
Erin jatuh tertidur malam itu tanpa memikirkan lagi kejadian tadi, dia begitu lelah tubuhnya ambruk seketika dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya.
Dia tertidur pulas padahal sekarang masih pukul 9 malam, pintu kamarnya terbuka sedikit, seseorang mengintip dan menatapnya yang hanya mengenakan tank top dan celana pendek tanpa mengenakan selimut.
Gavin masuk ke dalam kamarnya mencari-cari selimut dan menutupnya, dia duduk di sisi tempat tidurnya, menghalau anak-anak rambut erin yang menutupi sebagian wajahnya, Gavin tersenyum melihat wajah erin yang tertidur lelap.
"Semoga kau mimpi indah Rin." bisik Gavin lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya.
~
"Anak itu sudah tidur Vin dari tadi, waktu bibi pulang tadi erinnya sudah ada di kamar dan sudah tidur," Ucap sang ibu.
Gavin memutuskan untuk datang ke rumah Erin setelah bertemu dengan Zain dan erika, setelah konsultasinya dan meminum obatnya dia memutuskan untuk datang ke rumah Erin.
"Maksud kedatangan saya ingin berbicara serius mengenai hubungan saya dengan Erina. Tante, saya ingin menikahi Erin," Ucapnya.
Ibu erin sontak terkejut, dia memandang Gavin dan berpikir sebentar, "Kau yakin dengan keputusanmu Vin, beberapa tahun lalu kau memutuskan pertunangan kalian sepihak dan pergi dari ke Boston, hari itu erin sangat sedih dengan kepergian kamu." ucapnya.
Gavin ingin menampiknya bahwa yang memutuskan pertunangan itu bukan dia tetapi Erina, karena itulah dia berangkat ke Boston, tetapi Gavin diam saja.
"Kali ini saya bersungguh-sungguh Tante, saya ingin menikahi erin menjadikannya pendamping hidupku, keputusan ini sudah lama aku putuskan." ucapnya.
"Apa kau sudah bicara dengan Erin?" tanyanya.
"Saya sudah berbicara dengan erin." ucapnya.
"Baguslah kalau kau sudah bicara dengannya, keputusan ada di tangan erin," ucap ibunya.
Gavin mengangguk, tidak berapa lama, Gavin akhirnya pamit dan segera pergi dari rumah Erin. ibunya menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Erin membuka matanya lebar-lebar, tadi dia terbangun ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya, dia mengintip dari sudut matanya ternyata Gavin, dia mencoba bertahan untuk tidak bangun, dia kemudian memegang bibirnya, kecupan ringan dari Gavin masih terasa di bibirnya. Pembicaraan ibunya dan Gavin membuat jantung Erin berdetak kencang.
~
Pagi itu Erin berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, kali ini dia sama sekali tidak terlambat, setelah sampai di parkiran, Erin keluar dari mobilnya dan seseorang juga membuka pintu mobilnya dan menghalangi jalan Erin.
"Kak Gavin?" ucap Erin terkejut.
"Aku mau bicara Rin." ucapnya.
"Sekarang?" tanyanya.
Gavin menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan erin masuk ke dalam mobilnya. "Kau sudah sarapan?" tanyanya.
"Iya, aku sudah sarapan." ucap Erin.
Gavin menatapnya begitu lama, membuat Erin merasa tidak nyaman, "Apa..yang ingin kak Gavin bicarakan." tanyanya.
"Dan aku ingin melangsungkan pernikahan kita secepatnya, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi." dia mengambil tangan erin dan menggenggamnya erat.
"Ta..tapi kak, kenapa kakak terburu-buru? Aku harus memikirkan kembali, aku...
Gavin menarik tangan erin lebih keras sehingga tubuhnya maju ke depan perlahan Gavin menciumnya dan menahan tubuh Erin agar tidak bergerak dari tempatnya. Erin menahan napasnya tidak menyangka sepagi itu sudah mendapat ciuman darinya.
"Kak gavin, Lepas !" ucap Erin ketika bibir mereka berpisah beberapa inci saja, tetapi Gavin melanjutkan ciumannya membuat Erin sekali lagi mendorong tubuh Gavin menjauh.
