My Two Face

My Two Face
Vol 29


__ADS_3

Sore itu Erin akan pergi berkunjung ke rumah jeni bersama fari, mereka biasanya menghabiskan waktu saling bercerita dan bergosip ria bersama. Setelah tiba di rumah jeni, Ponsel Erin tidak pernah berhenti berdering, Erin memutar bola matanya menatap pesan Mamat yang tidak hentinya mengingatkannya tentang rencana jalan-jalan mereka berdua esok hari.


"Erin Lo gila ya? Ngapain coba lo Nerima mamat segala, emank lo suka sama dia ya? koq terima dia gitu aja." Ucap fari sambil ngakak.


"Lo udah nyakitin hati anak orang lho kalau lo terima si Mamat karena kasihan atau malu karena kiriman bunganya yang hampir setiap hari itu." jeni lalu geleng-geleng kepala.


"Memang apa sih yang salah dengan Mamat." ucap Erin ragu.


"dia..dia baik koq, terus dia ya..emank sedikit norak tapi dia perhatian dan...erm..dan....."


"Norak." ujar fari sambil tertawa


"Kalau lo hanya terima karena kasihan atau nggak suka dengan caranya dia kirim bunga ke kamu, lebih baik Lo bicara baik-baik deh sama tuh anak, biar nanti tidak ada rasa dendam tersisa." Erin lalu mengambil napas panjang Mendengar kata-kata jeni.


"Lo liat pesan masuk Mamat? sudah yang ke berapa kalinya? sudah hampir ke 20 kalinya hanya untuk ingatin aku kencan besok, dia gila kali ya, emank dia pikir aku lemot atau suka lupa dengan janjiku sendiri." ucap Erin sambil menyeruput es teh yang dibuat oleh jeni.


"Emank lo suka lupa kalau bikin janji rin, ngorok Sono habis-habisan kalau hari Minggu, udah itu Mamat nangis deh dan kalian bisa putus, gampang kan." ucap fari bersorak-sorai.


"Jahat amat sih fari, aku sih setuju-setuju aja, kalau erinnya emank betah dan suka sama mamat." ujar jeni sambil menahan napas mau ketawa.


"Ihh, jahat deh aku pulang nih." Ancam Erin. Tiba-tiba ponsel Erin berdering, dia menatap nomor yang tidak di kenalnya, Erin mengerutkan keningnya lalu menjawabnya.


"Halo?"


"Kamu di mana?"


"Ini siapa?" tanya Erin.


Terdengar suara hembusan napas. "Sudah lupa ! ini gavin."


"Ah, Oh kak Gavin." ucap Erin, jeni dan fari lalu menempelkan telinganya ke telinga Erin, dia mau mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Aku di rumah jeni, ada apa kak Gavin." tanyanya.


"Udah selesai ketemuannya atau baru saja ketemu sama teman-teman kamu?"

__ADS_1


"U..udah dari tadi sih ketemunya." ucap Erin dengan jujur.


"Jadi dimana kamu ketemu sama pacar kamu?" tanyanya.


"Erm itu bukan aku yang putuskan tempatnya dimana sih, si erm Mamat yang cariin." ucap erin.


"Mamat? jadi pacar kamu namanya Mamat?" ucapnya heran.


"Iya." jawab erin lantang.


"Oke, besok kita akan bertemu, sampai jumpa besok." ucap Gavin sambil tersenyum.


"Gila deh, masak mau kencan bersama, barengan lagi, aku sih ogah." ucap jeni.


"Itu juga yang aku pikirkan dari tadi, masak kak Gavin mau membawa perempuan itu, kenapa dia nggak jauh-jauh aja kalau mau pergi jalan berdua sama Chyntia." ucap Erin kesal.


"Nggak sabar aku dengar cerita seru kamu nantinya Rin, jangan lupa telepon aku ya kalau kencannya udah kelar." Ucap fari sambil terkikik.


"Udah deh aku mau pulang, Sono kamu juga pulang far, di cariin sama suami kamu nanti, bentar main ngambek-ngambekan lagi." ucap Erin sambil mendengus.


~


Pagi yang indah menyapa erin, dia sudah bangun tepat pukul 6.15 pagi, juga sudah membuatkan sarapan untuk ibunya yang sampai terheran-heran dengan tingkah Erin yang tidak seperti biasanya.


"Kamu baik-baik aja Rin? gak sakit?" tanya sang ibu sambil memegang kening putrinya.


