My Two Face

My Two Face
Ep 6


__ADS_3

Gavin tiba-tiba memegang bahu si rio.


"Jangan terlalu keras padanya."


"Kupikir dia sudah mati bersama pacarnya." Ucapnya sinis, matanya masih menatap tajam Erin.


Tiba-tiba kamar yang tertutup itu terbuka dan nampak wajah seorang wanita cantik tapi pucat, matanya melebar dan sakitnya seketika tidak nampak dia berjalan menatap erina...


"MERINA?!" Dia memeluk erin dan menangis tersedu-sedu. "Merin kupikir...kupikir aku tak bisa melihat wajah anakku lagi." Sambil terus menangis.


Wanita itu tak mau melepas sedikitpun erin dari sisinya, dia masih terus menangis dan meminta maaf pada Erin.


Erina hanya terus memandangnya tanpa bersuara sedikitpun, akhirnya wanita itupun tertidur, erin menghela napasnya.


"Kenapa kau membawanya pulang gavin???" Dia menatap gavin dengan tajam.


"Kau jangan egois rio ibumu sangat merindukan merin." Erin yang nggak sengaja mendengar pembicaraan itu terkejut. OHHHH...dia kakaknya Merina ya.


Mereka berbalik menatap erin masih dengan tatapan benci. 'aku bisa mati berdiri nih di pandangin kayak gini.' pikir Erin.


erin hanya duduk mematung nungguin gavin cerita. Tiba-tiba gavin datang bersama si rio dan kak irgi...


Mata erin bersibobrok dengan kak irgi kontan Erin memalingkan wajahnya yang tentu saja memerah...tapi di balas dengan tatapan sinis dari kak irgi.


"Merina." Erina berbalik ke kakak merina.


"Ikut aku." Dia menarik tangan merina kontan erin menghempaskan tangan si rio dan sembunyi di belakang Gavin lalu memegang kuat-kuat lengan gavin.


Rio dan irgi kontan saja terkejut dengan sikap aneh Merina yang tidak biasanya.


"Kamu kenapa merin??" kata rio, erin tetap sembunyi dan memegang lengan gavin.


"Kemana sikap merina yang badung dan selalu melawan siapa saja." Kata rio tajam.


Awas saja si gavin pikir Erin, kenapa dia harus di tatap sama kak irgi dengan tatapan Seperti itu hikhik...


"Rio..merin sekarang bersamaku biarkan dia pergi." Rio dan irgi tentu saja terheran heran, Gavin kan orang yang paling di benci oleh Merina?


Tiba-tiba mama merina keluar dari kamarnya.


"Merina tidak akan kemana mana lagi dia akan bersamaku, dia tak akan kubiarkan pergi, titik."


'****** aku' pikir erin..sambil memandang gavin tajam.

__ADS_1


"Apa lagi tipu muslihat lo Merina, kembali ke rumah mau hancurin mama lagi setelah papa pergi."


PLAK


Suara tamparan itu begitu nyaring. "Gila kaget aku." Rio di tampar oleh mamanya sendiri. cowok yang namanya rio langsung pergi menahan kemarahanya.


 


"Merin." panggilnya lembut, sambil memegang tangan erin, dia berkata lirih


"Jangan ninggalin mama lagi ya.." Erin menatap wanita itu dengan kasihan dia langsung mengangguk.


 


Setelah kegemparan karena kembalinya merina, membuat si tersangka erin bolak balik nungguin gavin di kamar merina. Sialan ngapain gue ***** banget sih bantuin gavin. Sambil menutup mukanya duuuhh dia benci banget ngeliat aku.


Akhirnya yang di tunggu datang juga. Dengan tatapan dendam kusumat membara erin menatap gavin yang tenang-tenang aja.


"AKU MAU PULANG, cukup sampe di sini aja aku tolongin kak gavin", dengan cemberut erin menatap gavin.


"Maafin aku erin soal yang tadi."


"Kenapa juga aku mesti marah kalo di tatap benci ma seabrek orang di luar sono." kata erin sinis.


Tapi erin nggak tau dibalik ketenangan gavin ada rencana yang disiapkanya sejak pertama kali bertemu dengan erin.


Erina sekarang menggeluti rutinitas baru ngelamunin hubungan kak gavin merina dan pacarnya. Aku pikir cerita gini di novel doang, kasian banget ya si gavin dia punya tunangan tapi tunanganya punya pacar.


Sewaktu pamit tadi siang erin tak henti-hentinya melirik curiga ma gavin koq nih cowok tenang enteng aja.


"Besok pagi aku jemput ya."


"Kenapa?" tanyaku menatapnya heran..


"nggak boleh??" katanya.


Ih ditanya koq balik nanya. pikir Erin kesal.


~


Pagi yang cerah, pukul enam lewat sepuluh kak gavin udah TENG tepat di depan rumah erin.


"Pagi." Tanpa banyak bicara dia bukain pintu mobilnya.

__ADS_1


Erin menatapnya heran. "Emang kak gavin nggak kuliah?" tanyanya.


"Bentar siang, kenapa??"


"Oh..kalo sibuk nggak usah di antar ke sekolah koq."


"Nggak suka?" Erin mencibir, Nih orang sableng banget ditanya koq balik bertanya lagi.


"Mm...kak gavin bisa turunin di depan halte aja, nggak usah di depan gerbang."


"Kenapa?? Takut ketahuan ma pacar kamu ya?" Tanyanya tajam. Melihat wajah erin aja pasti ada faktor X dan Z . Dengan menahan sabar erin jelasin.


"Kakak taukan kak irgi? Dia satu sekolah ma aku, Kalau ketahuan ma kak irgi gimana dong??"


"Oh...!"


OH DOANG!!! nih orang bener-bener deh gue ceplok juga jadi telur dadar.


"Tenang aja dia udah tau kok kamu sekolah di sini." Mata erin membelalak.


"WHAT...dia udah tau?" ucap Erin.


"Kemarin aku jelesin ma tante dan yang lainnya untuk sementara kamu tinggal di rumah aku dan sekolah di sini."


Ampuuun deh nyeseeel sel sel banget aku bantuin ni cowok.


"Terus kalau dia tahu namaku yang sebenarnya, gimana??" tangkis Erin.


"Nggak masalah merina suka pindah-pindah sekolah dan namanya juga suka dia ganti."


Erin menaikkan alisnya, heran ya ada orang yang hobi gonta ganti nama.


Gavin menurunkan erin tanpa mengucapkan apa-apa. Erina berjalan memasuki gerbang sekolah seperti biasanya.


"Rin hai rin." Erin berbalik ternyata fari.


"Tumben kamu gak terlambat, biasanya kan lo lemot banget."


"Sialan, baru juga atu dua tiga...baru juga empat kali." kata erin enteng.


"Hati-hati loh pak udin wakil kespek wanti-wanti cari murid yang suka telat." Ucap fari.


"Kategori aku belum termasuk kali Ri."

__ADS_1


Di sudut lapangan tempat parkiran ada yang dari tadi menatap erin dengan senyum sinis di wajahnya.


__ADS_2