Erin memegang pintu mobil dan ingin segera membukanya tetapi Gavin menguncinya, dia kembali membukanya dengan paksa. Tatapan mata Gavin begitu tajam memandangnya, seperti dia kehilangan kesadaran, dia mencoba menarik tangan erin keras hingga bagian bahu bajunya tertarik dan akhirnya sobek membuat garis panjang hingga memperlihatkan kulitnya.
Erin menahan tangannya sekuat tenaga dari jangkauan gavin, ponsel Gavin berdering sehingga dia menjadi sadar telah menyakiti Erin, dia terkejut sendiri, mereka saling bertatapan, Gavin menjauh dari Erin kemudian menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
__ADS_1
Erin yang gemetaran langsung saja membuka pintu mobilnya dan kembali berlari dan masuk ke mobilnya sendiri dan mengendarainya dengan kencang. Gavin menatap kepergian Erin tidak lama kemudian dia menyusulnya dan mengikutinya dari belakang.
Gavin menelepon erin, "Sial, dia tidak mengangkatnya." ucap gavin, masih kebut-kebutan di jalanan menyusul Erin, dia akhirnya melihat mobil sedan berwarna putih, bunyi klakson dari Gavin tidak meluluhkan Erin untuk menghentikan laju mobilnya.
Gavin memblokir mobil Erin sehingga mau tidak mau Erin menghentikan mobilnya dan berhenti tepat di hadapan mobi Gavin.
Gavin Keluar dari mobilnya dan segera menghampiri mobil Erin dan mengetuk-ngetuk jendela mobilnya.
"Rin, plis Rin buka pintu mobilmu, aku salah, kita bicara Rin." ucap Gavin sekali lagi mengetukkan mobil Erin, banyak pengendara lain menatap mereka, akhirnya Erin membuka kaca jendela mobilnya.
Erin menghapus air matanya, terlihat bajunya yang robek memanjang, "Kita ke apartemenku untuk mengganti bajumu."
"Tidak mau, aku tidak mau ke apartemen kamu." teriak Erin marah.
"Kalau begitu kita ke butik di dekat ujung jalan, lalu ganti pakaianmu setelah itu kita berbicara." bujuk Gavin.
Gavin menelepon seseorang untuk mengambil mobilnya sementara dia naik ke mobil Erin dan membawanya ke butik terdekat untuk mengganti pakaian erin.
Erin menghapus air matanya, dia melirik ke Gavin dengan jengkel, Gavin hanya menatap lurus ke depan, tidak lama kemudian mereka tiba di butik cukup kecil di sana. Erin dan gavin masuk ke dalam butik, dengan cepat Gavin melepaskan jas yang di kenakannya kemudian dia memasangkan ke bahu Erin.
Ketika mereka masuk beberapa karyawan memandang Erin sambil berbisik kepada karyawan lainnya, Erin menyadari hal itu dengan cepat memilih salah satu blus berwarna biru dan segera mengganti blusnya yang telah robek.
Gavin menunggunya di luar, setelah Erin mengganti bajunya, Gavin kemudian memegang paksa tangannya setelah itu mereka kembali masuk ke dalam mobil.
~
"Rin, aku...maafkan aku, kau bisa menamparku sekarang atau memukulku semaumu sampai kau puas." Ucap Gavin.
"Kenapa sih kak Gavin kasar banget," bentak Erin. Gavin memandang lurus ke depan, "Aku cuma bisa minta maaf Erin, aku memang salah." Ucap gavin.
__ADS_1
Dia mencoba mengambil tangan erin yang bebas tetapi Erin menolaknya dan menyilangkan kedua tangannya agar Gavin tidak memegang tangannya.
Gavin menarik napas panjang dan menatap pemandangan di hadapannya, dia tahu kali ini dia keterlaluan, dia sangat ingin memiliki Erin sekarang juga, tetapi disatu sisi dia tidak mau menyakitinya. Menurut Zain, Erin adalah obat untuk Gavin, gangguan kecemasan yang selalu di alaminya bisa sembuh dengan adanya Erin di sampingnya, tetapi satu hal yang tidak disadari oleh Gavin, setiap dia bersama Erin keinginannya semakin besar untuk terus bersamanya, semakin lama kian besar sehingga tanpa sadar dia bisa saja menyakiti Erin.