My Two Face

My Two Face
Vol 36


__ADS_3

Mobil Erin melaju kencang, berusaha secepat mungkin, agar dia bisa mencapai kantor sebelum jam 8 pagi, tetapi sungguh sia-sia, pada jam seperti ini, jalanan sangat macet, mobil beradu di jalan pagi itu.


"Ugh, ini semua salah Gavin, kalau aku terlambat dan dapat omel dari pak Udin, aku omelin balik tuh kak Gavin, ngapain dia ngajak makan jam 1 malam." keluhnya.


Erin menatap jam di pergelangan tangannya, dia kemudian melaju ketika di depan mobilnya cukup lengang, sebentar lagi dia sampai.


"Sial, macet lagi." ucap Erin, dia membunyikan klakson dengan tidak sabar kepada pengemudi di depannya, mobil SUV berwarna hitam berkendara begitu lambat, membuat jarak yang begitu dekat, padahal di depannya cukup lengang.


"Kalau mau latihan mengendarai mobil, jangan di tempat macet seperti ini, ugh ngapain orang di mobil itu lambat sekali sih." ucap Erin.


~


"Den, mobil di belakang kita, klakson terus den, kita kan harus jaga jarak aman, iya kan den." ucap pak Herman, sang supir.


"Jangan diperdulikan, sudah tau macet, main klakson aja." ucapnya, sementara klakson Erin tidak berhenti-berhenti juga, hal itu membuat Raka yang sedang berkonsentrasi membaca beberapa dokumen penting terganggu. Dia merapatkan bibirnya tertahan.


Tanpa mengucapkan apapun, Raka turun dari mobilnya dan segera menghampiri mobil sedan berwarna putih milik Erin, dia kemudian menggedor pintu kacanya.


~


Erin yang merasa tidak bersalah sambil mengomel, dia membuka pintu mobilnya, mau mengumpat sekasar-kasarnya pada pengendara yang melaju dengan sangat Lambat dan menimbulkan kemacetan.


Erin menutup pintu mobilnya dengan keras lalu berkacak pinggang. "Kalau mau belajar bawa mobil jangan di sini donk, pergi deh ke bandara, sekalian nabrak pesawat Sono." ucapnya.


"Songong banget nih cewek."


Pikir Raka, ia pun ingin balas memaki Erin tetapi dia lebih cepat tersadar dari sosok yang berdiri di hadapannya. Matanya tertuju pada iris bola mata cantik membelalak ke arahnya.


"Erina?" ucapnya perlahan.


Erina yang matanya sebentar lagi mau melompat keluar saking marahnya, juga turut terperanjat menatap sosok lelaki yang di kenalnya.

__ADS_1


"Raka?" ucapnya, sambil menunjuk ke arahnya.


Sekarang, mobil-mobil pada klakson kepada mereka berdua yang menimbulkan kemacetan di jalanan, orang-orang yang melihat mereka di tengah jalan, mengumpat dan membunyikan klaksonnya sangat keras.


"Woi, kalau mau reunian jangan di sini, pergi noh di pasar gledek." teriak salah satu supir yang membuka kaca mobilnya.


Tanpa menunggu lama, Erin segera masuk ke dalam mobilnya dan dengan cepat mengendarainya, meskipun dia sangat terkejut dengan pertemuan itu. Tetapi satu hal yang membuatnya lebih panik, 5 menit lagi jam 8, Erin pergi begitu saja, tanpa memperdulikan pandangan Raka dari kaca mobilnya.


~


"Ada apa den, koq seperti baru lihat hantu aja?" tanyanya.


"Ikuti mobil sedan di depan yang berwarna putih itu," Perintahnya.


Matanya tajam menatap ke arah mobil yang ngebut-ngebutan tidak begitu jauh di depannya, mobil Erin masuk ke dalam salah satu gedung cukup besar, dia sedang memarkirkan mobilnya, dari kejauhan Raka menatap Erin yang ngacir masuk ke dalam perusahaan itu dengan terburu-buru.


Dia menatap perusahaan itu, lalu membacanya. "PT Development Pratama?" Gumam Raka, dia kembali mengulang-ulang nama perusahaan itu, kemudian dia mulai mencari nama perusahaan yang sangat familiar itu. "Gavin R Pratama, nama yang sama dengan perusahaan ini, jadi dia bekerja bersama dengannya?" ucap Raka. Dia kemudian terlihat menyeringai, matanya masih terpaku pada tulisan besar di luar gedung perusahaan itu.


"Kita berangkat ke kantor." ucap Raka.


