My Two Face

My Two Face
Vol 34


__ADS_3

"Norak, gue kasih bon cabe level 100 biar semaput tuh makhluk." ucap Erin sambil menatap ke lantai bawah, Mamat yang berdiri di bawah derasnya hujan sambil memegang bunga dan memegang papan kardus permintaan maaf buat Erin.


"Wah, wah, romantis banget cowok lu Rin, kalau aku sih, maafin aja, syukur-syukur masih ada yang tulus minta maaf ke Lo."


"Kalau gak tahu problem, diam aja deh." jawab erin.


"ih kok sinis sih, aku hanya mau nasehatin Lo doank." ucap Linda bagian akunting.


"Gak deh, gak butuh." ucap Erin judes. Biasanya Erin membiarkan saja kalau Linda cs selalu mengkritiknya atau tiba-tiba mampir di meja kerjanya, terus dia bicara gak pake otak, main nyindir-nyindir segala, karena Erin dulu belum kerja selama setahun di perusahaan ini, jadi dia tidak membalas ucapan Linda yang sok kecakepan itu.


Dia melotot, erin pun balas melotot menatap matanya yang kurang lebar.


"Ada apa rin?" tanya Rere yang kebetulan baru keluar dari pantry.


Tiba-tiba Linda pergi sambil melipat tangan dan menggelengkan kepalanya. "gitu deh kalau pengecut." gumamnya.


"Ukh, untung gue gak denger nasehat dari genderuwo bisa-bisa aku ngikut jadi genderuwo." ucap Erin, Linda berbalik dan ingin berbicara balik, tetapi karena datangnya beberapa teman Erin, dia kemudian urungkan niatnya, dia pergi menjauh dengan dongkol.


~


"Sebel banget deh." Ucap Erin sambil menyeruput kopinya.


"Ada apa?" tanya Rere, masih memandang Mamat di bawah, yang dipaksa pergi oleh bang Mamang karena udah terlalu lama di bawah derasnya hujan.


"Tante Linda, dia sok nasehatin segala lagi, maksa-maksain orang maafin mamat, emang siapa dia, emang sih gosip-gosip yang beredar dia lagi deket Ama pak Ghafur, jadi dia terlihat semena-mena Sama yang lainnya." ucap Erin dongkol.


"Linda? ck dia itu cerita lama Rin, dia emank sukanya ngebully orang, apalagi kalau dia merasa tersaingi, tahu gak yang di lakuin Ama tuh genderuwo sekarang?" ucap Rere.


"Emang apaan."


"Dia itu berusaha deketin CEO kita yang ganteng, Pak Gavin, dia itu bentar-bentar bolak-balik ke lantai atas, alasannya bawa kopi, antar berkas-berkas, banyak deh yang dia jadiin alasan." ucap Rere.


"Dari mana Lo tahu semua gosip itu?"


"Pan aku deket sama sekretaris pak Gavin, dia cerita ma aku."


~

__ADS_1


Hari itu, Erin akan menyelesaikan pekerjaannya, jadi dia pulang agak telat, sekarang pukul 7 malam, akhirnya pekerjaannya udah kelar, Erin mengambil ponselnya dan segala barang penting lainnya.


Erin menekan tombol lift, kemudian tidak lama liftnya terbuka dan matanya menangkap sosok Gavin bersama Linda dan seorang pria berkacamata, dia terlihat seperti seorang dokter karena di tasnya ada tertera namanya dan titelnya, Dr. Zain.


"Baru pulang Rin." ucap Linda sok ngakrab.


"Owh kamu Erin ya, Erika udah cerita tentang kamu Lo, jadi kamu kapan nikahnya?" tanyanya.


"Eh, nikah? itu...


"Lo mau nikah ama Mamat ya Rin? selamat ya, kenapa kemarin Lo biarin dia hujan-hujanan, kan kasihan."


Erin memutar kedua bola matanya. Dia tidak memperdulikan ucapan Linda.


"Secepatnya koq, tunggu aja undangannya." ucap gavin.


Wajah Linda berbalik, dia bingung dengan situasinya. Erin yang di tanya koq pak Gavin yang menjawab. pikir Linda.


"Kalau gitu pertemuan selanjutnya di kantorku deh Vin." ucap Zain kemudian melambaikan tangannya lalu segera masuk ke pelataran parkir dan membuka mobilnya.


