
"Ma erin berangkat ya". Ucap erin di depan pintu. "Iya, Hati-hati erin inget pesen mama". erin ngangguk-ngangguk...dengan jalan gontai erin menuju halte lalu terdengar klakson mobil di belakangnya. Dia tersenyum dan memamerkan gigi putihnya, erin berbalik dan semburat kemerahan muncul di kedua pipinya .
"Pagi", sapa gavin yang keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk erin, kenapa ya jantung aku berdebar-debar aneh, apa aku lagi demam?
"Koq mukanya kusut", erin menatap gavin, "Benang kali kusut", jawabnya.
Gavin tertawa. "Gak apa-apa koq". Erin lalu menghembuskan napasnya.
"Boleh aku tanya", tapi di jawab ya jangan nanti".
Gavin tersenyum, "Ya..tergantung pertanyaanya".
"Mm....Kak irgi ma merina apa pernah dekat"?sambil melirik gavin.
"Mm...ya", Irgi pernah jadi pacar merina sebelum ketemu dengan raka, sebelum merina kenal drugs. Erin mengerutkan alisnya, "Tapi merina dan kak irgi kan...".
"Iya mereka sepupu". kata Gavin.
What? erin melotot lalu dia ngangguk-ngangguk ngerti...mungkin karena ini sikap kak irgi yang membenci Merina.
__ADS_1
Tapi bagaimana ya dengan kak Gavin? kalau di lihat-lihat sih gak seperti benci malah sedih, aku kan pernah lihat dia nangis waktu di galeri, gak sama dengan kak irgi. Bagaimana perasaanya??