
"Masuk."
Suara itu bagaikan irama menyenangkan di telinga Erin, tanpa mengetuk erin masuk ke dalam ruangan besar yang sudah di rapikan oleh tuan Ghafur sedemikian rupa sehingga nampak rapi dan bersih, nuansa yang di timbulkan lebih layak dibandingkan dengan ruangan jika pak Ghafur yang menempatinya.
Erin melangkah perlahan dan berhenti tepat di depan meja Gavin yang masih duduk membaca beberapa berkas yang ada di hadapannya, kemudian setelah beberapa menit yang mendebarkan Erin, dia baru menatap wajah erin yang menunggu sambil memegang berkas berat di tangannya.
Dia kemudian tersenyum dan senyumnya yang hangat tidak mencapai di matanya, tidak ada ketulusan dari senyuman itu.
"Apa kabar Erin? sudah begitu lama kita tidak bertemu." ucapnya, dia tersenyum miring lalu berdiri dari tempatnya duduk.
"Kak..kak gavin? kapan kembali dari Amerika?" ucap Erin tergagap, jantungnya kini berdebar kencang.
Dia bersandar pada meja kerjanya dan melipat kedua tangannya menghadap ke arah Erin. "Aku pergi begitu saja ke Amerika tanpa mengucapkan selamat tinggal kepadamu, apakah hal itu membuatmu marah?" tanyanya.
Erin tersentak dengan pertanyaan Gavin yang tiba-tiba itu. "Emm, bukan hakku untuk marah kepadamu kak Gavin, lagi pula....emm kita sudah memutuskan pertunangan itu." Ucap Erin sambil menunduk.
Dia tersenyum kemudian melangkah pelan lalu berdiri tepat di hadapan Erin, menatapnya dengan senyum miring masih menghias di bibirnya.
"Bagaimana jika kita meneruskan pertunangan itu kembali?" tanyanya. Erin sontak menatap gavin dengan mata membelalak, tentu saja saja dia heran, baru saja ketemu main tunangan aja, jantung Erin belum berhenti berdetak kencang malah semakin kencang hingga Dadanya terasa sesak.
"Ha? kak Gavin baik-baik saja?" tanya Erin keheranan.
Gavin tersenyum lalu tiba-tiba tangannya mengelilingi sekitar pinggang Erin tanpa merasa bersalah dia menariknya hingga menempel ke pelukannya.
"Lagi pula kita pernah tunangan, bagaimana? lebih baik kita lanjutkan saja pertunangan kita yang terunda Erin." Ucapnya. Erin merasa risih dengan pelukan Gavin yang tiba-tiba, dia mencoba melepaskan kedua tangan Gavin di sekitar pinggangnya.
__ADS_1
"Kak, kak gavin lepas nggak, ngapain sih." Ucap Erin mendorong tubuh Gavin yang kokoh.
"Kenapa? kamu sudah memiliki pacar?" tanyanya.
Erin spontan mengangguk, emank benar sih erin udah punya kekasih hati dan mereka bersama belum cukup 2 bulan, meskipun begitu Mamat sudah berusaha begitu baik sama Erin. Mamat adalah salah satu teman sekelas Erin yang suka Ngorok selama jam pelajaran di kelas, sekarang ini Mamat bekerja di bengkel di seberang kantornya, karena hampir tiap hari ketemu, Mamat akhirnya jatuh hati sama Erin.
Sudah hampir beberapa bulan Mamat nembak Erin, tetapi Erin selalu menolaknya.
Tetapi pada akhirnya Mamat yang memiliki pendirian teguh yang amat besar akhirnya berhasil juga menjadi kekasih hati si Erin meskipun caranya norak, menuliskan puisi lalu mengirim setangkai bunga dan langsung dikirim di atas meja kerja Erin setiap pagi...setiap pagi lho, tentu saja Erin jadi malu sama rekan-rekan kerjanya. Tetapi beberapa bulan yang membuat malu Erin, akhirnya dia menerimanya juga, dan mencoba membuka hatinya kepada mamat, sampai-sampai Fari dan jeni yang mendengar Erin lagi jalan sama mamat ngakak habis dia nggak nyangka Mamat bisa dapetin si Erin, padahal waktu SMU cowok-cowok yang dekat sama Erin keren-keren habis, ada Irgi, Raka dan Gavin tetapi pada akhirnya dapatnya si Mamat.
