
Ponsel erin berdering beberapa kali, erin yang asyik nonton film korea sambil ngemil di hari minggu nggak mendengar hpnya yang dari tadi berbunyi. Di hari minggu gini erin biasanya habisin waktunya nonton film korea semalaman suntuk, cemilan dan cokelat panas sudah nangkring di depannya. Terdengar beberapa kali ketukan dari pintu rumah erin.
"iyaaaaa, tunggu." Erin heran siapa yang bertamu pagi-pagi gini. Rambut erin yang awut-awutan dan hanya cuci muka doank alias belum mandi, dengan cuek membuka pintu rumah, and erin melotot melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
"kak gavin?" dengan tersenyum Gavin menyapa erin yang lagi melotot di hadapannya.
"Hay rin." Erin baru nyadar dengan penampilanya yang ajaib.
" Ma..Masuk kak, em...." Erin lalu berlari ke kamar mandi, sewaktu mama erin keluar dan menyapa radit dia memandang erin sambil geleng-geleng kepala melihat erin yang ngacir ke kamar mandi.
"Duduk Vin." Ucap mama erin yang mempersilahkan Gavin duduk sambil membuatkan minum untuk Gavin.
"Erin kalau di hari Minggu emang seperti itu Vin maunya tuh anak malas-malasan." Kata ibu erin lalu meletakkan teh hangat di depan gavin.
"Minum ya vin sambil nungguin Erin, dia kalau mandi cepet Koq, tante ke sebelah dulu." Ucapnya.
Gavin hanya tersenyum mendengar ocehan ibu erin.
"Lho kak gavin dating, tumben." ucap erin lalu duduk di sebelah gavin. Dirinya sudah fresh sehabis mandi meskipun mandinya cepet, konsentrasinya pudar hari ini melihat gavin menunggunya sendirian di ruang tamu.
"Emank gak boleh ya, aku kesini mau ngajak kamu pergi ke suatu tempat." ucap Gavin dengan serius.
"Suatu tempat? jangan main rahasia-rahasiaan deh kek Gavin." Erin mencomot cake yang di suguhkan buat gavin.
"Kamu siap-siap ya Rin, aku nunggu sekarang."
"Oke deh." Kata erin masih menatap gavin dengan curiga.
Mereka berdua sekarang berada di dalam mobil gavin, Sepertinya tempat ini pernah erin kunjungi karena terlihat agak familiar bagi erin.
"Kenapa Rin koq celingak celinguk?" Kata Gavin tersenyum. Erin masih melihat sekitarnya, oh ternyata kak gavin membawa erin ke pusara merina, meskipun waktu itu Raka sudah membawanya ke sini erin tidak berkata apa-apa, dia hanya ikut kemana Gavin membawanya.
"Koq gak nanya kita ada dimana?" tanya gavin sedikit mengernyitkan alisnya.
"Kamu sudah tahu tempat ini?" tebak Gavin.
"Erm itu....er, Raka membawa erin ke sini."
Meskipun itu bukan kesalahan Erin ada nada minta maaf dalam suaranya.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah tidak senang terlihat di raut muka gavin.
"Jadi, kamu semakin akrab ama raka sampai kamu di bawa ke pusara Merina." ucapnya terdengar ngegas.
Eh koq dia marah sih? "Kak gavin marah?" tanya erin melihat raut wajah gavin yang mengerutkan alisnya.
"Kamu harus hati-hati sama dia Rin, kamu tahu kan siapa Raka? dan hubungannya dengan Merina." katanya tajam.
Mobilnya berhenti di sisi jalan, dia nampak terdiam membuat Erin tambah gak enak lihat raut wajahnya. Kan bukan salah erin, dia cuma di bawa doank ma raka.
"Aku..aku tahu koq siapa Raka, dia cuma mau membawaku ke pusara Merina, dan aku juga kaget selama ini tidak ada yang kasih tahu ke aku di mana kuburan kak merina." ucap merina, dia juga gak mau disalahin enak aja.
