
"Hai Rin, sorry nih manggil kamu waktu jam sekolah gini, hemm ada yang mau gue omongin bentar aja koq."
Erin yang hanya menatap gavin ngangguk tuing aja, Gue kenapa ya sambil memandang setiap gerak gerik kak gavin jantungku berdetak kencang.
"Lo baik-baik aja kan ren?" kata gavin yang sejak tadi memperhatikan erin yang gak konsen.
"Haa, ehh baik koq." Tiba-tiba gavin memegang dahi erin.
"Emm gak panas koq." kata gavin, Erin hanya mematung terdiam. Ouchhh smoga kak gavin gak denger jantungku yang berdetak aneh.
"Kak gavin kalau ngomong nanti ya, soalnya pak Agusnya udah menuju kelas tuh." Tanpa mendengar jawaban Gavin tiba-tiba saja erin berbalik dan lari sekencang-kencangnya, uuuhhhh benci deh, aku benci perasaan ini.
Erin bersembunyi di belakang leb biologi, dia menundukkan kepalanya sambil mengatur napasnya.
"baru kali ini aku larinya sungguh-sungguh deh berkat kak gavin, dia pasti mikir yang aneh-aneh ke aku, aku lari gitu aja." kata erin yang ngomong sendiri, sambil nengok kiri dan kanan.
"ya jelas aneh, Lo suka ya sama gavin."
Erin berbalik dan betapa kagetnya erin melihat sosok yang lagi duduk di atas bangku yang gak kepake lagi, dia menatap erin dengan wajah sedih berubah menjadi senyum sinis, Oh my god cowok indo ini ngapain dia di sini sihhhhhh.
Dia tersenyum dan memandang erin yang melotot padanya.
"Lo emank beda banget ama merin." Erin yang jengkel kedapatan ama si raka langsung berdiri.
"Maksud kamu apa sih."
Raka masih bersandar dan tanpa memandang erim dia tersenyum sinis tanpa menjawab pertanyaan erin
"Terserah lo deh." Kata erin jengkel plus dongkol lalu dia berbalik menjauh dari raka, tiba-tiba satu tangan erin di cegat dan mendapati raka yang sudah menarik lengan erin.
__ADS_1
"ikut aku". dia lalu menarik erin keparkiran.
"Ngapain sih lo, lepasin nggak! gue teriak nih." Ancam erin, tapi si raka seperti orang budek nggak dengerin erin yang berontak dia menarik erin ke atas motornya, erin yah nurut aja takutnya ini orang kalap atau bentar dia yang jatuh sambil memasang helm ke kepala erin.
"Pegangan !" perintahnya.
Erin nggak punya pilihan lain lagi selain memegang pinggang raka, Sialan nih orang, bentar kalau ada pak polisi gue teriak kencang-kencang deh biar dia kapok. Raka memakai helmnya dan dia mulai menancap motornya, erin yang ada di belakangnya menutup matanya karena raka mengendarai motornya gila-gilaan. Setelah beberapa menit di atas motor, erin masih menutup matanya dan tangannya masih di pinggang raka.
Motorpun berhenti, tapi erin gak berani turun, Raka yang sudah membuka helmnya sambil menyilangkan tangannya menunggu erin yang gemetaran di belakang raka.
"Ngomong-ngomong sampai kapan lo mau peluk gue." Erin yang tersadar dengan suara raka membuka matanya sedikit dan baru sadar kalau motor udah berhenti, dia dengan refleks melepas pelukannya dari raka dan mencoba untuk turun.Tapi karena masih gemetaran dia hampir terjatuh.
Raka turun dari motornya dan tanpa ragu-ragu mengangkat erin dari motornya dan menurunkannya. Erin yang diangkat dengan seenaknya saja melotot dan mencoba memukul raka, tapi dia masih gak punya tenaga karena ketakutannya tadi.
"Lo nggak apa-apa?" katanya yang memandang erin yang sepucat kertas. Erin yang dari tadi menahan amarahnya, pengen meledak ama cowok indo di depannya.
Erin tersadar kemana raka membawannya,ini kuburan Merina tertulis di pusara itu merina. Betapa terkejutnya erin melihat kuburan saudara kembarannya yang tak pernah sekalipun dijumpainnya. Erin gemetaran, dan dia terjongkok di depan kuburan saudara kembarnya itu.Erin terdiam dan hanya menatap pusara Merina dengan tatapan kosong.
"Aku pikir lo harusnya tau dimana merina di makamkan, aku baru menyadari merina tak pernah lupa kalau dia punya saudara kembaran." Raka lalu mengeluarkan liontin dan terukir di liontin itu ME, Erin mengamati liontin perak yang terukir ME dan di balik liontin itu tertulis Merin dan Erin.
Tanpa erin sadari air matanya jatuh di pipinya dan memandangi pusara di depannya ini.
"Maaf, maafin aku merina." Sambil menangis yang tidak di tahan-tahannya lagi. "maafin aku kak, maafin aku." lalu hari itu erin menangis tersedu-sedu didepan pusara merina
Erin berbaring di kamarnya, jari telunjuk di bibirnya sambil memikirkan kejadian dua hari lalu bersama raka. Waktu erin menangis dia nggak menyadari raka menghapus air mata erin yang tumpah di depan pusara Merina.
Masa sih aku gak nyadar, dia kembali mengingat raka yang berbeda dari raka yang dikenalnnya seram dan menjengkelkan. Dia begitu berbeda, emm dia waktu itu lembut, baik sikapnya maupun suaranya padaku.Terngiang suara raka yang mencoba menenangkan erin yang menangis tersedu.
"Shhh, merin pasti senang ketemu ama kamu, jadi berhenti nangis ya, shhh."
__ADS_1
"STOP, stop ngapain aku mikirin si raka, aku gila, gila…."
~
Denting bel sekolah 45 raya bergema seantaro sekolah pagi itu, siswa dan siswi pada masuk kelas menunggu pelajaran dari pak agus guru matematika yang suka teriak-teriak kalau liat siswanya gak ngapal rumus apalagi perkalian.
Erin sedang mengintip di pintu kelas. "Mati aku, baru kali ini telatnya keterlaluan giniii."
Sambil garuk-garuk kepala ngintip di jendela, erin tak menyadari seseorang berdiri di belakangnya.
"Nggak masuk?"
Erin terkejut mendengar suara raka yang berdiri di belakangnya.
"Gimana mau masuk kalau pak agus yang ngajar pagi ini, bisa-bisa telinga gue budek di teriakin pak agus, dia kan doyan teriak-teriak." Raka tersenyum kecil lalu tanpa ragu dia membuka pintu kelas yang tadinya tertutup, Erin memelototi raka .
"Lo gila ya!" kata erin.
Erin tambah melotot ternyata pagi ini guru-guru pada rapat, jadi pelajaran sampai jam istirahat ditiadakan.
"What! sumpah lo jeni fari, lo koq gak sms gue kalau pak agus gak masuk ! Gue lari-lari keringatan gini."
Fari dan jeni cekikian. "Eitt, sorry deh rin, daku lupa." lagian raka kan bisa ngasih tau lo di luar kelas tadi."
kata jeni sambil memandang raka.
Erin lalu berbalik dan memandang raka dengan dongkol. "Uhh nyebelin banget nih cowok."
Raka yang lagi tiduran di bangkunya sambil dengerin musik lalu tersenyum kecil mendengar omelan erin.
__ADS_1