Erin menghembuskan napasnya, lalu mengangguk kepada Gavin. "Siapa?" tanya Gavin.
"Ya...ada deh, kak Gavin gak bakalan kenal juga." Ucap Erin masih berusaha lepas dari rengkuhan Gavin.
"Sudah berapa lama kamu jalan sama dia?" tanyanya.
Gavin kini tersenyum. "Mau tahu saja Rin, sudah berapa lama kamu bersama dengannya?"
Erin menelan ludahnya. "Emm baru dua bulanan." Ucap Erin dengan suara begitu kecil sampai hampir seperti berbisik.
Erin menjauhkan tubuhnya dari sentuhan Gavin yang masih menatapnya dengan tatapan tajam, lalu menghembuskan napasnya. "Ok, fine..aku tidak menyangka kau sudah punya kekasih Rin, gimana kalau nanti kita jalan sama-sama?"
Erin mengernyitkan dahinya. "Jalan sama-sama?" tanyanya.
"Iya, aku akan bawa shyntia dan kamu bawa kekasih kamu." Ucapnya.
__ADS_1
Erin melotot, Shyntia? bukankah wanita itu yang juga di sukai sama Gavin? jadi mereka masih bersama? terus ngapain tadi dia bilang mau melanjutkan pertunangan kalau dia masih bersama perempuan gila itu.
Erin menghembuskan napasnya keras. "Gak deh kak, aku gak suka jalan-jalan seperti itu." ucap Erin terus terang.
"Kenapa? kau masih marah dengan shyntia? bukankah itu sudah lama berlalu Rin, lagi pula shyntia sudah minta maaf." ucapnya lagi, tetapi ada sesuatu dari mata Gavin yang tidak sama seperti dahulu, pandangannya yang dulu itu begitu tulus serta ramah, sedangkan sekarang terkesan berpura-pura dan seringai selau muncul di wajahnya.
"Nggak deh, aku gak mau, lagian pekerjaanku menumpuk dan hari Minggu nanti kami akan janjian pergi kencan." Ucap Erin, kemudian dia merasa bersalah sendiri dengan apa yang diucapkannya. 'Duuuhh ngapain juga aku bilang pergi kencan, kesannya seperti mau buat dia cemburu.' pikir Erin dengan ekspresi yang terlihat jelas di wajahnya.
"Jadi hari Minggu ya, Ok hari Minggu nanti aku akan datang bareng shyntia, biar kita jalan bersama-sama."
"Ngapain bareng? Cari aja tempat lain untuk bersama pacar kak Gavin, kan banyak tempat buat jalan-jalan di Jakarta yang luas ini." ucapnya.
"Pacar? Syntia bukan kekasih aku Rin dia cuma teman biasa." Ucapnya. Erin mendengus, 'Teman yang makan teman.' Cucok buat wanita tua itu.' Gumam Erin.
"Mana ponselmu?" tanyanya.
"Ha, ponsel? buat apa kak Gavin?" Erin memberikan ponselnya begitu saja, Gavin segera menelepon ponselnya menggunakan ponsel Erin.
"Nih, nanti tunggu telponku, kamu boleh pergi." ucap Gavin lalu kembali ke tempat duduknya. Erin dengan cepat keluar dari ruangannya setelah menyimpan berkas-berkas berat itu di atas meja gavin. Erin meliriknya lalu mengerutkan hidungnya.
"Jadi dia masih bersama perempuan itu? terserah deh dia mau pergi bersama siapa saja, bukan urusanku juga koq." Ucap Erin segera masuk ke dalam lift yang menuju ke lantai bawah.
Gavin melihat nomor Erin yang ada di ponselnya, kemudian menyimpannya di sakunya, lalu Tersenyum miring. "Kita akan lihat kan bagaimana kau mempertahankan kekasihmu itu Erin." ucap Gavin.
Sore itu Erin seperti biasanya berdiri di halte, tidak lama kemudian dari kejauhan Mamat datang dengan motornya berhenti tepat di depan erin.
__ADS_1
"Kita makan yuk." ucap Mamat sambil memberikan helmnya kepada Erin. "Nanti kita kembali kemari, kamu bawa mobil kan Rin?" tanyanya. Erin mengangguk dan segera mengambil helm yang diberikan untuknya.
Mereka akhirnya pergi berboncengan, dari jendela atas gedung tampak Gavin menatap mereka dari kejauhan sambil menelepon seseorang.