~


"Kau telat." tuduhnya, saat pintu lift menutup.


Erin memperbaiki rambutnya dan pakaiannya, serta mengatur napasnya agar normal kembali.


"Ini semua gara-gara kak Gavin, ngajak makan tengah malam gitu, tentu dong Erin telat." ucap Erin sambil menatap gavin dengan melotot.


Gavin menatap pintu lift, "Masih ada waktu sekitar 1 menit." gumam Gavin.


Erin menatap Gavin dan menatap pintu lift, bingung dengan ucapannya, tanpa dia sangka Gavin telah menarik dirinya dan memeluknya begitu erat, kemudian tanpa Erin sangka, Gavin menciumnya hingga dia menempel di dinding lift dengan tubuh gavin menempel erat. Erin tidak siap untuk semua serangan di pagi itu.

__ADS_1


Gavin melepas Erin tepat saat pintu lift membuka dan dua orang pria masuk ke dalam lift, erin segera mundur beberapa langkah ke belakang, dia memperbaiki rambutnya dengan sangat perlahan, Sebelum dia keluar dari lift, Erin sempat menginjak kaki Gavin cukup keras dan segera keluar dari sana.


~


Erin kembali ngacir ke kamar mandi dan segera memperbaiki make-upnya apalagi bibirnya yang terlihat berantakan. "Awas saja, masa di kantor dia main nyosor aja, bagaimana kalau ada orang yang lihat." Gumam Erin pelan. Dia merapikan lipstiknya sehingga terlihat natural, setelah merasa yakin, dia akhirnya keluar dari kamar mandi.


Pintu menjeblak terbuka cukup keras. Linda keluar dari sana, dia kemudian tersenyum meremehkan, "Ck ck, anak itu hebat juga, masa di kantor dia juga punya cowok, apa dia memiliki hubungan juga ama pak gafur atau pak Zani?" Dia kemudian mengepalkan jari-jarinya. "Awas saja kalau dia mengincar pak Gavin, dasar jlang tidak tahu diri, awas saja, aku akan bongkar kebusukanmu di depan pak Gavin, kita akan lihat, apa kau masih bisa ngomong seperti malam itu setelah kebusukanmu ketahuan." ucap Linda.


~


Erin segera duduk, dan membuka laptopnya, dia segera mengerjakan pekerjaannya, mengecek beberapa data, lalu setelah menyelesaikannya, dia dengan cepat mengirimkan data-data itu.


"Nih teh anget, lu telat ya Rin." ucap Rere, sambil memegang secangkir teh di tangan yang satunya dan memberikan secangkir lagi buat Erin.


Erin mengangguk, lalu menghembuskan napas, "Nanti juga lu tau kalau meeting nanti, pasti pak udin akan menyinggung masalah keterlambatan para karyawan, nah aku tuh pasti masuk dalam jajaran yang diincar ama pak Udin, dan dia juga punya laporannya loh, heran deh rajin amat." ucap Erin sambil meminum tehnya perlahan.


"Nggak akan deh, bulan ini dia juga sering kali telat, dan pak Ghafur juga beberapa hari ini suka telat, dan satu lagi yang suka telat, si Linda, dia kan di tunjuk menjadi sekretaris pak Ghafur, koq sama ya telatnya." ucap Rere.


"Kalau pak Udin berani bicara masalah keterlambatan para karyawan, sama aja kan dengan bunuh diri, apalagi meeting nanti pak Gavin juga ada di sana mendengar semua laporan dari setiap kepala bagian."


Terdengar langkah kaki sepatu yang menghentak dengan sempurna. Senyum kemenangan terlihat dari wajah linda, "Koq ngobrol, udah telat paket ngobrol lagi," Ucapnya dengan nada merendahkan menatap mereka berdua.


"Ngapain lu sibuk urusin kita-kita, kerjain noh pekerjaan kamu, apalagi dari tadi pak Ghafur sibuk cariin kamu terus lho, minta dibuatkan kopi kali." Rere menatapnya menantang.


Linda pergi dengan dongkol, karena ponselnya kembali berdering dan memang sejak tadi dia dicari pak Ghafur, di suruh buat kopi.


~


"Atur kerja sama dengan PT Development Pratama, aku ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan itu." perintahnya.


"Baik pak." Sekretaris itu segera pergi dan keluar dari ruangan bosnya.

__ADS_1


Dia berdiri membelakangi kursinya menatap pemandangan dari gedung tinggi berlatar pemandangan kota Jakarta yang terbentang luas di hadapannya.


"Sebentar lagi kita akan bertemu Erin." Ucap Raka.


__ADS_2