My Two Face

My Two Face
Vol 30


__ADS_3

Mereka tiba di sebuah resort yang di dalamnya terdapat taman yang bisa dikunjungi untuk berwisata yang telah di pesan oleh Gavin, mereka berempat berjalan bersama, Mamat yang sok romantis kepada Erin sengaja memperlihatkan kepada mereka berdua, dia berusaha menggenggam tangan erin tetapi tentu saja Erin menolaknya, dia menatap tajam kepada Mamat.


"Jangan melewati batas, Mat." Ucap Erin sambil berjalan menjauhi Mamat.


Dengan keheranan melihat Mamat diacuhkan oleh Erin dia segera mendekati mamat dan menepuk punggungnya. "Apa dia memang seperti itu? kau kan kekasihnya, wajar dong kalau kau ingin bersikap Romantis, apa dia hanya mempermainkan kamu saja untuk mengisi hari-harinya tanpa seorang pria yang menemaninya?" Ucapan Chyntia berpengaruh besar kepada Mamat, suasana hatinya tiba-tiba begitu buruk.


Erin sedang duduk di salah satu gazebo kosong dan memesan minuman untuk dirinya sendiri, dia malas dan jengkel melihat tingkah Mamat yang menurutnya kampungan, dan menyebalkan.


"Sendirian?" Suara itu membuat Erin berbalik dan menatap gavin yang tersenyum kepadanya.


"Erm ya." ucapnya.


Gavin kemudian duduk dihadapan Erin dan memesan secangkir espresso untuknya.


"Kekasihmu menarik juga, aku tidak tahu kau memiliki selera seperti pria itu." Ucapnya tersenyum.


Erin menatap Gavin sambil melotot jengkel.


"Bukan urusan kak Gavin aku bersama siapa." ucap Erin tanpa mau menatapnya.


Dia tersenyum miring. "Tapi itu menjadi urusanku sekarang Erin, kau bersama dengan siapa dan apa yang kalian lakukan selama bersama." ucapnya.


Erin mengernyitkan alisnya. "Apa maksud kak Gavin?" tanyanya.


"Ikut denganku." Gavin berjalan sebentar dan membawa Erin ke taman Sebelah di sana banyak pepohonan yang rindang dan juga sangat tertutup.


Suara-suara aneh terdengar dari kejauhan, suara seseorang mengerang dan dari semua itu erin melihat mereka seperti saling memakan wajah mereka. Erin melotot menatap dua orang yang saling memagut itu, dia Mamat dan Chyntia?


Erin menatap mereka dengan pandangan jijik, Gavin dengan sengaja menginjak kayu kering agar mereka berdua sadar dengan situasi di sekitarnya.


Mamat berbalik dan melotot melihat Erin di sana, dia kemudian berlari dan ingin menjelaskan semuanya kepada erin tetapi sayangnya Erin menatap jijik kepada Mamat.


"Sebaiknya aku bilang atau tidak ya." Ucap Erin, tetapi dia memutuskan untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Kita selesai, jangan pernah muncul lagi dihadapanku, sebenarnya ini juga kesalahanku menerimamu, jadi jangan pernah muncul di hadapanku." Ucap Erin tanpa ragu, dia kemudian berbalik dan berjalan pelan entah mengapa di dadanya terasa plong dan melegakan.


Mamat menunduk, dia ingin mengejar Erin tetapi Gavin berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya menghalangi jalannya. Sedangkan Chyntia ingin mengucapkan sesuatu kepada Gavin, sebenarnya selama ini Gavin tidak pernah menghubunginya selama dia tinggal di Amerika. Tetapi tiba-tiba pagi ini dia meminta Chyntia untuk pergi kencan bersama dengan mereka, sesuai dengan rencana Gavin, semuanya mengalir seperti yang diinginkannya.


"Gav..gav, maafkan aku, aku hanya....


"Tidak perlu kau jelaskan, Chyntia. Aku mengajakmu karena mengingat pertemanan kita dulu tetapi sikapmu seperti ini sudah menggambarkan bagaimana dirimu sebenarnya, jadi aku bisa katakan aku menyesali pernah berteman denganmu, gara-gara kau, aku hampir kehilangan dua orang penting dalam hidupku, jadi sebaiknya kau juga jangan muncul di hadapanku." Ucap Gavin tanpa beban, dia kemudian pergi meninggalkan Chyntia yang menunduk seorang diri di sana.


