My Two Face

My Two Face
Vol 27


__ADS_3

Pagi itu Erin sudah sibuk dikantornya, karena keterlambatannya membuat Erin kasak kusuk memberikan laporan mengenai pekerjaannya kepada pak udin dan harus di selesaikan hari ini.


"Hei, kenapa semua pada dandan ya, apa ada tamu yang akan datang?" Ucap erin menatap Viona yang memakai setelan terbaiknya ke kantor hari ini begitupun tetangga mejanya dia seperti mengenakan kamisol saja di bagian dalam jasnya dan hanya sebagian saja tertutup memperlihatkan bentuk tubuhnya.


"Siapa yang ingin dia goda? Apa mereka semua berencana ke club?" tukasnya.


"Rin, Lo gak sibuk? bantuin aku dandan donk." pinta Rere yang merupakan teman makan Erin ketika jam makan siang datang.


"Lho lho..kalian semua pada ngapain sih, koq seperti pada mau ke kondangan? memangnya siapa yang mau datang?" tanyanya.


"Emangnya kamu gak tahu ya Rin."


"Nggak, emangnya ada apaan?" tanyanya.


"Pimpinan dari pusat mau datang kemari, kan jadwalnya hari ini, jadi semuanya tampil beda, fresh dan cantik." ujar Rere sambil sibuk merapikan rambutnya yang sudah di Gelung tinggi.


"Koq aku gak tahu?" ucap Erin menatap setelan formalnya dengan prihatin.


"Jadi, apa aja yang mau diperiksa oleh pimpinan?" Ucap Erin.


"Erm gak tahu Rin, mungkin cuma mengecek saja peningkatan kinerja setiap cabang diperusahaannya, aku dengar beberapa karyawan di pangkasnya begitu saja apalagi kalau karyawannya tidak becus mengerjakan tugasnya dia langsung saja, Klek." Ucap Rere sambil menirukan orang yang sedang di penggal.


"Di pecat?" tanyanya, mata Erin melotot, dia kemudian menghitung-hitung keterlambatannya bulan ini dan bulan-bulan sebelumnya.


"Ap..apa aku termasuk ya? Gimana donk!" ucap Erin mulai di Landa kepanikan.


Rere mengambil Napas. "Tidak usah khawatir, kali ini yang datang bukan pimpinan langsung koq, sepertinya dia berhalangan datang."

__ADS_1


"Tadi kamu bilang pimpinan yang datang langsung re, jadi siapa yang datang?" tanya erin.


"Putranya kayaknya deh, tapi belum jelas juga sih, tapi mungkin sekretarisnya atau bawahannya."


"Informasi dari Lo nggak Valid re, jantungku benar-benar mau copot nih." Ucap Erin.


Tiba-tiba pak Ghafur mengumpulkan mereka semua di aula sebelah tempat biasa mereka menerima tamu, Erin dan lainnya berkumpul di sana.


"Koq pak Ghafur heboh amit sih." Tanya erin sekilas menatap Managernya itu dengan sikap uring-uringan dan tidak tenang.


"Ya jelas donk, dia kan yang bertanggung jawab di kantor cabang sini, kalau sedikit saja ada yang salah bisa-bisa pak Ghafur 'ceklek' dia bisa di pecat." ujar Rere menampilkan wajah sedramatis mungkin agar Erin takut karena imbasnya bisa-bisa kena dia juga donk, apa lagi keterlambatannya setiap hari bukan main-main.


"Eh, eh sudah datang tuh." ucap salah satu pegawai yang dari tadi mengintip di belakang pintu, terus dia lari cepat-cepat dan memperbaiki posisinya Sebelum sang pimpinan masuk.


Pria itu melangkah perlahan, di sampingnya terlihat pak Ghafur berjalan sambil menyeka-nyeka keringatnya.


Erin mengintip dari sudut matanya, dia ingin tertawa melihat pak Ghafur yang biasanya sok cool dan merasa memiliki posisi setinggi langit terhadap karyawan-karyawannya kini terlihat bagaikan seonggok debu yang tidak berarti tinggal di depak oleh sang empunya perusahaan.


Perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya dan menatap jas hitam yang melekat pas di tubuhnya, dada bidang yang terbungkus kain hitam, siapa saja bisa menebak bagaimana bentuk tubuh yang berada dalam balutan jas itu, Erin kemudian menatap wajahnya, mata Erin tiba-tiba saja melotot melihat pria yang berdiri di hadapannya.


"Kak Gavin." bisik Erin.


Tidak ada senyum di wajah pria yang sudah pergi dari hadapan Erin, dia lalu beranjak pergi dan masuk ke ruangannya. Erin menarik napas panjang.


"Aku nggak salah lihatkan?" bisik Erin kepada dirinya.


"Ngapain Lo Rin, yeee koq melamun sih, belum pernah lihat pria setampan CEO kita itu?" ucap Rere tersenyum simpul.

__ADS_1


Erin hanya tersenyum kecut mendengar ocehannya. Tiba-tiba saja dari seberang meja Erin dua wanita dari bagian akunting mendekati Erin dengan gaya sok, mereka berdua berdiri dengan sikap pongah sambil memberikan pertanyaan kepadanya.


"Eh nama kamu Erin bukan? tadi, kenapa pak Gavin berhenti di depan kamu cukup lama gitu, kita-kita yang lihat koq rada aneh ya, apa kamu kenal sama pak Gavin" tanyanya ketus.


Erin mengerutkan hidungnya menahan umpatan yang sedari tadi melayang-layang dalam pikirannya melihat mereka yang selalu sok karena merasa dekat dengan pak ghafur.


"Gak, aku gak kenal." ucap Erin santai sambil kembali melihat layar monitor yang ada di hadapannya.


"Eh, eh Lo kan baru setahun kerja di sini, jadi jangan banyak tingkah ya, aku dengar kau udah punya cowok ya, jadi just keep your eyes on your boyfriend, Ok." Ucap salah satu cewek beralis tebal dengan bibir merah merona layaknya bibir ikan mujair.


Erin menghembuskan napasnya menahan kata-kata serapan untuk dua gadis bagian akunting itu, dia tahu mereka selalu berlagak karena merasa dekat sama pak Ghafur. "Sabar sabar ya Erin, nanti kalau kamu punya waktu kerjain aja dua ikan lele itu." ucap Erin kepada dirinya sendiri, Rere yang mendengarnya dari seberang meja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Ikan lele? harusnya kan ikan mujair, lihat saja bibir mereka yang mekar merona." ucap Rere terkikik. Tiba-tiba Pak Ghafur keluar dari lift dan baru saja keluar dari ruangan bagian pimpinan dan langsung menuju ke tempat Erin yang sedang tertawa-tawa bersama Rere.


"Sstt, pak Ghafur datang." Ucap Rere, kemudian mereka berdua langsung saja sok sibuk dengan layar monitor dihadapannya.


"Kamu Erina bukan?" tanyanya. Pak Ghafur seperti memikirkan sesuatu hal tetapi kemudian dia menyodorkan setumpuk berkas kepadanya.


"Bawa ini keruangan pimpinan." Ucapnya.


"Eh, sa...saya pak." Ucap Erin tidak percaya.


"Iya kamu, bawa sekarang setelah itu kamu datang ke Ruanganku setelah memberikan berkas-berkas itu." ucapnya, dia kemudian berbalik dan pergi ke ruangannya sendiri.


"Eh, ada apa ya Rin, ngapain kamu yang ke sana, biasanya juga yang masuk ke ruangan pimpinan sekretarisnya pak Ghafur gitu." Ucap Rere dengan khawatir.


Erin mengambil berkas-berkas yang menumpuk itu, kemudian akan membawanya ke lantai atas di ruangan pimpinan. "Doain ya semoga aku bisa selamat." ucap Erin kepada Rere yang sedikit tertawa mendengar ocehan Erin.

__ADS_1


Setelah naik lift Erin kemudian menatap pintu berwarna coklat dan bertemu pandang dengan salah satu sekretaris pak Ghafur yang cantik dia blasteran Amerika, dan dia sangat ramah kepada erin.


"Masuk aja langsung Rin, udah di tunggu dari tadi." Ucap Sera kepada Erin. Dengan jantung yang berdetak kencang Erin mengetuk pintu itu dan terdengar suara familiar yang Erin selalu dengar sejak waktu SMU dulu.


__ADS_2