"Oh ya, bentar malam kita akan berangkat makan malam di rumah kakak kamu, Dewi juga sudah rindu sama kamu Rin, udah lama dia suruh aku untuk pergi ke rumahnya." ucapnya.


"Mm, oke tapi gak janji ya mom, soalnya aku juga punya janji penting nih." ucap Erin sambil menggigit roti bakarnya.


"Di usahain donk Rin, masak kamu nggak datang, Dewi udah rindu berat sama kamu." ucap sang mama.


"Iya deh ma nanti Erin usahain pulang cepat." ucapnya sambil memperhatikan jam di pergelangan tangannya.


~

__ADS_1


Tepat jam 8 lewat 15 menitan Mamat akhirnya menjemput erin dan berhenti di depan ujung rumahnya karena Erin belum mau diinterogasi oleh ibunya jadi jemputnya diujung jalan saja, meskipun Mamat sempat protes karena Erin tidak mau memperkenalkan dirinya kepada ibunya.


"Udah siap? aku udah siapin tempat yang istimewa Rin, kamu pasti suka, tenang aja." ucapnya sambil tersenyum sumringah.


Bunyi klakson mobil membuat keduanya berbalik, mobil hitam mewah berhenti di depan mereka, Erin ragu-ragu menatap pengemudi mobil yang menurunkan kaca mobilnya.


"Udah mau berangkat Rin?" tanyanya.


Mamat menatap jengkel kepada siapapun pria yang sedang memanggil Erin dengan sapaan akrab. "Siapa dia Rin." tanyanya.


Gavin tersenyum miring kemudian menghalangi motor Mamat yang akan melaju.


"Apa-apaan sih nih orang." ucap Mamat naik darah.


"Eh pak, mobilnya di minggirin donk, kita mau lewat." ucapnya sambil menatap gavin dengan menilai. Pintu mobil gavin terbuka, nampak Chyntia baru saja turun dari mobil gavin, dia menghampiri Erin dan Mamat. Senyum mencela terlihat jelas di wajah Chyntia.


"Halo, Erin bukan? sudah lama kita tidak bertemu, jadi...ini cowok kamu ya?" Sambil menunjuk Mamat dan menutup mulutnya menahan tawanya. Erin menatapnya dengan tatapan tajam tanpa sapaan kepada wanita dihadapannya, pakaiannya cukup terbuka. Erin menatapnya lalu Tersenyum sinis. "Apa dia pikir kita sekarang berada di pantai?" Gumam Erin meremehkan.


"Apa kau belum bilang kalau kita akan jalan bersama hari ini?" Ucap Gavin Tersenyum kepada Erin.


"Ha? Oh ya, aku lupa bilangnya." ucap Erin menaikkan bahunya tanpa rasa bersalah sedikitpun pada Mamat.


"Jalan bareng?" Ucap mamat melihat ke arah Erin.


"Lebih baik kita semua naik mobil bareng deh daripada naik motor itu, lagi pula kau yakin motor itu bisa dikendarai di jalan raya?" Ucap Chyntia menatap Mamat dengan pandangan meremehkan.


"Gimana rin?" tanya Mamat kepada Erin.


"kalau begitu kita naik mobil saja, lagi pula Lo bilang motor Lo lagi bermasalah." ucap Erin menatap motor Mamat yang sering mogok.


"Erm, ok deh." Sambil garuk-garuk kepala.


Mereka semua naik ke mobil gavin dengan suasana yang begitu canggung, tidak ada yang membuka pembicaraan di dalam mobil, tiba-tiba saja Chyntia yang sedang duduk di depan menatap erin yang duduk dengan Mamat di belakang.


"Jadi sudah berapa lama nih kalian jalan bareng?" tanyanya. Erin tentu saja ogah menjawab pertanyaan perempuan itu sedangkan mamat dengan spontan menjawabnya dengan tenang sambil cengar-cengir yang membuat Erin selalu mengerutkan alisnya mendengar ucapan norak Mamat, tanpa memperdulikan percakapan mereka yang kian akrab di dalam mobil, Chyntia selalu tertawa-tawa setiap kali Mamat bercerita. Erin hanya menatap jendela kaca mobil tanpa rasa cemburu sedikitpun di hatinya melihat keakraban mereka berdua. Tatapan itu tentu saja di sadari oleh erin, tidak hentinya Gavin meliriknya dari kaca spion depan sambil tersenyum menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2