
Erin berdiri mematung sambil terus menatap bergantian antara ibunya dan gavin, erin tak bisa berkata-kata….Mereka semua berdiri, dan tante dewi yang menjadi ibu merina berlari dan memeluk erat erin sambil menangis. Mata erin menatap gavin dan ibunya meminta penjelasan .
"Erin akhirnya kau datang juga, tante dewi memandangi erin dengan menangis, dan begitupun ibu erin. "Kau datang juga nak"…
"A..Apa? Nak!?!! erin tak bersuara sedikitpun, otaknya seakan blank tak mengerti dengan situasi ini.
"Ka..kamu pasti kaget biar mama eh tante dewi yang jelasin ayo duduk". Erin yang shock dibawa kesofa, di depannya duduk Gavin, irgi dan ibunya begitupun anggota keluarga lainnya.
Erin terus memandangi ibunya yang terus menangis dan tertunduk. Mata Erin mulai merah. "I..ibu kenapa ibu ada di sini"? apa maksud semua ini"?...ibu rena tak sanggup bicara tante dewi yang juga menangis tak sanggup menjelaskan. "Erin…kamu pasti udah mengerti kan, kalau kamu adik merina..adik kembar merina.
Erin yang masih tak memalingkan pandangan matanya kearah mamanya…seperti tak mendengar ucapan gavin, erin kembali mengulang pertanyaanya dengan suara bergetar.
"ibu…?? Kenapa ibu ada disini"? ibu erin menangis tak sanggup memandang erin.
"Apa maksud semua ini ,…."?
kata erin yang mau menangis, dengan cepat erin berbalik ke kak gavin yang terlihat sangat bersalah lalu tertunduk, seketika itu erin terpikir bahwa semua itu sudah terencana, kak gavin ngebohongin erin, ..Jadi kak gavin udah tau dari awal aku ini adik merina? selama ini erin merasa dibohongin seperti orang bodoh yang berpura-pura menjadi Merina.
Erin memandang semua orang dalam ruangan itu, lalu tiba-tiba dia berdiri dan memandang sinis gavin yang balas memandangnya, "Semua ini bohongkan"? Aku gak mau dengar kenapa hal gak masuk akal ini terjadi dalam hidupku, hal seperti ini biasanya adanya di novel doank".
Erin pun pergi, tak memperdulikan orang-orang yang teriak di belakangnya and sebodo amat, erin terus berlari dan tanpa sadar seseorang mengikutinya dari belakang. "ERIN..erin tunggu, dengerin dulu penjelasanku". Gavin menarik lengan erin dan menatap erin yang udah banjir air mata.
"Lepasin tangan gue", erin menghentakkan tangannya dari gavin, tapi gavin tetap memegang lengan erin.
"Dengerin dulu yang akan aku jelaskan erin, please…please erin dengarkan penjelasan aku..".
__ADS_1
Dia kali ini memegang bahu erin, dan menatapnya tajam. Erin kali ini gak bisa kabur jadi dia ngangguk tuing ngikutin gavin yang menariknya ke mobilnya. Gavin membawa erin agak jauh dari perkotaan, mobilnya berhenti di tepi danau.
Erin yang celingak celinguk, menatap gavin dengan heran.
"ini di mana sih koq jauh amat". Gavinyang mendengar erin ngedumel sendiri, lalu tersenyum .
"Kan gawat kalau kamu kabur lagi ren". Erin membalas Gavin dan menyipitkan matanya ke arahnya. Dia berdiri di tepi danau yang disekelilingnya tumbuh pepohonan yang rindang dan sedikit serem sih, erin berdiri di samping gavin yang memandangnya penuh arti.
"Kamu pasti kaget dengan semua ini kan ren"! Matanya memandang jauh ke danau dan mulai bercerita.
"Tante dewi tak memiliki pilihan lain", kata kak gavin sedih, "Tante dewi ngelahirin anak kembar wajahnya sangatlah mirip, tante dewi sangat menyayangi mereka berdua, sampai umurmu setahun kamu masih bersama ibu kandungmu". Erin hanya memandang gavin. Dia menghela napas untuk kesekian kalinya.
"Waktu itu merina sakit keras, dan membutuhkan donor jantung sesegera mungkin, kata ayah tiap hari tante dewi menangis tanpa henti untuk merina, segala upaya dilakuin tante dewi, dan hari itupun tiba, donor yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, dan merina harus dioperasi di LA, karena segala perhatian tertuju pada Merina yang kapan saja bisa pergi meninggalkannya selamanya. Dia terdiam dan tertunduk….