Erin pun ikut menjauh tetapi dihalangi oleh Gavin.


"Kamu bawa mobil ya Rin." tanya Gavin.


"nggak, lagi masuk bengkel." ucap Erin sambil melirik ke arah linda dengan cemberut menghiasi wajahnya.


"Masuk, aku antar."


"Iya Rin, masuk ke mobil, pak Gavin udah baik mau tawarin antar kita." ucap Linda berdiri di samping Gavin.


Erin kemudian berjalan dan membuka pintu mobil dibelakang, karena Linda mengikutinya dan membuka pintu mobil disamping Gavin.


"Duduk di belakang." Ucap Gavin kepadanya.


"Apa? oh baik pak."


Rin, kamu duduk di depan gih, ada yang mau aku omongin." ucapnya.

__ADS_1


Wajah Linda semakin keriting, kenapa pak Gavin bicara sama Erin seperti mereka sangat akrab? pikir Linda, bibirnya Sekarang sudah setipis pisau.


Erin membuka pintu mobil dan beranjak ke sebelah Gavin.


Mobilpun melaju, Gavin membuka pembicaraan. "Dimana alamat rumah kamu?" tanyanya.


"Erin dulu deh pak, yang di antar, rumah saya masih agak jauh dari Erin." ucapnya.


"Tidak, kasih tahu aja rumah kamu dimana."


"Oh, eh di jalan singa blok 3 pak." ucapnya, matanya sinis menatap erin.


"Erin bagaimana dengan Mamat tadi? apa dia tadi sudah pulang dengan Selamat, aku tadi nyuruh ke bang Mamang untuk antar dia, kamu sih keterlaluan membiarkan cowokmu kebasahan."


Erin tersenyum miring, dia begitu dongkol dengan nenek sihir di belakangnya ini. "Kalau lo khawatir, kenapa Lo nggak nanya langsung aja sama bang mamang, koq nanya gue." ketus Erin.


Mata Linda membulat, matanya melirik dari Gavin ke Erin. Nih anak berani buka kedoknya di depan pak Gavin. pikir Linda.


"Bukannya gitu Rin, dia kan cowok kamu, harusnya kamu sedikit perhatian, kan kasihan."


"Siapa bilang dia cowok gue? kalau lo galau, Lo bisa ke rumah Mamat, tanya aja bang mamang dimana alamatnya." ucap Erin.


"Koq ngomongnya gitu Rin, kan gak sopan, di depan pak Gavin lagi." ucap Linda merasa senang dengan sikap impulsif Erin.


"Tau ah gelap, susah bicara Ama genderuwo." gumam Erin.


Gavin menahan tawanya, tetapi Linda dapat melihat kalau sedikit senyum tercetak di wajah pak Gavin. wajahnya kini merah padam, merasa malu dengan sikap seenaknya Erin kepadanya.


"Koq ngomongnya kayak anak kecil aja sih rin." kembali Linda bicara.


"Diam deh, bentar lagi lo sampai,"


"Pak Gavin, bisa tidak kita bicara?" tanya linda, biar erin di antar duluan deh. Dia mencari cara agar dia bisa berduaan dengan Gavin.


"Kalau mau bicara, di sini aja, ini sudah larut malam, saya masih ada janji malam ini." ucap Gavin, matanya masih mengarah ke depan.


"Eh Oh, kalau begitu saya bicaranya nanti saja pak, ini sifatnya pribadi, jadi nanti saja." ucapnya, matanya mengarah kepada Erin yang masih duduk tenang sambil menatap pemandangan di luar jendela mobil.

__ADS_1


"Kalau begitu kirim lewat email saja, karena saya sibuk, saya tidak bisa bicara di kantor jika itu bersifat pribadi atau kamu bisa memberitahu sekretaris saya, biar nanti dia yang sampaikan." ucap Gavin mulai jengkel, dari awal wanita bernama Linda ini sudah beberapa hari berusaha untuk deketin dia, Gavin merasa risih dan tidak suka dengan sikap keakrabannya seolah-olah dia menunjukkan ke orang-orang kalau mereka memiliki sesuatu yang special.


"Rasain lu." gumam Erin. Meskipun begitu Erin juga ogah berlama-lama dengan Gavin, dia masih marah dengan kejadian yang lalu dan dia malas membahasnya, siapa yang tahu apa yang akan dilakuin Gavin ketika mereka hanya berdua saja.


__ADS_2