Gavin mengambil napas panjang. "Ya udah, Karena kamu sudah kesini kita pergi ke tempat lain aja." ucapnya, masih dengan nada jengkel di setiap kata-katanya.
"Kemana kak?" tanya erin.
"Nanti kamu tahu." ucapnya.
Erin memanyunkan bibirnya, kenapa sih kak gavin ngajak aku? pan dia punya tunangan.
Di depan stasiun ada rumah makan seafood, mereka akhirnya singgah di sana untuk mengisi perut karena hari sudah mulai siang.
"Kamu mau makan apa Rin?" tanya kak gavin.
"Itu doank?" tanyanya.
Erina ngangguk, gavin memesan hal yang sama dengan Erin. Sambil menunggu makanan kami di siapkan, kak gavin Sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Koq kak gavin diem aja, ada apa?" tanyanya.
"Emm, gak jadi deh, lebih baik kita makan dulu." ucap Gavin setelah melihat pesanan mereka datang."
Setelah mereka makan, Gavin mengajak Erin ke taman dan menghentikan mobilnya di sana, wajahnya berubah menjadi serius menatap erin.
~
"Erin, kamu sudah tahu nggak?" tanya gavin menatap langsung manik mata Erin.
"Tahu apa?" tanya erin mengangkat alisnya, kejutan apalagi yang akan dikatakannya.
__ADS_1
"Sepertinya ibumu dan ayahku menjodohkan kita berdua, kau tidak tahu?" tanyanya.
Wajah erin tekejut, dia membuka sedikit bibirnya Karena begitu heran mendengar berita itu.
"Kak gavin ngawur ya, jangan bicara yang nggak-nggak deh !" ucap erin memalingkan wajahnya.
"Aku juga begitu terkejut mendengar kata-kata ayahku beberapa hari yang lalu Rin."
"lha, bukannya kak gavin punya cewek tuh, bagaimana bisa kita di jodohkan! ngapain juga kita di jodohkan segala." ucap erin.
"Kau tahu?" tanyanya.
"ya, Irgi yang memberitahu aku waktu di pesta tempo lalu."
Gavin mengacak-ngacak rambutnya, "Hal itu yang membuat aku pusing rin, aku tidak ingin Chyntia terluka karena keputusan papa yang semaunya."
"yaaa di omongin sama ayah kak gavin lah kalau kak gavin udah punya cewek, ngapain pusing!" ucap erin dongkol.
"Oke deh, nanti aku bicarain sama ayahku, makasih ya rin sarannya, yuk kita pulang." ucapnya. Erin yang sebenarnya sakit hati mendengarkan kalimat kak gavin menahannya, dia ingin sekali keluar dari mobil ini.
~
Pagi menyambut siswa dan siswi di SMU 45 Raya, suara orang-orang sedang ramai berceloteh sebelum bel pelajaran masuk.
"Cepetan jalannya Non, lemot banget sih!" teriak Fari menarik tangan erin supaya langkahnya lebih di percepat.
"Nggak ingat ya, ni hari ulangan dari pak Agus kalau kita terlambat bisa-bisa kita kena kutukan mata dari pak Agus, cepat gih." ucap fari menarik erin yang tidak bersemangat.
"Lo sudah belajar nih." tanya jeni.
"Gak, kepalaku pusing, lihat buku matematika di depan mataku langsung terbayang wajah pak Agus kan serem." ujar fari sambil merinding.
"Nih anak juga, ada apa sih Rin lo koq gak bersemangat pagi gini?" ucap jeni duduk di sampingnya lalu bersandar di bahu erin.
"jangan bersandar berat tahu!" ucap erin dongkol.
Raka baru saja tiba dan masuk ke dalam kelas, dia duduk di bangkunya, matanya lalu menatap ke arah Erin yang menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Eh,eh si raka liatin kamu tuh Rin." bisik jenis melirik Raka.
__ADS_1
"Biarin aja, bodo amat, entar dia juga capek sendiri." ucap erin.
"Nih anak gak salah minum obat." gumam jeni akhirnya kembali ke tempat duduknya setelah bel berbunyi dengan nyaring.