~


Erin keluar dari Resort itu, dia sedang menunggu taksi untuk pulang, tiba-tiba saja seseorang memegang pundaknya. "Rin, Erin kumohon dengarkan penjelasanku, bukan aku yang mulai duluan tetapi wanita itu yang menggodaku, kumohon Rin beri aku satu kesempatan lagi." ucapnya.


"Lebih baik kau pergi deh mat, sampai di sini saja, aku mau pulang." Ucap Erin jengkel.


"Aku antar ya."


"Lo ini di kasi tau, Lo denger donk, aku bilang jangan muncul di hadapanku, Sebelum aku betul-betul membenci melihat wajahmu." ucap erin.


"Erin mengerutkan hidungnya. "Bukan cemburu tetapi kasihan melihat Lo termakan bujuk rayu Chyntia, jadi sebaiknya Lo pulang deh !"


Tiba-tiba mobil gavin sudah menepikan mobilnya, dia kemudian menyuruh Erin untuk masuk ke dalam mobil.


"Erin kasi aku kesempatan rin." Mamat mencoba menarik tangan erin dan mencoba menariknya menjauhi mobil gavin tetapi Erin mendorong keras tubuhnya dan menamparnya cukup keras.


"Jangan pernah kau muncul lagi di depanku, kau mengerti." Ucap Erin dongkol. Tanpa menunggu lagi Erin masuk ke dalam mobil gavin, dia menatap dari kejauhan Mamat yang tertunduk seorang diri di sana.


~


"Mau pulang?"


"Em iya aku mau pulang." jawab erin.


"jadi kamu lagi kesel sekarang?" tanyanya.

__ADS_1


"Kalau kesel sih erm, tidak juga, malahan lega and plong karena selama ini, aku memang salah menerima si Mamat karena rasa kasihan doank, jadi ya ini juga salahku sih Nerima dia gitu aja." ucap Erin mengangkat bahunya.


"Jadi, bagaimana kalau kita menikah saja?" tanyanya sambil lalu.


"What? koq ngomongnya ngaco gitu sih kak gav." ucap Erin heran.


"Aku ngomongnya gak ngaco Rin, aku serius sama kamu, kita menikah saja." ucapnya. Wajahnya tanpa ekspresi tapi mengajak nikahan? feel-nya agak aneh deh, dia seperti memikirkan sesuatu yang lain.


"Kak Gavin kalau bicara seriusan deh, koq ngajak nikahan seperti ngajak nonton ke bioskop aja." ucap Erin merasa aneh.


Gavin hanya diam saja, dia lalu membawa Erin ke suatu tempat. "Kak gav, kita dimana?" tanyanya.


"Apartemenku, kita makan malam bersama yuk." ucapnya. Dia menepikan mobilnya dan berhenti di depan apartemen mewah miliknya.


"Yuk, masuk Rin." ucapnya.


Erin spontan ngangguk aja, mengikuti kemana Gavin pergi. Apartemennya berada di lantai 23, bunyi lift terdengar berdentang, Gavin keluar begitupun Erin yang mengikutinya dari belakang.


Pintu itu membuka lalu Erin masuk ke apartemennya, tempat itu begitu luas di dominasi dengan warna putih dan hitam pada dindingnya, terlalu luas dan perlengkapan di dalam apartemennya juga tidak begitu banyak, Erin menatap setiap sudut tempat tinggal Gavin dan memandang kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam kota Jakarta.


"Wah, indah sekali." Gumam Erin menatap cahaya dan kerap kerlip dari setiap bangunan-bangunan menjulang di kota itu.


"Kau suka pemandangannya?" tanyanya. Dia membawa dua gelas minuman dan memberikannya kepada Erin.


"Ya, sangat indah dari atas sini." ucapnya sambil tersenyum.


"Sebenarnya saya sudah berbicara dengan ibumu dan Tante dewi, soal aku akan menikah denganmu." Erin menyemburkan minuman dari mulutnya dan terbatuk-batuk.


"What !" Ucap Erin melotot.


"Sudah saya bilang kan Rin, aku serius mau menikah dengan kamu, pertunangan kita yang lalu terputus begitu saja, jadi aku ingin mengambil semua yang memang menjadi milikku meskipun kau bilang tidak, kita tetap akan menikah." Ucapnya, matanya menatap tajam kepada Erin.


Ada apa sih dengan kak Gavin, dia terlihat aneh deh, dia seperti bukan kak Gavin yang pernah aku kenal dulu.

__ADS_1


__ADS_2