Erin yang merasa semua yang diceritain kak gavin baginya seperti mimpi, dia lalu menggeleng dan marah.
"Bohong…itu semua gak benarkan ! Titip"?emang gue barang titipan, bukannya itu egois jadi selama ini aku dititipin doank dan kelar ! udah". Enak aja, emang hidup gue gak penting apa"? erin yang menurutnya semua itu egois, dia mempertahankan merina dan ninggalin gue gitu aja ke sahabatnya..?
Erin tuh kalau marah dia tertawa, gila kan dia tertawa dan tertunduk sambil menangis dan terisak, dia tak memandang gavin yang berdiri di sampingnya dan sambil menatapnya iba. Tiba-tiba gavin memeluk erin yang menangis di bahunya, hanya terdengar suara shhh dari gavin yang membuatnya merasa sedikit lebih baik. Tanpa sadar erin mengerjapkan matanya yang basah dan tersadar dia ada dimana…dan dia menyadari kalau palanya lagi nyandar cantik di bahu Gavin.
Tiba-tiba erin menatap tajam gavin tepat dihadapannya, gavin yang bingung lalu menaikkan alisnya.
"Udah baikan ren"?
Erin menghapus sisa-sisa air matanya yang nangkring di pipinya. "Jadi, selama ini kak gavin ngebohongin aku ya, dari awal kak gavin tahu siapa aku kan? tuduhnya.
__ADS_1
"Apa kak gavin senang aku seperti orang bego yang berpura-pura menjadi merina"?!?
Gavin yang pengen menjelaskan semuanya kini gak dipeduliin lagi ama erin, dia lalu balik dan berjalan cepat ninggalin gavin yang mengikutinya. "Erin, erin dengarkan dulu baru elo marah ok"?!
Erin gak perduli lagi, lagi pula siapa sih yang peduli dengan perasaan aku, gak penting semuanya egois…Pikir erin.
Gavin lalu menarik tangan erin keras dan di sentakkan oleh erin tapi tak dilepas oleh gavin yang masih memegang lengan erin.
"Lepaskan tangan gue, Lepasin gak ?! Gavin masih tetap memegang tangan erin dan menariknya ke hadapannya dan menatapnya tajam, erin sedikit mundur dengan badannya condong ke belakang.
"Please ren dengarkan dulu". kata gavin seperti putus asa dalam suaranya.
Erin asli ngangguk tuing, gak ada pilihan lainkan selain mengiyakan secara wajah kak gavin deket banget ke wajah erin. Erin perlahan mengendorkan pegangannya tapi tak melepas tangannya. Dia masih memegang tangan erin dan membawanya ke mobil.
Mereka berdua berada dalam mobil dan erin menunggu gavin berbicara.
"Awalnya aku betul-betul gak tahu kalau merina punya kembaran, dari awal aku pikir kamu memang merina, tapi aku melihatmu di foto tante dewi bersama merina, lalu ayahkupun bercerita tentang tante dewi. Erin menatap ke depan mobil tanpa memandang gavin di sebelahnya.
Gavin memandangi erin, "maafin aku ren, aku nggak bermaksud nyakitiin kamu". Aku pikir ini hanya kebetulan bahwa kamu sangat mirip dengan merina, aku nggak menyangka kamu adiknya merina".
Erin menatap tajam Gavin dan menghapus air matanya dengan kasar, "Apapun yang kau katakan aku tidak perduli, tidak ada yang akan berubah".
Malam kian larut dan erin masih terbaring di kamarnya belum tidur, dia masih memikirkan penjelasan gavin tadi sore. Setelah dengerin ocehan panjang mama tadi sore di temani gavin, ampe kuping gue bosan dengerin cerita yang diulang ama mama.
"Hemm…koq dia mandangin gue dengan wajah seperti itu sih, gue kan bisa kegeeran". AAAAh bodo amat, nih jantung gue lagi ! tenang bisa gak sih!! Tiba-tiba erin terduduk dan memeluk boneka pinguinnya. "jangan-jangan…gue..masa sihhhhh, Apa gue suka ma kak gavin ya"? Dia memegang jantungnya yang berdenyut denyut aneh, erin kemudian menggeleng lagi mencoba menghilangkan pikiran gilanya itu, "gak mungkin, gak akan", Erin tertidur sambil memikirkan hari esok yang telah berubah.
__ADS_1